Radio Rodja
DIarsipkan di bawah: Tauhid | Leave a Comment »
Radio Rodja
DIarsipkan di bawah: Tauhid | Leave a Comment »
PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN
http://www.almanhaj.or.id/content/2643/slash/0
PELESTARIAN SITUS SEJARAH DALAM TIMBANGAN ISLAM
Oleh
Ustadz Abu Minhal
http://www.almanhaj.or.id/content/2642/slash/0
Sejak pertama kemunculannya, risalah Islam sangat menentang praktek
yang mengarah pada pengakuan atau keyakinan adanya kekuasaan selain
Allah Ta’ala di alam semesta ini, dan demikianlah substansi Islam.
Yaitu risalah yang mengajarkan tauhid. Dan selanjutnya menyeru kepada
manusia, supaya beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
mewanti-wanti agar manusia tidak terbawa kepada perbuatan syirik,
karena ketundukan itu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ألأ لله الد ينن الخا لص
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” [az-Zumar/39:3].
Syirik itu sendiri merupakan fenomena yang begitu kuat melekat dalam
peri kehidupan masyarakat jahiliyah waktu itu. Meskipun
kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak sejalan dengan asas-asas Islami
juga berkembang pesat – seperti penindasan terhadap kaum Hawa, praktek
riba, perzinaan, minuman keras, fanatisme golongan (kesukuan),
perbudakan dan lain-lain – akan tetapi perbuatan syirik sangat dominan,
menempati posisi yang tinggi, baik dalam hal tingkat kekeliruan maupun
bahayanya. Sebab perbuatan syirik merupakan kezhaliman yang besar.
ان الشرك لظلم عظيم
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar” [Luqman/31:13].
Sebenarnya orang-orang jahiliyah meyakini adanya Rabb yang memiliki
kemampuan untuk memenuhi segala yang mereka inginkan, menyelamatkannya
dalam kesempitan. Namun kepercayaan ini dinodai dengan ketundukan dan
penghambaan hati kepada berhala-berhala yang sebagian dibuat oleh
tangan mereka sendiri, meskipun mereka menganggapnya tidak berbuat
demikian.
Fenomena seperti itulah yang saat ini juga menghias peri kehidupan
sebagian manusia, tak urung sebagian kaum muslimin. Tanpa disadari
telah terjebak pada perbuatan syirik, karena keinginan untuk
mempertahankan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya,
yaitu para leluhur atau nenek moyangnya. Yakni mempertahankan
tradisi-tradisi yang telah berjalan pada masa-masa terdahulu. Dengan
berbagai dalih, yang seolah tak mempengaruhi prinsip tauhid. Padahal
tak sedikit tradisi-tradisi ataupun peninggalan sejarah tersebut yang
sangat mungkin bertentangan dengan Islam, baik ditinjau dari sisi
tauhid maupun prinsip-prinsip umum lainnya.
RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM TIDAK MEMERINTAHKAN UNTUK MELESTARIKAN SITUS SEJARAH ISLAM
Dalam masalah ini sangatlah jelas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak terlalu memikirkan situs-situs
sejarah. Begitu pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah
merencanakan dengan niat secara khusus melakukan safar (perjalanan) ke
tempat-tempat tersebut. Belum ditemukan ada riwayat yang menunjukkan
diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pendakian ke
bukit-bukit bebatuan untuk mengunjungi Gua Hira, Gua Tsaur, Badr, atau
tempat kelahiran beliau pada pasca hijrahnya[1]. Kalau ada yang
menyatakan telah terjadi Ijma’ di kalangan sahabat mengenai
disyariatkannya melestarikan tempat-tempat peninggalan sejarah, seperti
rumah tempat kelahiran Nabi, Bi`ru (sumur) ‘Aris, maka hal itu tidak
bisa dibuktikan, walaupun hanya dengan satu pernyataan seorang sahabat
[2]. Para sahabat dan orang-orang yang hidup pada qurûn mufadhdhalah
(masa yang utama, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in)
tidak pernah melakukannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak pernah mensyariatkannya.
Demikian pula halnya dengan tempat-tempat yang dahulu pernah dijadikan
sebagai tempat shalat atau pernah disinggahi oleh Rasulullah, maka
sesungguhnya tidak boleh diyakini memiliki keberkahan dan keutamaan
kecuali jika syariat telah menetapkannya. Misalnya Masjidil-Haram,
Masjid Nabawi Masjidil-Aqsha. Bahwasanya shalat di tiga masjid tersebut
mendapatkan keutamaan. Atau tempat-tempat lainnya yang telah disebutkan
oleh nash.
WARISAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM YANG SEMESTINYA MENDAPAT PELESTARIAN
Para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
tidaklah melestarikan situs-situs sejarah seperti itu. Akan tetapi,
yang mereka lestarikan ialah warisan peninggalan lainnya, yakni berupa
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencakup
perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Mereka sangat termotivasi untuk memelihara sunnah-sunnah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang mereka tempuh ialah dengan
mempelajarinya, menghafal dan mengaplikasikannya, serta mengabadikannya
dalam bentuk kitab-kitab, yang hingga kini sangat bermanfaat dan
dipelajari oleh umat Islam.
Bentuk kongkret pelestarian lainnya, ialah penjagaan mereka terhadap
kemurnian syariat Islam ini, sehingga terjaga dari virus bid’ah. Mereka
kesampingkan perkara-perkara baru yang tidak pernah dijalankan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat [3].
MENGAMBIL HIKMAH KEPUTUSAN KHALIFAH ‘UMAR BIN AL-KHATHTHAB
MENEBANG POHON BAI’ATUR-RIDHWAN
Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb, muncul gejala
pada sebagian kaum muslimin yang memiliki ketergantungan kepada
barang-barang peninggalan dan situs-situs sejarah yang tidak tercantum
keutamaannya dalam nash. Fenomena ini dapat mempengaruhi dalm hal
beragama. Maka Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb dan para sahabat
melarang dan memperingatkan manusia dari perbuatan tersebut.
Ibnu Wadhdhah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia bercerita:
Kami pergi untuk mengerjakan haji bersama ‘Umar bin al-Khaththâb. Di
tengah perjalanan, sebuah masjid berada di depan kami. Lantas,
orang-orang bergegas untuk mengerjakan shalat di dalamnya. ‘Umar pun
bertanya,”Kenapa mereka itu?”
Orang-orang menjawab,Itu adalah masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah mengerjakan shalat di masjid itu,” maka ‘Umar berkata:
“Wahai manusia. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa,
lantaran mereka melakukan perbuatan seperti ini, sampai akhirnya nanti
mendirikan masjid baru di tempat tersebut. Siapa saja yang menjumpai
shalat (wajib), maka shalatlah di situ. Kalau tidak, lewatilah
saja”[4].
Ibnu Wadhdhah juga meriwayatkan, bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththâb
memerintahkan untuk menebang sebuah pohon di tempat para sahabat
membaiat Rasulullah di bawah naungannya (yaitu yang dikenal dengan
Syajaratur-Ridhwan). Alasannya, karena banyak manusia mendatangi tempat
tersebut untuk melakukan shalat di bawah pohon itu. Beliau Radhiyallahu
‘anhu mengkhawatirkan timbulnya fitnah (kesyirikan) pada mereka
nantinya, seiring dengan perjalanan waktu [5].
Dari keputusan ‘Umar bin al-Khaththâb ini dapat kita ketahui bila di
kalangan para sahabat tidak terdapat Ijma’ tentang bertabaruk (mencari
berkah) melalui situs-situs sejarah peninggalan masa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat yang ada justru menyatakan
adanya larangan bertabarruk ataupun beribadah di tempat-tempat tersebut.
Keputusan Amirul-Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ini juga sudah cukup
untuk menjelaskan sikap Pemerintah Saudi yang memberi akses kemudahan
menuju tempat-tempat bersejarah yang ada di Makkah, terutama jalan
menuju Gua Hira maupun Gua Tsaur yang terjal lagi berbatuan tajam.
Meski demikian, sejumlah kaum muslimin tetap nekad dan rela bersusah
payah, dan tidak menutup kemungkinan mempertaruhkan nyawa berupaya
mencapai tempat-tempat itu, kemudian berdesak-desakan untuk mengerjakan
shalat di sana, dan ngalap berkah (mencari berkah) di tempat yang tidak
dianjurkan oleh syariat.
MEWASPADAI ALASAN PELESTARIAN
Ketegasan yang brilian dari Amirul-Mukminin ‘Umar bin al-Khaththaab itu
sangat berbeda dengan yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini.
Bahkan di sebagian daerah, situs-situs bersejarah itu sangat
mendapatkan perhatian. Sehingga dicanangkan usaha rehabilitasi dan
pemugaran supaya lebih menarik. Dengan dalih, mempunyai potensi dapat
meningkatkan pendapatan daerah, menjaga kekayaan literatur budaya, atau
lainnya. Karenanya, dinas pariwisata setempat berupaya kuat
“menjualnya” untuk menarik wisatawan domestik maupun dari manca negara.
Sementara itu diketahui, pelestarian budaya yang digalakkan tersebut
banyak memberi nuansa kesyirikan, dan di negeri ini cukup beragam
bentuknya. Ada berupa telaga, yang konon mengandung air suci dan
diyakini dapat menyembuhkan penyakit, pintu keraton, kereta kencana,
upacara larung kepala kerbau untuk memberi persembahan kepada penjaga
lautan, persembahan sesajen, ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri
(dewi padi) karena telah memberi panenan yang baik, tradisi-tradisi
adat suku tertentu yang kadang dibarengi dengan pengagungan terhadap
senjata-senjata pusaka. Sebagian contoh-contoh ini sangat berpotensi
mengikis aqidah seorang muslim, karena banyak mengandung unsur
kesyirikan maupun maksiat-maksiat lainnya. Adapun syirik, ia termasuk
dosa terbesar. Dan lebih parah lagi orang yang menjajakan dan menyeru
manusia kepada perbuatan syirik, yang berarti ia telah sesat dan
menyesatkan orang lain. Dia telah menantang Allah di dalam kerajaan-Nya
dengan mengajak orang lain untuk mengagungkan atau melakukan
penyembahan kepada selain Allah. Seolah ia hendak melakoni peran yang
dilakukan ‘Amr bin Luhay, yaitu yang pertama kali menggagas perbuatan
syirik di bumi Arab dan merubah agama Nabi Ibrahim.[6]
Oleh karena itu, barang siapa yang memotivasi munculnya perbuatan
syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melestarikannya dengan
dalih apapun, maka sesungguhnya ia telah membuka jalan keburukan.
Selanjutnya ia akan menanggung dosa tersebut dan dosa orang-orang yang
terperdaya oleh perbuatannya.
Jadi, pelestarian itu seharusnya memperhatikan kesucian aqidah dan
bersesuaian dengan ketentuan-ketentuan yang diperbolehkan syariat.
Maraji`:
1. Al-Bayan li Ba’dhil-Akhtha` al-Kuttab, Syaikh Dr. Shalih al- Fauzan.
2. Ar-Raddu ‘alar-Rifa’i wal-Buthi fi Kadzibihima ‘ala Ahlis-Sunnati wa
Da’watuhuma ilal-Bida’i wadh- Dhalail Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad.
Himpunan makalah dari Kutub wa Rasail ‘Abdul-Muhsin al-’Abbâd Dar at
Tauhiid Riyaadh Cet. I Th 1428 H
3. Bayan bid-Dalail li Ma fi Nashihatir Rafi’i wa Muqaddimati al-Buthi
minal-Kadzibil-Wadhihi wat- Tadhlail dalam kitab al-Bayan li
Ba’dhil-Akhtha` al-Kuttab, Syaikh Dr. Shalih al- Fauzan, Dar
Ibnil-Jauzi, Cetakan I, Tahun 1425 H – 2005 M.
4. Dirasatun fil Ahwa wal-Firaqi wal- Bida’ wa Mauqifu as-Salafi minha,
Prof. Dr. Nashir bin ‘Abdil-Karim al-’Aql, Penerbit Kunuz Isybiliya,
Cetakan I, Tahun 1425 H – 200 4 M.
5. Majallah Ummati, Edisi 21 Rabiuts-Tsâni 1427 H – Mei 2006 M.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. Bay?n bid-Dal?l li M? f? Nash?hatir R?fi’i wa Muqaddimati al-B?thi minal-Kadzibil-W?dhihi wat- Tadhl?l. Himpunan makalah dalam kitab al-Bay?n li Ba’dhil-Akhth?` al-Kutt?b, Syaikh Dr. Shalih al- Fauz?n, hlm. 109.
[2]. Ar-Raddu ‘alar-Rif?’i wal-B?thi f? Kadzibihima ‘ala Ahlis-Sunnati wa Da’watuhuma ilal-Bida’i wadh- Dhal?l. Himpunan makalah dari Kutub wa Rasail ‘Abdul-Muhsin al-’Abb?d, Syaikh ‘Abdul-Muhsin, hlm. 511.
[3]. Ar-Raddu ‘alar-Rif?’i wal-B?thi f? Kadzibihima ‘ala Ahlis-Sunnati wa Da’watuhuma ilal-Bida’i wadh- Dhal?l, 7/509.
[4]. Diriwayatkan oleh ‘Abdur-Rzz?q dalam Mushannaf, 2/118-119. Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Mushannaf, 2/376-377 dengan sanad shah?h.
[5]. Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsih?m, 1/346. Dinukil dari Dir?satun fil Ahw? wal-Firaqi wal- Bida’ wa Mauqifu as-Salafi minha, hlm. 222
[6]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang dia : “Aku melihat ‘Amr bin Luhai bin Qam’ah bin Khindif moyang Bani Ka’ab menyeret usus-ususnya di neraka (HR. al Bukhari Muslim) Lihat Mukhtasharu S?ratu ar-Ras?l hal. 50-51
[7]. Shaunu at-Tauh?d ‘an Adr?ni at-Tand?d, Shal?h bin Dh?yif an-Nabh?n, Majallah Ummati, Edisi 21 Rabiuts-Ts?ni 1427 H – Mei 2006 M.
DIarsipkan di bawah: Tauhid | Leave a Comment »
Temen-temen yang berasal dari Jawa, mungkin pernah liat
yang namanya ritual ‘Rebo Wekasan’. Ritual ini dilakuin pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Buat apa?? Buat tolak bala’/musibah.
Ada yang ngerayain Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) secara besar-besaran, ada yang ngerayain secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagi ke orang-orang yang hadir, namun diawalin dengan tahmid, takbir, zikir plus tahlil serta diakhir dengan do’a.
Ada juga lho yang ngerayain dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bahkan ada yang cukup cuma jalan-jalan ke pantai untuk mandi untuk menyucikan diri dari segala kesalahan dan dosa.
Sobat muda, dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat di berbagai kitab Hadits, tapi shalat Rebo Wekasan seperti yang dijelasin di atas tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah itu ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak benar membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi, intinya.. ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, kalo ga gitu, maka ibadahnya sia-sia belaka.
Selain tradisi di atas, bulan Shafar, sebagaimana bulan Muharram (Jawa: Suro) itu diyakini sebagai bulan yang keramat dan bikin sial, ada juga anggapan bahwa bulan Shafaritu bulan yang membawa sial, naas, dan penuh malapetaka. Astaghfirullahaladziim… Bcuz anggapan ini, maka tidak boleh mengadakan hajatan di bulan tersebut, atau ngerjain pekerjaan-pekerjaan penting lain cuman karena anggapan akan nanti jadi bencana, atau gagal dalam pekerjaan itu.
Menganggap sial waktu-waktu tertentu, ato hewan-hewan tertentu, ato sial karna liat adanya peristiwa dan mimpi tertentu sebenarnya cuman khayalan dan khurafat belaka. Itu cuman keyakinan yang nunjukin dangkalnya aqidah dan tauhid orang-orang yang percaya begituan.
Jadi temen-temen tercinta di jalan Allah, di bulan Shafar ga’ ada amalan-amalan khusus yang perlu dilakuin. =)
Bahkan para ‘ulama mengatakan kalo’ seseorang mempercayai 100% di bulan Shafar ada bencana-bencana maka ia tergelincir ke dalam salah satu bentuk kesyirikan. Naudzubillah…..
-Estafet Ilmu dari Buletin Remaja Islam Istiqomah (dengan sedikit perubahan)-
DIarsipkan di bawah: Bid'ah | Ditandai: Aliran Sesat - Sufi, Bid'ah | Leave a Comment »
MERASA POL SENDIRI[1]
Sifat ujub akan membawa pemiliknya untuk mengagungkan diri sendiri, sehingga ia merasa senang dengan apa yang dimilikinya dan tidak membutuhkan yang lain, kemudian ia beranggapan bahwa sebuah kebenaran tidak akan pergi darinya, seakan akan ia telah mendapatkan mandat kebenaran, ini adalah sifat orang-orang kafir, Allah berfirman :
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (83) سورة غافر
Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.
وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ لَمَّا جَاءَتْهُمْ الرُّسُل بِالْبَيِّنَاتِ وَالْحُجَج الْقَاطِعَات وَالْبَرَاهِين الدَّامِغَات لَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَيْهِمْ وَلَا أَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ وَاسْتَغْنَوْا بِمَا عِنْدهمْ مِنْ الْعِلْم فِي زَعْمِهِمْ عَمَّا جَاءَتْهُمْ بِهِ* تفسير القرآن العظيم
Dan demikian itu karena sesungguhnya tatkala para rosul mendatangi mereka dengan membawa keterangan, hujjah yang kokoh serta dalil-dalil yang tidak terbantahkan, mereka tidak menoleh kepada para utusan dan tidak menerima atas risalah mereka, dan di dalam persangkaan mereka, mereka merasa cukup dengan ilmu yang ada pada diri mereka daripada apa-apa yang dibawa oleh para utusan
Dan ketika seseorang merasa ‘ujub dengan dirinya serta tidak membutuhkan yang lainnya, maka sungguh sempurnalah kebinasaannya, karena tidak memungkinkan baginya untuk menoleh pada ucapan orang lain yang lebih baik/utama, apa lagi ia mau menerimanya walaupun ucapan orang lain tersebut benar.
Rosululloh J telah berpesan
حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ { عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ } قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِي بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ* رواه ابو داود والترمذي
Abu Ummaiyah As-sya’bany mencritakan kepadaku, ia berkata, aku bertanya kepada Aba tsa’labah Al-khusyany, aku bertanya; “hai, Aba tsa’labah, apakah perkataanmu pada firman Allah ; ” Jagalah diri kalian “(QS. Al-Maaidah : 105) , Aba tsa’labah menjawab;”Demi Allah, engkau telah bertanya kepada orang yang tepat, aku telah bertanya tentangnya kepada Rosulullah J , Nabi Berabda; ” Bahkan hendaklah kalian saling beramar ma’ruf nahi munkar. Hingga kamu melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan setiap orang yang bangga/takjub dengan pendapatnya sendiri; maka jagalah dirimu sendiri dan tinggalkanlah masyarakat awam. Sesungguhnya di belakangmu nanti akan ada hari-hari penuh kesabaran. Sabar pada hari itu seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal pada waktu itu akan diberi pahala seperti pahala lima puluh orang lain yang beramal seperti amalnya”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Khalqu Af’alil-‘Ibaad no. 155, Abu Dawud no. 4341, At-Tirmidzi no. 3058, Ibnu Majah no. 4014, Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya 7/97, Ath-Thahawiy dalam Syarhul-Musykil no. 1171-1172, Ibnu Hibbaan no. 358, dan yang lainnya. Hadits ini dla’if, kecuali lafadh : “Sesungguhnya di belakangmu nanti akan ada hari-hari penuh kesabaran….” ; shahih. Lihat Dla’iif Ibni Majah hal. 326 no. 801, Silsilah Ash-Shahiihah 1/892-893 no. 494, dan Dla’if At-Tirmidzi hal. 320 no. 3058.
قال ا بن تيمية الحراني : أَلَا تَرَى أَنَّ الَّذِي يُعَظِّمُ نَفْسَهُ بِالْبَاطِلِ يُرِيدُ أَنْ يَنْصُرَ كُلَّ مَا قَالَهُ وَلَوْ كَانَ خَطَأً* مجموع الفتاوى
Ibnu Taimiyah berkata : Tidakkah kau ketahui sesungguhnya orang yang mengagungkan dirinya dengan kebatilan, ia menghendaki semua apa yang ia katakana walaupun hal itu salah * Majmu’ Fatawa
Bahkan seandainya ia diqodar menempati kebenaran, lagi terang dengan kebenaran, maka hendaklah ia berhati-hati dengan sifat ujub. Karena sifat ujubnya tersebut dapat merusak ganjaran dari amal sholihnya.
قال الحافظ الذهبي رحمه الله : فكم من رجل نطق بالحق، وأمر بالمعروف، فيسلط الله عليه من يؤذيه لسوء قصده، وحبه للرئاسة الدينية، فهذا داء خفي سار في نفوس الفقهاء* سير أعلام النبلاء
Al-hafidz Ad-dzahaby berkata : Betapa banyak orang berbicara dengan benar, Dan memerintahkan kebaikan, kemudian Allah menguasakan pada orang lain yang menyakitinya dikarenakan jeleknya keinginannya serta kecintaannya pada kepemimpinan duniawiyah, maka ini Adalah penyakit yang tersembunyi, ia berjalan di hati para fuqoha/ahli ilmu * Siaru a’lami an-nubala
Dan sifat ‘ujub akan menghalangi pemiliknya untuk meminta pertolongan kepada Tuhan-nya, karena kesombongan dirinya
وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ، فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ: {إيَّاكَ نَعْبُدُ} وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ: {إيَّاكَ نَسْتَعِينُ}
Dan sifat ‘ujub merupakan bagian dari bab syirik nafs, dan ini keadaannya orang yang sombong, maka orang yang berpura-pura ini tidak merealisasikan firman Allah ” Hanya kepada-Mu kami menyembah” dan adapun orang ‘ujub tidak merealisasikan firman Allah ” dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”
(Sebagian besar tulisan ini menukil dari kitab As-Showarif ‘anilhaq Karya Syaikh Hammad bin Ibrohim ‘Utsman Halaman 35-38)
DIarsipkan di bawah: Aqidah | Ditandai: Aqidah | Leave a Comment »
Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulang tahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah hidup kita berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah hidup kita, kematian semakin mendekat. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada hari kiamat.” (QS: Ali Imran: 185).
Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu’alaikum atau meimnta permisi pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum kita selesai membaca tulisan ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya. Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah sudah.
Ketika ‘Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, “Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bisa lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari.”
Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan berkata, “Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya ”
Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su’ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Alloh dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya dalam taat pada Alloh. Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Siapa saja yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illaLlaah’ pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka ia akan masuk surga. ” (HR: Ahmad V/391).
Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, “Pada saat kematian seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala dosa hamba. Hamba bertaubat dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah.” Begitulah yang ia ucapkan terus menerus hingga ia meninggal dunia.
Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, “Apa yang membuat Anda menangis?” Ia menjawab, “Demi Alloh, aku ingin menyambut maut dengan tauba.” Orang-orang berkata, “Lakukanlah, semoga Alloh memberi rahmat kepadamu. “Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.
Mush’ab bercerita, “(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena sakit- meminta untuk dituntun dengan berkata,” Peganglah tanganku,” Dia masuk masjid bersama imam lalu ruku’ sekali, setelah itu ia meninggal dunia.
Sedangkan su’ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Sebab-sebab su’ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui ‘alaihi wa sallam, menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.
Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, “Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu….” dan begitu seterusnya hingga ia mati.
Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, “Naanana…naanana…” hingga ia mati.
Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut, “Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman keras” Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, “Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti itu. ”
Ada pula yang tanda-tanda su’ul-khotimahnya tampak setelah si malang mati.
Syaikh Al-Qahthany bercerita, “Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,”Mayat itu milikmukah ?” Ia jawab, “Ya,” Aku bertanya lagi, “Apa ia ayahmu?” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Kenapa ayahmu itu sampai begini?” Ia menjawab, “Sewaktu hidupnya ia tidak sholat.” Maka aku katakan kepadanya, ” Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia !”
Ibnu Qayyim berkata, “Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal ini suatu kenyataan.
Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu.”
Kita mohon perlindungan Alloh dari su’ul-khotimah. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.
Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, “Aku begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut.”
Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, ” Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?”
Ketika Abu ‘Athi’ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang bertanya, “Mengapa Anda ketakutan?” Dia menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu. “Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.
Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan su’ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su’ul-khotimah.
Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa su’ul-khotimah, apa yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali bin Abu Thalib radhiyAllohu ‘anhu dari Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya, maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka” Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, ” Ya Rasululloh, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita dan kita tidak usah beramal ?” Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang celaka. “Kemudian beliau membaca firman Alloh: “Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [QS: Al-Lail: 5-10]” (HR: Al-Bukhary dan Muslim)
Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh menghindarkan kita dari jalan yang celaka.
Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian.
(Sumber Rujukan: Berbagai Sumber)
DIarsipkan di bawah: Tauhid | 2 Komentar »
{{desc}}
melaluiPakaian yang Mesti Engkau Pakai, Saudariku! | Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Rumaysho.Com.
DIarsipkan di bawah: Artikel | Leave a Comment »