Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


Tinggalkan komentar

Bantahan Terhadap Habib Rizik Tentang Buku Mulya Dengan Manhaj Salaf

Asyariyah dan Maturidiyah Benarkah Termasuk Ahlussunnah Waljama’ah???

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berkomitmen tinggi terhadap sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menjunjungnya, menghargainya, mengikutinya dan mendahulukannya diatas pendapat siapapun, sebagaimana hal itu bisa dibaca dari nama Ahlus Sunnah.

 

Muslim manapun berhak dan tidak dilarang menisbatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah, penisbatannya benar jika hal itu didukung oleh sikapnya yang benar terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , akan tetapi jika Anda adalah orang yang alergi sunnah, tidak menghargainya, tidak mengikutinya, Anda masih kolot berpegang kepada warisan leluhur meskipun hal itu jelas-jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , maka janganlah Anda mengklaim nama yang mulia ini karena klaim Anda ditolak oleh sikap dan perbuatan Anda sendiri. Anda berdusta.

 

Menjawab pertanyaan di atas, penulis katakan, jawaban darinya adalah benar, yakni Ahlus Sunnah itu adalah Asyariyah dan Maturidiyah, akan tetapi jawaban ini menurut kebanyakan orang yang hanya melihat kepada kulit tanpa menyelami masalah yang sebenarnya, jawaban serampangan dan gebyah uyah. Di Indonesia penulis tidak jarang mendengar dan membaca ucapan tokoh fulan, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Asyariyah Maturidiyah.” Ucapan yang mencerminkan atau mewakili jawaban dari banyak orang di negeri ini. Dan inilah yang dipahami dan menyebar di kalangan masyarakat, setiap kata Ahlus Sunnah terucap atau tertulis maka yang muncul secara otomatis dalam benak dan pikiran adalah Asyariyah dan Maturidiyah.

 

Sikap keliru yang patut untuk dikoreksi dan diluruskan demi mewujudkan nasihat kepada kaum muslimin seperti yang dipesankan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Penulis telah menjelaskan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah melengkapi tulisan saudara saya Ustadz Agus Hasan sebelumnya, penulis juga telah memaparkan pemikiran-pemikiran dari Asyariyah dan Maturidiyah berikut bantahan terhadapnya. Jika pembaca membandingkan dan mengkaji dengan sikap obyektif dan adil tanpa tendensi ta’asshub buta dan kultus yang tercela, niscaya pembaca akan menemukan jawaban yang obyektif dan adil pula.

 

Berikut ini adalah kajian perbandingan antara Ahlus Sunnah, Asyariyah dan Maturidiyah.

 

Pertama dalam masalah iman:Asyariyah berpendapat bahwa iman hanya sebatas pengakuan semata, sama dangannya pendapat Maturidiyah, walaupun sebagian Asyariyah menambahkan ucapan dengan lisan. Sedangkan Ahlus Sunnah berkata, Iman adalah keyakinan dalam hati, pengikraran dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Hasil dari perbedaan ini sangat mendasar, kalau ada orang yang mengaku beriman meskipun dia tidak mengikararkannya dengan lisan, tidak pula membenarkan dengan perbuatan maka dia mukmin menurut Asyariyah dan Maturidiyah, tidak ada urusan terhadap apa yang dilakukannya setelah itu.

 

Kedua dalam masalah sifat Allah: Asyariyah hanya menetapkan tujuh sifat Allah, sedangkan Maturidiyah hanya menetapkan delapan sifat Allah, dan dalam menetapkan, mereka sama-sama merujuk kepada akal semata, karena petunjuk akal menetapkan tujuh atau delapan sifat tersebut, adapun sifat-sifat yang lain maka tidak ditetapkan karena petunujuk akal tidak menetapkannya, begitu kata mereka. Berbeda dengan Ahlus Sunnah yang berkata, Akal tidak berhak ikut campur dalam perkara sifat Allah, kami menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan di dalam al-Qur`an dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. tetapkan di dalam sunnah yang shahih tanpa takwil, tamtsil, takyif dan ta’thil. Kami meyakini bahwa tidak ada yang lebih mengetahui Allah selain Allah kemudian RasulNya.

 

Asyariyah tekenal dengan takwilnya terhadap sifat-sifat Allah, begitu pula Maturidiyah dan yang terakhir ini disamping takwil menambah tafwidh. Sementara Ahlus Sunnah menetapkan tanpa takwil lebih-lebih tafwidh. Asyariyah dan Maturidiyah telah bersikap tidak sopan kepada Allah terkait dengan sifat-sifatNya dengan menetapkan, menafikan dan mentakwilkan tanpa landasan ilmu dari Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Ketiga dalam masalah tauhid: Tauhid dalam kamus Asyariyah hanya sebatas pengakuan terhadap rububiyah Allah semata, tidak lebih dari itu, orang yang mengakui rububiyah berarti dia ahli tauhid, sementara Maturidiyah setali tiga uang, mereka menafsirkan La Ilaha Illallah dengan tafsiran yang dangkal dan tidak menyeluruh, yaitu La Qadira ala al-Ikhtira’(tidak ada yang mampu berkreasi). Karena tauhid ala Asyariyah dan Maturidiyah hanya sebatas itu, tidak menyentuh sisi uluhiyah atau ibadah maka dalam kamus mereka tidak ada istilah syirik dalam ibadah, dari sini Anda bisa memperhatikan bahwa tidak sedikit orang-orang mereka yang terjerumus ke dalam syirik bahkan sebagian imam mereka menyeru kepada berbagai bentuk syirik. Bandingkan dengan keyakinan Ahlus Sunnah yang menetapkan tauhid meliputi tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah atau ibadah dan tauhid asma` wa sifat, dan makna yang shahih dari kalimat tauhid adalah tidak ada Tuhan yang haq yang berhak disembah selain Allah Taala, di mana tuntutannya adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan berlepas diri dari segala bentuk syirik.

 

Keempat dalam masalah al-Qur`an: Asyariyah berpendapat bahwa al-Qur`an bukan firman Allah secara hakiki, al-Qur`an hanyalah ungkapan dari firman Allah, karena menurut mereka kalam (firman) Allah adalah suatu makna yang ada pada diri Allah, sama dengannya pendapat Maturidiyah. Pendapat ini mengarah kepada penetapan bahwa al-Qur`an adalah makhluk. Sedangkan Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa al-Qur`an adalah kalam atau firman Allah, Allah berbicara dengannya secara hakiki dan ia bukan makhluk.

 

Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan antara Asy’ariyah, Maturidiyah dan Ahlussunah waljama’ah maka Ahlussunnah waljama’ah bukanlah Asyariyah maupun maturidiyah


Tinggalkan komentar

Ciri-Ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : https://abuzahrakusnanto.wordpress.com

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki ciri-ciri khusus. Adapun ciri-ciri itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

[1] Sumber pengambilannya bersih dan akurat. Hal ini karena aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdasarkan Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para Salafush Shalih, yang jauh dari keruhnya hawa nafsu dan syubhat.

[2] Ia adalah aqidah yang berlandaskan penyerahan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab aqidah ini adalah iman kepada sesuatu yang ghaib. Karena itu, beriman kepada yang ghaib merupakan sifat orang-orang mukmin yang paling agung, sehingga Allah memuji mereka : ” Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”. [Al-Baqarah : 2-3]. Hal itu karena akal tidak mampu mengetahui hal yang ghaib, juga tidak dapat berdiri sendiri dalam memahami syari’at, karena akal itu lemah dan terbatas. Sebagaimana pendengaran, penglihatan dan kekuatan manusia itu terbatas, demikian pula dengan akalnya. Maka beriman kepada yang ghaib dan menyerah sepenuhnya kepada Allah adalah sesuatu yang niscaya.

[3] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah aqidah yang sejalan dengan fithrah dan logika yang benar, bebas dari syahwat dan syubhat.

[4] Sanadnya bersambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabi’in dan para imam, baik dalam ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Ciri ini banyak diakui oleh para penentangnya. Dan memang -Alhamdulillah- tidak ada suatu prinsip pun dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak memiliki dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah atau dari Salafus Shalih. Ini tentu berbeda dengan aqidah-aqidah bid’ah lainnya.

[5] Ia adalah aqidah yang mudah dan terang, seterang matahari di siang bolong. Tidak ada yang rancu, masih samar-samar maupun yang sulit. Semua lafazh-lafazh dan maknanya jelas, bisa dipahami oleh orang alim maupun awam, anak kecil maupun dewasa. Ia adalah aqidah yang berdasar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah laksana makanan yang bermanfaat bagi segenap manusia. Bahkan seperti air yang bermanfaat bagi bayi yang menyusu, anak-anak, orang kuat maupun lemah.

[6] Selamat dari kekacauan, kontradiksi dan kerancuan. Betapa tidak, ia adalah bersumber kepada wahyu yang tak mungkin datang kepadanya kebatilan, dari manapun datangnya. Dan kebenaran tidak mungkin kacau, rancu dan mengandung kontradiksi. Sebaliknya, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Allah berfirman : “Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya” [An-Nisaa : 82]

[7] Mungkin di dalamnya terdapat sesuatu yang mengandung perdebatan, tetapi tidak mungkin mengandung sesuatu yang mustahil. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ada hal-hal yang di luar jangkauan akal, atau tidak mampu dipahami. Seperti seluruh masalah ghaib, adzab dan nikmat kubur, shirath, haudh (telaga), surga dan neraka, serta kaifiyah (penggambaran) sifat-sifat Allah. Akal manusia tidak mampu memahami atau mencapai berbagai persoalan di atas, tetapi tidak menganggapnya mustahil. Sebaliknya ia menyerah, patuh dan tunduk kepadanya. Sebab semuanya datang dari wahyu, yang tidak mungkin berdasarkan hawa nafsu.

[8] Ia adalah aqidah yang universal, lengkap dan sesuai dengan setiap zaman, tempat, keadaan dan umat. Bahkan kehidupan ini tidak akan lurus kecuali dengannya.

[9] Ia adalah aqidah yang stabil, tetap dan kekal. Ia tetap teguh menghadapi berbagai benturan yang terus menerus dilancarkan musuh-musuh Islam, baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi maupun yang lainnya. Ia adalah akidah yang kekal hingga hari kiamat. Ia akan dijaga oleh Allah sepanjang generasi. Tak akan terjadi penyimpangan, penambahan, pengurangan atau penggantian. Betapa tidak, karena Allah-lah yang menjamin penjagaan dan kekalannya. Ia tidak menyerahkan penjagaan itu kepada seorangpun dari mahluk-Nya, Alah berfirman : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kamilah yang akan menjaganya”. [Al-Hijr : 9]

[10] Ia adalah sebab adanya pertolongan, kemenangan dan keteguhan. Hal itu karena ia adalah aqidah yang benar. Maka orang yang berpegang teguh kepadanya akan menang, berhasil dan ditolong. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran, yang tidak akan membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka sampai datangnya keputusan Allah, dan mereka dalam keadaan demikian”. [Hadits Riwayat Muslim 3/1524]. Maka barangsiapa mengambil aqidah tersebut, niscaya Allah akan memuliakannya dan barangsiapa meninggalkannya, niscaya Allah akan menghinakannya. Hal itu telah diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah. Sehingga, ketika umat Islam menjauhi agamanya, terjadilah apa yang terjadi, sebagaimana yang menimpa Andalusia (Spanyol) dan yang lain.

[11] Ia mengangkat derajat para pengikutnya. Barangsiapa memegang teguh aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, semakin mendalami ilmu tentangnya, mengamalkan segala konsekwensinya, serta mendakwahkannya kepada manusia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya, meluaskan kemasyhuranya serta keutamaannya akan tersebar, baik sebagai pribadi maupun jama’ah. Hal itu karena akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah akidah terbaik yang sesuai dengan segenap hati dan sebaik-baik yang diketahui akal. Ia menghasilkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat dan akhlak yang tinggi.

[12] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kapal keselamatan. Maka barangsiapa berpegang teguh dengannya, niscaya akan selamat. Sebaliknya barangsiapa meninggalkannya, niscaya tenggelam dan binasa.

[13] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah aqidah kasih sayang dan persatuan. Karena, tidaklah umat Islam itu bersatu dalam kalimat yang sama di berbagai masa dan tempat kecuali karena mereka berpegang teguh dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebaliknya, mereka akan berpecah belah dan saling berselisih pendapat jika menjauh darinya.

[14] Aqidah Ahlus Suannah wal Jama’ah adalah aqidah istimewa. Para pengikutnya adalah orang-orang istimewa, jalan mereka lurus dan tujuan-tujuannya jelas.

[15] Ia menjaga para pengikutnya dari bertindak tanpa petunjuk, mengacau dan sikap sia-sia. Manhaj mereka satu, prinsip mereka jelas, tetap dan tidak berubah. Karena itu para pengikutnya selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari bertindak tanpa petunjuk dalam soal wala’ wal bara’ (setia dan berlepas diri dari orang lain), kecintaan dan kebencian kepada orang lain. Sebaliknya, ia memberikan ukuran yang jelas, sehingga tidak akan keliru selamanya. Dengan demikian ia akan selamat dari perpecahan, bercerai berai dan kesia-siaan. Ia akan tahu kepada siapa harus membenci, dan mengetahui pula hak serta kewajibannya.

[16] Ia akan memberikan ketenangan jiwa dan pikiran kepada pengikutnya. Jiwa tidak akan gelisah, tidak akan ada kekacauan dalam pikirannya. Sebab akidah ini menghubungkan antara orang mukmin dengan Tuhannya. Ia akan rela Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Hakim dan Pembuat Syari’at. Maka hatinya akan merasa aman dengan takdir-Nya, dadanya akan lapang atas ketentuan-ketentuan hukum-Nya, dan pikirannya akan jernih dengan mengetahui-Nya.

[17] Tujuan dan amal pengikut aqidah ini mejadi selamat. Yakni selamat dari penyimpangan dalam beribadah. Ia tidak akan menyembah selain Allah dan akan mengharapkan kepada selain-Nya.

[18] Ia akan mempengaruhi prilaku, akhlak dan mua’malah. Aqidah ini memerintahkan pengikutnya melakukan setiap kebaikan dan mencegah mereka melakukan setiap kejahatan. Ia memerintahkan keadilan dan berlaku lurus serta mencegah mereka dari kezhaliman dan penyimpangan.

[19] Ia mendorong setiap pengikutnya bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam segala sesuatu.

[20] Ia membangkitkan jiwa mukmin agar mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab ia mengetahui bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah haq, petunjuk dan rahmat, karena itu mereka mengagungkan dan berpegang teguh pada keduanya.

[21] Ia menjamin kehidupan yang mulia bagi pengikutnya. Di bawah naungan aqidah ini akan terwujud keamanan dan hidup mulia. Sebab ia tegak atas dasar iman kepada Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, dan tidak kepada yang lain. Dan hal itu -dengan tidak diragukan lagi- menjadi sebab keamanan, kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Keamanan adalah sesuatu yang mengiringi iman. Maka, barangsiapa kehilangan iman, ia akan kehilangan keamanan. Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Al-An’am : 82]. Jadi orang-orang yang bertakwa dan beriman adalah mereka yang memiliki kemanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna pula, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang musyrik dan pelaku maksiat adalah orang-orang yang selalu ketakutan. Mereka senantiasa diancam dengan berbagai siksaan di setiap saat.

[22] Aqidah ini menghimpun semua kebutuhan ruh, hati dan jasmani.

[23] Mengakui akal, tetapi membatasi perannya. Ia adalah aqidah yang menghormati akal yang lurus dan tidak mengingkari perannya. Jadi, Islam justru tidak rela jika seorang muslim memadamkan cahaya akalnya, lalu hanya bertaklid buta dalam persoalan aqidah dan lainnya. Meskipun begitu, peran akal tetaplah terbatas.

[24] Mengakui perasaan manusia dan membimbingnya pada jalan yang benar. Perasaan adalah sesuatu yang alami pada diri manusia dan tak seorangpun manusia yang tidak memilikinya. Aqidah ini adalah aqidah yang dinamis, tidak kaku dan beku, ia mengaku adanya perasaan manusia serta menghormatinya, tetapi bukan berarti ia mengumbarnya. Sebaliknya ia meluruskan dan membimbingnya sehingga menjadi sarana perbaikan dan pembangunan, tidak sebagai alat perusak dan penghancur.

[25] Ia menjamin untuk memberi jalan keluar setiap persoalan, baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau persoalan lainnya.

Dengan aqidah ini, Allah telah menyatukan hati umat Islam yang berpecah belah, hawa nafsu yang bercerai berai, mencukupkan setelah kemiskinan, mengajari ilmu setelah kebodohan, memberi penglihatan setelah buta, memberi makan dari kelaparan dan memberi mereka keamanan dari ketakutan.

[Tasharrufan (saduran) dari Mukhtasar Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin AN NUR Thn. IV/No. 139/Jum’at I/R.Awal 1419H]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=884&bagian=0


Tinggalkan komentar

Cara Mengobati Rakus dan Tamak

Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga unsur: sabar, ilmu, dan amal. Secara keseluruhan terangkum dalam hal-hal berikut ini:

1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta.

2. Jika seseorang bisa mendapatkan kebutuhan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقُهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-’Ankabut: 60)

3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dan dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut, dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.

4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina.

5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأَنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim)

Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi.

Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya.

(Dirangkum dari Terjemahan Mukhtashar Minjahul Qashidin (hlm.253-255), karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi)


Tinggalkan komentar

Dasar-dasar Memahami Tauhid

Oleh: Syaikh Muhammad At-Tamimi

Pendahuluan

Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah

beribadah kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah

berfirman [artinya]: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya

mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)

Dan bila Anda telah tahu bahwasanya Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya,

maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid.

Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci.

Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila

disertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman [artinya]:” Tidaklah pantas orang-orang

musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka

sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam

neraka” (At-Taubah: 17)

Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan

merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan

menggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman

[artinya]: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni

segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa

yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-

Nisaa’: 48)

Kemurnian ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah

nyatakan dalam firman-Nya:

Kaidah Pertama

Engkau harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi

rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa’at, Yang memberi

madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak

menyebabkan mereka sebagai muslim, Allah berfirman:

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa

[menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang

hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab:’Allah’. Maka

katakanlah:’Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya].” (Yunus:31)

Kaidah Kedua

Mereka (musyrikin) berkata :”Kami tidak berdo’a kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih

dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi

syafa’at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan

dengan cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka”.

Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:”Dan orang-orang yang

mengambil pelindung selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya

mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. Sesungguhnya Allah

akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya

Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” ( Az-Zumar: 3)

Adapun dalil tentang syafa’at yaitu firman Allah [artinya]:”Dan mereka menyembah selain

Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula

kemanfa’atan, dan mereka berkata:”Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi

Allah“. Katakanlah:”Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di

langit dan tidak [pula] di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka

mempersekutukan [itu].” (Yuunus: 18)

Syafa’at itu ada 2 macam:

  • • Syafa’at munfiyah (yang ditolak)
  • • Syafa’at mutsbitah (yang diterima)

Syafa’at munfiyah adalah syafa’at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun

yang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman

[artinya]:”Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang

telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan

tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah

orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 254)

Adapun syafa’at mutsbitah adalah syafa’at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa’at itu

dimuliakan dengan syafa’at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa’at adalah

orang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izin-

Nya. Allah berfirman [artinya]:”Siapakah yang mampu memberi syafa’at disamping Allah tanpa

izin-Nya?” (Al-Baqarah:255)

Kaidah Ketiga

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang

macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada

yang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orangorang

shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.

Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman

Allah [artinya]:”Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik

Allah semuanya.”(Al-Baqarah:193)

Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah

[artinya]: “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.

Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada

Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”(Fushilat:37)

Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: “Katakanlah:’Panggillah

mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk

menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya’. Orang-orang yang mereka

seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat

[kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab

Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57)

Adapun dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah: “Dan [ingatlah] hari

[yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada

malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha

Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin;

kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa

[untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan

Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:”Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya

kamu dustakan itu”. (Sabaa’: 40-42)

Larangan beribadah kepada para Nabi dalilnya:”Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai

‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua

orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa

yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah

mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”Aku tidak pernah mengatakan

kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:”Sembahlah

Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau

wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan

atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba

Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi

Maha Bijaksana.” (Al-Maidah:116-118)

Adapun dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah hadits

Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata: ” Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa

sallam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk

kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk beristirahat dan

menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu Anwath. Lalu kami melalui

pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami

Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa

sallam bersabda: “Allahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan

-demi dzat yang menguasai diriku-sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel

kepada Musa, “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka

mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab:”Sesungguhnya kamu ini adalah

kaum yang bodoh”. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang

dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab:”Patutkah aku

mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah

melebihkan kamu atas segala umat.” (Al-A’raf:138-140)

Kaidah Keempat

Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin

zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo’a secara ikhlas kepada Allah

ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam

keadaan senang.

Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan

perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana

diterangkan Allah dalam Al-Qur’an: “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada

Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai

ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat

yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang [dalam

kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya].” (Al-Ankabut: 65-66).

Copyleft © 2001 http://www.perpustakaan-islam.com – Islamic Digital Library


Tinggalkan komentar

AQIDAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Berikut ini akan kami bawakan risalah yang berisi tanya-jawab dalam hal aqidah Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Dengan mencermati karya beliau ini akan tampaklah bagi kita sebenarnya bagaimana aqidah [keyakinan] beliau yang mungkin bagi sebagian kalangan telah mendapatkan kesan negatif mengenai beliau. Silakan anda telaah dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita.

Tanya : Siapakah Rabbmu?

Jawab : Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan segala nikmat-Nya. Dia lah sesembahanku, tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala dalam surat al-Fatihah (yang artinya), “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”

Tanya : Apakah makna kata Rabb?

Jawab : Yang menguasai dan yang mengatur, dan hanya Dia (Allah) yang berhak untuk diibadahi

Tanya : Apa makna kata Allah?

Jawab : Yaitu yang memiliki sifat ketuhanan dan berhak diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya

Tanya : Dengan apa kamu mengenal Rabbmu?

Jawab : Dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya

Tanya : Makhluk apakah yang terbesar yang bisa kamu lihat di antara makhluk ciptaan-Nya?

Jawab : Langit dan bumi

Tanya : Apakah ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang paling besar?

Jawab : Malam dan siang, matahari dan bulan

Tanya : Apakah dalil atas hal itu?

Jawab : Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya),Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Allah menutupkan malam kepada siang dan mengikutinya dengan cepat, matahari dan bulan serta bintang-bintang semuanya ditundukkan dengan perintah-Nya. Ingatlah, sesungguhnya penciptaan dan pemberian perintah adalah hak-Nya, Maha berkah Allah Rabb seluruh alam.” (QS. al-A’raf : 54).

Tanya : Untuk apakah Allah menciptakan kita?

Jawab : Untuk beribadah kepada-Nya

Tanya : Apa yang dimaksud beribadah kepada-Nya?

Jawab : Mentauhidkan Allah dan menaati-Nya

Tanya : Dalam hal apa kita menaati-Nya?

Jawab : Kita taati perintah-Nya dan kita jauhi segala yang dilarang-Nya kepada kita

Tanya : Apa dalil untuk hal itu?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56).

Tanya : Apa makna ’supaya mereka beribadah kepada-Ku’?

Jawab : Maknanya adalah agar mereka mentauhidkan Allah

Tanya : Apa yang dimaksud dengan tauhid?

Jawab : Tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah

Tanya : Apakah perkara terbesar yang dilarang Allah untuk kita?

Jawab : Perkara terbesar yang dilarang Allah adalah syirik yaitu berdoa kepada selain Allah [saja] atau berdoa kepada selain-Nya di samping berdoa kepada-Nya.

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya (dalam beribadah) dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisaa’ : 36).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Jawab : Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi

Tanya : Apa sajakah yang termasuk macam-macam ibadah?

Jawab : Ibadah itu banyak jenisnya, di antaranya adalah :

*         doa,

*         takut,

*         harap,

*         tawakal,

*         roghbah (keinginan),

*         rohbah (kekhawatiran),

*         khusyu’,

*         khas-yah (takut yang dilandasi ilmu),

*         inabah (taubat),

*         isti’anah (meminta pertolongan),

*         isti’adzah (meminta perlindungan),

*         istighotsah (meminta keselamatan dari bahaya),

*         menyembelih,

*         nadzar,

*         dan jenis-jenis ibadah yang lainnya.

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Seluruh masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyeru bersama-Nya sesuatu pun.” (QS. al-Jin : 18).

Tanya : Apa hukum bagi orang yang mengalihkan ibadah kepada selain Allah?

Jawab : Orang yang melakukannya dihukumi musyrik dan kafir

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang menyeru bersama Allah sesembahan yang lain padahal tidak ada bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.” (QS. al-Mukminun : 117).

Tanya : Perkara apakah yang diwajibkan pertama kali oleh Allah kepada kita?

Jawab : Yaitu mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah

Tanya : Apa yang dimaksud dengan thaghut?

Jawab : Segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, yang berupa sesembahan, orang yang diikuti atau sosok yang ditaati, maka dia adalah thaghut

Tanya : Ada berapakah thaghut itu?

Jawab : Jumlah mereka banyak, namun pembesarnya ada lima :

1 Iblis -semoga Allah melaknatnya-,

2 orang yang diibadahi dan ridha dengan hal itu,

3 orang yang menyeru orang lain untuk beribadah kepada dirinya,

4 orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib,

5 dan orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam agama, sungguh telah jelas antara petunjuk dengan kesesatan. Barangsiapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah berpegang dengan buhul tali yang sangat kuat dan tidak akan putus, Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 256).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan Urwatul Wutsqa (buhul tali yang sangat kuat)?

Jawab : Maksudnya adalah laa ilaha illallah

Tanya : Apa makna laa ilaha illallah?

Jawab : Laa ilaha adalah penolakan, sedangkan illallah adalah penetapan

Tanya : Apa yang ditolak dan apa yang ditetapkan?

Jawab : Aku menolak segala sesembahan selain Allah dan aku tetapkan bahwa seluruh jenis ibadah harus ditujukan kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya; sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian kecuali dari Dzat yang telah menciptakanku, sesungguhnya Dia pasti menunjuki diriku. Dan Allah menjadikan kalimat itu tetap ada pada keturunannya (Ibrahim) semoga mereka mau kembali (kepada kebenaran).. (QS. az-Zukhruf : 26-28).

Tanya : Apakah agamamu?

Jawab : Agamaku Islam, yaitu menyerahkan diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali Imran : 19). Dan juga firman-Nya (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Tanya : Ada berapakah rukun Islam?

Jawab : Ada lima; syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke rumah Allah yang suci jika memiliki kemampuan.

Tanya : Apakah dalil syahadat laa ilaha illallah?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dengan menegakkan keadilan. Tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18).

Tanya : Apakah dalil syahadat anna Muhammadar rasulullah?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sekali-kali Muhammad itu bukanlah ayah salah seorang lelaki di antara kalian, namun dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.” (QS. al-Ahzab : 40).

Tanya : Apa makna syahadat anna Muhammadar rasulullah?

Jawab : Maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi segala larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syari’atnya

Tanya : Apakah dalil sholat, zakat serta tafsir dari tauhid?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan tidaklah mereka disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan penuh ikhlas melakukan amal karena-Nya (tanpa disertai kesyirikan), mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah : 5)

Tanya : Apakah dalil puasa?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. al-Baqarah : 183).

Tanya : Apakah dalil haji?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Wajib bagi umat manusia untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah karena Allah, yaitu bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha kaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.” (QS. Ali Imran : 97)

.

Tanya : Apakah pondasi ajaran dan kaidah dalam agama Islam?

Jawab : Ada dua perkara :

[Pertama] adalah perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan memotivasi manusia untuk melakukannya, membangun loyalitas di atasnya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya (tidak beribadah kepada Allah)

.

[Perkara Kedua] adalah memperingatkan manusia dari kesyirikan dalam hal ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bersikap keras dalam hal itu (mengingkari syirik), membangun permusuhan di atasnya, dan mengakfirkan orang yang melakukannya (kemusyrikan).

Tanya : Ada berapakah rukun iman?

Jawab : Ada enam; yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan yang buruk

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Bukanlah kebaikan itu kamu memalingkan wajahmu ke arah timur ataupun barat, akan tetapi yang disebut kebaikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab, dan para nabi.” (QS. al-Baqarah : 177).

Tanya : Apakah dalil iman kepada takdir?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ukuran/takdir.” (QS. al-Qamar : 49).

Tanya : Apa yang dimaksud ihsan?

Jawab : Ihsan terdiri dari satu rukun yaitu; kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya dan jika kamu tidak bisa maka yakinlah bahwa Dia senantiasa melihatmu

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya Allah akan bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan..” (QS. an-Nahl : 128).

Tanya : Siapakah Nabimu?

Jawab : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan Hasyim berasal dari keturunan Quraisy, Quraisy dari bangsa Arab, sedangkan Arab merupakan keturunan Nabi Ismail putra Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) semoga shalawat dan salam yang paling utama tercurah kepadanya dan kepada nabi kita.

Tanya : Berapakah umur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab : Enam puluh tiga tahun; empat puluh tahun sebelum diangkat menjadi nabi dan dua puluh tiga tahun sebagai nabi dan rasul

Tanya : Dengan apakah beliau diangkat menjadi Nabi? Dan dengan apa diangkat sebagai rasul?

Jawab : Beliau diangkat m

enjadi Nabi dengan turunnya Iqra’ dan diangkat sebagai rasul dengan turunnya al-Muddatstsir

Tanya : Di manakah negerinya?

Jawab : Beliau berasal dari Mekah lalu berhijrah ke Madinah, dan kemudian beliau wafat di sana -semoga shalawat dari Allah dan keselamatan senantiasa tercurah kepadanya- setelah Allah sempurnakan agama dengan mengutus beliau (beserta ajarannya).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan hijrah?

Jawab : Berpindah dari negeri syirik menunju negeri Islam, sementara hijrah itu tetap berlaku hingga tegaknya hari kiamat

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat itu dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri. Maka malaikat bertanya kepadanya; Di manakah dulu kalian berada? Mereka menjawab; Kami dulu berada dalam keadaan tertindas dan lemah di muka bumi. Mereka berkata; bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di atasnya? Mereka itulah orang-orang yang tempat kembalinya adalah neraka Jahannam dan sungguh neraka itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’ : 97).

Tanya : Apakah dalilnya dari Sunnah (Hadits)?

Jawab : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah terputus hijrah sampai taubat terputus, dan tidak akan terputus [kesempatan] bertaubat hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan ad-Darimi).

Tanya : Apakah Rasul masih hidup atau sudah mati?

Jawab : Beliau telah meninggal sedangkan agamanya masih tetap ada hingga hari kiamat tiba

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya kamu pasti mati dan mereka pun akan mati, kemudian nanti pada hari kiamat di sisi Rabb kalian maka kalian pun akan saling bermusuhan.” (QS. az-Zumar : 31).

Tanya : Apakah setelah mati manusia akan dibangkitkan?

Jawab : Iya, benar

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dari tanah itulah Kami ciptakan kalian dan kepadanya kalian Kami kembalikan, dan dari dalamnya Kami akan mengeluarkan kalian untuk kedua kalinya.” (QS. Thaha : 55).

Tanya : Apakah hukum orang yang mendustakan hari kebangkitan?

Jawab : Orang yang melakukan hal itu adalah kafir

Tanya : Apakah dalilnya?

Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang kafir itu mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan lagi, katakanlah; sekali-kali tidak, demi Rabbku, kalian benar-benar akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan [di dunia], dan hal itu bagi Allah sangatlah mudah.” (QS. at-Taghabun : 7).

Diterjemahkan dari :

Maa yajibu ‘alal muslim ma’rifatu wal ‘amalu bihi

Oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi rahimahullah

Dengan pengantar Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Alu Jarullah

Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa sebelum ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir berbuat sia-sia”.


1 Komentar

Download Audio : Penjelasan Hadits Laa Taghdhob ( Jangan Marah )

Materi : Penjelasan Hadits Laa Taghdhob ( Jangan Marah )

Penyaji : Syaikh Prof.DR.Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr- hafidzohumallah

Penterjemah : Ustadz Abu Abdul Muhsin Firanda

Waktu : Ahad Malam, 28 Jumadits Tsaanii 1430 H/21 Juni 2009

Jam : 21.00 WIB

Dalam kajian berikut ini Syaikh hafidzohullah menyampaikan penjelasan Hadits yang mulia,wasiat Rosulullah Shalallahu alaihi wasallam yang agung yaitu “Laa Taghdob” (Jangan Marah)

Semoga dengan menyimak penjelasan hadits tersebut kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk bisa meneladani akhlaq dan adab yang mulia yang telah dicontohkan oleh Rosululllah Shalallahu alaihi wasallam.

Download


Tinggalkan komentar

Dunia di mata orang beriman


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar.” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir.” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan sahih)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)