Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


Tinggalkan komentar

SEJARAH HITAM PERPECAHAN UMAT

Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya

Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql

AL-IFTIRAAQ MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU [Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya]

Bagian 1:

Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah perpecahan umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan sejarah perpecahan itu secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru sebagian orang sekitar masalah tersebut dewasa in.

Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i’tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba’iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi’ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda’ Abdullah bin Saba’. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui.
Mereka membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba’, membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi’ah dan Khawarij dari mereka.

Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang menyelisihi asas Islam dan Sunnah.

Adapun kelompok sempalan yang pertama kali muncul yang memisahkan diri dari imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini sebenarnya berasal dari aqidah Saba’iyah. Banyak orang yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba’iyah. Perlu diketahui bahwa Saba’iyah ini terpecah menjadi dua kelompok utama : Khawarij dan Syi’ah.

Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun dasar-dasar pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun Syi’ah meuncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Fitnah diprakarsai oleh Abdullah bin Saba’ lewat ide, keyakinan dan gerakannya. Dari situlah muncrat aqidah sesat, yaitu aqidah Syi’ah dan Khawarij.

Perbedaan antara Khawarij dan Syi’ah direkayasa sedemikian rupa oleh tokoh-tokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba’ dan konco-konconya menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum muslimin, yakni dengan istilah yang mereka namakan blok kanan dan blok kiri. Mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program, mereka munculkan babak permainan baru dengan istilah sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif, ekstrimisme, radikalisme dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari sumber yang sama pula. Para pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya, hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara
keseluruhan ini mencerminkan kuatnya kebatilan, kendati satu sama lain saling bermusuhan.

Kedua.
Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak kita temui para sahabat saling berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi diantara mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan dengan ijma’ (kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat jama’ah serta tetap komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan sahabat. Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan diri dari jama’ah. Tidak ada satupun diantara mereka yang melontarkan ucapan bid’ah atau mengada-ada perkara baru dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan imam dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satupun dari kalangan sahabat yang memecah dari jama’ah. Dan tak satupun ucapan mereka yang menjadi sumber bid’ah dan sumber perpecahan. Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan kebohongan besar yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat
keliru bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi’ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua’wiyah diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda’ dituduh sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid’ah dan perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal! Jelas itu semua merupakan kebatilan murni! [1]

Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi’ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu ‘anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut
dengan segala tekad dan kekuatan. Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi!
_________
Foote Note
[1] Termasuk di antara kebatilan tersebut ialah klaim sebagian kaum sufi bahwa asal-usul bid’ah mereka adalah para shabat Ahlu Suffah Radhiyallahu anhu ajma’in. Sekali-kali tidak demikian ! Bahkan sebaliknya, kita katakan kepada mereka, “Teladanilah sunnah sahabat Ahlus Suffah tersebut jika kalian orang-orang yang benar!”.

Bagian 2:

TOKOH-TOKOH AHLI BID’AH

Setelah berbicara tentang sejarah perpecahan umat, ada baiknya kita lanjutkan pembicaraan tentang asal usul bid’ah. Guna mengetahui tokoh-tokoh pencetus kelompok-kelompok sesat yang merupakan biang perpecahan. Yaitu oknum-oknum yang mengusung bid’ah tersebut hingga menjadi pemimpin-pemimpin sesat sampai hari Kiamat. Hingga sepeninggal mereka, terbuka lebarlah pintu perpecahan, semakin bertambahlah orang-orang yang menyesatkan. Di antara oknum-oknum tersebut ialah.

[1] Pelopor perpecahan : Ibnu Sauda’ Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, seorang Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam. berikut pengikut dan konco-konconya. Ide kotornya pertama kali muncul sekitar tahun 34H. Ibnu Sauda’ ini memadukan antara bid’ah Khawarij dan Syi’ah.

[2] Setelah itu Ma’bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80H) meluncurkan pemikiran bid’ah seputar masalah takdir sekitar tahun 64H. Ia menggugat ilmu Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesat itu terang-terangan sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya juga banyak. Namun bid’ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

[3] Kemudian muncullah Ghailan Ad-Dimasyqi yang mengibarkan pengaruh cukup besar seputar masalah-masalah takdir sekitar tahun 98H. Dan juga dalam masalah ta’wil, ta’thil (mengingkari sebagian siaft-sifat Allah) dan masalah irja[1] Para salaf pun menentang pemikirannya itu. Termasuk diantara yang menentangnya adalah Khalifah Umar bin Abdil Aziz. Beliau menegakkan hujjah atasnya, sehingga Ghailan menghentikan celotehannya sampai Umar bin Abdul Aziz wafat. Namun setelah itu, Ghailan kembali meneruskan aksinya. Ini merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli bid’ah, yaitu mereka tidak akan bertaubat dari bid’ah. Sekalipun hujjahnya telah dipatahkan, mereka tetap kembali menentang dan kembali kepada bid’ahnya. Ghailan ini akhirnya dibunuh setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun 105H.

[4] Setelah itu muncullah Al-Ja’d bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H). Ia mengembangkan pendapat pendapat sesat itu. Dan meracik antara bid’ah Qadariyah dengan bid’ah Mu’aththilah[2] dan ahli ta’wil. Kemudian ia menyebarkan pemikiran rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga para ulama Salaf memberi peringatan kepadanya dan menghimbaunya untuk segera bertaubat. Namun ia menolak bertaubat. Para ulama membantah pendapat-pendapat Al-Ja’d ini dan menegakkan hujjah atasnya, namun ia tetap bersikeras. Maka semakin banyak kaum muslimin yang terkena racun pemikirannya, para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi tercegahnya fitnah (kesesatan). Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah terbunuhnya Al-Ja’d ini sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan shalat ‘Idul Adha : “Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan kalian, sementara aku akan menyembelih Al-Ja’d bin Dirham, karena telah mendakwahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalilNya dan Allah tidak mengajak Nabi Musa berbicara …… dan seterusnya”. Kemudian beliau turun dari mimbar dam menyembelihnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 124H.

[5] Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga kemudian marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi bid’ah dan kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid’ah baru. Akibat ulahnya muncullah bid’ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan kufur lainnya yang ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil ucapan-ucapan Ghailan dan Al-Ja’d, bahkan ia menambah lagi dengan bid’ah ta’thil (penolakan sifat-sifat Allah), bid’ah ta’wil, bid’ah irja’, bid’ah Jabariyah[3], bid’ah Kalam[4], tidak meyakini Allah bersemayam di atas Arsy, menolak sifat Al-‘Uluw (yang maha tinggi) bagi Allah, menolak ru’yah[5]. Al-Jahm dihukum mati pada tahun 128H

[6] Dalam waktu yang bersamaan, munculah pula Washil bin Atha’ dan Amr bin Ubeid. Mereka berdua meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu’tazilah Qadariyah.

Setelah itu terbukalah pintu perpecahan. Kelompok Rafidhah mulai berani menyatakan terang-terangan aqidah dan keyakinannya. Kemudian sekte Syi’ah ini terpecah belah menjadi beberapa golongan. Lalu muncullah kaum Musyabbihah[6] dari kalangan Syi’ah melalui tokoh-tokohnya seperti Daud Al-Jawaribi, Hisyam bin Al-Hakam, Hisyam bin Al-Jawaliqi dan lain-lain. Mereka itulah peletak dasar ajaran Musyabbihah dan pelopornya. Mereka juga termasuk pengikut ajaran Syi’ah.

Kemudian muncullah Al-Mutakallimun (Ahli Kalam) seperti Al-Kullabiyah[7], Al-Asy’ariyah[8] dan Al-Maturidiyah. Lalu muncul pula aliran-aliran sufi dan ahli-ahli filsafat. dengan demikian, pintu perpecahan terbuka luas bagi setiap orang sesat, ahli bid’ah dan pengiku hawa nafsu. Sehingga tertancaplah dasar-dasar perpecahan di antara kaum muslimin sekarang ini.

Sampai hari ini, ekses-ekses perpecahan masih terlihat di antara kaum muslimin. Bahkan terus bertambah dengan muculnya bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan baru di samping perpecahan yang sudah ada, sejalan dengan hawa nafsu manusia yang sudah begitu akrab dengan bid’ah kesesatan.

Sebagian orang mengira bahwa kelompok-kelompok bid’ah ini sudah sirna dan sudah menjadi koleksi sejarah masa lalu. Entah karena kejahilan mereka atau karena pura-pura tidak tahu! Asumsi seperti itu jelas keliru. Setiap golongan sesat yang besar dan berbahaya di masa lalu masih tetap ada sampai sekarang di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan semakin banyak, semakin berbahaya dan semakin menyimpang. Rafidhah dengan sekte-sektenya yang batil serta golongan Syi’ah lainnya, Khawarij, Qadariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Ahli Kalam, Kaum Sufi dan Ahli Filsafat, masih berusaha menyesatkan umat. Bahkan mereka mulai berani menampakkan taring, mempromosikan aqidah mereka dengan cara yang lebih keji dari pada sebelumnya. Karena pada hari ini mereka mengklaim ajaran mereka sebagai ilmu pengetahun, wawasan dan pemikiran. Disamping minimnya pemaham kaum muslimin tentang agama mereka dan kejahilan mereka tentang aqidah yang benar. Cukuplah Allah sebagai pelindung kita, dan Dia adalah sebaik-baik
pelindung.
________
Foote Note
[1] Pemikiran bahwa Iman itu statis, tidak bertambah dan tidak berkurang
[2] Orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah
[3] Radikal dalam penetapan takdir hingga meyakini bahwa manusia tidak ikhtiar dalam amal perbuatannya
[4] Yaitu meyakini bahwa Al-Qur’an adalah mahluk bukan Kalamullah
[5] Yaitu menolak meyakini Allah dalat dilihat kaum mukminin di Surga pada hari Kiamat
[6] Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluknya
[7] Pengikut Ibnu Kullab. Inti aqidah mereka ialah hanya menetapkan beberapa sifat Allah saja yang menurut mereka dapat diterima falsafah akal mereka.
[8] Pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari yang inti aqidah mereka sama dengan Al-Kullabiyah dengan sedikit perbedaan-perbedaan

[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]



Tinggalkan komentar

PERSATUAN AQIDAH DAN MANHAJ YANG BERBEDA: BISAKAH?

Ditanyakan kepada Fadhilatusy Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan:

APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AKIDAH?

Jawab beliau (Syaikh Shalih Al-Fauzan):

Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.

Sungguh Allah Ta’ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya:
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Dan Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-anfal: 63)

Allah Ta’ala selama-lamanya tidak akan menyatukan antara hati orang-orang kafir, murtad dan firqah-firqah (kelompok-kelompok) sesat 1), Allah hanya menyatukan hati orang-orang mukmin yang bertauhid. Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan akidahnya:
“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (Al-Hasyr: 14)

Dan firman-Nya:
“Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” (Hud: 118)

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Rabbmu”, mereka itu ialah orang-orang yang memiliki akidah yang benar dan manhaj yang benar, maka mereka itulah orang-orang yang selamat dari perselisihan dan perpecahan.

Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidahnya masih rusak, manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud, karena sesungguhnya menyatukan dua hal yang berlawanan itu adalah hal yang mustahil.

Karena tidak bisa menyatukan hati dan menyatukan umat ini, kecuali kalimat tauhid 2), yang dimengerti makna-maknanya, diamalkan kandungannya secara lahir dan batin, bukan hanya sekedar mengucapkannya, sedang pada sisi yang lain masih mau menyelisihi apa yang menjadi tuntutannya. Maka sesungguhnya ketika itu kalimat tauhid ini tidak akan ada manfaatnya.

Footnote:

1) Keadaan firqah-firqah dan hizb-hizb (golongan-golongan yang menyimpang) yang ada di muka bumi saat ini -sebagaimana dikatakan-adalah merupakan saksi dan menjadi bukti yang paling  nyata, karena mereka berbeda-beda dalam memahami Al-Kitab (Al-Qur’an), dan berbeda-beda dalam mengamalkannya, serta mereka menyelisihi Al-Kitab. Apabila hati manusia itu sepakat dan saling mengenal maka akan menyatu, dan demikian pula sebaliknya. Sebagaimana Rasulullah menyebutkannya dalam hadits shahih bahwa beliau bersabda:

“Ruh-ruh adalah pasukan tentara maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (HR. Al-Bukhari: 3158)

2) Orang-orang yang berusaha menyatukan umat manusia bersamaan dengan rusaknya akidah dan manhaj (berbagai kelompok) yang berbeda-beda itu -sebagai contoh saja bukan hanya terbatas pada contoh ini- pada jaman kita ini adalah firqah Ikhwanul Muslimin (IM) di mana mereka berusaha menyatukan barisan-barisannya yang terdiri dari Rafidhah, Jahmiyyah, Asy’ariyah, Khawarij, Mu’tazilah. Bahkan orang-orang Nasrani pun bisa masuk pada barisan mereka, maka janganlah engkau lupakan perkara yang sangat nyata ini. Wahai para pembaca yang budiman, telah kita lewati ucapan-ucapan beberapa ahli ilmu (ulama) mengenai mereka ini dalam sela-sela kitab ini. Yang kesimpulannya mereka (IM) tidak mementingkan dakwah tauhid dan tidak berhati-hati dan memperingatkan kesyirikan. Dan ini adalah merupakan sifat (ciri-ciri) khusus yang dimiliki oleh ‘firqah tabligh’ pula. Karena Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah (pengikut Sayyid Quthub) tidaklah jauh berbeda dari firqah tabligh ini.

Diambil dari buku Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Abu Abdillah Jamal Furaihan Al-Haritsi, Al-Madinah, Solo


Tinggalkan komentar

Fitnahnya Dakwah Syaithan

Fitnahnya Dakwah Syaithan

Oleh : Syaikh Muhammad bin Musa bin Nashr

Allah Subhanahu wa Ta`ala telah mengutus nabi-Nya dan sekaligus pilihan-Nya, Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dengan membawa hidayah dan agama yang benar, supaya Dia memenangkannya di atas segala agama. Maka Allah mengutus beliau untuk seluruh manusia supaya memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mau taat dan memberi ancaman bagi mereka yang menolak. Allah menegakkan hujjah dan menerangkan jalan yang lurus, untuk membinasakan orang-orang yang menolak burhan (keterangan itu), dan untuk menghidupkan orang-orang yang mau menerima keterangan itu hingga beliau meninggalkan umat ini di atas syariat yang malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyeleweng seorang pun daripadanya kecuali ia akan binasa, dan tidak akan menolak seorang pun daripadanya kecuali dia akan sesat! Umat ini tidaklah ditinggalkan Rasulullah dalam keadaan kebingungan, tidak tahu jalan, seperti seekor unta yang buta yang tidak bisa melihat mukanya sendiri. Tidak mengetahui antara yang hak dan yang batil, tidak
tahu yang gelap dari yang terang. Tetapi beliau menggambarkan kepada umatnya jalan dan menjelaskannya shirathal mustaqim. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)
Oleh karena itu beliau menjelaskan amaliyah manhaj ini.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat garis lurus dengan tangannya, lalu menggaris garis-garis sebelah kanan dan kiri kemudian membaca ayat (surat Al-An’am 153) kemudian meletakkan tangannya di atas jalan yang lurus dan kata beliau: inilah jalan Allah, dan yang ini adalah jalan-jalan lain, tiada satu jalanpun daripadanya melainkan di atasnya ada setan yang menyeru kepadanya.” (HR. Nasai, Darimi dll, As-Syaikh Al-Albani menyatakan sanadnya HASAN)
Maka jalan Allah adalah satu, tidak ada duanya (terbilang). Sedangkan jalan-jalan syetan dari kalangan manusia dan jin ini banyak dan bermacam-macam. Mereka semua bertemu dan berkumpul saling bantu-membantu dalam satu kekuatan walaupun jumlah mereka dan keadaannya bermacam-macam. Tetapi mereka memiliki kesamaan warna dan perangai, karena agama kekafiran adalah satu, apapun warna dan rupa, walaupun memakai baju dari kulit domba. Ketika Allah menyebut tentang “nur” yakni Al-Haq, Dia menyebut dengan lafal mufrad (tunggal). Sementara ketika Allah menyebutkan “zhulumat” (kegelapan) yakni isyarat kepada kejahatan (kesesatan) dan simbol-simbolnya, Dia menyebut dengan bentuk jamak (banyak). Apakah kalian tidak mendengar firman Allah:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan berbagai kegelapan dan cahaya, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (Al-An’am: 1)
Yang dimaksud nur dalam ayat ini adalah shirathal mustaqim yang diperintahkan kepada kaum muslimin bahkan diwajibkan siang maupun malam untuk selalu minta petunjuk (shirathal mustaqim) kepada Rabbnya dan agar selalu istiqamah atas jalan itu sampai bertemu Tuhannya. Karena barang siapa menyimpang dari jalan itu, berarti terjatuh (ke kanan atau ke kiri) yang maknanya terjatuh ke dalam as-subul (jalan-jalan) yang sumbernya dari dua jalan:
Pertama, jalan orang-orang yang dilaknat (Yahudi).
Kedua, adalah jalan mereka yang sesat (Nasrani). Allah berfirman:

“Tunjukanlah kami kejalan yang lurus, yakni jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Dan telah dijelaskan pula martabat orang-orang yang mereka telah diberi nikmat:

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi-Nabi,para shaddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih. Mereka itulah teman yang paling baik.” (An-Nisa: 69)
Barangsiapa mentaati Allah dan Rasulullah niscaya akan dikumpulkan bersama mereka semua, mudah-mudahan Allah menyatukan dan mengumpulkan kita bersama mereka, dengan karunia, rahmat dan karamah-Nya.
Apabila kita memperhatikan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: “Tiada satu jalan pun melainkan di atasnya ada syetan yang menyeru kepadanya (pada dirinya)”, ini menunjukkan kepada jalannya para pemimpin-pemimpin yang sesat dan tokoh-tokoh yang kafir yang mengajak kepada orang-orang untuk mengagungkan dirinya dan menanamkan manhaj mereka yang rusak dan pemikiran mereka yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

“Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkan laknat kepada mereka di dunia ini. Dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).” (Al-Qashash: 41-42)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya:
(hadits)
“Para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka Jahannam, barangsiapa mengikuti mereka, niscaya dilemparkan ke dalamnya. Para shahabat bertanya: dari kalangan kita wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Sesungguhnya mereka dari anak-anak yang mempunyai kulit sama dengan kita dan mereka berbahasa dengan bahasa kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan sungguh! Mereka (para da’i) itu telah bermunculan di mana-mana dan banyak sekali di jaman ini. Mudah-mudahan Allah tidak memperbanyak mereka.
Oleh karena itu, wahai da’i Islam, sabar dan tetaplah di atas shirathal mustaqim dengan mengikuti kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dengan mengikuti pemahaman para pendahulu umat ini (Salafus Shalih) baik dalam hal iman, ilmu, amal shalih serta akhlak mereka. Kemudian berlepas diri dari pemimpin-pemimpin kafir. Sampai Allah mengkokohkan bagi kaum mukminin di muka bumi dan Dia kelak memanggilnya pada suatu hari di mana kaum mukminin akan diberi kebahagiaan dengan pertolongan-Nya. Dengan keperkasaan-Nya, Allah akan berikan yang demikian itu kepada kaum mukminin. (Al-Ashalah edisi Sya’ban 1413 H, hal. 16-17)
Selanjutnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sungguh telah mengkabarkan bahwa umat ini (Islam) akan terpecah menjadi beberapa golongan (kelompok). Bahwa umat ini akan mengikuti sunnah umat-umat sebelum, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:

“Sungguh kamu akan mengikuti sunnah (cara hidup) orang-orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan seandainya mereka memasuki lubang biawak pun, tentu kamu akan mengikutinya. Para shahabat bertanya: Apakah (yang dimaksud) Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka!” (HR. Bukhari)
Dan kalau kita meneliti kepada ushul firqah yang sesat niscaya akan kita dapati didalamnya bahwa ushul-ushul mereka itu merupakan cabang-cabang (kalau tidak) dari Yahudi, pasti dari Nashara.
Dan juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengkabarkan bahwa perselisihan dalam umat ini keadaannya lebih banyak dan lebih dahsyat daripada perselisihannya Yahudi dan Nashara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam:
(hadits)
“Akan berpecah belah Yahudi dan Nashara menjadi 72 golongan dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu. Shahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasulullah? Beliau menjawab: mereka itu adalah orang-orang yang mengikuti aku dan para shahabat lakukan hari ini.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani, HASAN)
Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Kita telah saksikan perpecahan dan perselisihan ini. Nampak di depan kita dengan terangnya bahwa setiap kali datang (berganti) atas manusia dari masa ke masa, terlihat bahwa mereka berselisih dan berpecah lebih banyak dan lebih parah dari sebelumya. Dan untuk menghadapi keadaan yang demikian, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menuntunkan kepada kita dengan sabdanya:

“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kamu setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat petunjuk setelahku dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap yang baru adalah bid’ah.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Al-Albani mengatakan SHAHIH)
Para shahabat yang masih hidup memahami kemungkinan adanya berbagai perselihan itu. Munculnya Khawarij, Mu’tazilah, dan Rafidhah dan kenyataan penyimpangan-penyimpangan itu merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran terhadap hadits di atas. Namun demikian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah melihat penyakit ini dan kemudian mengkaburkannya. Maka, supaya terhindar dari penyakit ini obatnya adalah berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasul dengan pemahaman salafus shalih. Yang demikian itu telah ditegaskan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam supaya mengikuti sunnah Khulafa’ur Rasyidin karena sunnah mereka tidak akan keluar dari sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Mereka senantiasa tegak dengan kebenaran, selalu berbicara dengan kebenaran. Dan dengan mereka (para shahabat) kebenaran telah tegak dan berkumandang. Allah Subhanahu wa Ta`ala telah memilih mereka menjadi shahabat-shahabat Nabi-Nya shallallahu `alaihi wa sallam yang Allah telah ridha
kepada mereka dan mereka telah ridha terhadap keputusan Allah. Membuat perkara baru dalam agama merupakan sumber dan pokok kerusakan. Dan hal ini telah diperingatkan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dengan sabdanya:

“Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap yang baru adalah bid’ah dan yang bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi: HASAN SHAHIH)
Sebagian da’i menyangka (dengan sangkaan yang bathil) bahwa sesungguhnya kebanyakan jamaah dakwah nampak dalam keadaan sakit. Maka aku katakan kepadanya: bahwa kebanyakan jamaah-jamaah yang nampak sakit itu, menunjukkan bahwa mereka telah banyak berselisih. Semua perselisihan itu jelek dan setiap yang jelek tidak akan mendatangkan kebaikan! Apalagi sebagian jamaah-jamaah itu mempunyai ajaran-ajaran yang ekornya bersumber dari firqah-firqah yang sesat, seperti: mengkafirkan kaum muslimin yang berbuat maksiat dan dosa, mengingkari hadits ahad, menolak sunnah dan atsar dengan akal dan hawa nafsu, meniadakan asma’ dan sifat Allah dll. Dan jamaah-jamaah ini di dalamnya ada perkara-perkara hak dan batil. Setiap apa saja yang dekat kepada al-haq berarti dekat kepada shirathal mustaqim dan setiap apa saja yang menjauhkan dari al-haq berarti lebih dekat kepada orang-orang yang mengikuti subul (jalan-jalan) yang jumlahnya 72 (firqah yang sesat) sebagaimana telah diperingatkan Rasulullah kepada
kita.
Dengan demikian, kita harus mengenali kebatilan, pelaku kebatilan, dan manhaj mereka. Sehingga kita akan selamat (dari kebatilannya) dan kemudian berhati-hati (waspada) terhadap mereka. Sebagaimana kita juga harus mengenali jalannya orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka. Mereka adalah Al-Firqah An-Najiyah (kelompok yang selamat). Dan sesungguhnya yang demikian itu harus berdiri tegak dengan ilmu yang shahih. Berada di atas dalil-dalil yang jelas dan hujjah-hujjah yang gamblang dari Al-Kitab dan As-Sunnah As-Shahihah dengan pemahaman Salafus Shalih.
Yang harus kita fokuskan di sini adalah pemahaman Salafus Shalih sebagaimana yang telah kita sebutkan, karena mereka adalah orang-orang yang tahu cara mengamalkan Al-Qur’an sesuai dengan kenyataan dimana pada waktu itu Nabi masih hidup. Al-Qur’an turun sementara mereka menyaksikannya, sehingga mereka menjadi orang yang dicintai dan diridlai Allah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun menjadi saksi atas kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in) kemudian yang mengikuti mereka (tabi’it tabi’in).” (Muttafaqun alaih)
Perselisihan dalam perkara-perkara aqidah tidak pernah terjadi pada Salafus Shalih. Dan ingat! Jangan sekali-sekali kita menengok kepada pengakuan orang-orang yang mengatakan bahwa para shahabat juga berselisih (ikhtilaf) dalam masalah aqidah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (6 / 394) berkata: “Semua perkara yang ada di dalam Al-Qur’an yang berkenaan dengan asma’ dan sifat, maka tidaklah akan terjadi perselisihan di kalangan para shahabat dalam takwilnya. Dan sungguh aku telah meneliti tafsir-tafsir yang dinukil dari para shahabat dan hadits-hadits. Atas kehendak Allah, aku mencocoki baik dari kitab-kitab besar maupun kecil yang jumlahnya lebih dari 100 tafsir. Saya tidak dapati sampai jaman saya ini, seorang shahabat pun yang mentakwil ayat-ayat sifat dan hadits-hadits yang berkenaan dengan asma’ dan sifat, atau menyelisihi makna zhahir ayat. Berbeda dengan perkataannya Ahlu Takwil yang menyimpang itu. Mereka (para shahabat) menerima dan menetapkannya karena tidak ada yang mengetahui makna nama-nama dan ayat-ayat itu kecuali Allah. Dan yang demikian itu telah disebutkan dalam atsar-atsar mereka dan penyebutan tentang perkara-perkara mengenai mereka sangatlah banyak.”
Oleh karena itu, harus diluruskan keyakinan manusia dan diperbaiki manhaj mereka dengan asas dakwah para Rasul dan dakwah sunnah yang shahih. Dan kita harus memperbaharui seluruh perkara-perkara syariah yang telah ditinggalkan dan masalah-masalah aqidah harus diutamakan, karena tidak mungkin mengumpulkan manusia sebelum memperbaiki aqidah mereka. Mengumpulkan manusia yang rusak aqidahnya hanyalah akan menimbulkan pertentangan yang tidak bermanfaat. Bahkan justru akan menjadi penghalang turunnya nashrullah (pertolongan Allah). Dan pertolongan-Nya tidak akan diberikan kepada ahli syirik, ahli khurafat dan pemimpin-pemimpin yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40)
Dengan demikian, wajib bagi kita mengikuti jalan kaum mukminin dan menjauhi jalan-jalan kesesatan (subul) yang Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkannya. Dan supaya kita menyelamatkan diri dari tempat-tempat yang akan menjerumuskan kita dari jalan-jalan itu. Hal ini sesungguhnya telah dijelaskan dalam Al-Kitab, As-Sunnah dan juga sejarah. Maka, apakah kita dapat memahaminya? (Al-Ashalah no. 3, 15 Syawal 1413 H.)

Ittiba’ Di Atas Manhaj Salaf
Dan menyelisihi selainnya.


Tinggalkan komentar

Petaka Perpecahan Umat

Oleh: Muhammad Arifin bin Badri

Persatuan dan kesatuan adalah salah satu perkara yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah:

]واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا[

“Dan beregang teguhlah kamu dengan tali (agama) Allah, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai”. (QS Ali Imran 102).

Allah Ta’ala juga berfirman :

]ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وألئك لهم عذاب عظيم يوم تبيض وجوه وتسود وجوه[

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat pada hari yang diwaktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram”. (QS Ali Imran 104-105).

Sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar –radliallahu ‘anhum- berkata: “Wajah-wajah Ahlis sunnah wal Jama’ahlah yang akan menjadi putih berseri dan wajah-wajah ahli bid’ah dan perpecahanlah yang akan hitam lagi muram”.

Persatuan dan berpegang teguh dengan tali (agama) Allah Ta’ala adalah salah satu prinsip terbesar dalam agama islam, yang senantiasa diwasiatkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada seluruh manusia. Dan Rasulullah e dalam banyak kesempatan senantiasa mengingatkan ummatnya akan pentingnya hal ini, sebagaimana yang beliau lakukan disaat khutbah hari arafah, tatkala beliau bersabda:

وقد تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله

“Sungguh aku telah meninggalkan ditengah-tengah kalian, satu hal yang bila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya selama-lamanya kalian tidak akan tersesat, bila kalian benar-benar berpegang tegunh dengannya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an).([1])

Dan diantara metode yang ditempuh Nabi e dalam memperingatkan umatnya dari perpecahan adalah dengan cara menjelaskan kepada mereka fakta yang akan menimpa mereka, yang berupa terjadinya petaka perpecahan dan perselisihan. Hingga akhirnya ummat ini terpecah belah menjadi berbagai kelompok dan golongan. Dan ini adalah taqdir dari Allah Ta’ala yang pasti terjadi, dan telah terjadi.

Bila kita membaca kitab-kitab hadits, seperti kutubus sittah, niscaya kita akan dapatkan banyak hadits yang menjadi bukti akan hal ini. Pada kesempatan ini akan saya sebutkan beberapa hadits, sebagai contoh untuk kita semua:

Hadits pertama :

عن أبي سعيد الخدري t قال قال رسول الله e: (لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا  في حجر ضب لاتبعتموهم. قلنا: يا رسول الله: آليهود والنصارى؟ قال: فمن؟!

“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri t, beliau berkata: Rasulullah e bersabda: “Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk kedalam lubang dlob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kamipun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi? (HRS Muttafaqun ‘Alaih).

Hadits kedua:

عن أبي هريرة t عن النبي e قال : (لا تقوم الساعة حتى تأخذ أمتي مأخذ القرون قبلها شبرا بشبر وذراعا بذراع. فقيل: يا رسول الله، كفارس والروم؟  فقال: ومن الناس إلا أولئك؟!

“Dari sahabat Abu Hurairah t, dari Nabi e beliau bersabda: “Tidaklah kiamat akan bangkit, hingga ummatku benar-benar telah meniru perilaku umat-umat sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Maka dikatakan kepada beliau: (maksudmu) Seperti orang-orang Persia dan Romawi? Maka beliaupun menjawab: Apakah ada orang lain selain mereka? (HRS Al Bukhory).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata: “Beliau mengkabarkan bahwa akan ada dari umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah orang-orang non arab”.([2])

Hadits ketiga :

عن أبي هريرة t قال قال رسول الله e: (تفرقت اليهود على إحدى وسبعين أو اثنتين وسبعين فرقة والنصارى مثل ذلك وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة.)

“Dari sahabat Abu Hurairah e, beliau berkata: Rasulullah e bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, AL Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan dishohihkan oleh Al Albani).

Dalam riwayat lain disebutkan :

(عن معاوية بن أبي سفيان t عن النبي e قال: (وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة)

“Dri sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan t dari Nabi e, beliau bersabda: “Dan (pemeluk) agama ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka, dan (hanya) satu golongan yang masuk surga, yaitu Al Jama’ah”. ((HRS Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al Hakim, dan dishohihkan oleh Al Albani).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عن عبد الله بن عمرو t قال قال رسول الله e: (تفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي).

“Dari sahabat Abdullah bin Amer t ia berkata: Rasulullah e bersabda: “Umatku akan berpecah  belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya:  Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: yang berpegang teguh dengan ajaran yang aku dan para sahabatku jalankan sekarang ini.” (riwayat At Tirmizy dan Al Hakim).

Dari hadits-hadits diatas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal berikut:

1.  Perpecahan ummat islam pasti terjadi sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits-hadits di atas. Hal ini merupakan takdir yang telah Allah Ta’ala tentukan akan menimpa umat ini.

2.  Perpecahan dan perselisihan adalah satu hal yang tercela, dan harus ditanggulangi, yaitu dengan cara merealisasikan kriteria golongan selamat pada diri setiap orang muslim. Hanya dengan cara inilah persatuan dan kesatuan umat akan tercapai, dan saat itulah mereka menerima anugrah gelar (Al Jama’ah).([3])

3.  Dari sekian banyak golongan umat islam yang ada, hanya satu golongan yang selamat, yaitu golongan yang dijuluki oleh Nabi e dengan Al Jama’ah.

4.  Untuk menentukan golongan yang selamat, Nabi e telah memberikan sebuah pedoman yang jelas. Tatkala beliau ditanya: Siapakah mereka (golongan selamat) itu? Beliau menjawab dengan menyebutkan kriterianya, bukan dengan mengnyebutkan prsonalianya, yaitu  golongan yang memiliki kriteria: senantiasa mengikuti dan ittiba’ sunnah beliau e, ajaran yang telah beliau dan para sahabatnya amalkan. Inilah ciri khas golongan yang selamat (Al jama’ah), senantiasa menjalankan as sunnah, dan menjauhi segala yang bertentangan dengannya, yaitu al bid’ah. Sehingga siapapun orangnya yang memiliki kriteria ini, maka dia termasuk kedalam golongan selamat.([4])

5.  Dalam menghadapi fenomena perpecahan ummat ini, kita diharuskan untuk senantiasa meniti jalan yang ditempuh oleh golongan selamat (Al Jama’ah), dan menjauhi jalan-jalan yang ditemouh oleh golongan-golongan lain, karena jalan-jalan mereka akan menghantarkan ke dalam neraka. Hal ini sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah e kepada sahabat Huzaifah bin Yaman t:

(الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك).

“Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka. Akupun bertanya: Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/kholifah)? Beliaupun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu”. (HRS Al Bukhory dan Muslim).

Wasiat ini sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang dikenal dalam bahasa arab:

نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا

“Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita”.([5])

6.  Nabi mengkabarkan bahwa diantara sebab terjadinya perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah umat islam adalah sikap meniru dan mencontoh umat-umat non islam, baik Yahudi, atau Nasrani, atau Persia, atau Romawi, atau yang lainnya. Dan inilah yang terjadi, pada setiap masa dan di setiap negri.

Bila kita mengamati kesesatan dan penyelewengan kelompok-kelompok sesat yang ada di tengah-tengah masyarakat islam, niscaya kita akan mendapatkan bukti nyata bagi kabar ini.

Sebagai contoh, kelompok syi’ah atau rofidhoh, didapatkan bahwa banyak prinsip dan simbul-simbul keagamaan yang ada pada mereka dijiplak dari orang-orang Yahudi.([6])  Dan kelompok Sufi dengan berbagai aliran tarikatnya, bila kita amati, niscaya akan kita dapatkan banyak keserupaan dengan yang ada di agama Hindu.([7])

7.  Nabi e memperingatkan umatnya dari perpecahan sebagai salah satu usaha untuk menjaga umatnya dari kebinasaan, sebagaimana yang telah menimpa umat sebelum mereka. Umat-umat sebelum umat islam telah berpecah belah, sehingga menjadikan mereka ditimpa kebinasaan dan keruntuhan, sebagaimana yang beliau e kabarkan :

(لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا).

“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/ runtuh”. (HRS Muslim).

عن سعد بن أبي وقاص t أن رسول الله e قال: (سألت ربي ثلاثا، فأعطاني ثنتين ومنعني واحدة: سألت ربي أن لا يهلك أمتي بالسنة، فأعطانيه، وسألته أن لا يهلك أمتي بالغرق، فأعطانيها، وسألته أن لا يجعل بأسهم بينهم فمنعنيها). رواه مسلم

“Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas t, bahwasannya Rasulullah e bersabda: “Aku memohon tiga hal kepada Tuhanku (Allah), maka Ia mengkabulkan dua hal dan menolak satu hal: Aku memohon agar Ia tidak membinasakan umatku dengan paceklik (kekeringan), maka Ia mengkabulkannya, dan aku memohon agar Ia tidak membinasakan umatku    dengan ditenggelamkan (banjir), maka Ia mengkabulkannya, dan aku memohon agar Ia tidak menjadikan kekuatan mereka menimpa sesama mereka (perpecahan), maka Ia tidak mengkabulkannya”. (HRS Muslim).

Dan inilah yang terjadi, dan ini pulalah sebab keruntuhan berbagai dinasti islam (khilafah islamiyyah). Bila kita sedikit menengok kebelakang, mengkaji ulang sejarah umat islam, kita akan dapatkan banyak bukti, sebagai contoh:

Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan penebaran agama islam, mulailah musuh-musuh islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong, guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat islam. Dan ternyata mereka berhasil menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.([8])

Bukankah runtuhnya dinasti Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang tertumpah darahnya akibat pemberontakan tersebut?!

Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tatar pada thn 656 H akibat pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy? Pengkhianat ini tatkala menjabat sebagai Wazir (perdana mentri) pada zaman Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya.([9])

Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu kelompok yang mengaku sebagai umat islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota mekkah, dan membantai beribu-ribu jama’ah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur Zam-zam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian mencongkelnya dan dibawa pulang ke negri mereka Hajer di daerah Bahrain.([10])

Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok fathimiyyah, yang pernah menguasai negri Mesir satu abad lamanya.([11])

Setelah kita mengetahui dengan yakin bahwa perpecahan pasti melanda umat islam, dan hanya satu kelompok saja yang akan selamat, yaitu yang disebut dengan Al Firqoh An Najiyah atau Ahlis Sunnah wal Jama’ah, alangkah baiknya bila kita mengetahui beberapa kriteria utama yang membedakan antara Al firqoh An Najayah dengan firqoh-firqoh lainnya:

1.      Rasulullah e dan para sahabatnya adalah sauri teladan.

Adalah wajib hukumnya atas setiap muslim yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, untuk menjadikan tujuan (prinsip) utama dalam kehidupannya adalah mengesakan peribadatan hanya kepada Allah semata, dan mengesakan ketaatan hanya kepada Rasul-Nya. Kemudian ia senantiasa konsekwensi dengan prinsip ini, dan menjalankannya dalam segala situasi dan kondisi. Dia juga harus meyakini bahwa manusia paling utama setelah para nabi adalah para sahabat –radliallahu ‘anhum-. Dengan demikian ia tidaklah fanatis secara mutlak kepada seseorang kecuali kepada Rasulullah e, dan tidak fanatis secara mutlak kepada suatu golongan kecuali kepada para sahabat – radliallahu ‘anhum-.

Hal ini dikarenakan kebenaran dan hidayah senantiasa ada bersama Rasulullah e kapanpun dan dimanapun beliau berada, dan juga senantiasa ada bersama sahabat beliau, kapanpun  dan dimanapun mereka berada. Sehingga seandainya mereka bersepakat tentang sesuatu, mustahil untuk salah. Beda halnya dengan sahabat atau murid-murid selain beliau e, siapapun orangnya. Sehingga seandainya mereka mengadakan kesepakatan, sangat dimungkinkan kesepakatan tersebut merupakan kesalahan belaka. Karena agama islam ini bukalah hak prerogratif seseorang, kecuali Rasulullah e.([12])

Allah Ta’ala telah menjadikan hal ini sebagai tolok ukur kebenaran iman seseorang:

]قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم[

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu”. (QS Ali Imran 31).

Al Hasan Al Basri berkata: “Ada sebagian orang yang mengaku bahwasannya mereka mencintai Allah, maka Allah menguji (kebenaran pengakuannya) dengan ayat ini.

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata: “Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, padahal ia tidak meniti jalan Nabi Muhammad e, sehingga dengannya terbukti kepalsuan pengakuannya. (Pengakuannya dikatakan benar bila ) Ia menjalankan syari’at Nabi Muhammad e dalam segala ucapan dan perilakunya”.([13])

Sahabat Ibnu mas’ud t berkata: “Barang siapa dari kamu yang hendak mencontoh seseorang, maka hendaknya ia mencontoh sahabat-sahabat nabi Muhammad e, karena sesungguhnya mereka adalah orang yang hatinya paling baik dari umat ini, ilmu paling mendalam, paling sedikit bersikap takalluf (berlebih-lebihan), paling lurus petunjuknya, dan paling bagus keadaannya. Mereka adalah satu kaum yang telah Allah seleksi untuk menjadi sahabat nabi-Nya e, penegak agama-Nya. Oleh karena itu hendaknya kamu senantiasa mengenang jasa, dan mencontoh mereka, karena sesungguhnya mereka senantiasa berada di atas jalan yang lurus”.([14])

Kemudian sepeninggal sahabat, maka yang menjadi sauri teladan adalah murid-murid mereka, yaitu para tabi’in, dan kemudian sepeninggal mereka adalah tabi’it tabi’in, dan demikian seterusnya. Karena mereka semua ini senantiasa meniti jalan dan metode yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.

Inilah metode yang ditempuh oleh golongan selamat, yaitu konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, dan mencontoh ulama’ terdahulu, dari kalangan sahabat Nabi e dan murid-murid mereka.

Berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh ahlil bid’ah dengan berbagai alirannya, mereka menjadikan celaan terhadap sahabat Nabi sebagai aktifitas dan prinsip hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah, atau menyampingkan pendapat mereka dengan berbagai alasan, sebagaimana perkataan sebagian mereka tatkala mensifati pemahaman para sahabat: Bagaikan ayam, bila ia mengeluarkan telor, maka kita ambil, dan bila yang dikeluarkan adalah kotoran, maka kita tinggalkan, wal ‘iyazubillah min al khuzlan.

2.       Sumber agama mereka  hanyalah Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa sumber agama islam hanyalah Al Qur’an, Sunnah Nabi e, dan Ijma’, sedangkan selain ketiga hal ini adalah bathil, karena dengan meninggalnya Nabi e, maka telah terputuslah wahyu, dan Allah telah menyempurnakan agama islam ini.

]اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا[

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridlai islam sebagai agama bagimu” (QS Al Maidah 3).

Agama islam ini berdiri tegak diatas prinsip berserah diri kepada Allah Ta’ala, dan membenarkan serta mencontoh Rasulullah e:

(من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)

Barang siapa yang mengadakan dalam urusan kami ini (agama) sesuatu hal  yang  tidak ada darinya (tidak ada dalilnya), maka hal itu tertolak” (HRS Al Bukhory dan Muslim).

Oleh karena itu, seluruh bagian agama ini, baik itu akidah, suluk, siyasah, manhaj, tidaklah diambil selain dari wahyu, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Orang yang mengada-adakan suatu amalan atau ucapan bid’ah, misalnya dengan mengatakan: Dalam urusan ibadah kita mengikuti manhaj Alus Sunnah (ulamak salaf), tapi dalam urusan politik, atau perdagangan atau metode pendidikan, kita ambil dari orang lain (orang-orang barat, atau para ilmuwan masa kini), maka seakan-akan ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad e telah berkhianat dalam menyampaikan agama islam ini, karena Allah telah mengkalim bahwa agama ini telah sempurna.

Adapun firqoh-firqoh lain, maka metode mereka beraneka ragam, ada yang pedomannya adalah mimpi-mimpi, atau perkataan pendiri kelompoknya, atau analisa-analisa koran dan majalah, atau perasaan, atau akal manusia, filsafat dll. Akan tetapi semua firqoh-firqoh itu sepakat dalam sikap menduakan Al Qur’an dan As Sunnah.([15])

3.       Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidap pernah berbeda pendapat dalam prinsip-prinsip agama.

Salah satu kriteria Ahlis Sunnah adalah mereka senantiasa sepakat dan tidak pernah berselisih pendapat dalam hal-hal yang merupakan pokok-pokok agama, rukun-rukun islam dan iman dan segala perkara yang disebutkan dalam ayat atau hadits shohih, baik berupa amalan atau ucapan, dan juga perkara-perkara gaib.([16]) Oleh karena itu kita dapatkan penjelasan ulamak salaf  tentang rukun-rukun iman, islam, asma’ dan sifat, kehidupan alam barzakh, kehidupan akhirat dll, sama tidak ada perbedaan, padahal tempat tinggal dan perguruan mereka berbeda.

Persamaan ini dikarenakan beberapan hal berikut:

–         Mereka semua berpegang teguh dengan agama Allah.

–         Sumber ilmu agama mereka hanya Al Qur’an dan As Sunnah.

–         Aqidah mereka didasari oleh sikap pasrah dan mempercayai Rasulullah e dalam segala berita.

–         Mereka mendapatkan ilmu agama mereka dengan metode ittiba’ dan melalui jalur riwayat dari para ulamak yang terpercaya.

–         Mereka tidak memaksakan diri dengan berusaha mencari tahu hal-hal yang gaib, dan tidak memperdebatkan tentangnya.

Beda halnya dengan ahlul bid’ah, kita sering mendengar seruan dari sebagian mereka untuk meninggalkan dan mendustakan taqdir Allah, atau seruan untuk menepikan pembahasan masalah asma’ dan sifat Allah dengan berbagai alasan yang mereka rekayasa. Dan masih banyak lagi usaha-usaha dan seruan-seruan untuk mengkaji ulang hal-hal prinsip dan pokok dalam agama islam. Wallahul musta’an.

4.   Ahlus sunnah tidak mengkafirkan setiap orang yang menyelisihi mereka tanpa dalil atau bukti.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Orang-orang khowarij senantiasa mengkafirkan Ahlus sunnah wal Jama’ah, demikian juga halnya dengan orang-orang mu’tazilah, mereka senantiasa mengkafirkan setiap orang yang menyelisihinya. Demikian juga halnya dengan orang-orang rofidloh (Syi’ah). Kalaupun tidak mengkafirkan, minimal mereka menganggap orang selain mereka sebagai orang fasik. Dan demikian juga halnya dengan kebanyakan orang yang menganut pendapat bid’ah dan yang orang yang mengkafirkan setiap yang menyelisihinya. Adapun Ahlus sunnah, mereka senantiasa mengikuti kebenaran yang datang dari Allah Ta’ala yang diturunkan melalui lisan Rasul-Nya e, dan mereka tidak mengkafirkan setiap orang yang menyelisihinya. Bahkan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang kebenaran dan paling menyayangi sesama manusia”.([17])

Inilah salah satu petaka yang sedang melanda umat islam pada zaman kita ini, peledakan-peledakan yang terjadi di  berbagai negri islam, termasuk di negri tempat kita belajar ini Kerajaan Saudi Arabia, tidak luput dari petakan ini. Bukan hanya pemerintahnya yang dikafirkan tapi juga ulamak dan seluruh orang yang tidak setuju dengan ulah dan kejahatan mereka.([18])

Di negri Al geria (Al Jazair) berapa banyak kaum muslimin yang tak berdosa dibantai oleh kelompok bersenjata yang mengaku berjuang demi tegaknya negara islam.([19])

Semua tragedi pilu ini terjadi akibat aqidah sesat yang tertanam dalam jiwa para pelaku tindak keji ini. Mereka telah mengkafirkan masyarakat, pemerintah dan ulamak yang ada, bahkan mereka telah menganggap seluruh masyarakat islam yang ada di dunia sekarang ini sebagai masyarakat jahiliyyah, tak ubahnya masyarakat jahiliyyah yang ada pada zaman Nabi Muhammad e.

Setelah kita mengetahui beberapa kriteria Ahlis Sunnah dan Ahlil Bid’ah, pada akhir pembahasan ini, akan saya tutup dengan menyebutkan dua pintu besar bagi timbulnya bid’ah:

A.     Kesalahan ulamak.

Ahlis sunnah wal jama’ah berkeyakinan bahwa setiap manusia, walau seberapa luas ilmunya, pasti memiliki kesalahan, kecuali Rasulullah e, hanya beliaulah yang terlindung (ma’shum) dari kesalahan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:

] وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى[

“Dan ia tidaklah mengucapkan menurut hawa nafsunya, ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An Najem 3-4)

Kesalahan seorang ulamak sangat berbahaya akibatnya, karena ia adalah teladan dan panutan banyak orang. Sehingga kalau ia melakukan atau mengatakan perkataan yang salah, akan ada yang meniru dan mengikutinya. Oleh karena itu merupakan kewajiban ulamak lain untuk menjelaskan kesalahan tersebut, tanpa mengurangi sikap hormat terhadap ulamak yang melakukan kesalahan itu.

Bila kita membaca biografi para ulamak, niscaya kita akan mendapatkan banyak ulamak Ahlis Sunnah yang pernah mengatakan atau melakukan perbuatan bid’ah, tanpa ada unsur kesengajaan untuk berbuat kesalahan atau meninggalkan As Sunnah.

Sebagai contoh: Ibnu Abbas t pernah berfatwa membolehkan nikah mut’ah, dan kemudian ia menarik kembali fatwa tersebut, setelah terbukti baginya dengan hadits-hadits yang shohih, bahwa nikah mut’ah telah dihapuskan.([20])

Al Mujahid pernah menafsirkan ayat:

] عسى ان يبعثك ربك مقاما محمودا[

“Agar Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”. (QS Al Isra’ 79). Bahwa yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah: Nabi akan didudukkan disebelah Allah Ta’ala di atas Arsy-Nya.([21])

Imam Abu Hanifah –rahimahullah- menganut pendapat murji’ah.

Abdur Razzaq As Shon’ani –rahimahullah- terpengaruh dengan pendapat syi’ah, dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa.

Walau demikian, Ahlus Sunnah tetap menghormati para ulamak tersebut, tapi tidak mengikuti kesalahan mereka, atau menjadikan mereka sebagai alasan (dalil) dalam melakukan kesalahan itu. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Abdil bar tatkala mengkisahkan pendapat Mujahid di atas: “Tidaklah ada seorang ulamak-pun kecualli pendapatnya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali Rasulullah e. Dan Mujahid, walaupun dia adalah salah seorang yang ulamak yang diakaui akan kepandaiannya dalam ilmu tafsir Al Qur’an, akan tetapi ia memiliki dua pendapat yang ditinggalkan oleh para ulamak, dan dijauhi, salah satunya adalah ini”.([22])

Sebagian ulamak menyimpulkan bahwa tidaklah ada orang yang berusaha mengumpulkan dan mengikuti kesalahan-kesalahan ulamak, kecuali salah satu dari ketiga macam orang berikut:

–         Orang bodoh lagi terperdaya, yang bermaksud mencari sensasi (ketenaran) dengan cara membantah para ulamak.

–         Penganut hawa nafsu yang ingin memisahkan antara ulamak dan masyarakat.

–         Penganut bid’ah yang ingin mencari alasan atau dalih atas perbuatan bid’ahnya, melalui kesalahan-kesalahan para ulamak, sebagaimana perilaku orang-orang yang membolehkan pemberontakan atau menentang pemerintah dengan berdalihkan bahwa Sa’id bin Jubair pernah melakuakn pemberontakan.

B.     Kelalaian Ahli Ibadah.([23])

Setelah diamati, didapatkan bahwa banyak kesesatan orang-orang sufi ahli thariqat, asal-usulnya adalah sebagian kelalaian ahli ibadah zaman dahulu, walaupun ahli ibadah itu bertujuan baik. Dan demikianlah lazimnya setiap bid’ah, diawali dari kesalahan dan kelalaian seseorang, kemudian terus berkembang dan akhirnya derubah menjadi amalan bid’ah yang telah dilengkapi dengan metode-metode dan keyakinan-keyakinan (khurofat) tertentu. Nabi e telah memperingatkan umatnya dari keslahan dan kelalaian para ahli ibadah:

“Sahabat Anas bin Malik t mengkisahkan bahwa ada tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Nabi e, mereka bertanya tentang ibadah Nabi e. Dan tatkala mereka telah dikabari, mereka merasa bahwa ibadah beliau sedikit sekali, akhirnya mereka berkata: Mana mungkin kita bisa sama dengan Nabi e, karena beliau telah diampuni dosa-dosanya, baik yang terdahulu atau yang akan datang. Maka salah seorang dari mereka berkata: Adapun aku, maka akan senantiasa sholat malam, dan yang lain berkata: Aku akan puasa terus menerus dan tidak akan berhenti, dan yang lain berkata: Aku akan menjauhi wanita, sehingga aku tidak akan menikah. Kemudian Nabi e datang, dan beliau bersabda: Apakah kalian yang  berkata demikian, demikian? Kemudian beliau bersabda: ketahuilah bahwa aku  -demi Allah- adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah, akan tetapi aku berpuasa dan juga makan (berhenti berpuasa), aku sholat (malam) dan juga tidur, dan aku juga menikahi wanita, maka barang
siapa yang tidak suka dengan sunnah (cara/jalan/metode)-ku, berarti ia bukan dari golonganku”. (HRS Al Bukhory).

Pada kisah ini Nabi e memberikan contoh kepada ummatnya untuk mengingkari kesalahan ahli ibadah, dan tidak membiarkannya berjalan terus menerus. Dan inilah yang dilakukan oleh para sahabat beliau dan ulamak Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

Tatkala sahabat Abdullah bin Mas’ud melihat sekelompok orang berkumpul-kumpul di masjid Kufah, dan masing-masing menggenggam krikil sambil berzikir dengan dipimpin oleh salah satu dari mereka, (Zikir jama’i). Kemudian pemimpin itu mengatakan: bertakbirlah 100 kali, bertahlillah 100 kali, dan bertasbihlah 100 kali, maka sepontan Ibnu Mas’ud berkata kepada mereka: “betapa cepatnya kebinasaan kalian wahai ummat Muhammad! Lihatlah para sahabat Nabi e masih banyak jumlahnya, ini pakaian beliau (Nabi e) belum usang, dan bejana beliau belum pecah. Sungguh demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian adalah satu dari dua kemungkinan berikut: Kalian mendapat petunjuk yang lebih baik dibanding agama Nabi Muhammad atau orang-orang yang sedang membuka pintu-pintu kesesatan. Maka mereka menyanggah dengan berkata: Wahai Abu Abdir rahman! Kami tidaklah menginginkan (dari perbuatan ini) melainkan kebaikan. Maka Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan
tetapi tidak mendapatkannya. Kemudian perowi kisah ini berkata: Dan setelah itu, kami melihat kebanyak dari mereka memerangi kami bersama orang-orang khowarij di daerah Nahrowan”.([24])

Asma’ binti Abi Baker,  Abdullah bin Az Zubair dan Ibnu Sirin mengingkari orang-orang yang pingsan karena mendengar bacaan Al Qur’an. Ibnu Sirin berkata: Sebagai bukti kebenaran mereka mari kita uji dengan cara membacakan Al Qur’an kepada orang-orang itu, sedangkan mereka berada diatas pagar, kalau ia tetap pingsan berarti ia benar, (dan bila tidak berarti itu hanya pura-pura).([25])

Nah orang-orang sufi menjadikan kelalaian ahli ibadah ini sebagai amal ibadah rutin dan sebagai thariqat, dengan anggapan bahwa ini semua ada contohnya dari ulamak salaf.

Dan tidak jarang kisah-kisah ini tidak benar adanya, dan tak lebih hanya cerita bohong dari sebagian orang, sebagaimana halnya kisah-kisah tentang Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, bahwa beliau bisa terbang, menghidupkan orang yang sudah mati, dan masih banyak lagi dongeng tentang beliau. Waallahul Musta’aan.

Semoga sekelumit ulasan tentang hadits-hadits iftiraqul ummah ini bermanfaat bagi kita, dan menjadi pilar bagi kita dalam perjuangan menuju ke Al Firqoh An Najiyah, Amiin, wallahu A’alam Bis Showaab.

Ditulis oleh Fadhilatul Ustadz Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A. (Mahasiswa S-3 Universitas Islam Madinah)

Disebarkan oleh FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya

1425/2005

———————————

[1] ) Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah t, dan hadts beliau ini diriwayatkan oleh imam Muslim, dalam kitab shohihnya 2/886/1218.
[2] ) Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6.
[3] ) Golongan selamat digelari dengan Al Jama’ah, karena mereka senantiasa berada diatas kebenaran, dan tidak mungkin untuk bersepakat melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi e:

(لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة أبدا)

“Allah sekali-kali tidak akan mempersatukan ummat ini diatas kesesatan”. (HR At Tirmizy&Al hakim)
[4] ) Lihat Al I’tishom oleh As Syathiby 2/443.
[5] ) Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berfikir saja, niscaya kita akan terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikeranakan metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekwensinya kita harus toleransi kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariya, ahmadiyah dll, memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin. Kalau demikian lantas akan kemana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita?!
[6] ) Untuk lebih jelasnya, silahkan baca kitab “Bazlul majhud Fi Itsbat Musyabahat Ar Rofidloh Lil Yahud, oleh Syeikh Abdullah Al Jumaily.
[7] ) Seorang Mahasiswa di Islamic Universiti Madinah, mengajukan disertasi Doktoralnya dengan judul “Al Hindusiyah Wa Taatsur Ba’dli Al Firaq Biha”.
[8] ) Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: AL Bidayah Wa An Nihayah, oleh Ibnu Katsir, dll.
[9] ) Lihat kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13.
[10] ) Untuk lebih lengkap, silahkan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171.
[11] ) Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh, silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah.
[12] ) Lihat Minhajus Sunnah 5/261-262.
[13] ) Tafsir ibnu Katsir 1/358.
[14] ) Lihat Hilyatul Auliya’ 1/305, dan Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadllih 2/97.
[15] ) Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnul Qayyim dalam kitamnya: As Showa’iq Al Munazzalah ‘Ala At thoifah Al Jahmiyyah Al Mu’atthilah 2/379-380
[16] ) Lihat Dar’u Ta’arud Al ‘Aqel wa An Naqel1/263.
[17] ) Minhajus Sunnah 5/158.
[18] ) Untuk lebih mengetahi lebih detail tentang kejadian dan fatwa para ulama’ Ahlis Sunnah tentang hal ini silahkan baca buku” Fatawa Al A’immah Fi An Nawazil Al Mudlahimmah, oleh Muhammad Husain Al Qohthoni.
[19] ) Untuk lebih mengetahui tentang kenyataan yang terjadi di Al geria, silahkan baca kitab “Fatawa Al Ulamak Al Akabir Fima Uhdira Min Dima’ Fi Al jazair”, oleh Abdul Malik bin Ahmad Al jazairy.
[20] ) Lihat Kitab Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 10/48.
[21] ) Lihat Tafsir At Thobary 15/145, dan At Tamhid 7/157-158.
[22] ) Lihat At Tamhid 7/157.
[23] ) Agar lebih jelas silahkan baca kitab Al I’tishom Oleh As Syathiby 1/153 dst.
[24] ) Diriwayatkan oleh Imam Ad Darimy.
[25] ) Lihat Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyyah 11/7-8.