Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

HUKUM CADAR MENURUT KITAB NU

2 Komentar

HUKUM CADAR MENURUT KITAB NU

Yang dimaksud dengan kitab-kitab NU di sini adalah kitab-kitab yang sering dikaji oleh saudara-saudara kita yang berafiliasi kepada NU.

Di antara buku yang terkenal di kalangan NU adalah kitab Safinatun Najah yang maknanya adalah perahu keselamatan.
Buku adalah buku pemula bagi orang yang hendak belajar fikih Syafii. Buku ini ditulis oleh Salim bin Sumir al Hadhrami-berasal dari Hadramaut Yaman- namun beliau meninggal di Jakarta.

Ketika membahas tentang aurat, penulis mengatakan:

فصل: العورات أربع: الرجل مطلقا والأمة في الصلاة ما بين السرة والركبة.

“Fasal (tentang aurat)
Aurat itu ada empat macam:

Pertama, aurat laki-laki dalam semua keadaan dan aurat budak perempuan adalah bagian badan antara pusar dan lutut.

وعورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوي الوجه والكفين.

Kedua, aurat perempuan merdeka (baca:bukan budak) ketika shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

وعورة الحرة والأمة عند الأجانب جميع البدن.

Ketiga, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahrom) adalah seluruh anggota badannya.

وعند محارمهما والنساء ما بين السرة والركبة.

Keempat, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki yang berstatus mahrom dengannya adalah bagian badan antara pusar dan lutut” (Safinatun Najah yang dicetak Nurud Duja-terjemah Safinatun Najah dalam bahasa Jawa- hal 58-59, terbitan Menara Kudus tanpa tahun).

Tegas dalam kutipan di atas bahwa menurut penulis Safinatun Najah seorang perempuan merdeka harus menutupi seluruh tubuhnya (termasuk mata) tanpa terkecuali ketika bertemu dengan laki-laki ajnabi baik di rumah, di warung, di pasar ataupun di sekolah.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh Kyai Asrar bin Ahmad bin Khalil Wonosari Magelang dalam Nurud Duja fi Tarjamah Safinatun Najah. Terjemah Safinatun Najah dalam bahasa ini diberi kata pengantar oleh penerjemahnya pada tanggal 17 Sya’ban 1380 H atau 1 Januari 1961 M dan diberi kata sambutan oleh Kyai Muhammad Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem pada tanggal 27 Jumadil Akhir 1380 H atau 16 Desember 1960 M dan Kyai Bisri Mushthofa Rembang pada 28 Jumadil Akhir 1380 H atau 17 Desember 1960 M.

Di halaman 59, Kyai Asrar pada komentar no 3 mengatakan, “Nomer telu: aurate wadon merdeka lan amah naliko sandingan karo wong lanang liya yo iku sekabehane badan”.

Yang artinya dalam bahasa Indonesia, “Macam aurat nomer ketiga adalah aurat perempuan merdeka dan budak perempuan ketika berada di dekat laki-laki ajnabi adalah seluruh badannya”.

Penjelasan penulis Safinatun Najah dan Kyai Asror dari Wonosari Magelang tersebut tidaklah bisa dipraktekkan kecuali jika para perempuan memakai burqoh atau cadar yang menutupi seluruh badan termasuk mata. Kalau sekedar cadar yang masih menampakkan kedua mata masih dinilai kurang sesuai dengan penjelasan di atas.

Yang sangat disayangkan mengapa belum pernah saya jumpai saudara-saudara kita para mbah romo kyai NU yang menerapkan aturan ini pada istrinya (baca:bu nyai) atau pada anak-anaknya. Belum pernah juga saya jumpai warga nahdhiyyin yang menerapkan kandungan kitab Safinatun Najah ini padahal mereka sangat sering mengkaji kitab ini.

Mengapa realita berlainan dengan teori di kitab? Adakah belajar agama itu sekedar wawasan bukan untuk diamalkan?

Moga Allah selalu menuntun langkah-langkah kita menuju ilmu manfaat dan amal shalih yang berlandaskan ilmu yang benar.

=====================

 

Bag: 2

 

Syarh ‘Uqud al Lajjiin fi Bayan Huquq al Jauzain karya Syarh Muhammad bin Umar Nawawi al Jawi adalah buku wajib santri NU yang ingin mewujudkan keluarga sakinah dalam rumah tangganya. Di dalamnya terdapat beragam nasihat untuk suami dan istri sehingga buku ini “wajib” dikaji oleh santri atau santriwati yang hendak menikah.

Sebatas pengetahuan saya penulis matan Uqud al Lajjiin yang bermakna untaian perak adalah anonim alias tidak diketahui secara pasti.

Di antara yang menarik di buku ini adalah bahasan tentang aurat wanita muslimah menurut penulis matan dan pen-syarah-nya.

Di halaman ke-3 baris ke-7 dari atas menurut cetakan dari penerbit Syarikah an Nur Asia (tanpa dicantumkan tahun terbit dan alamat penerbit) disebutkan sebagai berikut:

(الفصل الثاني في) بيان (حقوق الزوج) الواجبة (على الزوجة) و هي طاعة الزوج في غير معصية وحسن المعاشرة وتسليم نفسها إليه وملازمة البيت وصيانة نفسها من أن توطيء فراشه غيره و الاحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها إذ النظر إليهما حرام ولو مع اتفاء الشهوة والفتنة …

“(Fasal kedua itu berisi) penjelasan (mengenai hak-hak suami) yang menjadi kewajiban (istri). Hak-hak tersebut adalah:
1. mentaati suami selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat
2. memperlakukan suami dengan baik
3. menyerahkan dirinya kepada suami (jika suami mengajak untuk berhubungan badan, pent)
4. betah di rumah
5. menjaga diri jangan sampai ada laki-laki selain suaminya berada di tempat tidur suaminya
6. berhijab sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang terlihat oleh laki-laki ajnabi termasuk di antaranya adalah wajah dan kedua telapak tangannya karena adalah haram hukumnya seorang laki-laki melihat wajah dan telapak tangannya meski pandangan tersebut tanpa diiringi syahwat dan tidak dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang tergoda…”

Catatan:
Yang ada di dalam kurung adalah perkataan penulis matan. Sedangkan yang diluar dalam kurung adalah perkataan Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Bantani, pensyarah matan Uqud al Lajjiin.

Di halaman 17 baris ke-9 dari bawah penulis matan berkata sebagaimana berikut ini:

(فيجب علي المرأة إذا أرادت الخروج أن تستر جميع بدنها ويديها من أعين الناظرين)

“Wajib atas perempuan muslimah jika hendak keluar rumah untuk menutupi semua badannya termasuk kedua telapak tangannya agar tidak terlihat mata para laki-laki yang melihat dirinya”.

Berdasarkan dua kutipan di atas jelaslah bahwa wajibnya seorang muslimah menutup seluruh badannya ketika bertemu lelaki ajnabi adalah pendapat penulis matan Uqud al Lajjain sebagaimana dalam kutipan kedua, sekaligus pendapat Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi sebagaimana dalam kutipan pertama.

Bahkan di halaman 18 baris ke-9 dari bawah an Nawawi al Jawi al Bantani mengklaim adanya ijma’ amali (kesepakatan secara praktek nyata) bahwa muslimah itu bercadar ketika berada di luar rumah. Beliau mengatakan,

إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات

“Tidak henti-henti sepanjang zaman (umat Islam, pent) bahwa laki-laki itu keluar rumah dalam keadaan tidak bercadar sedangkan kaum wanita itu bercadar jika mereka keluar dari rumah”.

Jadi umat Islam tidak pernah mengenal dan tidak pernah tercatat dalam sejarah umat Islam sampai masa Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Jawi al Bantani adanya seorang wanita muslimah yang bukan budak keluar rumah dalam keadaan wajahnya terbuka.

Sungguh sangat aneh jika ada kaum nahdhiyyin yang lupa bahwa bercadar bagi wanita adalah ajaran resmi nahdhiyyin sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab dasar yang diajarkan kepada santri pemula dan orang-orang awam. Bahkan beranggapan bahwa cadar bagi muslimah hanya sekedar budaya Arab Saudi dan tidak ada dalam ajaran Islam. Memang benar, ilmu itu akan terjaga jika di amalkan bukan hanya sekedar diteorikan.

Artikel www.ustadzaris.com

http://ustadzaris.com/cadar-dalam-kitab-kitab-nu-1

http://ustadzaris.com/cadar-dalam-kitab-kitab-nu-2


Penulis: abuazwa

Nama : Abu Azwa Kusnanto bin Kusnun bin Abdul Hamid Tempat / Tgl Lahir : Bogor, 7 September 1978 Pendidikan Terakhir : Sarjana Teknik Elektro

2 thoughts on “HUKUM CADAR MENURUT KITAB NU

  1. lha wong kamu bacanya cuma safinah doang koq. wakakaka…… dasar wahabi! klo mau bacakitab2 salaf mu’tabaroh yg sering dikaji orang NU ngaji yg bener,. jng cuma baru tau sepenggal fasl dlm kitab safinah terus anda merasa paling benar dan menganggap salah para kyiai.

    • NA’AM SAYA SEORANG WAHABI……….!!
      Apabila Wahhabiyah berarti dakwah menyeru orang kepada tauhid dan akidah yang benar, menghapuskan kesyirikan dan berlepas diri dari orang-orang musyrik, sebagaimana dakwah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

      Apabila Wahhabiyah berarti dakwah menyeru manusia kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah, berpegang teguh kepada teladan, petunjuk, dan pemahaman salaf ash-shalih, serta memberangus fanatisme mazhab, sebagaimana dakwah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

      Jika Wahhabiyah berarti berpegang teguh kepada As-Sunnah yang kokoh dan shahih, serta memberangus bid’ah, takhayul, dan khurafat (mitos), sebagaimana dakwah yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

      …Jika Wahhabiyah berarti berpegang teguh kepada As-Sunnah, memberangus bid’ah, takhayul, dan khurafat sebagaimana dakwah yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!…

      Apabila Wahhabiyah berarti berjihad memerangi segenapthaghut (setiap orang dan segala sesuatu yang disembah dan ditaati selain Allah) yang zalim, memerangi kesyirikan dan orang-orang musyrik, sebagaimana dakwah yang dilakoni oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

      Apabila Wahhabiyah berarti sikap dan paradigma al-wasathiyyah (pertengahan); tidak cenderung kepada sikap berlebihan seperti Khawarij dan tidak longgar atau menggampangkan seperti Murjiah, sebagaimana dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

      Dan masih ada banyak lagi perilaku yang dianggap musuh-musuh dakwah tauhid Sebagai bagian dari Wahhabiyah, yang secara menyeluruh berupaya memurnikan kalimat tauhid la ilaha illallah beserta segala aspek yang terkait dengannya berikut konsekuensinya, maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang Wahhabi!

      Apabila kita mengamati dan mencermati sikap orang-orang dengki yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, maka kita mendapatkan bahwa mereka bisa jadi adalah orang kafir, atau kelompok Syi’ah Rafidhah, atau kaum Sufi ekstrim, atau kalangan pelaku bid’ah yang sesat, atau kelompok orang-orang bodoh yang sangat membenci tanpa mau mengetahui sedikit pun dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

      …Orang-orang dengki yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, bisa jadi adalah orang kafir, Syi’ah Rafidhah, Sufi ekstrim, atau pelaku bid’ah yang sesat…

      Itulah batalion kejahatan. Siapa saja merelakan dirinya untuk bergabung ke dalamnya, mendedikasikan diri untuk menjadi prajuritnya, dan memperkuat barisannya, niscaya dia akan menemui kekecewaan dan kerugian.

      Mengapa mereka begitu murka kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Pada masa sekarang, betapa banyaknya orang yang membenci dakwah tauhid. Sudah sejak lama kita mendengar berbagai kelompok yang melontarkan cacian, makian, dan fitnah dusta kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Sampai-sampai istilah ‘Wahhabi’ dan ‘Wahhabiyah’ menjadi stigma buruk dan negatif di kalangan manusia. Sayangnya, mereka sedikit pun tidak bisa mendatangkan dalil tak terbantahkan dan argumentasi kuat yang dapat melegitimasi kebencian, kezaliman, dan kedengkian mereka.

      Khazanah intelektual dan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berserakan di mana-mana. Orang yang menginginkannya bisa dengan mudah mendapatkannya. Semua karya-karyanya berbicara dengan kebenaran, mengajak kebenaran, dan memerintahkan kebenaran. Jika ada pernyataan di dalamnya yang kalian bantah dan tolak, maka datangkanlah satu antitesa yang mu’tabar (kredibel dan tak terbantahkan). Jika kalian merasa benar, bantahlah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan hujjah-hujjah meyakinkan yang bisa menjustifikasi permusuhan dan kebencian kalian!

      Namun jika kalian tidak bisa mendatangkan –sekali-kali tidak akan bisa– argumentasi dan bukti itu, maka akuilah bahwa yang kalian benci dan musuhi dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran itulah yang tidak disukai oleh kalian dan para thaghut.

      Apabila kalian mengatakan, “Tengoklah kezaliman dan kekeliruan sebagian kalangan yang berafiliasi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya pada masa sekarang!” Maka saya menjawab, “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya tidak bisa diserang dan dihujat hanya karena ada segelintir orang yang mengaku berafiliasi kepadanya, lalu mereka membuat kesalahan dan kekeliruan. Kesalahan yang dilakukan seorang pengikut atau murid tidak lantas membuat pemimpin atau gurunya layak mendapatkan cercaan dan hujatan. Seseorang tidak bisa dimintai tanggung jawab atau dihukum berdasarkan dosa orang lain. Seandainya hal ini bisa diterima, niscaya tidak akan ada orang di muka bumi yang selamat dari kesalahan dan hukuman.” Wallahu A’lam.

      [Diterjemahkan oleh Ganna Pryadharizal dari artikel berjudulNa’am Ana Wahhabi!]
      http://almanhajsalaf.wordpress.com/page/2/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s