Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


3 Komentar

Isbal

ISBAL DENGAN TIDAK SOMBONG?? (Menurunkan Pakaian di Bawah Mata Kaki)

Oleh : Abu Salma al-Atsary

Wahai
hamba Allah sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah
menganugerahkan segala kenikmatan pada kita, diantara kenikmatan yang

isbal = no , no isbal = yes

dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita adalah pakaian yang
dengannya manusia terbedakan dengan makhluk Allah yang lainnya. Hewan,
tumbuhan, dan makhluk lainnya, tidakkah mereka itu dalam keadaan
telanjang secara dhahir/fisiknya? Maka oleh karena itulah Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat manusia, dengan akal dan hati
yang dianugerahkan-Nya, dan rasa malu yang menghias manusia menjadi
indah.

Sebagaimana dalam firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-A’raf ayat 26 :

يَا
بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ
وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ
لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Wahai anak Adam,
sesungguhnya kami telah menganugerahkan kepada kalian pakaian untuk
menutupi aurat kalian dan pakaian yang indah sebagai perhiasan. Dan
pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian inilah sebagian
dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Tatkala
Allah telah menganugerahkan pakaian yang dengannya manusia menutupi
aurat-aurat mereka, membalut tubuh-tubuh mereka dan memperindah
bentuknya, Allah memperingatkan bahwasanya ada pakaian yang lebih bagus
dan lebih banyak faidahnya, yaitu pakaian takwa, yang mana pakaian
takwa ini menghiasi dirinya dengan berbagai macam keutamaan-keutamaan,
yang mensucikannya dari berbagai kotoran, dan pakaian takwa itulah
tujuan yang diinginkan, yang mana barangsiapa yang tak memakai pakaian
takwa, tiadalah manfaat baginya pakaian yang melekat di tubuhnya.
Berkata seorang penyair :

Bila seseorang tidak memakai pakaian takwa
Berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian.

Seharusnya
pakaian takwa terus melekat pada diri seorang hamba, dan senantiasa
menjaganya agar tidak lusuh dan hancur, yakni pakaian yang memperindah
hati dan jiwa. Dimana pakaian tubuh hanya menutup aurat yang dhahir di
suatu waktu saja, yang kemudian keduanya akan rusak.

Wahai
hamba Allah, pakaian adalah termasuk nikmat Allah yang besar, yang
menghiasi manusia dan menutup aurat-aurat mereka,ia merupakan
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Dalam
berpakaian, islam juga menaruh perhatian yang besar padanya, karena
islam adalah agama yang sempurna, manakah ada dari permasalahan yang
tak dicakup oleh islam?, mulai dari istinja’, makan, berpakaian, bahkan
berpolitik sekalipun, Islam mengaturnya.

Pakaian
memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan.
Pria memiliki pakaian khusus dalam bentuk dan jenis, demikian pula
wanita. Tidaklah keduanya yakni lelaki dan wanita itu dapat dibedakan
melainkan dari pakaiannya, dimana tidak boleh bagi salah satunya
menggunakan pakaian yang lainnya. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah
yang artinya :

“Semoga Allah melaknat wanita yang berpakaian laki-laki dan laki-laki yang berpakaian wanita.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan hadits ini shohih menurut syarat Muslim).

Sungguh
suatu musibah pada zaman ini, dimana pakaian kaum wanita dan pria saat
ini tak dapat terbedakan. Sekarang kita lihat betapa banyak para wanita
muslimah yang tak berjilbab, mempertunjukkan aurat-aurat mereka,
bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang jahiliyah, kita lihat mereka
mudah sekali bertaklid dengan mode yang ngetrend di tengah mereka saat
ini, bahkan masyhur di tengah-tengah mereka pakaian di atas mata kaki,
bahkan hingga di pertengahan betis –wal‘iyyadzubiLlah-, yang
mana seharusnya ini merupakan sunnah yang wajib bagi lelaki, namun
merekalah yang menegakkannya sehingga celakalah dunia ini dengan
perilaku mereka.

Di lain fihak kaum lelaki dengan
bangganya mereka menjulurkan celana-celana mereka hingga di bawah mata
kaki, bahkan ada diantara mereka yang menyeret celananya sampai ke
tanah, mereka menganggap ini sebagai suatu hal yang biasa saja, atau
hanya trend biasa, celakanya lagi banyak para aktivis islam yang
melakukan demikian ini seolah-olah ini suatu hal yang sudah biasa dan
tidak berdosa, jikalau mereka mau mempergunakan akalnya yang didasari
kepada dalil syar’i niscaya mereka akan menyadari akan keharaman apa
yang mereka lakukan itu, yakni isbal (memanjangkan kain hingga di bawah
mata kaki).

Mari kita tilik hadits-hadits Rasulullah
berikut, dan kita tundukkan akal-akal kita pada syariat, janganlah
antum jadikan akal-akal dan perasaan-perasaan antum sebagai hakim dalam
masalah ini, jikalau antum meyakini islam itu agama yang syamil dan
sempurna, tak kurang satu apapun, yang mengatur seluruh aspek
kehidupan, maka mari kita telaah dengan hati yang lapang dan jiwa yang
terbuka dan meyakini bahwa seorang muslim jikalau ia diperintah oleh
Allah dan Rasul-Nya akan suatu hal maka wajiblah baginya menyatakan
sami’na wa atho’na tanpa ada rasa berat hati sedikitpun di dalam
hatinya, inilah bukti dan buah dari keimanan yang sebenarnya, Bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang artinya : “Apa-apa yang
ada di bawah mata kaki berupa sarung maka tempatnya adalah neraka.”
(HR. Bukhari dan Ahmad) hadits ini membuahkan faidah yakni apa-apa yang
ada di bawah mata kaki maka tempatnya adalah di neraka baik ia berupa
sarung, celana, gamis, maupun lain sebagainya, yang mana ia merupakan
pakaian yang berfungsi menutup aurat dari atas ke bawah, sebagaimana
dalam hadist Rasulullah : “Isbal berlaku pada sarung, gamis dan surban.
Siapa yang menurunkan pakaiannya sedikit saja karena sombong tidak akan
dilihat oleh Allah di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu
Majah dengan sanad shahih).

Adapun kaus kaki, sepatu
atau sejenisnya tidaklah termasuk pakaian yang jika menutupi mata kaki
pelakunya mendapatkan ancaman neraka, karena sepatu, kaus kaki atau
sejenisnya tidak dikatakan pakaian, namun ia dikatakan penutup kaki
yang tidak berfungsi sebagai pakaian penutup aurat tubuh dari atas ke
bawah, Wallahu a’lam.

Mungkin diantara antum ada yang
berpemahaman bahwa isbal diharamkan jika dilakukan hanya dengan
sombong, maka di sini kami ingin memberikan jawabannya sebagai berikut :

Jika
dikatakan bahwa, isbal itu haram jika dilakukan dengan sombong, dan
jika dilakukan dengan tidak sombong maka hukumnya tidak mengapa, maka
pendapat ini harus ditelaah ulang karena Rasullullah telah bersabda:
“Apa-apa yang ada di bawah mata kaki berupa sarung maka tempatnya
adalah neraka.” dengan lafadz ‘am/global tanpa adanya muqoyyad/pembatas
yang menerangkan kekhususan keharaman jika hanya dilakukan dengan
sombong. Adapun hadits yang lainnya yang diriwayatkan muttafaqun
‘alaihi yang artinya : “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena
sombong, Allah takkan melihatnya di hari kiamat.” Para ulama’
menjelaskan bahwa isbal adalah sama saja haram baik dilakukan dengan
sombong maupun tidak dengan sombong, dengan alasan sebagai berikut :

Hadits
“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah takkan
melihatnya di hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaihi) tidaklah membatasi
hadits “Apa-apa yang ada di bawah mata kaki berupa sarung maka
tempatnya adalah neraka.” (HR. Bukhari dan Ahmad), bahkan sebaliknya,
kedua hadits di atas saling menjelaskan, karena wa’id (ancaman) yang
dijelaskan bagi fa’il (pelakunya) berbeda, sehingga tetap Haram
hukumnya ber-Isbal baik dilakukan dengan tidak sombong maupun dengan
sombong. Adapun melakukan dengan kesombongan, maka ancamannya lebih
keras. Maka ketika kedua wa’id (ancaman) ini berbeda, dalil hadits
pertama tidak bisa membawa yang mutlak kepada pengecualian yang
ditunjukkan pada hadits kedua di atas, karena kaidah yang
memperbolehkan pengecualian dari yang mutlak adalah dengan syarat jika
kedua nash sama dari segi hukum. Jika seseorang melakukan isbal dengan
tidak merasa sombong maka tetap haram hukumnya dan ancamannya adalah
neraka, dan barangsiapa yang melakukannya dengan kesombongan maka
ancamannya lebih pedih lagi, yakni pertama ia tetap terancam dengan
neraka, kedua karena kesombongannya ia terancam Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat.

Nabi
bersabda : “Jauhilah olehmu isbal, karena ia termasuk kesombongan.”
(HR. Abu Dawud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih). Dari hadits ini
Ulama’ beristinbat bahwa isbal itu merupakan salah satu bentuk
kesombongan walaupun seseorang itu melakukannya dengan sombong maupun
tidak, tetap nabi menyatakan bahwa isbal itu termasuk kesombongan yang
harus dijauhi. Maka dari sini nampak bahwa isbal itu termasuk
kesombongan yang nyata, karena :

Pertama, ia menolak perintah nabi untuk tidak berisbal

Kedua, ia melanggar perintahnya ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam untuk menjauhi isbal

Ketiga, ia melakukan salah satu bentuk kesombongan dalam berpakaian

dan Keempat,
ia menyelisihi firman Allah yang artinya : “Dan Janganlah engkau
berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Allah tidak suka
kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh.” Karena ia berpakaian
dengan ber-isbal sedangkan isbal itu menurut nabi sebagaimana hadits di
atas termasuk bentuk kesombongan.

Di dalam
sebuah riwayat yang diriwayatkan Imam Bukhari, tatkala Umar Bin
Khaththab Radhiallahu ‘anhu melihat seorang pemuda berjalan dalam
keadaan pakaiannya menyeret di tanah ia berkata kepadanya : “angkatlah
pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih takwa kepada Rabbmu
dan lebih suci bagi pakaianmu.” (Riwayat Bukhari). Dari atsar ini
nampaklah dengan jelas bahwa Umar bin Khaththab melihat akan keutamaan
dan kewajiban untuk tidak isbal dalam berpakaian. Jikalau isbal itu
tidak wajib niscaya Umar tidak akan memerintahkan pemuda tadi untuk
mengangkat pakaiannya, dan jikalau isbal tadi diharamkan hanya jika
dilakukan dengan kesombongan dari manakah Umar mengetahui bahwa pemuda
tadi melakukan isbal dengan kesombongan jika tidak dari dhahir
keadaannya yang menunjukkan bahwa isbal itu salah satu bentuk
kesombongan, sehingga beliau menasehati pemuda tadi dengan perkataan
bahwa tidak isbal itu adalah lebih takwa dan lebih suci bagi pakaian.

Adapun
ucapan nabi terhadap Abubakar tatkala beliau berkata : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya sarungku sering melorot kecuali kalau aku
benar-benar menjaganya” maka nabi menjawab : “Sesungguhnya engkau
tidaklah termasuk golongan yang melakukannya karena sombong.” (HR.
Muttafaq ‘alaihi). Apa Faidah dari Hadits ini ? Hadits ini menunjukkan
kewara’an Abubakar dalam memegang perintah Rasulullah, tatkala beliau
merasakan pakaiannya sering melorot sehingga menyebabkan pakaiannya
turun, maka beliau langsung mengangkatnya ke atas, dan hal ini
dilaporkan ke Nabi bahwa ia melakukannya bukan dengan sengaja, maka
Nabi mempersaksikan bahwa beliau (Abubakar) bukanlah orang-orang yang
melakukannya karena sombong, karena beliau (Abubakar) senantiasa
menjaga pakaiannya agar tidak turun dan menaikannya, sehingga apa yang
dilakukan Abubakar bukanlah kesombongan, inilah makna hadits ini yang
sebenarnya sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Bazz
dan Syaikh Albani Rahmatullah wasi’ah alahim. Adapun orang-orang yang
menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya isbal dengan tidak sombong
maka ia telah melakukan kesalahan yang besar, disebabkan karena
Abubakar senantiasa menjaganya agar tidak turun dan tidak membiarkan
begitu saja ketika pakaiannya turun sebagiamana orang yang sengaja
melakukan isbal.

Maka dari penjelasan di atas,
seharusnya kita membuka fikiran kita, membuka hati kita, bahwa inilah
sunnah Rasulullah yang harus kita tegakkan, yang harus kita amalkan,
karena tidaklah syariat itu diturunkan kecuali bagi kemaslahatan
makhluk itu sendiri walaupun mungkin akal-akal dan perasaan makhluk
tidak mampu mencernanya, walaupun orang-orang menganggap aneh terhadap
sunnah nabi dikarenakan kebodohan yang merebak dan meraja lela sehingga
manusia tidak mampu lagi melihat mana yang sunnah, mana yang bid’ah,
mana yang haq dan mana yang bathil, karena banyak manusia telah
terbutakan oleh kemaksiatan yang seolah-olah menjadi bagian tak
terpisahkan dari kehidupannya, karena seringnya ia berinteraksi dengan
kemaksiatan dan kebatilan dan jauhnya ia dari ilmu, ia terperosok ke
dalam lubang kebodohan dan musibah menerpa kita bertubi-tubi.

Diantara hikmah kita disyariatkan untuk berpakaian di atas mata kaki adalah :
• Sebagai bentuk pengejewantahan syariat nabi dalam berpakaian yang masuk ke dalam amal ketho’atan.
• Sebagai bentuk pembeda bagi kaum laki-laki dengan wanita dimana wanita
disyariatkan menutup mata kakinya bahkan menambah sejengkal lagi
panjangnya hingga terseret di tanah (sebagaimana perintah nabi kepada
Ummu Salamah, bab pakaian wanita ini dapat dibaca di jilbab wanita
Muslimah karya Syaikh Albani atau kitab lainnya).
• Sebagai bentuk sikap yang mendekatkan diri kepada takwa dan tawadhu’.
• Lebih menjaga kesucian pakaian kita, karena tidak terseret di tanah.
(perkecualian bagi jilbab wanita Muslimah yang ada hadits dari
rasulullah tentang tambahan sejengkal dari mata kaki)
• Menghindarkan diri kita dari kesombongan yang menghantarkan kita kepada
siksa Allah di hari kiamat kelak yakni dengan ancaman neraka dan
berpalingnya Allah dari melihat kita.
• Menegakkan
syi’ar-syi’ar islam dan menunjukkan ciri khas ahlus sunnah wal jama’ah
di saat ahlus sunnah menjadi orang yang asing diantara manusia-manusia
lainnya.
• Dan masih banyak lagi lainnya.
Mengenai
hal ini banyak sekali dalil dan hujjah yang menunjukkan kewajiban
muslim untuk tidak berisbal. Namun kami cukupkan sampai di sini, semoga
bermanfaat.


Tinggalkan komentar

TEMPAT-TEMPAT YANG BANYAK DITEMUKAN PARA SYAITAN ?



Aqidah Islam
Ditulis oleh Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam
Senin, 22 Februari 2010 13:33
Tempat-tempat yang banyak ditemukan para syaitan diantaranya :

1. Tempat peristirahatan unta.

Dalam hadits Abdullah bin Mughaffal radiyallohu ‘anhu berkata, bersabda ..Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam:

صَلُّوا فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلاَ تُصَلُّوا فِى أَعْطَانِ الإِبِلِ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ

” Shalatlah kalian di tempat peristirahatan (kandang) kambing dan janganlah kalian shalat di tempat peristirahatan (kandang) unta karena sesungguhnya unta itu diciptakan dari syaitan.” (HR. Ahmad (4/85), Ibnu Majah (769) dan Ibnu Hibban (5657) dan selainnya).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam “Majmu Fatawa” (19/41) ketika menjelaskan tentang penyebab dilarangnya shalat di tempat peristirahatan unta. Yang benar bahwa penyebab (dilarangnya shalat) di kamar mandi, tempat peristirahatan unta dan yang semisalnya adalah karena itu adalah tempat-tempat para setan.

2. Tempat buang air besar dan kecil

Dalam hadits Zaid bin Arqam radiyallohu ‘anhu, dan selainnya yang diriwayatkan oleh Ahmad (4/373), Ibnu Majah (296), Ibnu Hibban ( 1406), Al Hakim (1/187) dan selainnya bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

” Sesungguhnya tempat-tempat buang hajat ini dihadiri (oleh para setan, pen), maka jika salah seorang dari kalian hendak masuk kamar mandi (WC), ucapkanlah “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”

الْخُبُثِ adalah setan laki-laki dan الْخَبَائِثِ adalah setan perempuan. Demikian banyak orang yang terkena gangguan jin adalah di tempat-tempat buang hajat.

3. Lembah-lembah. Sesungguhnya jin dan setan ditemukan di lembah-lembah dan tidak ditemukan di pegunungan. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam “Majmu Fatawa” (19/33) : “Lembah-lembah adalah tempatnya kaum jin karena sesungguhnya mereka lebih banyak ditemukan di lembah-lembah daripada di dataran tinggi.”

4. Tempat sampah dan kotoran.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam “Majmu Fatawa” (19/41) : “(Para Setan) ditemukan di tempat-tempat bernajis seperti kamar mandi dan WC, tempat sampah, kotoran serta pekuburan.”

5. Pekuburan.

Telah datang dari hadits Abu Said Al Khudri radiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda:

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

” Permukaan bumi itu semuanya masjid (bisa dijadikan tempat untuk shalat, pen) kecuali pekuburan dan kamar mandi.” (HR. Ahmad (3/83), Abu Daud (492), Tirmidzi (317), Ibnu Hibban (1699), Al Hakim (1/251) serta yang lainnya).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam “Majmu Fatawa” (19/41) ketika berbicara tentang tempat-tempat jin : “Pada pekuburan itu terdapat sarana menuju kesyirikan sebagaimana pekuburan juga menjadi tempat mangkalnya para syaitan Lihat ucapan beliau sebelumnya. Para syaitan menuntut orang yang hendak menjadi tukang sihir untuk selalu tinggal di pekuburan. Dan disanalah para syaitan turun mendatanginya dan tukang sihir itu bolak balik ke tempat ini. Para syaitan menuntutnya untuk memakan sebagian orang-orang mati.

6. Tempat yang telah rusak dan kosong.

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam “Al Adab Al Mufrad” (579) dari Tsauban radiyallohu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, berkata kepadaku :

لا تسكن الكفور فإِن ساكن الكفوركساكن القبور

” Janganlah kamu tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman karena tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman itu seperti tinggal di kuburan.”

Hadits ini hasan. Berkata lebih dari satu ulama bahwa Al Kufuur adalah tempat yang jauh dari pemukiman manusia dan hampir tidak ada seorang pun yang lewat di situ. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana yang disebutkan dalam “Majmu Fatawa” (19/40-41) ketika berbicara tentang jin : “Oleh karena itu, (para syaitan) banyak ditemukan di tempat yang telah rusak dan kosong.”

7. Lautan

Dalam hadits Jabir radiyallohu ‘anhu berkata : Bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :

إن إبليس يضع عرشه على البحر ثم يبعث سراياه

” Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas lautan dalam riwayat lain di atar airdan kemudian dia pun mengutus pasukannya.

(HR. Muslim: 2813).

Dan juga datang dari hadits Abu Musa radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya dan hadits ini shahih. Sebagian ulama menyebutkan bahwa lautan yang dimaksud adalah samudera “Al Haadi” karena di sanalah tempat berkumpulnya semua benua.

8. Celah-celah di bukit.

Telah datang hadits Ibnu Sarjis radiyallohu ‘anhu dia berkata: bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :

لايبلون أَحدكم في الجحر

” Janganlah salah seorang diantara kalian kencing di lubang…”

Mereka berkata kepada Qatadah: “Apa yang menyebabkan dibencinya kencing di lubang?”, dia berkata : “Disebutkan bahwa itu adalah tempat tinggalnya jin”. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (5/82), Abu Daud (29), An Nasaai (34), Al Hakim (1/186) dan Al Baihaqi (1/99). Lebih dari satu ulama yang membenarkan bahwa Qatadah mendengar dari Abdullah bin Sarjis radiyallohu ‘anhu,. Lihat ktab “Jami’ At Tahshiil.”

Hadits ini dishahihkan oleh Al Walid Al Allamah Al Wadi’i dalam “Ash Shahih Al Musnad Mimma Laisa fii Ash Shahihain” (579).

9. Tempat-tempat kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan

Para setan ditemukan di setiap tempat yang di dalamnya manusia melakukan kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan. Tidaklah dilakukan kebid’ahan dan penyembahan kepada selain Allah Subhaanahu wat’ala, kecuali syaitan memiliki andil yang cukup besar di dalamnya dan terhadap para pelakunya.

10.Rumah-rumah yang di dalamnya dilakukan kemaksiatan

Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalla, bersabda :

أن الملائكة لا تدخل بيتا فيه كلب ولا صورة

” Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” (HR. Al Bukhari: 3226 dan Muslim : 2106 dari hadits Abu Thalhah dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma dan datang pula dari para sahabat yang lain).

Jika malaikat tidak masuk ke dalam rumah, maka syaitanlah yang masuk adalah syaitan karena malaikat adalah tentara-tentara Allah Subhaanahu wata’ala yang diutus untuk menjaga kaum mukminin dan menolak kemudharatan dari mereka. Termasuk kebodohan adalah jika seorang muslim mengusir malaikat dari rumahnya yang menyebabkan masuknya jin dan setan ke dalamnya. Maka makmurkanlah rumah itu dengan dzikir kepada Allah Subhaanhu wata’ala, ibadah, dan membaca Al Qur’an. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda :

لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan karena sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al Baqarah.” (HR. Muslim (780), Ahmad (2/337), Tirmidzi (2877) dan selainnya).

11.Pasar-pasar

Telah datang dari Salman radiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2451) dan selainnya berkata :

لا تكونن إن استطعت أول من يدخل السوق ولا آخر من يخرج منها فإنها معركة الشيطان وبها ينصب رايته

” Janganlah engkau menjadi orang pertama yang masuk pasar jika engkau mampu dan jangan pula menjadi orang paling terakhir yang keluar darinya pasar karena pasar itu adalah tempat peperangan para syaitan dan disanalah ditancapkan benderanya.”

Ucapan ini memiliki hukum marfu (disandarkan kepada Rasululla Shallallohu ‘alaihi wasallam, pen). Yang dimaksud dengan ا لمعر كة dalam kata معركة الشيطان adalah tempat peperangan para syaitan dan mereka menjadikan pasar sebagai tempat perang tersebut karena dia mengalahkan mayoritas penghuninya disebabkan karena mereka lalai dari dzikrullah dan gemar melakukan kemaksiatan.

Dan ucapannya ” وبها ينصب رايته ” (dan dengannya dipasang benderanya), merupakan isyarat ditemukannya para syaitan untuk mengadu domba sesama manusia.

Oleh karena itu, pasar merupakan tempat yang dibenci oleh Alla Subhaanahu wata’ala. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أ حب البلا د إلى الله مساجدها وأبغض البلا د إلى الله أ سواقها

” Tempat yang paling disukai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (671) dan selainnya dari hadits Abu Hurairah radiyallohu ‘anhu. Demikianlah para setan berkumpul di tempat-tempat yang di dalamnya gemar dilakukan perbuatan maksiat dan kemungkaran.

12.Jin dan para setan berkeliaran di jalan-jalan dan lorong-lorong. Dalam hadits Riwayat Bukhari (3303) dan Muslim (2012) dari Jabir radiyallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا كان جنح الليل فكفوا صبيانكم فإن للجن انتشارا وخطفة وأطفئوا المصابيح عند الرقاد فإن الفويسقة ربما اجترت الفتيلة فأحرقت أهل البيت

” Jika telah datang malam, maka cegahlah anak-anak kalian untuk keluar karena sesungguhnya jin itu berkeliaran dan melakukan penculikan. Matikan lentera di saat tidur karena sesungguhnya binatang fasik (tikus, pen) itu kadang menarik sumbu lampu sehingga membakar penghuni rumah tersebut”.

http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=98:tempat-tempat-yang-banyak-ditemukan-para-syaitan-&catid=1:aqidah-islam&Itemid=28


2 Komentar

BARZANJI, KITAB INDUK PERINGATAN MAUID NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin
http://www.almanhaj.or.id/content/2583/slash/0

SEPUTAR KITAB BARZANJI
Secara umum peringatan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selalu
disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji
maupun Daiba, ada kalanya ditambah dengan senandung qasidah Burdah.
Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada
yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba, Barzanji dan Qasidah Burdah
dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam yang diawali dengan membaca Daiba, lalu Barzanji, kemudian
ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab
induk peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca
al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih
hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus
pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena
populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba lebih parah daripada
kitab Barzanji. Berikut uraiannya :

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga :
1). Cerita tentang perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan satra bahasa tinggi yang terkadang tercemar dengan
riwayat-riwayat lemah.
2). Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan
muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).
3). Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi telah
bercampur aduk dengan shalawat bid’ah dan shalawat-shalawat yang tidak
berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI
Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah
khathib di Masjidilharam dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah.
Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah
Kisah Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu
Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam doanya
“Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi
bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man.[2]

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI
Kesalahan kitab Barzanji tidaklah separah kesalahan yang ada pada kitab
Daiba` dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika
kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur’an. Bahkan,
dianggap lebih mulia dari pada Al Qur’an. Padahal, tidak ada nash
syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji,
Daiba` atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Qur’an yang jelas
pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering
membaca Barzanji daripada membaca al-Qur’an apalagi pada saat perayaan
maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia akan
mendapatkan satu kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan
menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan
tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf.[3]

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI
Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain:

Kesalahan Pertama
Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua
orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul Iman
dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia
mengungkapkan dengan sumpah.

Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli
iman dan telah datang dalil dari hadits sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat in,i maka ucapkanlah salam karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesungguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur’an).[4]

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadits dari Anas
Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di manakah ayahku
(setelah mati)? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dia
berada di Neraka. Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa
sallam memanggilnya dan bersabda: Sesungguhnya bapakku dan bapakmu
berada di Neraka[5]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Makna hadits ini adalah bahwa
barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka
dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang
mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah
berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian
dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi
Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.[6]

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan keduanya beriman serta
selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah
sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat
akan kedhaifannya seperti Daruquthni al-Jauzaqani, Ibnu Syahin,
al-Khathib, Ibnu Ashakir, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili,
al-Qurthubi, at-Thabari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas.[7]

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari yang berpendapat bahwa kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beriman, harus dibuktikan
kebenarannya. Memang benar, Imam as-Suyuthi rahimahullah berpendapat
bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman dan
selamat dari neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para
ulama peneliti hadits.[8]

Kesalahan Kedua
Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka menyakini
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir pada saat membaca
shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu
sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) membaca:

Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang.

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang
hadir secara fisik?. Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan,
apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang
pembela perayaan maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang
menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir
hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada di alam
Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga,
sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini
yang hadir adalah ruhnya.

Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu
Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.

Para pembela Barzanji seperti penulis Fikih Tradisionalis berkilah,
bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara
mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk
menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak
jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap
kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17
Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih
dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara
diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati
bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam
upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak dilakukan, sebagai
ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain?[9]

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin
menghormati Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam disamakan dengan hormat
bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup
atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara
seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin
kembali dan hadir ke dunia lagi. Disamping itu, kehadiran Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dunia merupakan keyakinan batil karena
termasuk perkara ghaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan
wahyu Allah Azza wa Jalla, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan,
pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan
Nabi?terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya,
menjauhi larangannya, dan mencintainya.

Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan
bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian juga dengan acara perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam ?adalah para sahabat Radhiyallahu ‘anhum -semoga
Allah meridhai mereka- sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada
kaum Quraisy: Wahai kaumku.demi Allah, aku pernah menjadi utusan
kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada kaisar, aku pernah
menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah
melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana
pengikut Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara
mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit
mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera
melaksanakannya. Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu,
mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata,
mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung
kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka[10]

Bentuk pengagungan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan
acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya
perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan
meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,Berdirilah kalian untuk tuan atau orang
yang paling baik di antara kalian [11], maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa pada hadits di
atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan
orang yang mempunyai keutamaan[12]. Namun, tidak dilakukan kepada orang
yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan
perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar
Radhiyallahu ‘anhum agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Muadz
Radhiyallahu ‘anhu turun dari keledainya, karena dia sedang luka parah,
bukan untuk menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya
secara berlebihan[13].

Kesalahan Ketiga
Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat
untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.

Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan.
Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi
Allah Azza wa Jalla dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sikap yang sangat dibenci
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan
syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk
dan manhaj dakwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu tauhîd. Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut, sehingga
ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang membawa beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kematian, beliau bersabda:
“Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum
Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. Aku hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya.[14]

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa Alaihissalam
sebagai sekutu bagi Allah Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka.
Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Azza
wa Jalla, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan
peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai
tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya Shallallahu
‘alaihi wa sallam : Janganlah kamu jadikan kuburanku tempat berkumpul,
bacalah salawat atasku, sesunggguhnya salawatmu sampai kepadaku
dimanapun kamu berada.[15]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada
umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan
beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam. Bahkan, ketika ada orang yang
berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka berkata: Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engkau orang
terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami,
maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan
syaitan menggelincirkanmu.[16]

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampui batas terhadap Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sumpah adalah bentuk pengagungan
yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah
hendaklah bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, jikalau tidak bisa
hendaklah ia diam.[17]

Cukuplah dengan hadits tentang larangan bersikap berlebihan dalam
mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalil yang
tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang
ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan
hadits tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Kesalahan Keempat
Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang
mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggab bahwa membaca shalawat kepada
nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ibadah yang
sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [al-Ahzab/ 33:56]

Ayat ini yang mereka jadikan sebagai dalil untuk membaca kitab tersebut
pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar
mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat
tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bersalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan
salawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan terhalang dari
melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan
akhirat, yaitu:

1). Terkena doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sungguh celaka bagi seseorang yang
disebutkan namaku di sisinya, namun ia tidak bersalawat atasku.[18]

2). Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang bakhîl adalah
orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bersalawat
atasku[19].

). Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Azza wa
Jalla, karena meninggalkan membaca salawat dan salam atas Nabi n dan
keluarganya. Nabi n bersabda: “Barangsiapa membaca salawat atasku
sekali, maka Allah Azza wa Jalla bersalawat atasnya sepuluh kali.[20]
4). Tidak mendapatkan keutamaan salawat dari Allah Azza wa Jalla dan para Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu
dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman” [Al-Ahzab/ 33:43]

Bahkan, membaca shalawat menjadi sebab lembutnya hati, karena membaca
shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi
tenteram dan damai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah Azza wa Jalla. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’du/ 13:28). Tetapi dengan
syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Azza wa
Jalla semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khufarat
serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sehingga bukan mendapat ketenteraman di dunia dan pahala di
akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah
Azza wa Jalla. Siksaan tersebut bukan karena membaca shalawat, namun
karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada
malam peringatan maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, yang
jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap Syariat.

Kesalahan Kelima
Penulis kitab Barzanji juga menyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya:

Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni.

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj
yang berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki cahaya yang
kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua
cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi
sebelum Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimba ilmu dari cahaya
tersebut.

Demikian juga perkataan Ibnul Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi
Adam Alaihissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya
kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu penutup para
Nabi.[2]

Perlu kita diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya.
Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya
terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka
juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan
kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan
mereka seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa Alaihissalam ,
seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip trinitas
mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa tuhan mereka adalah kepunyaan
Allah Azza wa Jalla dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun mereka menyembah
tuhan-tuhan mereka dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka itu mampu
memberi syafaat dan menolong mereka.

Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalahan kitab Barzanji, semoga bermanfaat.[23]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_________
Footnote
[1]. Al-Munjid fil A’lam, 125
[2]. Majma’tul Mawalid, hal. 132.
[3]. HR.Tirmidzi dan dishahîhkan al Albâni di dalam shâhihul jam’i hadits yang ke 6468
[4]. Lihat Majma’atul Mawalid Barzanji, hal. 101.
[5]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (348) dan Abu Daud dalam Sunannya (4718).
[6]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 3/ 74.
[7]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[8]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[9]. Lihat Fikih Tradisionalisme, Muhyiddin Abdusshomad (277-278)
[10]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari : 3/187, no : 2731, 2732, al-Fath 5/388.
[11]. Shahih diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahihnya (3043) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1768)
[12]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313.
[13]. Lihat Ikmalil Mua’lim Bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh, 6/ 105.
[14]. Shahaih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (3445)
[15]. Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih
(2042) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Ghayatul Mar’am : 125
[16]. Shahih, dishahihkan Oleh Albani dalam Ghayatul Mar’am 127, lihatlah takhrij beliau di dalamnya.
[17]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya (2679) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1646)
[18]. Shahih, diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (3545), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 2/254, dan dishahihkan oleh Albani dalam irwa’ : 6
[19]. Shahih diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunannya (3546), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 1/201 dan dishahihkan Albani dalam irwa’ : 5
[20]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (284).
[21]. Majma’atul Mawalid(101).
[22]. Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullsh oleh Abdur Rauf Utsman (169-192).
[23]. Insya Allah, untuk lebih jelasnya akan penulis sampaikan dalam
buku Ritual Tradisional. Semoga Allah memudahkan penulisan buku ini
yang memuat 40 bid’ah populer di kalangan kaum tradisional di Indonesia
yang meliputi, Shalawatan, Barzanjian, Daibaan, Yasinan, Tahlilan,
Ratiban, Manaqiban, Rajaban, Sya’banan, Selamatan dan bid’ah-bid’ah
lain.


Tinggalkan komentar

105 Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah

105 Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah

JAKARTA–Sebanyak 105 ribu orang menghadiri acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah Syaikh Prof. Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr. Ketua Panitia Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Abu Abdurrahman Sapta mengatakan, tabligh akbar tersebut merupakan tabligh akbar yang terbanyak yang dihadiri jamaah. “Sebab pada tabligh akbar yang pernah diselenggarakan sebelumnya yakni pada tahun 2004 dan 2006 hanya dihadiri sekitar 35 ribu orang. Sehingga saat ini merupakan tabligh akbar terbesar,” katanya di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad ( 17/1).
Jumlah jamaah yang melonjak tiga kali lipat, kata Sapta, disebabkan masyarakat sudah familiar dengan Syaikh Rozzaq karena beliau sering mengisi acara ceramah di Radio Rodja 756 am yang isinya seputar dakwah Islam, kedalaman ilmu beliau sebagai Guru Besar Jurusan Aqidah di Universitas Islam Madinah, dan isi ceramahnya yang sesuai dengan kehidupan saat ini.
Tema yang dalam tabligh akbar ini, terang Sapta, adalah sebab-sebab datangnya kebahagian. “Tema tersebut sangat cocok dengan kondisi dan kehidupan masyarakat. Kita lihat masyarakat masih bingung mencari hakikat kebahagian.Mereka juga mempunyai orientasi kehidupan duniawi. Padahal semakin dunia dikejar yang datang adalah kegelisahan. Orang-orang banyak yang merasa tidak tentram, takut kematian, hubungan dengan keluarga tidak harmonis. Selain itu masyarakat juga banyak mengalami musibah seperti musibah ketidaktrentaman dan masyarakat tidak harmonis,” terangnya.
Masyarakat, ujar Sapta, juga banyak yang salah dalam melihat kebahagiaan. ” Mereka mencari kebahagiaan dengan mencari harta sebanyak mungkin. Sehingga banyak timbul berbagai masalah, seperti korupsi atau mencari harta hingga lupa diri dan melalaikan anak-anaknya yang perlu mendapatkan bimbingan. Sehingga anak-anak banyak yang kurang terarah hidupnya karena kurang perhatian,” ujarnya.
Tujuan dari tabligh akbar ini, kata Sapta, memberikan pemahaman kepada masyarakat se-Jabodetabek tentang paradigma yang benar mengenai kebahagiaan. “Kebahagiaan sebenarnya tidak hanya diukur dengan pencapaian material. Namun pencapaian spiritual itulah yang penting. Dengan demikian harta akan mengikuti karena sebenarnya harta itu mengikuti ibadah dan semua yang memberikan itu adalah Allah SWT. Jika orang ingin bahagia maka harus mempelajari Al Qur,an dan Hadist,” katanya.
Dengan acara tabligh akbar ini, terang Sapta, diharapkan umat Muslim semakin bersatu. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa Nabi pernah bersabda akan terjadi banyak perpecahan pada akhir zaman.”Namun Nabi selalu mengingatkan solusi dari masalah itu adalah kembali kepada Sunnah Rasul. Semua petunjuk sudah ada dalam Al Qur,an dan Hadist. Namun harus dipahami dengan pemahaman yang betul,” terangnya.
Dalam acara ini, ujar Sapta, secara kuantitatif tidak ada target. “Kami hanya berusaha menyampaikan hal yang baik kepada khalayak. Namun rupanya dengan tampilnya Syaikh Rozzaq, ulama yang disegani di dunia, bahkan beliau ulama yang mendapat gelar profesor paling muda, ayahnya juga ulama yang disegani, ternyata jamaah yang datang melebihi perkiraan yang semula hanya 35 ribu orang,” ujarnya.
Rupanya acara tabligh akbar dicintai masyarakat, kata Sapta, sehingga pihaknya berencana mengadakan acara tersebut setahun sekali dengan mendatangkan para ulama dari Timur Tengah. “Kami merasa perlu memberikan contoh kepada masyarakat dengan apa yang disebut ulama. Sebab masyarakat kita sangat mudah menganggap seseorang itu ulama. Padahal orang yang mereka sebut ulama tersebut kehidupannya sering tidak sesuai nilai-nilai Islam. Dan Syaikh Rozzaq merupakan contoh ulama yang pas karena beliau tawaduk, cinta ibadah, shalat malam hampir tak pernah ketinggalan,menghormati orangtuanya,” katanya.
Di tempat yang sama, Kepala Humas Panitia Acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Achmad Rizal menambahkan, dengan adanya tabligh akbar tersebut, masyarakat diharapkan menjadi lebih dekat dengan ulama mereka untuk bertanya mengenai hal-hal yang menyangkut masalah dunia dan akhirat. “Sebab ulama merupakan para pewaris ilmu Nabi dan dengan imu orang bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,” katanya.
Kesulitan yang dialami dalam acara ini, ujar Rizal, adalah masalah fasilitas. “Sebab orang yang hadir banyak sekali. Sehingga terjadi banyak antrian parkir, antrian toilet, dan sounds sistem yang kurang memadai. Semoga hal ini menjadi catatan positif bagi pihak pengelola Masjid Istiqlal supaya melakukan sejumlah perbaikan yang dianggap perlu. Semoga kami juga bisa melakukan kerja sama yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Semoga, kata Rizal, dengan acara ini umat Muslim bisa terdorong untuk mencapai kemajuan yang tentu harus diraih dengan ilmu dan diiringi dengan amaliah soleh sesuai petunjuk Nabi. “Jangan sampai berilmu dan beramal tidak sesuai petunjuk Nabi. Selain itu, kita harus yakin kemajuan akan tercapai seperti pada masa Khulafaur Rasyidin di mana Islam mencapai kekuasaan hingga mencapai timur dan barat.
Kita harus menimba ilmu dari ulama-ulama yang mempunyai pemahaman benar sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in , tiga generasi awal Islam yang harus dicontoh. Dengan pemahaman yang sama umat muslim tidak akan terpecah-pecah,” katanya.
Sumber: Republika


Tinggalkan komentar

PESTA DUKA DI HARI ASYURA

PERISTIWA KARBALA DALAM PANDANGAN AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH
http://www.almanhaj.or.id/content/2606/slash/0

PESTA DUKA DI HARI ASYURA

Oleh
Ustadz Ali Musri Semjan Putra
http://www.almanhaj.or.id/content/2607/slash/0

Para pembaca, kali ini kami mengajak untuk menyimpak berbagai keyakinan
sesat Syiah tentang pesta duka di bumi Karbala yang mereka peringati
setiap tanggal sepuluh Muharram (hari ‘Asyura). Mereka melakukan
berbagai bentuk penyiksaan diri dengan benda-benda tajam, seperti
rantai besi, pedang, cambuk dan benda tajam lainnya. Hal itu mereka
yakini sebagai bukti cinta (palsu) mereka kepada Ahlul Bait (Keluarga
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang diwujudkan dalam bentuk
kesedihan dan kedukaan atas terbunuhnya cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam Husain Radhiyallahu ‘anhuma di tempat tersebut. Silahkan
menyimak dan semoga bermanfaat.

PESTA DUKA DI HARI ‘ASYURA
Hari ‘Asyura, orang-orang Syiah meyakininya sebagai hari sial yang
membawa celaka. Sejak awal bulan Muharram (bahkan selama sebulan penuh)
mereka tidak melakukan hal-hal penting di rumah, seperti tidak
bepergian, tidak melakukan pernikahan, tidak berhias, tidak memakai
pakaian yang bagus, tidak memakan makanan yang enak dan lain-lain. Anak
yang lahir di bulan Muharram mereka yakini bernasib sial.

Secara khusus, pada hari ‘Asyura, mereka melakukan ritual yang amat
mengerikan dengan menyiksa diri dengan benda-benda keras dan tajam.
Semangat untuk menyakiti dan melukai tubuh sendiri akan kian terlucut
dengan rangsangan sya’ir-sya’ir kisah terbunuhnya Husain bin ‘Ali
Radhiyallahu ‘anhu di padang Karbala yang diperdengarkan, karya
tokoh-tokoh Syi’ah. Kisah tersebut dibumbui dengan berbagai kebohongan
serta cacian terhadap para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Jika para pembaca kurang yakin silakan saksikan apa yang sedang
berlangsung di padang Karbala pada hari Asyura. Mereka berdatangan dari
berbagai negara, dengan berpakaian serba putih. Sambil bergoyang pelan,
mereka melantunkan kata ‘haidar’, ‘haidar’. Selanjutnya, sebilah pedang
mereka ayun-ayunkan ke salah satu bagian tubuh secara perlahan,
sehingga tubuh mereka bersimbah darah. Perayaan duka di Karbala ini
lebih dikenal di kalangan Syiah dengan sebutan ritual al-Husainiyyah.[1]

Penyiksaan diri pada hari ‘Asyura tersebut tidak hanya dilakukan di
bumi Karbala saja, tetapi juga dilakukan oleh kelompok Syiah di
berbagai tempat lain. Menurut mereka, kegiatan penyiksaan diri pada
sepuluh Muharram itu memiliki nilai ibadah yang tinggi, sebagaimana
diungkapkan oleh imam-imam mereka.

UNGKAPAN PARA TOKOH SYIAH TENTANG HUKUM DAN KEUTAMAAN PESTA DUKA DI HARI ‘ASYURA
Salah seorang dari tokoh Syiah telah menulis buku khusus tentang ritual
pada hari ‘Asyura di Karbala dengan judul al-Mâjalis al-Fâkhirah Fi
Ma’âtimil ‘Ithrahi ath-Thâhirah[2] atau menurut penulis, kitab tersebut
berjudul Manâsik al-Husainiyyah.

Salah seorang tokoh mereka menyebutkan bahwa ritual penyiksaan diri
pada hari ‘Asyura di Karbala dimulai pada abad IV Hijriah pada masa
dinasti al-Buwaihi. Kemudian berlanjut pada masa dinasti al-Fathimiyah.
Acara tersebut sekarang ini diselenggarakan di negara-negara
berpenduduk mayoritas orang-orang Syiah. Seperti Irak, Iran, India,
Siria, dll.[3]

Ad-Dimastâni, ulama Syiah yang lain menegaskan : “Meratapi kematian
Husain dengan berteriak-teriak hukumnya wajib ‘aini (wajib atas setiap
pribadi)” [4]

Ayatullah al-‘Uzhma syaikh Muhammad Husain an-Nâti berkata : “Tidak ada
masalah tentang hukum bolehnya memukul pipi dan dada dengan tangan
sampai merah dan menghitam. Dan lebih ditekankan lagi, memukul pundak
dan punggung dengan rantai sampai kulit kemerahan dan gosong. Bahkan
lebih ditekankan lagi jika hal itu menyebabkan keluarnya darah. Begitu
pula mengeluarkan darah dari kening dan puncak kepala dengan pedang”[5]

Setelah kita menyimak berbagai ungkapan tokoh-tokoh Syiah Rofidhoh di
atas dapat kita ketahui bahwa apa yang dinisbahkan kepada mereka itu
benar. Dan bukanlah sebuah isu yang dibuat-buat..

Bila ungkapan-ungkapan tersebut kita sorot dengan cahaya al-Qur’ân dan
petunjuk Sunnah serta keyakinan para ulama Salaf, niscaya akan dijumpai
jurang pemisah yang sangat dalam antara keyakinan orang-orang Syiah
dengan keyakinan kaum Muslimin.

SESATNYA PESTA DUKA DI HARI ‘ASYURA
Kekeliruan dan kesesatan acara pesta duka tidak sulit untuk dilacak.
Sebab terdapat banyak pelanggaran terhadap ajaran Islam. Berikut ini,
keterangannya:

1). Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: “Setiap muslim akan merasa sedih
atas terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Sesungguhnya dia adalah
salah seorang dari generasi terkemuka kaum muslimin, juga salah seorang
ulama di kalangan para Sahabat, dan anak dari putri kesayangan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang ahli
ibadah, seorang pemberani dan pemurah. Tentang apa yang dilakukan Syiah
(di hari ‘Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluh-kesah merupakan
tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena
pura-pura dan riya. Sesungguhnya ayah Husain (‘Ali bin Abi Thâlib
Radhiyallahu ‘anhuma) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga
meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan
hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian Husain
Radhiyallahu ‘anhuma (yang diperingati). ‘Ali bin Abi Thâlib
Radhiyallahu ‘anhu terbunuh pada hari Jum’at saat keluar rumah mau
melaksanakan shalat Subuh, pada tanggal tujuh belas Ramadhan, tahun 40
H.

Demikian juga ‘Utsmân Radhiyallahu ‘anhu, beliau lebih mulia dari ‘Ali
Radhiyallahu ‘anhu dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau
dibunuh saat terjadi pengepungan terhadap rumahnya, pada hari tasyriîq
di bulan Dzulhijjah, tahun 36 H. Beliau disembelih dari urat nadi ke
urat nadi. Tidak pernah ada orang berduka di hari kematiannya.

Demikian pula halnya ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu ‘anhu. Beliau
lebih afdhal dari ‘Utsmân dan ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Terbunuh di
mihrab saat shalat Subuh saat sedang membaca al-Qur’ân. Namun, tidak
ada orang yang menjadikan hari kematiannya sebagai hari berduka.

Dan demikian juga Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu ‘anhu. Beliau
lebih afdhal dari ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak pernah
hari kematiannya dijadikan sebagai hari berkabung.

(Terakhir), Allah Azza wa Jalla telah memanggil Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, penghulu anak Adam di dunia dan akhirat, sama
seperti para nabi sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun menjadikan
hari wafat beliau sebagai hari bela sungkawa, atau melakukan perbuatan
orang-orang dari sekte Syiah pada hari kematian Husain. Tidak seorang
pun menyebutkan bahwa terjadi sesuatu sebelum atau sesudah hari
kematian mereka, seperti apa yang disebutkan Syiah pada hari kematian
Husain. Seperti terjadinya gerhana matahari, adanya cahaya merah di
langit dan lain-lain”[6]

2). Syaikh Fâdhil ar-Rûmi rahimahullah, seorang ulama Dinasti
Utsmaniyah mendudukkan kesalahan Syiah dalam masalah ini : “Adapun
menjadikan tanggal sepuluh Muharram sebagai hari berduka karena
terbunuhnya Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma yang dilakukan kaum
Syiah, hal itu adalah perbuatan orang-orang sesat sewaktu di dunia.
Tetapi, mereka mengira telah melakukan sesuatu yang amat baik. Padahal,
Allah Azza wa Jalla dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak
pernah memerintahkan untuk menjadikan hari musibah para nabi atau hari
kematian mereka sebagai hari berduka. Apalagi terhadap hari kematian
orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka…[7]

Pada kesempatan lain beliau menyatakan: “Diantara bentuk bid’ah yang
dilakukan sebagian manusia pada hari ‘Asyura adalah menjadikan hari
tersebut sebagai hari berduka. Mereka meratap dan bersedih serta
menyiksa diri pada hari tersebut. Disamping itu, mereka mencaci para
Sahabat Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah
meninggal, berdusta atas nama keluarga Nabi Shallallahu ‘aliahi wa
sallam, dan melakukan berbagai kemungkaran lainnya yang dilarang dalam
al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta
kesepakatan kaum Muslimin.

Sesungguhnya, Husain Radhiyallahu ‘anhuma telah dimuliakan Allah Azza
wa Jalla dengan menjadikannya sebagai orang yang mati syahid pada hari
tersebut. Dia dan saudaranya Hasan adalah dua pemuda penghuni Jannah.
Sekalipun terbunuhnya dua orang bersaudara tersebut merupakan musibah
besar, akan tetapi Allah Azza wa Jalla mensyariatkan bagi kaum muslimin
ketika mengalami musibah untuk mengucapkan kalimat istirjâ’ (innâ
lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn) [8].

Kalimat istirjâ’ merupakah salah satu anugerah yang hanya diberikan
kepada umat Islam. Sa’id bin Jubair Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Kalimat istirjâ’ tidak diberikan bagi umat-umat lain kecuali untuk
umat ini (umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Jika
seseorang diberi (sebelumnya, red) tentu akan diberikan kepada Nabi
Ya’qub Alaihissalam. Tidakkah Anda perhatikan beliau mengucapkan
sebagai ganti kalimat istirjâ’ aduhai, betapa sedihnya kehilangan
Yusuf'” [9].

Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kalimat istirjâ’. Beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, maka ia ucapkan ‘innâ lillâh
wa innâ ilaihi raji’ûn’, (dan berdoa) ya Allah beri aku pahala atas
musibah yang menimpaku, gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik
darinya, melainkan Allah akan memberinya pahala untuknya atas musibah
itu dan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari yang ia alami”
[HR. Muslim 2/632 no (918]

3). Adapun melakukan sesuatu yang dilarang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pada hari peringatan musibah setelah berlalu dalam masa yang
cukup lama, perbuatan ini dosanya akan lebih besar lagi. Apalagi, jika
disertai dengan memukul-mukul muka, merobek-robek baju,
berteriak-teriak yang merupakan kebiasaan bangsa Jahiliyyah, melaknat
dan mencaci orang-orang Mukmin (para Sahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum),
serta membantu orang-orang zindiq untuk merusak Islam.[10]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan hukum
menyiksa diri atas peristiwa musibah yang menimpa seseorang dalam
hadits berikut ini:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka,
merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah”
[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada empat perkara yang termasuk perkara jahiliyah terdapat di tengah
umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela keturunan (orang lain),
meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan:
“Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelum meninggal,
ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga
panas dan jaket dari penyakit kusta” [HR. Muslim]

Abu Musa al-Asy ‘ari Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku berlepas diri orang-orang yang Rasulullah berlepas diri dari
mereka. Sesungguhnya Rasulullah berlepas diri dari wanita yang mencukur
rambutnya, wanita yang berteriak-teriak dan wanita yang merobek-robek
baju (saat ditimpa musibah)” [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

4). Pelanggaran lain dalam bentuk mencela para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Banyak sekali ayat maupun hadits yang menerangkan keutaman Sahabat. Dan
sebaliknya juga terdapat nash-nash yang mengharamkan melaknat dan
mencaci para Sahabat. Secara khusus, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melarang dengan tegas umatnya mencela para Sahabat
Radhiyallahu ‘anhum:

“Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian
mengimfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan sampai
(nilainya) segegam (pahalanya) salah seorang mereka dan tidak pula
separohnya” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Maka, berdasarkan hadits ini, seorang mukmin wajib memuliakan mereka
dan menyebut mereka dengan kebaikan serta menahan lisan dari mencela
mereka.

Peristiwa terbunuhnya ‘Utsmân dan Husain Radhiyallahu ‘anhuma
menyebabkan terjadinya fitnah yang besar dan tersebarnya kedustaan yang
banyak. Akibatnya, muncul berbagai bentuk kesesatan dan bid’ah-bid’ah,
menjerumuskan sebagian generasi umat ini sejak dulu sampai sekarang.
Beragam kedustaan dan kesesatan serta bid’ah-bid’ah semakin hari
semakin bertambah dan berkembang. Dan telah menimbulkan berbagai
akibat-akibat yang tidak mungkin kita urai dalam bahasan singkat
ini.[11]

Imam al-Ghazâli rahimahullah dan ulama lainnya berkata : “Diharamkan
para penceramah untuk meriwayatkan kisah terbunuhnya Husain
Radhiyallahu ‘anhuma, juga tentang hal-hal yang terjadi antara sesama
para Sahabat dalam perselisihan dan pertikaian mereka. Karena, hal itu
dapat memotivasi orang untuk membenci para Sahabat g dan mencela
mereka. Mereka adalah teladan umat, dimana para ulama mendapatkan ilmu
melalui mereka. Kemudian ilmu tersebut sampai kepada kita melalui para
ulama yang mengambil ilmu dari mereka. Maka, orang yang mencela mereka
adalah orang yang mencela diri dan agamanya”.

Ibnu Shalâh rahimahullah dan Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Para
Sahabat seluruhnya adalah adil (terpercaya). Saat wafatnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlah Sahabat mencapai seratus empat
belas ribu (114.000) orang. Al-Qurân dan Hadits telah menyatakan akan
keadilan (ketakwaan) dan kemuliaan mereka. Dan segala sesuatu yang
terjadi di antara mereka, terdapat pertimbangan-pertimbangan (yang
membuat mereka tidak dihukumi telah berbuat kesalahan murni, red) yang
tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu dalam tulisan singkat ini.[12]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah : “Itu adalah peristiwa pertumpahan darah
yang Allah menghindarkan tangan-tangan kita darinya. Maka hendaklah
kita mensucikan lidah kita dari membicarakannya”.

Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari berbagai bentuk
kesesatan dan kebatilan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Penisbatan kepada nama Husain Radhiyallahu ‘anhuma
[2]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 60
[3]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 56
[4]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 65
[5]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 66
[6]. al-Bidâyah wan Nihâyah (8/208)
[7]. Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[8]. Ibid.
[9]. Diriwayatkan Imam ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsirnya (13/39)
[10]. Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[11]. Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[12]. Lihat “Ash shawa’iq Al Muhriqoh” karangan Al Haitamy: 2/640.

————————————


1 Komentar

PENYAKIT AL-ISYQ (MABUK CINTA)

TERAPI RASULULLAH DALAM PENYEMBUHAN PENYAKIT AL-ISYQ (MABUK CINTA)

Oleh
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Mukaddimah
Virus hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika laila dipersunting oleh pria lain. Apakah anda pernah mengalami problema seperti ini atau sedang mengalaminya? mau tau terapinya? Mari sama-sama kita simak terapi mujarab yang disampaikan Ibnu Qoyyim dalam karya besarnya Zadul Ma’ad.

Beliau berkata : Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.

Allah mengkisahkan penyakit ini di dalam Al-Quran tentang dua tipe manusia, pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al-Aziz gubernur Mesir yang mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina “.Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. [Al-Hijr: 68-72]

KEBOHONGAN KISAH CINTA NABI DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY
Ada sekelompok orang yang tidak tahu menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana layaknya, beranggapan bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini sebabnya yaitu tatkala beliau melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati, sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah: Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat:

“Artinya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya : “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” [Al-Ahzab :37] [1]

Sebagain orang beranggapan ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi, bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para Nabi dan meyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi akibat kejahilannya terhadap Al-Quran dan kedudukan para Rasul, hingga ia memaksakan kandungan ayat apa-apa yang tidak layak dikandungnya dan menisbatkan kepada Rasulullah suatu perbuatan yang Allah menjauhkannya dari diri Beliau .

Kisah sebenarnya, bahwa Zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah .–bekas budak Rasulullah– yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh Sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang Zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi dalam dirinya, dan rasa takut inilah yang tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu di dalam ayat Allah menyebutkan karunia yang dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya sebab Allah-lah yang seharusnya ditakutinya. Jangan Sampai beliau takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia, setelah itu Allah memberitahukannya bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak kandung maka hal ini terlarang.sebagaimana firman Allah:

“Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu” [Al-Ahzab: 40]

Allah berfirman di pangkal surat ini:

“Artinya : Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” [Al-Ahzab : 4]

Perhatikanlah bagaiamana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahi at-Taufiq.

Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah adalah istri yang paling dicintainya, namun kecintaannya kepada Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi, yakni cinta kepada Rabbnya. Dalam hadis shahih:

“Artinya : Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih”[2]

KRITERIA MANUSIA YANG BERPOTENSI TERJANGKIT PENYAKIT AL-ISYQ
Penyakit al-isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:

“Artinya ; Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” [Yusuf : 24]

Nyatalah bahwa Ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya berupa perbuatan jelek dan keji.Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu .

Berkata ulama Salaf: penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman mengenai Ibu Nabi Musa:

“Artinya ; Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya” [Al-Qasas :11]

Yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa karena sangat cintanya kepada
Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.

BAGAIMANA VIRUS INI BISA BERJANGKIT ?
Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, Pertama : Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak akan berjangkit. Walaupun Penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum mengena.

MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA
Berkata Ibn al-Qayyim: ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara fitrrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.

Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara inilah
tegaknya urusan manusia. Allah befirman:

“Artinya : Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” [Al-A’raf :189]

Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tentram dan senang seorang lelaki terhadap pasangannya karena berasal dari jenis dan bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa, dan tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keingginan, kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk, walaupun tidak dipungkiri bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.

Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadisnya:

“Artinya : Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih “[3]

Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah nabi mengucapkan hadis ini.

Karena itulah syariat Allah akan menghukumi sesuatu menurut jenisnya, mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan perbeda atau mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain maka jelaslah karena minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami kaedah persamaan dan sebaliknya.

Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku di dunia lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat, Allah berfirman:

“Artinya : (kepada malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah” [As-Shaffat : 23]

Umar ibn Khtaab dan seteelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran wajahum yakni yang sesuai dan mirip dengannya .Allah juga berfirman

“Artinya : Dan apabila jiwa dipertemukan” [At-Takwir : 7]

Yakni setiap orang akan digiring dengan orang-orang yang sama prilakunya dengannya, Allah akan menggiring antara orang-orang yang saling mencintai kareNya di dalam surga dan akan menggiring orang orang yang saling bekasih-kasihan diatas jalan syetan di neraka Jahim, tiap oran akan digiring dengan siapa yang dicintainya mau tidak mau. Di dalam mustadrak Al-Hakim disebukan bahwa Nabi bersabda:

“Artinya : Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali akan digiring bersama mereka kelak” [4]

[Diterjemahkan oleh : Ustadz Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab : Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, halaman 265-274, Penulis Ibnu Qayyim Al-Jauziah]
_________
Foote Note
[1]. Ini berita batil yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’ad dalam at-Tabaqat/101-102, dan al-Hakim 3/23 dari jalan Muhammad ibn Umar al Waqidi seorang yang Matruk (ditinggalkan)– dan sebagian menggapnya sebagai pemalsu hadis, dari Muhakmmad ibn Yahya ibn Hibban–seorang yang siqah –namun riwayat yang diriwayatkannya dari Nabi sekuruhnya mursal. Kebatilah riwayat ini telah diterangkan oleh para ulama almuhaqqiqin. Mereka berkata: Penukil riwayat ini dan yang menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap prasangka buruk mereka mengenai Rasulullah sebenranya tidak meletetakkan kedudukan kenabian Rasulullah sebagaimana layaknya, dan tidak mengerti makna kemaksuman Beliau. Sesungguhnya yang disembunayikan Nabi di dalam dirinya dan belakangan Allah nampakkan adalah berita yang Allah sampaikan padanya bahwa kelak Zaenab akan menjadi istrinya. Faktor yang membuat nabi menyembunyikan berita ini tidak lain disebabkan perasaan takut beliau terhadap perkataan orang bahwa Beliau tega menikahi istri anak angkatnya . Sebenarnya dengan kisah ini Allah ingin membatakan tadisi jahiliyyah ini dalam hal adopsi , yaitu dengan menikahkan Rasulullah dengan istri anak angkatnya. Peristiwa yang terjadi dengan Rasulullah ini sebagai pemimpin manusia akan lebih diterima dan mengena di hati mereka.. Lihat Ahkam Alquran 3/1530,1532 karya Ibn Arabi dan Fathul Bari 8/303, Ibn Kastir 3/492, dan Ruhul Ma’ani 22/24-25.
[2]. Hadis diriwayatkan oleh Bukhari 7/15 dalam bab fadhail sahabat Nabi, dari jalan Abdullah ibn Abbas, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2384) dalam Fadail Sahabat, bab keutamaan Abu Bakar, dari jalan Abdullah ibn Masud, dan keduanya sepakat meriwayatkan dari jalan Abu Sa’id al-khudri.
[3]. Hadis Riwayt Bukhari 7/267dari hadis Aisyah secara muallaq, dan Muslim (2638) dari jalan Abu Hurairah secara mausul
[4]. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145, 160, dan an-Nasai dari jalan Aisyah Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan orang yang tidak memiliki saham, saham itu yakni: Sholat, puasa dan zakat. Tidak lah Allah mengangkat seseorang di dunia, kemudain ada selainNya yang dapat mengankat (derajatnya) di hari kiamat. Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama (di akhirat). Kalau boleh aku bersumpat terhadap yang keempat dan kuharap aku tiodak berdosa dalam hal ini yaitu tidaklah seseorang memberi pakaian kepada orang lain (untuk menutupi auratnya) kecuali Allah akn memberikannya pakaian penutup di hari kiamat. Para perawi hadis ini stiqah kecuali Syaibahal-khudri (di dalam Musnad di tulis keliru dengan al-isyq-hadromi). Dia meriwayatkan dari Urwah, dan dia tidak di tsiqahkan kecuali oleh Ibn Hibban, namun ada syahidnya dari hadist Ibn Masud dari jalur Abu Yala, dan Thabrani dari jalur Abu Umamah, dengan kedua jalan ini hadis ini menjadi sahih.

CINTA DAN JENIS-JENISNYA
Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan, yang tertinggi dan paling mulia adalah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan di dalam Agama Allah) yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya.

Cinta berikutnya adalah cinta yang terjalin karena adanya kesamaan dalam cara hidup, agama, mazhab, idiologi, hubungan kekeluargaaan, profesi dan kesamaan dalam hal-hal lainnya.

Diantara jenis cinta lainnya yakni cinta yang motifnya karena ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik dalam bentuk kedudukan, harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang didasari hal-hal seperti tadi yaitu al-mahabbah al-‘ardiyah– akan hilang bersama hilangnya apa-apa yang ingin didapatnya dari orang yang dicintai. Yakinlah bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu akan meninggalkanmu ketika dia telah mendapat apa yang diinginkannya darimu.

Adapun cinta lainnya adalah cinta yang berlandaskan adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang mencintai dan yang dicinta. Mahabbah al-isyq termasuk cinta jenis ini tidak akan sirna kecuali jika ada sesuatu yang menghilangkannya. cinta jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa, oleh karena itu tidak terdapat pengaruh yang begitu besar baik berupa rasa was-was, hati yang gundah gulana maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis ini.

Timbul pertanyaan bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh, tetapi mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta seperti ini hanya sepihak dari orang yang sedang kasamaran saja, jika cinta ini perpaduan jiwa dan ruh maka tentulah cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak bukan sepihak saja?

Jawabnya yaitu bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat tertentu, atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasinya cinta antara keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor ; Pertama: bahwa cinta ini sebatas cinta karena adanya kepentingan, oleh karena itu tidak mesti keduanya saling mencintai, terkadang yang dicintai malah lari darinya. Kedua: adanya penghalang sehingga dia tidak dapat mencintai orang yang dicintanya, baik karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya. Ketiga: adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.

Jika penghalang ini dapat disingkirkan maka akan terjalin benang-benang cinta antara keduanya. Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan permusuhan dari orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang yang paling mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada diri, keluarga dan harta.

TERAPI PENYAKIT AL-ISYQ
Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya, maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barang siap yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)”.

Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti. Solusi petama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”.

Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka ataupun budak dalam firman-Nya:

“Artinya : Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.[An-Nisa : 28]

Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikannya terhadap hambaNya dan kelemahan manusia untuk menahan syahwatnya dengan membolehkan mereka menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun empat, sebagaimana Allah membolehkan bagi mereka mendatangi budak-budak wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita jika mereka butuh sebagai peredam syahwat, keringanan dan rahmati-Nya terhadap makluk yang lemah ini.

2. Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan karena tertutupnya peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, penyakit ini bisa semangkin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan dirinya bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Jiwa yang berputus asa untuk mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum terlupakan, akan berpengaruh terhadap jiwanya sehingga semangkin menyimpang jauh.

Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain yaitu dengan mengajak akalnya berfikir bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dapat dijangkau adalah perbuatan gila, ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan mengganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak waras?

Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya tertutup karena larangan syariat, terapinya adalah dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan adalah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu kearah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.

3. Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap menuntut, hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal, pertama karena takut (kepada Allah) yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak terlintas dalam pikiranmu dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah, ataupun menghayal terbang melayang jauh, ketika tersadar ternyata hanyalah mimpi dan khayalan, akhirnya sirnalah segala keindahan semu, tinggal keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.

Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika dia gagal melupakan yang dikasihinya, dia akan mengalami dua hal yang menyakitkan sekaligus, yaitu:gagal dalam mendapatkan kekasih yang diinginkannya, dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya. Jika yakin bakal mendapati dua hal menyakitkan ini niscaya akan mudah baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta.Dia akan bepikir bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar sedikit demi mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kezalimannya kan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya . orang yang terhindar adalah orang-orang yang dipelihara oleh Allah.

4. Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak terima dengan terapi tadi, maka hendaklah berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ditimbulkannya segera, dan kemasalahatan yang akan gagal diraihnya. Sebab mengikuti hawa nafsunya akan menimbulkan kerusakan dunia dan menepis kebaikan yang datang, lebih parah lagi dengan memperturutkan hawa nafsu ini akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilannya dan kemaslahatannya.

5. Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat sisi-sisi kejelekan kekasihnya,dan hal-hal yang membuatnya dampat menjauh darinya, jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada kekasihnya niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan dari keindahannya, hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang tersembunyi baginya. Sebab sebagaiman kecantikan adalah faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya demikian pula kejelekan adalah pendorong kuat agar dia dapat membencinya dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya. Jangan sampai terperdaya dengan kecantikan kulit dengan membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak dan kusta, tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannnya kepada kejelelekan sikap dan prilakunya, hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik dan melihat kepada kejekan yang diceritakan mengenainya dan kejelekan hatinya.

6. Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir adalah mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya, hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jika dia dapat melaksankan terapi akhir ini, maka sesunguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaannya, jangan sampai dia menjelek-jelekkan kekasihanya dan mempermalukannya dihadapan manusia, ataupun menyakitinya, sebab hal tersebut adalah kezaliman dan melampaui batas.

PENUTUP
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat kata pepatah: mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebelum terkena lebih baik menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? tidak lain dengan tazkiyatun nafs.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

[Diterjemahkan oleh : Ustadz Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab : Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, halaman 265-274, Penulis Ibnu Qayyim Al-Jauziah]


4 Komentar

Jika Dua Suami Masuk Surga, Istri dengan Siapa?

Oleh Ustadz Abu Faris, Lc.

Tanya:

Jika seorang wanita shalihah yang sempat menikah dua kali semasa di dunia masuk surga, dan ternyata kedua suaminya pun masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita tersebut?

Jawab:

Apabila wanita tersebut pernah memiliki memiliki lebih dari satu suami di dunia, dan hanya satu dari suaminya yang masuk surga, maka wanita itu akan bersama suaminya yang masuk surga. Namun, bagaimana sekiranya seluruh suaminya masuk surga? Sependek pengetahuan kami, setidaknya terdapat dua pendapat di kalangan ulama dalam hal ini:

Pendapat Pertama: Wanita Tersebut Memilih Suami yang Dikehendakinya

Syaikh Muhammad al-’Utsaymīn pernah ditanya, “Jika seorang wanita pernah memiliki dua orang suami di dunia (suami pertama meninggal dunia lalu wanita tersebut menikah lagi, kemudian kedua suami dan wanita tersebut masuk surga), maka siapakah yang akan bersama wanita tadi?”

Beliau menjawab, “Jika seorang wanita memiliki dua orang suami di dunia, maka pada hari kiamat ia akan diperintahkan untuk memilih (salah satu) di antara keduanya di surga. Dan apabila wanita itu belum menikah di dunia, maka Allah akan menikahkannya dengan orang yang akan menjadi penyejuk mata baginya di surga. Kenikmatan surga tidaklah terbatas untuk pria, akan tetapi mencakup pria dan wanita, dan di antara kenikmatan tersebut adalah pernikahan.” [Fatāwa al-‘Aqīdah, hal. 313]

Pendapat Kedua: Wanita Tersebut Bersama Suaminya yang Terakhir

Pendapat yang paling kuat dalam hal ini—insya Allah—dan didukung oleh hadits serta atsar adalah, ketika di surga, wanita mukminah akan bersama dengan suami terakhirnya di dunia. [Lihat al-Jannah wan Nār, Dr. ‘Umar Sulaimān al-Asyqar, hal. 245-246]

Nabi ` bersabda,

الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Seorang wanita adalah untuk suaminya yang terakhir.”

[Lihat Shahīh al-Jāmi’, no. 6691; dan ash-Shahīhah, no. 1281]

Imam ath-Thabrāni meriwayatkan, bahwa Mu’āwiyah pernah meminang Ummu ad-Dardā` setelah Abū ad-Dardā` meninggal dunia. Maka Ummu ad-Dardā` berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Abū ad-Dardā` menyebutkan bahwa Rasulullah ` bersabda, ‘Siapa saja wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, lalu ia menikah lagi, maka ia diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir.’ [Hadits ini dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni dalam Shahīh al-Jāmi’, no. 2704] Dan tidaklah aku lebih memilihmu dibandingkan Abū ad-Dardā`.”

[Al-Mu’jam al-Ausath (III/275) no. 3130]

Imam al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa Hudzaifah berkata kepada istrinya, “Jika engkau ingin untuk menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi sepeninggalku. Sebab wanita di surga itu diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karena itulah Allah mengharamkan istri-istri Nabi ` untuk menikah lagi sepeninggal beliau, sebab mereka adalah istri-istri beliau di surga.”

[Sunan al-Baihaqi al-Kubrā (VII/69) no. 13199]

Imam Ibn Sa’d meriwayatkan, bahwa Asmā` pernah mengadukan sikap keras suaminya, az-Zubair Ibn al-’Awwām, kepada ayahnya, Abū Bakr. Maka Abū Bakr berkata, “Wahai puteriku, bersabarlah. Sebab apabila seorang wanita memiliki suami yang shalih lalu si suami meninggal dunia dan ia tidak menikah lagi, niscaya Allah akan mengumpulkan keduanya di surga.”

[Ath-Thabaqāt al-Kubrā (VIII/251). Lihat pula ash-Shahīhah, penjelasan hadits no. 1281]

Penting untuk diingat kembali, bahwa di surga tidak ada kesedihan dan kegundahan, hanya ada suka cita dan kegembiraan. Karena itu, meskipun seorang wanita di surga akan bersanding suaminya yang terakhir—padahal bisa jadi ketika di dunia ia lebih mencintai suaminya yang lain—namun ia tetap akan bahagia dan bersuka cita. Wallāhu a’lam.

Sumber: tanyasyariah.wordpress.com dan dipublikasikan kembali oleh