Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


2 Komentar

MUSIK ITU HARAM

Fatwa Para Ulama Salaf Tentang Haramnya Musik dan Lagu

oleh:
Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
http://www.asysyariah.com

==================================

1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

“Nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati.” (Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, 4/2, Al-Baihaqi dari jalannya, 10/223, dan Syu’abul Iman, 4/5098-5099. Dishahihkan Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 10. Diriwayatkan juga secara marfu’, namun sanadnya lemah)

2. Ishaq bin Thabba` rahimahullahu berkata: Aku bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullahu tentang sebagian penduduk Madinah yang membolehkan nyanyian. Maka beliau mejawab: “Sesungguhnya menurut kami, orang-orang yang melakukannya adalah orang yang fasiq (rusak).” (Diriwayatkan Abu Bakr Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf: 32, dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 244, dengan sanad yang shahih)

Beliau juga ditanya: “Orang yang memukul genderang dan berseruling, lalu dia mendengarnya dan merasakan kenikmatan, baik di jalan atau di majelis?”
Beliau menjawab: “Hendaklah dia berdiri (meninggalkan majelis) jika ia merasa enak dengannya, kecuali jika ia duduk karena ada satu kebutuhan, atau dia tidak bisa berdiri. Adapun kalau di jalan, maka hendaklah dia mundur atau maju (hingga tidak mendengarnya).” (Al-Jami’, Al-Qairawani, 262)

3. Al-Imam Al-Auza’i rahimahullahu berkata: ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu menulis sebuah surat kepada ‘Umar bin Walid yang isinya: “… Dan engkau yang menyebarkan alat musik dan seruling, (itu) adalah perbuatan bid’ah dalam Islam.” (Diriwayatkan An-Nasa`i, 2/178, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 5/270. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 120)

4. ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148)
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abid Dunya (45), dari Al-Qasim bin Salman, dari Asy- Sya’bi, dia berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat biduan dan biduanita.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 13)

5. Ibrahim bin Al-Mundzir rahimahullahu –seorang tsiqah (tepercaya) yang berasal dari Madinah, salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah– ditanya: “Apakah engkau membolehkan nyanyian?” Beliau menjawab: “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang melakukannya menurut kami kecuali orang-orang fasiq.” (Diriwayatkan Al-Khallal dengan sanad yang shahih, lihat At-Tahrim hal. 100)

6. Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Para tokoh dari murid-murid Al-Imam Asy- Syafi’i rahimahullahu mengingkari nyanyian. Para pendahulu mereka, tidak diketahui ada perselisihan di antara mereka. Sementara para pembesar orang- orang belakangan, juga mengingkari hal tersebut. Di antara mereka adalah Abuth Thayyib Ath-Thabari, yang memiliki kitab yang dikarang khusus tentang tercela dan terlarangnya nyanyian.

Lalu beliau berkata: “Ini adalah ucapan para ulama Syafi’iyyah dan orang yang taat di antara mereka. Sesungguhnya yang memberi keringanan dalam hal tersebut dari mereka adalah orang-orang yang sedikit ilmunya serta didominasi oleh hawa nafsunya. Para fuqaha dari sahabat kami (para pengikut mazhab Hambali) menyatakan: ‘Tidak diterima persaksian seorang biduan dan para penari.’ Wallahul muwaffiq.” (Talbis Iblis, hal. 283-284)

7. Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191)

8. Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56)

9. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu di atas. (Majmu’ Fatawa, 11/576)

Masih banyak lagi pernyataan para ulama yang menjelaskan tentang haramnya musik beserta nyanyian. Semoga apa yang kami sebutkan ini sudah cukup menjelaskan perkara ini.

Wallahu a’lam.

Penerjemah (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari) dalam pengantarnya berkata:

Musik sudah menjadi makanan pokok bagi kebanyakan orang pada hari ini. Seakan-akan mereka tak bisa hidup tanpa musik dan lagu. Pagi-pagi buta suara musik lah yang mengalun pertama kali dari rumah-rumah mereka. Kalaulah kita data satu persatu, hampir di setiap rumah kita temui kaset atau CD musik, karaoke dan sejenisnya! Itulah realita kita!

Virus musik dan nyanyian yang tersebar di kalangan masyarakat kita sudah mencapai titik yang sangat membahayakan. Bahaya itu dapat kita lihat dari maraknya penjualan cd-cd musik dan karaoke yang menjamur di kaki-kaki lima, mal-mal dan tempat-tempat umum lainnya. Dengan stelan musik yang keras, begitu memekakkan telinga dan mengganggu orang lain. Mereka tidak lagi menghiraukan kata-kata cabul, kotor dan tak senonoh yang menjadi lirik lagu tersebut. Sudah lumrah kata mereka!

Tidakkah mereka tahu, virus musik dan nyanyian ini sangat besar daya rusaknya terhadap diri seseorang. Hancurnya generasi muda sekarang ini, kalau kita telusuri sebabnya, banyak yang berpangkal dari musik! Maka dari itu para ulama menyebut musik dan lagu ini sebagai jampi-jampi perzinaan! Memang benar, daya hipnotis musik lah yang mendorong mereka melakukan perzinaan, mulai dari zina tangan, zina mata, zina telinga, zina kaki sampai pada akhirnya dibuktikan oleh kemaluan!

Kalau kita mau jujur, sebenarnya pangkal kerusakan ini tidak terlepas dari pendidikan orang tua yang sangat lemah! Anak-anak mereka sejak usia dini sudah dicekoki dengan musik dan lagu! Hingga kalau kebetulan kita melintas di jalanan atau sebuah gang kadang kita temui sekumpulan anak-anak kecil sedang bernyanyi menirukan penyanyi idolanya. Ajaibnya anak sekecil itu hafal lirik lagu dari awal sampai akhir!!

Kalau dulu, pada era generasi Salafus Shalih penyanyi begitu hina kedudukannya di mata masyarakat, sekarang justru kebalikannya! Penyanyi begitu mulia dan terhormat dalam pandangan mereka sehingga seluruh gerak-geriknya jadi buah bibir dan berita, seluruh tindak-tanduk dan model penampilannya jadi trend di kalangan mereka.

Akibat dari itu semua adalah memudarnya nilai-nilai ajaran agama yang murni! Al-Qur’an seakan sudah menjadi sesuatu yang ditinggalkan! Tidak lagi dirasakan kenikmatan saat mendengarnya! Shalat juga terganggu kekhusukannya. Memang, shalat adalah ibadah pertama yang terkena dampak dari kecanduan musik dan nyayian ini. Lirik-lirik lagu dan irama musik datang mengusik saat ia mengerjakan shalat! Hilanglah kenikmatan shalat baginya. Kadang kala ia juga meninggalkan shalat! Ia lebih memilih menikmati alunan musik daripada menyambut seruan adzan! Fenomena seperti ini banyak kita dapati di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh sebab itu jangan heran bila pagelaran musik dipadati banyak pengunjung sementara jumlah orang yang shalat jama’ah di masjid dapat dihitung dengan jari! Itulah realita!

Di lain pihak, ada pula yang berusaha mengemas musik bernafaskan Islam, kata mereka! Mereka sebut nyanyian ruhani, musik Islami, nasyid Islami dan seabrek istilah-istilah lainnya. Seakan-akan seluruh perkara yang dibubuhi kata-kata ‘Islami’ menjadi ‘label halal’ baginya. Padahal menurut Ibnul Qoyyim musik-musik yang katanya Islami itu ‘lebih berbahaya’ daripada jenis musik dan lagu selainnya. Karena pembubuhan kata Islami di situ merupakan pernyataan bahwa hal itu termasuk perkara yang ‘boleh’ menurut syariat Islam! Padahal Dienul Islam tidak pernah membolehkan hal itu! Maka dengan begitu ia bukan hanya sekedar maksiat namun meningkat menjadi bid’ah! Banyak kita dapati orang-orang yang menikmati musik dan lagu Islami itu berkeyakinan bahwa hal itu dapat meningkatkan keimanannya, mendorong berbuat taat, mendorongnya untuk lebih mencintai Allah dan Rasulullah! Ini adalah syubhat setan dalam menjerat mereka kepada hal-hal yang memalingkan mereka dari Al-Qur’an dan dari mentadabburinya!

Banyak pula kita temui orang-orang yang tergugah hatinya, bangkit kesedihannya hingga berlinang air mata karena mendengar alunan nasyid atau syair! Namun tidak demikian halnya ketika mendengar alunan ayat-ayat Al-Qur’an! Hatinya tidak tersentuh sedikit pun!

Demikianlah melalui musik dan nyanyian ini setan memalingkan anak Adam dari Kalamullah! Setan menebar jarat-jerat syubhat agar anak Adam tetap meyakini bahwa mendengarkan musik dan nyanyian ini bukanlah perkara yang perlu dipermasalahkan! Ini terbukti dengan sedikitnya buku-buku atau tulisan-tulisan yang membeberkan kebusukan musik dan nyanyian serta membongkar syubhat-syubhatnya!

Banyak sekali syubhat-syubhat seputar masalah musik dan nyanyian yang dihembuskan oleh setan. Salah satu di antaranya, setan membisikkan kepada manusia, Apa bedanya mendengar musik dengan mendengar suara kicauan burung, hembusan angin, gemersik dedaunan, dan suara-suara alam lainnya?!

Lalu syubhat model seperti ini termakan oleh orang-orang yang lemah akal dan imannya.

Dalam buku ini, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah memberikan jawaban-jawaban dan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat semacam itu!

Buku ini sendiri merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada para ulama tentang hukum musik, lagu dan nyanyian. Kemudian pertanyaan itu diajukan kepada para ulama dari empat madzab, yakni ulama madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dan Ibnul Qayyim adalah salah satu dari delapan ulama yang memberikan jawaban. Dan jawaban beliau itu tertuang dalam sebuah uraian penjang yang beliau beri judul: Kasyful Ghithaa’ ‘an Hukmi Samaa’il Ghinaa’

Seluruh ulama empat madzhab tersebut sepakat bahwa musik, lagu dan nyanyian itu haram hukumnya!

Sepertinya buku ini perlu dibaca oleh kaum muslimin sekarang ini. Agar mereka tahu status hukum musik dan nyanyian serta dampak-dampak langsung maupun tidak langsung yang diakibatkan olehnya. Karena bukan tidak sedikit diantara kaum muslimin yang masih beranggapan musik, nasyid, qasidah dan sejenisnya itu dibolehkan!? Lebih lanjut silakan mengikuti buku ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi diri kita dan masyarakat.

Demikian dari penerjemah, terakhir sebagai pengingat kiranya perlu kita ketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Akan muncul di kalangan umatku nanti beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat musik”. (Shahih Al-Bukhari no 5590, Musnad Imam Ahmad V/342, Sunan Abu Daud no. 3688, Sunan Ibnu Majah no. 4036). Lihat hal 41 buku ini.

==============================

Judul buku : NOKTAH-NOKTAH HITAM SENANDUNG SETAN
Judul asli : Kasyful Ghithaa’ ‘An Hukmi Samaa’i Ghinaa’
Penulis : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Penerjemah : Abu Ihsan Atsari
Penerbit : Darul Haq, Jakarta
Tahun cetakan : (Cetakan I) Muharram 1422 H/ April 2002 M
Ukuran buku : 26 cm, 315 halaman

Iklan


Tinggalkan komentar

Musik Racun Hati



Segala kemungkaran yang mengepung kita dari segala penjuru dimanapun kita berada, kemungkaran yang sangat menyesakkan dada dan memekakkan telinga dimana pun kita singgah. Di lampu merah, di dalam bis, kereta, terminal, stasiun dan tempat-tempat lainnya, kemungkaran ini senantiasa menghampiri kita. Bahkan yang lebih parah lagi, para pelakunya dianggap sebagai bintang dan teladan; walaupun rusak moral dan akhlaknya, masyarakat tetap menjadikannya sebagai simbol kemajuan peradapan bangsa.

Kemungkaran yang kami maksud adalah nyanyian dan suara alat-alat musik yang pada saat ini diadakan dalam berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas lirik lagu-lagunya berbicara tentang asmara, kecantikan, ketampanan, dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada problemartik biologis, sehingga membangkitkan nafsu birahi terutama bagi kawula muda dan remaja. Pada tingkat selanjutnya membuat mereka lupa segala-galanya sehingga terjadilah kemaksiatan, zina, dan dekadensi (penurunan) moral lainnya. Melihat merajalelanya kemungkaran ini, kami pandang perlu untuk mengingatkan kepada saudara-saudara kami melalui tulisan ini. Wallohul Muwaffiq.

Tidak ada keraguan tentang haramnya musik

Islam tidak membolehkan nyanyian dan musik bahkan mengharamkannya berdasarkan dalil-dalil yang terdapat pada al Qur’an maupun Assunnah. Karena musik dan nyanyian adalah salah satu senjata setan untuk melalaikan umat manusia dari mengingat Robb-Nya. Alloh berfirman:“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tiada< berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Imam al-‘Allamah Syamsuddin Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menjelaskan: “Cukuplah penafsiran para sahabat dan tabi’in menjadi pegangan kita, dan yang dimaksud perkataan yang tidak berguna di sini adalah musik atau nyanyian. Sebagaiman Abu Shohba pernah berkata kepada Ibnu Mas’ud tentang ayat ini, maka beliau menjawab: “Demi Alloh, tiada yang berhak diibadahi kecuali Dia, bahwa yang dimaksud dengan perkataan yang tidak berguna dalam ayat ini adalah musik. Beliau mengulanginya 3 kali.” (Ighotsatul-Lahfan: 1/432 cet. Dar Ibnul-Jauzi)

Penasiran ini juga dijelaskan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Hasan, Sa’id bin Zubair, Qotadah, Ibrahim an-Nakho’i dan lain-lain. (lihat al-Muntaqo an-Nafis min Tablis Iblis kar. Ibnu Jauzi: 302-303 cet. Dar Ibnul-Jauzi)

Imam Wahidi mengatakan: “Dan ayat ini dengan penafsiran seperti ini menunjukkan haramnya musik.” (Ighotsatul-Lahfan: 1/431)

Apapun dalil dari as-Sunnah yang menunjukkan harammnya musik ialah sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Abdurrohman bin Ghonam berkata: Abu Amir atau Abu Malik al-Asya’ari telah menceritakan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Rosululloh bersabda: “Di kalangan umatku nanti akan ada suatu kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera (bagi laki-laki), khomr, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhori: 5590)

Dengan kata lain akan datang suatu masa dimana beberapa golongan dari umat islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera, khomr, dan musik hukumnya halal, padahal semua itu telah diharamkan oleh Alloh. Imam Ibnu Hazm menganggap bahwa hadist ini munqhoti’ (terputus sanad atau jalan periwayatannya), tidak bersambung antara al-Bukhori dan Shidqoh bin Kholid. Atas dasar ini beliau mengatakan bahwa hadist ini dho’if (lemah). (al-Muhalla kar. Ibnu Hazm tahqiq Ahmad Syakir: 9/59 cet. Al-Maktab at-Tijari, Beirut)

Namun anggapan Ibnu Hazm ini telah disanggah oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah. (lihat Asyrothul-Sa’ah kar. Yusuf bin Abdulloh bin Yusuf al-Wabil: 142)

Ancaman bagi penyanyi dan pemusik

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad bahwa Rosululloh pernah bersabda: “Pada akhir zaman akan terjadai tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka.” Ada yang bertanya kepada Rosululloh: “Wahai Rosululloh, kapankan hal itu terjadi?” Beliau menjawab: “Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita.” (HR. Ibnu Majah: 4062 dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih al-Jami’ ash-Shoghir:4/ 162)

Pada sekarang ini alat-alat dan permainan musik telah merata dimana-mana. Biduan dan biduanita yang terbilang banyaknya tak terbilang banyaknya menari dan berjoget di atas panggung sambil memperlihatkan auratnya. Padahal, mereka itulah yang dimaksud dengan al-qoinat (penyanyi-penyanyi) dalam hadist diatas. Dan yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan dan penyakit yang dapat mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas.

Bahaya dan dampak negatif mendengarkan musik

Sungguh tidak diragukan lagi, huru-hara musik yang kita saksikan di negeri kita dan lainnya banyak menimbulkan bencana besar. Lihatlah setiap ada pentas musik, selalu ada saja yang menjadi korban. Berkelahi, tawuran hingga mengakibatkan banyak korban yang meninggal dunia. Orang-orang berjejal untuk membeli tiket meski dengan harga begitu tinggi. Bagi yang tidak punya uang terpaksa menghalalkan segala cara yang penting masuk stadion, akhirnya merusak pagar, memanjat dinding, atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pentas musik tersebut. Jika pentas dimulai, seketika itu penonton hanyut bersama alunan musik, berjoget, bersdansa, ada yang menjerit histeris bahkan pingsan karena mabok musik, bercampur baur dengan wanita yang bukan mahromnya, dan melalaikan sholat. Banyaknya pemuda mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka pada Alloh padahal Dia yang menciptakannya. Ini adalah fitnah dan musibah yang amat besar!

Imam Ibnul-Qoyyim mengatakan: “Sesungguhnya musik mendekatkan kepada perbuatan zina, menumbuhkan sifat kemunafikan, kekutunya setan, menutupi akal, dan musik adalah sebab terbesar yang dapat memalingkan dari al-Qur’an dibanding dengan yang lainnya dari perkataan-perkataan yang bathil, karena memiliki pengaruh yang besar terhadap jiwa dan kecintaan jiwa terhadapnya.” (Ighotsatul-Lahfan: 1/433)

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Musik dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran.”

Imam Sya’bi mengatakan: “Dilaknat penyanyi dan orang yang mendengarkannya.”

Imam Dhohak mengatakan: “Musik perusak hati, membuat Alloh murka.” (lihat Tablis Iblis: 305-307)

Adakah musik Islami ?

Akhir-akhir ini banyak orang beranggapan bahwa musik ada yang bersifat Islami, sehingga mereka memberikan embel-embel musik dengan istilah “musik islami” atau “nasyid islami”. Ada juga yang menyatakan nasyid-nasyid islami bisa menjadi ganti (alternatif) kaset-kaset nyanyian, padahal didalamnya terdapaat alunan musik, seperti gitar, piano, gendang dan alat-alat musik lainnya. Jadi, walaupun bernafaskan Islam, nyanyian tersebut tidak lepas dari kemungkaran.

Penamaan “musik/nasyid islami” ini tidak benar. Itu merupakan perkara baru. Di kitab-kitab salaf dan para ulama yang perkataannya terpercaya, tidak ada istilah “nasyid-nasyid islami”. Karena orang-orang sufilah yang telah menjadikan nasyid-nasyid sebagai agama mereka. Itulah yang mereka namakan dengan sama’. (lihat Majalah ad-Dakwah no. 1632, 7 Dzulqo’dah 1418 H)

Syaikh Sholih al-Fauzan mengomentari orang-orang yang mengatakan adanya nasyid islami: “Penamaan nasyid-nasyid dengan nasyid islami merupakan suatu kesalahan, karena islam belum pernah mensyari’atkan kepada kita nasyid-nasyid, melainkan mensyari’atkan kita untuk berdizikir kepada Alloh, membaca al-Qur’an, dan mempelajari ilmu yang bermafaat. Adapun nasyid-nasyid itu berasal dari Sufiyah mubtadi’ah (orang-orang sufi ahli bid’ah, Red), yang mereka jadikan agama sebagai permainan, sedangkan menjadikan nasyid-nasyid sebagian dari agama adalah menyerupai orang-orang Nasrani.” (al-Ajwibah al-Mufidah: 3 cet. Darussalaf)

Disebutkan dalam sebuah hadist shohih dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda: “Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan atasku khomr, judi, dan al-kubah.” Beliau juga bersabda: “Dan tiap-tiap yang memabukkan adalah haram.” Sufyan, salah seorang perawi berkata: “Aku bertanya kepada Ali bin Madzimah tentang al-kubah, dia menjawab: “Beduk (termasuk drum, gendang, atau semacamnya, Pen).” (HR. Abu dawud: 3696 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-shohihah: 1806)

Nasihat

Jauhilah televisi dan segala tontonan yang haram, jangan malah nongkrong di hadapannya sampai berjam-jam lamanya. Dan di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan pada musik adalah dengan selalu mengingat Alloh dan membaca al-Qur’an, mendengarkan kaset/MP3/VCD murottal al-Qur’an.

Muklis Abu Dzar

Dikutip dari buletin alfurqon tahun ke 3 volume 8 no. 4 terbit: Dzulhijjah 1429 H


Tinggalkan komentar

Televisi dan Bahayanya

[PengaRuh nOntOn TV pada anak-anak ]
http://dranak.blogspot.com/2007/05/pengaruh-nonton-tv-pada-anak-anak.html

  • PengaRuh Media teRhadap anak makin besaR, teknOlOgi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal ORangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memeRhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menOntOn TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menOntOn TV sekitaR 170 jam. Apa yang meReka pelajaRi selama itu? MeReka akan belajaR bahwa kekeRasan itu menyelesaikan masalah. MeReka juga belajaR untuk duduk di Rumah dan menOntOn, bukannya beRmain di luaR dan beROlahRaga. Hal ini menjauhkan meReka daRi pelajaRan-pelajaRan hidup yang penting, sepeRti bagaimana caRa beRinteRaksi dengan teman sebaya, belajaR caRa beRkOmpROmi dan beRbagi di dunia yang penuh dengan ORang lain.
  • Kenapa Kita HaRus MenguRangi MenOntOn TV?
    • BeRpengaRuh teRhadap peRkembangan Otak
    • MendOROng anak menjadi kOnsumtif
    • BeRpengaRuh teRhadap Sikap
    • MenguRangi semangat belajaR
    • Membentuk pOla pikiR sedeRhana
    • MenguRangi kOnsentRasi
    • MenguRangi kReativitas
    • Meningkatkan kemungkinan Obesitas (kegemukan)
    • MeRenggangkan hubungan antaR anggOta keluaRga
    • Matang secaRa seksual lebih cepat
  • Dengan TV dalam keadaan mati, kita jadi memiliki kesempatan untuk beRpikiR, membaca, beRkReasi dan melakukan sesuatu. Untuk menjalin hubungan yang lebih menyenangkan dalam keluaRga dan masyaRakat. MenguRangi waktu menOntOn TV membuat kita mempunyai lebih banyak waktu untuk beRmain di luaR, beRjalan-jalan atau melakukan OlahRaga yang kita senangi.
  • Yang dapat di lakukan dengan HARI TANPA TV:
    • PeRgi ke peRpustakaan atau ke tOkO buku teRdekat
    • BeRcOcOk tanam
    • BeRmain
    • Melihat awan
    • Menulis suRat
    • Jalan-jalan
    • BeRenang
    • BeRsepeda
    • MendengaRkan RadiO atau membaca kORan
    • Memasak beRsama ibu
    • Bikin lOmba antaR RT
    • BeROlahRaga
    • Bakti sOsial
    • Rapikan Rumah dan halaman
    • Ambil les
    • BeRcengkRama dengan keluaRga
    • BelajaR
    • MengeRjakan keteRampilan tangan
    • Ke kebun binatang atau musium
  • Tips caRa mematikan TV:
    • Pindahkan TV ke tempat yang tidak begitu ‘mencOlOk’
    • Matikan TV pada waktu makan.
    • Tentukan haRi-haRi apa saja dalam seminggu yang akan dilalui tanpa TV.
    • Jangan gunakan kesempatan menOntOn TV sebagai hadiah.
    • BeRhenti beRlangganan channel tambahan (cable, dll) dan gunakan uangnya untuk membeli hal-hal yang beRguna lainnya, sepeRti buku.
    • Pindahkan TV daRi kamaR anak Anda.
    • Sembunyikan RemOte cOntROlnya.
    • Tidak ada TV di haRi sekOlah.
  • Jangan teRlalu khawatiR bila anak mengaku bOsan, kaRena kebOsanan itu lama-lama akan menghilang dan biasanya justRu menciptakan kReativitas. KaRena anak banyak dipengaRuhi dengan yang dilakukan ORangtua meReka, adalah sangat penting untuk mempeRhatikan bahwa usaha apa saja, sepeRti lebih banyak beROlahRaga, mengOnsumsi makanan yang lebih beRgizi atau menOntOn TV lebih sedikit, dilakukan sebagai ‘acaRa keluaRga’ sehingga mematikan TV adalah usaha yang dilakukan Oleh setiap anggOta keluaRga untuk menyisihkan waktu beRcengkRama beRsama.

[agaR anak teRhindaR daRi bahaya tv]
http://www.tipstrik.com/tips-keluarga/agar-anak-terhindar-dari-bahaya-tv.html

  • MenuRut sebuah suRvey yang diRilis Oleh sebuah haRian umum nasiOnal, acaRa televisi di IndOnesia teRnyata 86 peRsennya meRupakan acaRa-acaRa yang amORal dan membahayakan bagi mentalitas dan peRkembangan jiwa anak. SementaRa 14 peRsen sisanya masih mengandung unsuR pendidikan dan mORal. FenOmena sepeRti itu ditemukan bukan hanya pada pROgRam yang dipeRuntukkan bagi nOn anak-anak. AcaRa yang dilabeli sebagai acaRa-acaRa anak pun tak luput daRi minimnya pesan mORal dan pendidikan yang diusung. Apalagi pesan-pesan agama.
  • Kadang aku ceRitakan di kORan ada beRita ini itu yang menyebutkan bahayanya acaRa TV bagi anak-anak. DaRi situ aku mulai tawaRkan sebuah janji dan kOmitmen. Saat itu, kOmitmennya kuRang lebih begini.
    1. Hanya nOntOn acaRa anak-anak
    2. Tidak lupa shalat dan ngaji
    3. Tidak lupa belajaR
    4. Bila melanggaR TV akan langsung dimatikan.
    Nah semua kOmitmen itu anakku sendiRi yang nulis di buku diaRi kecil yang aku belikkan untuknya. Dia tulis, SYARAH JANJI dst…..

[Nikmatnya Hidup Tanpa TV]
http://blogabumusa.com/?p=128=1

  • Apa manfaat TV bagi kehidupan kita? Untuk mengetahui infORmasi teRkini? apakah haRus dengan TV? Kan ada kORan, apalagi jaman sekaRang ada inteRnet. Dengan inteRnet kita bisa mengetahui infORmasi teRkini jauh lebih cepat dibanding TV.
  • Apa manfaat TV bagi kehidupan kita? Untuk hibuRan? Wahai kaum Muslimin, tidak cukupkah lantunan Al-QuR’an sebagai hibuRan hati kita? KeluaRga kita sebagai tempat melepas segala kepenatan?
  • Masuknya selingan pROgRam Al-QuR’an dan acaRa-acaRa keagamaan dalam Rangkaian acaRa teRsebut adalah salah satu bentuk kOmbinasi antaRa dua hal yang saling beRlawanan. Dan membeli TV untuk menyaksikan apa yang disebutkan diatas jelas haRam. Sebab menOntOn peRbuatan haRam hukumnya juga haRam. KaRena itulah, siapa saja yang memiliki TV dan mengetahui atau menuRut dugaannya bahwa diRinya tidak mampu menjauhi tayangan teRsebut, beRaRti dia telah beRsikeRas dan ngOtOt dalam (melakukan) sesuatu yang haRam.

[Bahaya TV pada Anak]
http://www.geocities.com/anandito_2000/special/250301-3.htm

  • ORang tua jangan teRkecOh dengan hanya menyensOR adegan seksual, misalnya ciuman. Adegan kekeRasan, mulai tembakan, tampaRan pipi, jeRit dan teRiakan, daRah, gebuk-gebukan peRlu juga disensOR.
  • ROn SOlby daRi UniveRsitas HaRvaRd mengatakan ada empat macam dampak kekeRasan dalam televisi teRhadap peRkembangan kepRibadian anak.
    1. dampak agResOR di mana sifat jahat daRi anak semakin meningkat;
    2. dampak kORban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempeRcayai ORang lain;
    3. dampak pemeRhati, di sini anak menjadi makin kuRang peduli teRhadap kesulitan ORang lain;
    4. dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekeRasan dalam mengatasi setiap peRsOalan.
  • MenuRut Aletha HustOn, Ph.D. daRi UniveRsity Of Kansas, “Anak-anak yang menOntOn kekeRasan di TV lebih mudah dan lebih seRing memukul teman-temannya, tak mematuhi atuRan kelas, membiaRkan tugasnya tidak selesai, dan lebih tidak sabaR dibandingkan dengan anak yang tidak menOntOn kekeRasan di TV.”
  • Tak ada yang lebih baik daRipada keluaRga yang hangat, sekOlah yang beRmutu, dan masyaRakat yang peduli,” tutuR ahli peRilaku TOny ChaRltOn, yang memimpin kajian itu. “Kalau tiga aspek itu teRpenuhi, tak ada masalah dengan kekeRasan yang ditOntOn.”
  • Sikap ORang tua teRhadap TV akan mempengaRuhi peRilaku anak. Maka sebaiknya ORang tua lebih dulu membuat batasan pada diRinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala lelah atau bOsan dengan kegiatan Rumah, ORang tua suka menOntOn TV. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan Rutin, aRtinya Anda bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh, anak akan tahu ada banyak caRa beRaktivitas selain menOntOn TV.
  • Usahakan TV hanya menjadi bagian kecil daRi keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak peRlu punya cukup waktu untuk beRmain beRsama teman-teman dan mainannya, untuk membaca ceRita dan istiRahat, beRjalan-jalan dan menikmati makan beRsama keluaRga. SebenaRnya, umumnya anak-anak senang belajaR dengan melakukan beRbagai hal, baik sendiRi maupun beRsama ORang tuanya. Hal penting kedua adalah mengikutseRtakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan sebeRapa banyak acaRa TV yang ditOntOn. Tujuannya, agaR anak menjadikan kegiatan menOntOn TV hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan.
  • Anak yang sudah beRsekOlah haRus dibatasi, misalnya hanya bOleh menOntOn setelah mengeRjakan semua PR. BeRapa jam? MenuRut Jane MuRphy dan KaRen TuckeR – pROduseR acaRa TV anak-anak dan penulis – sebaiknya tidak lebih daRi dua jam sehaRi, itu teRmasuk main kOmputeR dan videO game. Untuk anak yang belum beRsekOlah atau seRing ditinggal ORang tuanya di Rumah, pORsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.

[Televisi dan Bahayanya]
http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=1140&Itemid=190

  • Kenyataan yang kita lihat, mayORitas tayangan televisi saat ini adalah acaRa-acaRa yang dihaRamkan Oleh syaRiat Islam atau melalaikan manusia daRi hal-hal yang beRmanfaat, sepeRti shalat, menuntut ilmu, dan sebagainya.
  • Televisi memiliki andil yang sangat besaR dalam pendangkalan akidah kaum Muslimin. Televisi juga memiliki efek negatif tehadap akidah al wala’ wal baRa’. MeRupakan hal-hal yang dimaklumi bahwa di antaRa pOkOk-pOkOk akidah Islam adalah wajib membeRikan wala’ (lOyalitas) kepada setiap Muslim, dan baRa’ (beRlepas diRi) teRhadap ORang-ORang kafiR.
  • Televisi lagi-lagi memiliki andil dalam meRusak akidah anak-anak Islam. Buktinya saja, film kaRtun saat ini membeRikan pemahaman kepada anak-anak Islam yang beRtentangan dengan akidah anak-anak teRsebut, dan sekaligus mengagungkan keyakinan-keyakinan ORang-ORang kafiR dan musyRikin. COntOhnya sebuah film kaRtun yang sangat laRis pada saat ini yaitu AvataR, yang mana film teRsebut membeRikan pemahaman bahwa ilmu api, aiR, udaRa dan tanah itu ada, sehingga teRkadang anak-anak Islam pun meniRukannya. Inilah akidah-akidah ORang NasRani yang ditelan mentah-mentah Oleh anak-anak Islam yang meReka tidak mampu menepis syubhat-syubhat dan membantah kedustaan meReka. Lalu bagaimana kita tinggalkan meReka di hadapan aRus ghOzwul fikRi (peRang pemikiRan) yang menyeRang akal dan hati meReka? KaRena itu kepada paRa ORang tua, bOlehkah kita tinggalkan anak-anak kita di hadapan film kaRtun yang menghancuRkan akidah Islamiah dan tauhid yang shahih?
  • Televisi juga meRupakan saRana efektif bagi setan untuk membuat kaum Muslimin malas melakukan shalat, kaRena begitu banyak acaRa-acaRa yang di letakkan pada waktu-waktu shalat sehingga lebih banyak kaum Muslimin yang lebih memilih untuk duduk di depan televisi daRi pada menunaikan kewajiban teRhadap Penciptanya. Kalaupun dia beRangkat menunaikan shalat maka dia tidak bisa khusyuk kaRena pikiRannya masih beRada pada acaRa yang dilihatnya ketika hendak menunaikan shalat.
  • Maka beRangkat daRi bahaya media televisi teRsebut, kita haRus menggatinya dengan hal yang beRmanfaat sepeRti menuntut ilmu syaR’i, membaca Al-QuR’an, membaca buku-buku agama, CD/VCD islami dan hal-hal yang bisa mendatangkan maslahat bagi diRi kita sendiRi dan ORang lain. Wahai saudaRaku!! Kami mewasiatkan kepada diRi kami pRibadi dan kepada pembaca sekalian untuk meninggalkan hal-hal yang tidak beRmanfaat, yang dapat meRusak akidah kaum Muslimin.

[Waspada Bahaya Media HibuRan]
http://abuabyan.wordpress.com/2009/04/11/waspada-bahaya-media-hiburan/

  • Pemanfa’atan layaR kaca (TV, VidiO, TV Game dll) beRdasaRkan penelitian, ilmiah teRbukti menimbulkan dampak negatif. Di antaRanya padangan mata tak nORmal kaRena pengaRuh sinaR ultRa viOlet daRi kaca, tubuh menjadi malas, syaRaf teRganggu, kisah khayal dan peRtunjukkan beRefek negatif, dan lebih besaR daRi semua itu adalah peRtunjuk-kannya melanggaR syaRi’at dan meRusak mORal.
  • SecaRa jujuR kita katakan, bahwa memang ada bebaRapa hal pOsitif yang bisa disebutkan sehubungan dengan televisi. Namun daRi haRi kehaRi semakin banyak indikasi ilmiah yang menegaskan adanya dampak negatif daRi acaRa televisi melalui beRbagai tayangannya, teRutama bagi anak-anak kecil.
  • NicOlas Van ROgh, ketua Badan NasiOnal Pendidikan Anak dan PakaR Televisi di AmeRika seRikat menyatakan: “Kadang-kadang televisi bisa menjadi musuh bagi anak-anak, meski kadang bisa menjadi hadiah yang menyenang-kan. KaRena menOntOn beRbagai pROgRam acaRa yang tidak kaRuan, dapat menghabiskan pORsi teRbanyak waktu anak-anak, menghilangkan banyak waktu beRmanfaat yang dapat digunakan untuk belajaR, beRmain dan tiduR.”
  • Bagaimanapun juga, tak seORang pun yang mengingkaRi adanya beRbagai dampak negatif dan bahaya, pasti daRi aneka macam tayangan siaRan televisi pada umumnya. Meskipun beRbagai pakaR pendidikan dan pengajaRan di bebeRapa negaRa baRat sekaRang banyak yang meneRiakkan pentingnya membeRikan penekanan pada disiplin mORal dalam beRbagai pROgRam siaRan. Hal ini semakin menegaskan kehaRusan kaum muslimin untuk beRpegang pada media kOmunikasi yang teRpelihaRa, televisi atau media kOmunikasi lainnya. Di mana meReka mempeR-hatikan sisi ajaRan syaRiat dengan sempuRna. Inilah satu jalan hidup yang haRus menjadi Rujukan bagi umat manapun di dunia, kalau meReka menginginkan keselamatan bagi masyaRakat.

[Awas !!!!!!!!!!!! AcaRa TV, ??]
http://sholihin.staff.uns.ac.id/2009/04/27/awas-acara-tv/

  • AcaRa TV untuk anak yang masuk kategORi AMAN: VaRia Anak (TVRI), BOcah Petualang, LaptOp Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si BOlang ke KOta, Buku HaRian si Unyil (TRANS7), SuRat Sahabat, CeRita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), DORa The ExplOReR, GO! DiegO GO!, ChalkzOne, BackyaRdians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One)
  • AcaRa TV untuk anak yang masuk kategORi HATI-HATI: IdOla Cilik Seleb, RapOR IdOla Cilik Seleb, DORaemOn, Pentas IdOla Cilik, RapOR Pentas IdOla Cilik (RCTI), CaspeR, HaRveytOOn (TPI), TRansfORmeRs (AN TV), POkemOn SeRies, Bakugan Battle BRawleRs, KOnseR Eliminasi 6 AFI JuniOR (IVM), New ScOOby DOO MOvie (TRANS7), SpOngeBOb SquaRepants, AvataR: The Legend Of Aang, CaRita De Angel (TVG)
  • Tayangan yang masuk dalam kategORi BAHAYA: TOm & JeRRy, CRayOn Sinchan (RCTI), Si EntOng, TOm & JeRRy, Si EntOng 2 (TPI), POpeye ORiginal, Oggy & The COckROaches (AN TV), Detective COnan, DRagOn Ball, NaRutO 4 (INDOSIAR), TOm & JeRRy (TRANS7), One Piece, NaRutO (TVG).

[Bahaya Televisi pada Anak-Anak]
http://priyes-buahhati.blogspot.com/2009/03/bahaya-televisi-pada-anak-anak.html

  • Kalau anak-anak dibiaRkan bebas sebebas-bebasnya menOntOn TV, videO, dan main game di kOmputeR, apa yang teRjadi teRhadap peRtumbuhan dan kemampuan belajaR meReka? Itulah peRtanyaan yang mengusik benak Susan R. JOhnsOn, M.D., dOkteR spesialis anak asal San FRanciscO dan peRnah mendalami ilmu kesehatan anak yang beRkaitan dengan peRilaku dan peRkembangan. “Ratusan anak mengalami kesulitan beRkOnsentRasi pada pekeRjaan, dan melakukan geRakan mOtORik kasaR maupun halus. Kebanyakan meReka memenemui kesulitan dalam beRhubungan dengan ORang dewasa dan kelOmpOk seusianya,” papaRnya.
  • Saat beRmain di luaR, jelas Susan, anaknya bisa asyik mengamati binatang kecil atau seRangga, bikin mainan daRi Ranting dan batu, atau main aiR dan pasiR. Ia tampak begitu damai dengan diRinya, tubuhnya, dan lingkungannya. Tetapi begitu di depan TV, ia begitu cuek dengan si ibu maupun lingkungannya. “Waktu saya matikan TV-nya, ia gelisah, senewen, dan selalu beRteRiak minta dinyalakan lagi. Tingkah pOlahnya kacau dan geRakan-geRakannya impulsif. BORO-bORO bikin kReasi sendiRi, ia justRu meniRu saja apa yang dilihatnya di TV dengan geRakan yang tidak kReatif, kaku, dan diulang-ulang”.
  • Otak anak usia 6 – 7 tahun besaRnya dua peRtiga Otak ORang dewasa, tapi memiliki 5 – 7 kali lebih banyak sambungan antaRneuROn daRipada Otak anak usia 18 bulan atau ORang dewasa. Otak meReka memang punya kemampuan besaR untuk menyusun Ribuan sambungan antaRneuROn. Namun, kemampuan itu beRhenti pada umuR 10 – 11 tahun jika tidak dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim teRtentu dilepaskan dalam Otak dan melaRutkan semua jaluR atau “uRat” syaRaf (pathways) yang tidak teRmielinasi dengan baik (mielinasi adalah pROses pembungkusan jaluR syaRaf dengan myelin yang beRujud pROtein-lemak). PeRkembangan Otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai daRi Otak pRimitif (actiOn bRain), Otak limbik (feeling bRain), dan akhiRnya ke neOcORtex (atau disebut juga thOught bRain, Otak pikiR).
  • Anak juga membutuhkan pengalaman yang meRangsang pancaindeRa. Namun, indeRa meReka peRlu dilindungi daRi Rangsangan yang beRlebihan kaRena anak-anak itu ibaRat sepOn. “MeReka menyeRap apa saja yang dilihat, didengaR, dicium, diRasakan, dan disentuh daRi lingkungan meReka. Kemampuan Otak meReka untuk memilah atau menyaRing pengalaman Rasa yang tidak menyenangkan dan beRbahaya belum beRkembang,”
  • Membaca buku, beRjalan-jalan di alam, atau beRcakap dengan ORang lain di mana anak punya kesempatan untuk meRenung dan beRpikiR – jauh lebih mendidik daRipada menOntOn TV. Kegiatan ini meniadakan pengalaman beRhaRga itu. MenOntOn TV meRupakan pekeRjaan tanpa akhiR, tanpa tujuan, dan tak bikin “kenyang”. Tidak sepeRti makan dan tiduR yang bisa bikin peRut kenyang dan badan tidak capek lagi, menOntOn TV tidak ada ujungnya. “TV membuat anak ingin teRus menOntOn tanpa peRnah meRasa puas,”
  • MenOntOn televisi membuat kita teRlepas daRi kehidupan nyata. Di kuRsi yang nyaman di Ruang yang sejuk dengan banyak makanan, kita duduk menOntOn paRa tunawisma, ORang kelapaRan atau mendeRita di layaR kaca. Kita teRsentuh melihat nasib meReka, tetapi tidak beRbuat apa-apa. ORang bOleh bilang, membaca buku pun dapat membangkitkan peRasaan seRupa tanpa beRbuat apa-apa. Namun, menuRut dR. Susan, saat sedang membaca buku (yang tidak banyak gambaRnya), pikiRan bisa beRimajinasi dan punya kesempatan memikiRkannya. PikiRan itu dapat menggiRing anak kepada gagasan yang menimbulkan inspiRasi untuk melakukan sesuatu. Televisi tidak begitu.”


1 Komentar

Nikmatnya Hidup Tanpa TV


Author: Abu Musa

Mungkin Anda heran membaca judul postingan ini, “Lah, emang kita hidup di jaman purba apa?! Kuper donk?!”. Oke, sebelumnya saya mau tanya, apa manfaat TV bagi kehidupan kita? Dijawab…

Untuk mengetahui informasi terkini

Saya katakan, apakah harus dengan TV? Kan ada koran, apalagi jaman sekarang ada internet. Dengan internet kita bisa mengetahui informasi terkini jauh lebih cepat dibanding TV.

Untuk hiburan

Wahai kaum Muslimin, tidak cukupkah lantunan Al-Qur’an sebagai hiburan hati kita? Keluarga kita sebagai tempat melepas segala kepenatan?

Ada alasan lain?

Saat saya menikah, perabotan RT yang tidak saya beli hanya TV. Apakah saya sengsara? Justru kebalikannya, saya merasa hidup saya lebih bernilai! Waktu saya lebih bermanfaat! Cobalah Anda praktekkan dan rasakan sendiri, 1 pekan saja tidak menonton TV, atau 1 hari saja. Saya jamin Anda dan keluarga akan merasakan betul manfaatnya!

Sekarang coba jawab, Apakah Kebaikan atau Keburukan yang lebih banyak Anda dapatkan dari TV? Silahkan jawab masing-masing…

Namun  jangan salah tangkap, saya tidak mengatakan TV itu haram. Tetapi  jika kita lihat realita saat ini, kita perhatikan acara-acara TV yang ada, tontonan yang bebas dari maksiat kepada Alloh sangat amat sedikit sekali, itu pun kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Akhirnya, coba kita simak bersama fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini:

HUKUM DAN PENGARUH TELEVISI TERHADAP ANAK

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Di antara fakta negatif yang menyebar di mana-mana, televisi hampir selalu hadir di setiap hunian. Padahal layar TV menayangkan :

  1. Acara nyanyian dan musik dengan segala instrumennya
  2. Serial kriminalisme
  3. Kisah-kisah mitos dan khayalan
  4. Teater/drama yang diperankan laki-laki dan perempuan
  5. Pengaburan sejarah Islam dan kaum Muslimin dan orang shalih, dengan tampilnya wanita-wanita yang tidak menutup auratnya, ini bisa dilihat dalam serial sejarah.
  6. Film/sinetron dengan tema perselingkuhan dalam keluarga
  7. Tampilnya wanita dengan membuka aurat, menampakkan perhiasan, munculnya penyanyi wanita atau artis, dan lainnya.
  8. Si sela-sela program tersebut ; dibacakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi atau ceramah agama.
  9. Memvisualkan sahabat Nabi.

Kalau kita sudah mengetahui bahwa Idza’atil Qur’an Karim (sebuah stasiun radio) menyajikan program-program agama yang lebih baik dan lebih banyak dari apa yang ditayangkan TV, bahkan mengalahkan program-program berita baik lokal maupun internasional, jika kita telah mengetahui semua ini, maka :

  • Apakah boleh memiliki TV, hingga sampai (disaksikan) oleh mereka yang lemah pemahamannya dari kalangan wanita dan anak-anak. Mereka menyaksikannya sehingga tercampur antara yang hak dan batil?
  • Apakah boleh melihat wanita, remaja-remaja yang klimis (tidak berjenggot) dan tampan, juga mereka yang kadang-kadang berpenampilan banci yang bertentangan dengan kelelakian ?
  • Apa yang harus dipikul oleh orang yang terpaksa memilikinya atau yang mengatakan : “Saya tidak bisa mengeluarkan TV dari rumah ?”
  • Apakah dibolehkan memilikinya bagi yang mengatakan : “Susah untuk mencegahnya dari nyanyian, perempuan, dan musik yang merupakan program tayangan (rutin), atau semisalnya?”
  • Apakah program-program yang saya sebutkan sesuai dengan syari’at Islam?
  • Secara umum, apakah boleh bagi laki-laki maupun perempuan menonton acara-acara tersebut ?

Jawaban:

Tujuh point pertama dari program TV yang anda sebutkan tidak diragukan lagi keharamannya. Orang yang memahami syariah Islam dan sumber hukumnya tidak akan ragu atau bimbang terhadap haramnya hal ini karena daya rusaknya terhadap agama, moral, keamanan dan masyarakat. Semoga Allah memberikan taufik kepada para penanggung jawab TV untuk menjauhinya demi tercapainya kebaikan dan keselamatan serta menjauhi sebab-sebab kejahatan dan fitnah.

Masuknya selingan program Al-Qur’an dan acara-acara keagamaan dalam rangkaian acara tersebut adalah salah satu bentuk kombinasi antara dua hal yang saling berlawanan. Dan membeli TV untuk menyaksikan apa yang disebutkan diatas jelas haram. Sebab menonton perbuatan haram hukumnya juga haram. Karena itulah, siapa saja yang memiliki TV dan mengetahui atau menurut dugaannya bahwa dirinya tidak mampu menjauhi tayangan tersebut, berarti dia telah bersikeras dan ngotot dalam (melakukan) sesuatu yang haram.

Demikian pula orang yang membelinya untuk keluarga dan anak-anaknya yang tidak bisa menghindari dari hal-hal (yang diharamkan) tersebut -meski ia sendiri tidak ikut menyaksikannya- maka dia tetap berdosa karena telah memfasilitasi untuk suatu yang haram, dan termasuk satu bentuk pendidikan yang buruk yang akan dia pertanggung jawabkan di akhirat.

Sementara menonton TV tanpa memilikinya secara pribadi ada tiga macam:

  1. Menyaksikan tontonan yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, hal ini tidak masalah kecuali jika bisa menyeret pada suatu yang haram, seperti seorang wanita yang asyik memandangi presenter laki-laki.
  2. Menonton tayangan yang berbahaya terhadap agama. Ini haram, karena seorang mukmin wajib memelihara agamanya dari bahaya.
  3. Melihat acara yang tidak bermanfaat juga tidak berbahaya. Tindakan ini termasuk laghwun (sia-sia) dan tidak layak seorang mukmin yang berkemauan keras menyia-nyiakan waktu dengan acara seperti itu.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memelihara mereka dari kejahatan dunia dan akhirat.

[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Islamiyah 4/371]

[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]