Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


Tinggalkan komentar

Bantahan Terhadap Habib Rizik Tentang Buku Mulya Dengan Manhaj Salaf

Asyariyah dan Maturidiyah Benarkah Termasuk Ahlussunnah Waljama’ah???

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berkomitmen tinggi terhadap sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menjunjungnya, menghargainya, mengikutinya dan mendahulukannya diatas pendapat siapapun, sebagaimana hal itu bisa dibaca dari nama Ahlus Sunnah.

 

Muslim manapun berhak dan tidak dilarang menisbatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah, penisbatannya benar jika hal itu didukung oleh sikapnya yang benar terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , akan tetapi jika Anda adalah orang yang alergi sunnah, tidak menghargainya, tidak mengikutinya, Anda masih kolot berpegang kepada warisan leluhur meskipun hal itu jelas-jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , maka janganlah Anda mengklaim nama yang mulia ini karena klaim Anda ditolak oleh sikap dan perbuatan Anda sendiri. Anda berdusta.

 

Menjawab pertanyaan di atas, penulis katakan, jawaban darinya adalah benar, yakni Ahlus Sunnah itu adalah Asyariyah dan Maturidiyah, akan tetapi jawaban ini menurut kebanyakan orang yang hanya melihat kepada kulit tanpa menyelami masalah yang sebenarnya, jawaban serampangan dan gebyah uyah. Di Indonesia penulis tidak jarang mendengar dan membaca ucapan tokoh fulan, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Asyariyah Maturidiyah.” Ucapan yang mencerminkan atau mewakili jawaban dari banyak orang di negeri ini. Dan inilah yang dipahami dan menyebar di kalangan masyarakat, setiap kata Ahlus Sunnah terucap atau tertulis maka yang muncul secara otomatis dalam benak dan pikiran adalah Asyariyah dan Maturidiyah.

 

Sikap keliru yang patut untuk dikoreksi dan diluruskan demi mewujudkan nasihat kepada kaum muslimin seperti yang dipesankan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Penulis telah menjelaskan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah melengkapi tulisan saudara saya Ustadz Agus Hasan sebelumnya, penulis juga telah memaparkan pemikiran-pemikiran dari Asyariyah dan Maturidiyah berikut bantahan terhadapnya. Jika pembaca membandingkan dan mengkaji dengan sikap obyektif dan adil tanpa tendensi ta’asshub buta dan kultus yang tercela, niscaya pembaca akan menemukan jawaban yang obyektif dan adil pula.

 

Berikut ini adalah kajian perbandingan antara Ahlus Sunnah, Asyariyah dan Maturidiyah.

 

Pertama dalam masalah iman:Asyariyah berpendapat bahwa iman hanya sebatas pengakuan semata, sama dangannya pendapat Maturidiyah, walaupun sebagian Asyariyah menambahkan ucapan dengan lisan. Sedangkan Ahlus Sunnah berkata, Iman adalah keyakinan dalam hati, pengikraran dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Hasil dari perbedaan ini sangat mendasar, kalau ada orang yang mengaku beriman meskipun dia tidak mengikararkannya dengan lisan, tidak pula membenarkan dengan perbuatan maka dia mukmin menurut Asyariyah dan Maturidiyah, tidak ada urusan terhadap apa yang dilakukannya setelah itu.

 

Kedua dalam masalah sifat Allah: Asyariyah hanya menetapkan tujuh sifat Allah, sedangkan Maturidiyah hanya menetapkan delapan sifat Allah, dan dalam menetapkan, mereka sama-sama merujuk kepada akal semata, karena petunjuk akal menetapkan tujuh atau delapan sifat tersebut, adapun sifat-sifat yang lain maka tidak ditetapkan karena petunujuk akal tidak menetapkannya, begitu kata mereka. Berbeda dengan Ahlus Sunnah yang berkata, Akal tidak berhak ikut campur dalam perkara sifat Allah, kami menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan di dalam al-Qur`an dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. tetapkan di dalam sunnah yang shahih tanpa takwil, tamtsil, takyif dan ta’thil. Kami meyakini bahwa tidak ada yang lebih mengetahui Allah selain Allah kemudian RasulNya.

 

Asyariyah tekenal dengan takwilnya terhadap sifat-sifat Allah, begitu pula Maturidiyah dan yang terakhir ini disamping takwil menambah tafwidh. Sementara Ahlus Sunnah menetapkan tanpa takwil lebih-lebih tafwidh. Asyariyah dan Maturidiyah telah bersikap tidak sopan kepada Allah terkait dengan sifat-sifatNya dengan menetapkan, menafikan dan mentakwilkan tanpa landasan ilmu dari Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Ketiga dalam masalah tauhid: Tauhid dalam kamus Asyariyah hanya sebatas pengakuan terhadap rububiyah Allah semata, tidak lebih dari itu, orang yang mengakui rububiyah berarti dia ahli tauhid, sementara Maturidiyah setali tiga uang, mereka menafsirkan La Ilaha Illallah dengan tafsiran yang dangkal dan tidak menyeluruh, yaitu La Qadira ala al-Ikhtira’(tidak ada yang mampu berkreasi). Karena tauhid ala Asyariyah dan Maturidiyah hanya sebatas itu, tidak menyentuh sisi uluhiyah atau ibadah maka dalam kamus mereka tidak ada istilah syirik dalam ibadah, dari sini Anda bisa memperhatikan bahwa tidak sedikit orang-orang mereka yang terjerumus ke dalam syirik bahkan sebagian imam mereka menyeru kepada berbagai bentuk syirik. Bandingkan dengan keyakinan Ahlus Sunnah yang menetapkan tauhid meliputi tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah atau ibadah dan tauhid asma` wa sifat, dan makna yang shahih dari kalimat tauhid adalah tidak ada Tuhan yang haq yang berhak disembah selain Allah Taala, di mana tuntutannya adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan berlepas diri dari segala bentuk syirik.

 

Keempat dalam masalah al-Qur`an: Asyariyah berpendapat bahwa al-Qur`an bukan firman Allah secara hakiki, al-Qur`an hanyalah ungkapan dari firman Allah, karena menurut mereka kalam (firman) Allah adalah suatu makna yang ada pada diri Allah, sama dengannya pendapat Maturidiyah. Pendapat ini mengarah kepada penetapan bahwa al-Qur`an adalah makhluk. Sedangkan Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa al-Qur`an adalah kalam atau firman Allah, Allah berbicara dengannya secara hakiki dan ia bukan makhluk.

 

Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan antara Asy’ariyah, Maturidiyah dan Ahlussunah waljama’ah maka Ahlussunnah waljama’ah bukanlah Asyariyah maupun maturidiyah

Iklan


Tinggalkan komentar

Hukum Operasi Caesar

Menelisik Hukum Operasi Caesar

 Oleh :Ust. Ahmad Sabiq

Melahirkan anak adalah salah satu fitrah kaum hawa. Mereka senantiasa berusaha untuk melahirkan anaknya secara normal, tanpa operasi. Oleh karena itu berbagai usaha dan antisipasi mereka lakukan agar bisa lahiran normal. Seperti olahraga jalan pagi, senam hamil, konsumsi makanan tertentu ataupun yang lainnya.

Namun, akhir-akhir ini banyak dari ibu-ibu yang melahirkan anak mereka melalui proses operasi dengan cara membedah perut mereka. Mereka melakukan hal itu karena alasan medis, seperti bayi kembar, panggul yang sempit, atau ukuran bayi yang terlalu besar. Kadang juga karena alasan sosial atau sekedar sebagai pelengkap saja, seperti jalan lahir bayi ingin tetap utuh sehingga organ kewanitaannya sama seperti sebelum melahirkan, atau sekedar ingin menentukan tanggal kelahiran sesuai yang dikehendaki, seperti tanggal 11 bulan 11 tahun 2011 dan lain-lainnya.

PENGERTIAN OPERASI CAESAR

Dalam Wikipedia Indonesia, disebutkan bahwa Bedah sesar (caesarean section atau cesarean section), disebut juga dengan seksio sesarea (disingkat dengan sc) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena berisiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, anak, anastesi serta bidan.

HUKUM OPERASI CAESAR [1]

Hukum operasi caesar dilihat dari sisi kepentingan wanita hamil atau janin dibagi menjadi dua:

Pertama: Dalam Keadaan Darurat

Yang dimaksud dalam keadaan darurat dalam operasi caesar adalah adanya kekhawatiran terancamnya jiwa ibu, bayi atau kedua-duanya secara bersamaan. Berikut ini perinciannya:

1. Operasi Caesar untuk menyelamatkan jiwa ibu. Misalnya untuk ibu yang mengalami eklampsia atau kejang dalam kehamilan, mempunyai penyakit jantung, persalinan tiba-tiba macet, pendarahan banyak selama kehamilan, infeksi dalam rahim atau dinding rahim yang menipis akibat bedah Caesar atau operasi rahim sebelumnya.

2. Operasi Caesar untuk menyelamatkan jiwa bayi. Yaitu, jika sang ibu sudah meninggal dunia, tapi bayi yang berada di dalam perutnya masih hidup.

3. Operasi Caesar untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi secara bersamaan adalah ketika air ketuban pecah, namun belum ada kontraksi akan melahirkan, bayi terlilit tali pusar sehingga tidak dapat keluar secara normal, usia bayi belum matang (prematur), posisi bayi sungsang dan lain-lain.

Dalam tiga keadaan di atas, menurut pendapat yang benar, dibolehkan dilakukan operasi Caesar untuk menyelamatkan jiwa ibu dan anak. Dalil-dalilnya sebagai berikut:

Pertama: Firman Allah ta’ala

 وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (QS. al-Maidah [5]: 32)

Dalam ayat ini Allah memuji setiap orang yang memelihara kehidupan manusia, termasuk di dalamnya orang yang menyelamatkan ibu dan bayi dari kematian dengan melakukan pembedaan pada perut.

Imam Ibu Hazm rahimahullah berkata: “Jika seorang ibu yang hamil meninggal dunia, sedangkan bayinya masih hidup dan bergerak dan sudah berumur enam bulan, maka dilakukan pembedahan perutnya dengan memanjang untuk mengelurakan bayu tersebut, ini berdasar firman Allah ta’ala (QS. al-Maidah [5]: 32). Dan barangsiapa membiarkan bayi tersebut di dalam sampai mati, maka orang tersebut dikategorikan pembunuh”.[2]

Kedua: Kaidah Fiqhiyyah yang berbunyi:

“Suatu bahaya itu harus dihilangkan”

Ketiga: Kaidah Fiqhiyyah yang berbunyi:

“Jika terjadi pertentangan antara dua kerusakan, maka diambil yang paling ringan kerusakannya”.

Keterangan di atas adalah bahwa operasi Caesar dalam keadaan darurat terdapat kerusakan. Yang pertama adalah terancamnya jiwa ibu dan anak, sedangkan kerusakan yang kedua adalah dibedahnya perut ibu. Dari kerusakan tersebut, yang paling ringan adalah dibedahnya perut ibu. Maka tindakan ini diambil untuk menghindari kerusakan yang lebih besar, yaitu terancamnya jiwa ibu dan anak.

Berkata Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah: “Dan dibolehkan melukai badan, seperti membedah perut, untuk mengobati penyakit. Jika mafsadahnya lebih banyak daripada manfaatnya, maka Allah mengharamkannya. Hal semacam ini telah disinggung oleh Allah di beberapa tempat dalam kitab-Nya, diantaranya adalah firman Allah ta’ala:

 يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَآإِثْمُُ كَبِيرُُ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya (QS. al-Baqoroh (2): 219) [3]

Kedua: Bukan Dalam Keadaan Darurat

Operasi Caesar ini adalah adanya keinginan dari pasien atau yang mewakilinya untuk bisa mencapai sesuatu yang merupakan pelengkap di dalam kehidupannya, yang sebenarnya hal itu tidak mengancam jiwanya atau tidak menyebabkan bahaya jika tidak dilakukan operasi Caesar. Seperti halnya seorang istri yang melakukan operasi Caesar dengan harapan bisa membahagiakan suaminya, karena jalan lahir bayinya masih utuh sehingga organ kewanitaannya sama seperti belum melahirkan, hanya sekedar ingin menentukan tanggal kelahiran sesuai yang dikehendaki atau tidak mau berlama-lama menjalani proses persalinan normal yang kadang membutuhkan waktu berjam-jam, atau hanya cuma ingin mgnhindari rasa sakit ketika melahirkan secara normal.

Operasi Caesar dalam kondisi ini haram. Sebab, tidak boleh bagi seseorang untuk berbuat sesuatu pada dirinya kecuali dengan apa yang telah diizinkan oleh syar’i

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Fadhilatus Syaikh, Allah berfirman, dalam QS. ‘Abasa ayat ke-20, bahwa Allah menjamin untuk memudahkan proses kelahiran ini. Dan banyak orang, baik laki-laki maupun wanita, yang terburu-buru melakukan operasi yang disebut Caesar, apakah hal ini disebabkan lemahnya tawakkal kepada Allah?”

Jawaban:

“Menurut pandanganku -semoga Allah memberkahimu-, cara ini yang banyak digunakan orang saat ini. Ketika seorang wania merasakan akan melahirkan, lalu pergi ke rumah sakit, kemudian dioperasi Caesar. Aku melihat bahwa ini adalah wahyu dari setan, dan bahanyanya lebih banyak daripada manfaatnya. Karena seorang wanita mau tidak mau akan mendapatkan rasa sakit ketika melahirkan normal, akan tetapi ternyata faedah yang terdapat dalam rasa sakit ini:

Faedah pertama: rasa sakit tersebut akan menggugurkan dosa-dosanya

Kedua: akan mengangkat derajatnya jika ia sabar dan mengharapkan pahala dari sisi Allah

Ketiga: seorang wanita akan menyadari kedudukan seorang ibu, yang manaseorang ibu merasakan sebagaimana yang ia rasakan.

Keempat: ia merasakan kedudukan nikmat Allah kepadanya yang berupa kesehatan.

Kelima: menambah rasa sayang dan rindunya kepada anaknya. Sebab, setiap kali si anak mengalami kesulitan, sang ibu akan lebih merasa kasihan dan merindukannya.

Keenam: anak atau bayi dalam kandungan ini keluar dari tempat keluar yang normal dan wajar, dalam hal ini ada kebaikan bagi si anak dan ibunya.

Ketujuh: ada madharat operasi Caesar yang akan dirasakan oleh wanita tersebut, karena operasi akan melemahkan usus, rahim dan yang selainnya, dan terkdang terjadi mal praktik, bisa jadi ia selamat dan bisa juga tidak.

Kedelapan: wanita yang pernah melakukan Caesar hampir-hampir tidak bisa kembali ke persalinan normal, karena tidak memungkinkan baginya. Dikhawatirkan juga akan merobek bagian yang pernah dioperasi.

Kesembilan: melakukan operasi Caesar akan membuat sedikit keturunan (anak), karena jika pernah di Caesar 3 kali dari berbagai sisi dan membuat lemah, maka kehamilan berikutnya bisa membahayakan.

Kesepuluh: cara ini adalah cara yang mewah. Dan kemewahan merupakan sebab kehancuran, hal ini sebagaimana firman Allah tentang golongan kiri di dalam QS. al-Waqiah [56]:45.

Maka yang wajib bagi seorang wanita adalah hendaknya bersabar dan mengharapkan pahala di sisi Allah. Hendaknya pula ia tetap melahirkan dengan cara yang normal, karena itu lebih baik baginya dari sisi kesehatan dan finansial.

Dan bagi laki-laki, hendaknya mereka memperhatikan hal ini. Kita tidak tahu, bisa jadi musuh-musuh kita yang mengggampangkan operasi Caesar ini dengan tujuan agar kita kehilangan maslahat-maslahat dan mendapatkan kerugian-kerugian.”

Penanya bertanya: “Apa maksudnya ‘kemewahan’?”

Syaikh menjawab: “Mewah karena dengan cara itu akan mencegah rasa sakit dalam persalinan normal, dan ini adalah salah satu bentuk kemewahan. Dan kemewahan jika tidak dalam bentuk ketaatan kepada Allah, ia bisa menjadi tercela atau minimal hukumnya mubah”. [4]

Beliau juga berkata: “Pada kesempatan ini perlu saya sampaikan tentang sebuah fenomena yang disampaikan kepada kami, yaitu bahwa banyak para dokter di berbagai rumah sakit bersemangat agar proses kelahiran dilakukan dengan operasi Caesar. Sata khawatir ini adalaj salah satu tipu daya bagi kaum muslimin. Sebab, kalau sering dilakukan proses kelahiran dengan operasi Caesar, maka kulit perut wanita akan melemah dan wanita tidak akan kuat hamil lagi. Sungguh, ada sebagian dokter salah satu rumah sakit menceritakan kepadaku, bahwa banyak para wanita yang jika pergi ke berbagai rumah sakit selalu divonis dengan operasi Caesar, lalu mereka datang ke rumah sakit tersebut ternyata bisa lahiran normal. Orang yang menceritakan kepadaku tadi mengatakan, bahwa itu terjadi sampai 80 wanita hanya dalam waktu satu bulan! Kalau demikian berarti ini sangat berbahaya dan wajib untuk diperingatkan.

Hendaknya wanita juga mengetahui bahwa yang namanya melahirkan pasti merasakan sakit dan susah. Allah ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (QS. al-Ahqof [46]:15)

Maka tidak boleh bagi seorang wanita dengan sekedar merasakan sakitnya kontraksi melahirkan lalu pergi ke dokter untuk operasi, karena persalinan normal lebih baik daripada melahirkan secara Caesar”.[5]

Selain itu operasi Caesar mempunyai beberapa dampak buruk bagi kesehatan ibu dan anak. Dalam beberapa situs kesehatan disebutkan tentang risiko dan dampak negatif operasi Caesar, diantara yang mereka sebutkan:

Risiko Ibu Melahirkan Caesar:

  • Pendarahan hebat, pembekuan darah, gangguan usus besar, rasa sakit yang lebih lama, infeksi pada bekas luka bedah, dan sakit pada selangakangan
  • Lebih rentan terhadap penyakit stroke
  • Harus dirawat di rumah sakit lebih lama, dan kemungkinan besar ajab kembali masuk rumah sakit
  • Menimbulkan gangguan kesehatan mental seperti depresi. Ini antara lain karena tidak merasakan pengalaman proses melahirkan.
  • Tidak segera memiliki keharmonisan dan kontak batin dengan bayi, sehingga kemungkinan memiliki perasaan negatif terhadap anaknya lebih besar.
  • Penelitian membuktikan, lebih sedikit bayi lahir Caesar yang mendapat air susu ibu dibanding yang alami.
  • Menimbulkan masalah reproduksi seperti berkurangnya kesuburanm kehamilan diluar rahim, berbagai gangguan plasenta, dan kerusakan rahim.

Dam terkadang, berbagai efek samping ini masih dirasakan seorang wanita pasca Caesar meskipun sudah bertahun-tahun.

Risiko Bayi Lahir Caesar:

  • Terluka ketika proses Caesar, meski kemungkinannya kecil
  • Kesulitan bernapas selama proses Caesar.
  • Terkena asma pada masa anak atau dewasa
  • Kerusakan saraf
  • Kerusakan otak dan sumsum tulang belakang

wallahua’lam

Footnote:

[1] Saya cuplikkan dengan berbagai gubahan dari tulisan Dr. Ahmad Zain an-Najah MA, dengan berbagau tambahan dari referensi lainnya.

[2] Al-Muhalla 5/166

[3] Al-Buhuts al’Ilmiyyah, Hai’ah Kibar Ulama 2/72

[4] Liqa’ Babil Maftuh kaset no. 86, pertanyaan no.17

[5] Liqa’ Babil Maftuh kaset no. 2, pertanyaan no.42

sumber: majalah al-Mawaddah Vo. 47, Desember 2011-Januari 2012

Artikel http://maramissetiawan.wordpress.com


Tinggalkan komentar

Menyikapi Naiknya BBM (Bagian 3)

Menyikapi Naiknya BBM (Bagian 3)

Sabar dengan Kenaikan BBM
Solusi utama untuk menghadapi kenaikan BBM ini adalah husnuzhon dengan keputusan Presiden dan bersabar. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (artinya: ia mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir, pen)” (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1849).

Dan bersabar tidaklah ada batasnya. Orang yang katakan sabar itu ada batasnya, itu keliru. Karena pahalanya saja tak hingga, bahkan surga, bagaimana bisa dikatakan sabar itu ada batasnya.

Jika kita tidak bersabar terhadap keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang yang mau bersabar. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga)” (QS. Az Zumar: 10).

Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7: 89).

Berpikir Rasional dengan Mencari Solusi
Kami lebih senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Pak Menteri Dahlan Iskan, daripada dengan buang-buang tenaga untuk berdemo.

Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita musuhi BBM. Kita jadikan BBM musuh kita bersama. Kita demo BBM-nya ramai-ramai, bukan mendemo kenaikannya. Kalau setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau BBM-nya yang kita musuhi, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi bangsa ini ke depan.

Jalan terbaik adalah jangan lagi menggunakan BBM. Kalau kita sudah tidak menggunakan BBM, apa peduli kita pada barang yang juga menjadi penyebab rusaknya lingkungan itu. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa dia!

Tanpa ada gerakan nyata untuk melawan BBM, seumur hidup kita akan ngeri seperti sekarang. Seumur hidup kita harus siap-siap berdemonstrasi. Seumur hidup kita tidak berubah!

Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu mengapa kita tidak mencari jalan lain? Mengapa kita menyerah pada keadaan? “Mengapa? Mengapa?,” … Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah mengatakan “Afalaa ta’qiluuun?”.

Baca ulasan Pak Menteri lebih jauh di sini: Hamil Tua untuk Lahirnya Putera Petir.

Dan kami yakin di balik kesulitan ini, ada kemudahan yang akan segera dan segera menghampiri rakyat kita.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 6).

Sahabat mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari, 24: 496)

Ini berarti di balik kesulitan dengan naiknya BBM, pasti ada kebahagiaan yang semakin dekat. Kenapa kita tidak optimis dengan janji Allah di atas? Kenapa malah pesimis dan banyak khawatir?

Ya Allah, berilah kami kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Berilah pula hidayah kepada kami dan saudara-saudara kami agar diberi taufik untuk bersabar menghadapi musibah demi musibah. Dan perbaikilah keadaan kami dan pemimpin-pemimpin kami.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.muslim.or.id


Tinggalkan komentar

Menyikapi Naiknya BBM (Bagian 2)

Menyikapi Naiknya BBM (Bagian 2)

Maslahat Taat kepada Penguasa
Banyak maslahat yang kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al Hasan Al Bashri rahimahullah berbicara mengenai ketaatan pada penguasa, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita: shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had. Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zholim. Demii Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat yang kita ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117).

Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” (Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Mendengar dan mentaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam mentaati Allah” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117).

Taruhlah jika menaikkan BBM itu termasuk kezholiman, bagaimana jika tidak? Dan kami berpikir sendiri, mengapa sampai pemerintah punya niatan demikian? Kami berhusnuzhon bahwa pemerintah sudah menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Dan kami yakin tidak mungkin Pak SBY punya niatan untuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah husnuzhon kami.

Tidak Berdemonstrasi
Sejak dulu, kami tidak suka berdemonstrasi. Sudah sangat ma’ruf bahwa demonstrasi sering dilakukan oleh mahasiswa. Dan kami pun merupakan bagian dari mereka. Namun kami enggan berdomenstrasi, karena mengingat mudhorotnya itu lebih besar dari manfaatnya. Jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban jiwa, luka-luka dan capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan keuntungan bahkan kerugian masyarakat luas yang diperoleh ketika demo. Jika kerugian yang diperoleh, kenapa kerusakan dibalas dengan kerusakan? Bahkan kerusakan dari demonstrasi lebih besar, dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.

Guru kami, Syaikh Dr. Sholeh Al Fauzan berkata, “Adapun demontrasi, agama Islam sama sekali tidak menyetujuinya. Karena yang namanya demontrasi selalu menimbulkan kekacauan, menghilangkan rasa aman, menimbulkan korban jiwa dan harta, serta memandang remeh penguasa muslim. Sedangkan agama ini adalah agama yang terarur dan disiplin, juga selalu ingin menghilangkan bahaya.

Lebih parah lagi jika masjid dijadikan tempat bertolak menuju lokasi demontrasi dan pendudukan fasilitas-fasilitas publik, maka ini akan menambah kerusakan, melecehkan masjid, menghilangkan kemuliaan masjid, menakut-nakuti orang yang shalat dan berdzikir pada Allah di dalamnya. Padahal masjid dibangun untuk tempat berdzikir, beribadah pada Allah, dan mencari ketenangan.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui perkara-perkara ini. Janganlah sampai kaum muslimin menyeleweng dari jalan yang benar karena mengikuti tradisi yang datang dari orang-orang kafir, mengikuti seruan sesat, sekedar mengikuti orang kafir dan orang-orang yang suka membuat keonaran” [Fatawa Syaikh Shalih bin ‘Abdillah Al Fauzan].

Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa
Ketika shalat, lalu kita berbuat salah, kemudian, kita ditegur di depan orang banyak, pasti kita sulit menerima nasehat semacam itu. Begitu halnya dengan penguasa, ketika ia dijelek-jelekkan di depan halaman DPR, dikatakan “neolib” dan “menyengsarakan rakyat banyak”, pasti tidak ada penguasa yang mau terima dengan nasehat semacam itu. Begitu pula dalam Islam tidaklah menyukai yang demikian karena nasehat yang terbaik adalah nasehat empat mata, bukan di khalayak ramai. Setiap orang pun akan senang dengan nasehat semacam itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ

Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al Arnauht mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).


Tinggalkan komentar

Menyikapi Naiknya BBM

Menyikapi Naiknya BBM (Bagian 1 )

 

Kita tahu bahwa semua pasti akan merasakan kesulitan ketika BBM naik. Karena jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Akan semakin tercekiklah rakyat jelata seperti kita-kita ini. Namun demikianlah kebanyakan orang dalam menghadapi masalah ini keliru. Semua ingin agar suaranya didengar oleh penguasa. Demonstrasilah yang jadi solusi. Tidak ada yang berpikir, kenapa pemimpin kita bisa memilih jalan untuk menaikkan BBM? Tidak ada yang mau merenung, apa betul presiden tercinta kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh rakyatnya sendiri? Lalu kenapa tidak mau menyikapi hal ini dengan bersabar?

Taat kepada Penguasa Zholim
Inilah prinsip yang diajarkan oleh salafush sholeh, oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh orang-orang yang meniti jalan para sahabat. Mereka tetap mentaati dan manut pada perintah penguasa selama diperintahkan dalam yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan dalam maksiat. Ketaatan itu tetap ada, meskipun yang memerintah mereka adalah penguasa zholim, yang mungkin sering menyengsarakan rakyatnya. Ketaatan itu tetap ada meskipun penguasa tersebut melakukan kezholiman dengan menaikkan harga BBM misalnya.

Renungkanlah hadits berikut yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan seakan-akan adalah nasehat terakhir beliau. Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ
Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah cuma permisalan saja, namun sebenarnya tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120). Artinya, meskipun seorang budak jadi pemimpin, maka kita tetap taat.

Hadits yang menyebutkan penguasa zholim tetap wajib ditaati adalah hadits berikut ini.

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).

Lihatlah bukankah yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zholim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, sampai memukul dan mengambil harta, ini jelas zholim. Namun lihatlah apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.

Subhanallah … Ternyata prinsip yang satu ini sering tidak diindahkan oleh kaum muslimin. Mereka begitu tidak bersabar dengan kenaikan BBM, kalau benar mereka menganggap kenaikan BBM tersebut sebagai suatu kezholiman.

Lihatlah prinsip yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad berikut ini,

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر

“Mendengar dan taatlah kepada penguasa dan amirul mukminin (pemimpin orang mukmin), baik mereka adalah pemimpin yang baik, maupun pemimpin yang fajir (pelaku maksiat yang zholim)” (Ushulus Sunnah, Imam Ahmad).

Namun ketaatan kepada penguasa tidaklah mutlak, tidak harus taat selamanya. Mentaati mereka bersifat muqoyyad, yaitu hanya taat dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat (Nasehat berharga yang kami simpulkan dari perkataan Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhohullah dalam dauroh kitab Ushulus Sunnah di Riyadh KSA, 1-5 Jumadal Ula 1433).

Kita dapat memahami hal di atas dari ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisa’: 59).

Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Juga dalam hadits disebutkan,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” (HR. Bukhari no. 7257).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat” (HR. Bukhari no. 7144).

‘Ali bin Abi Tholib pernah berkata,

إنَّ الناسَ لا يُصلحهم إلاَّ إمامٌ بَرٌّ أو فاجر ، إنْ كان فاجراً عبدَ المؤمنُ فيه ربَّه ، وحمل الفاجر فيها إلى أجله

Manusia tidaklah akan menjadi baik melainkan di bawah penguasa yang baik maupun fajir (zholim). Jika penguasa tersebut zholim, selama masih beriman, maka kezholimannya adalah urusan dia dengan Rabbnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 15: 328).


Tinggalkan komentar

Jabir bin Abdullah

Jabir bin Abdullah (wafat 74H)

Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 hadist, Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran Al-Anshari as-Salami. Ia bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam, Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan pleh Nabi, kecuali perang Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahku. Setelah Ayahku terbunuh, aku selalu ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Jabir bin Abdullah pernah melawat ke Mesir dan Syam dan banyak orang menimba ilmu darinya dimanapun mereka bertemu dengannya. Di Masjid Nabi Madinah ia mempunyai kelompok belajar , disini orang orang berkumpul untuk mengambil manfaat dari ilmu dan ketakwaan.

Ia wafat di Madinah pada tahun 74 H. Abbas bin Utsman penguasa madinah pada waktu itu ikut mensholatkannya.

Sanad terkenal dan paling Shahih darinya adalah yang diriwayatkan oleh penduduk Makkah melalui jalur Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah.

(biografi jabir dalam Al-Ishabah 1/213 dan Tahdzib al-Asma 1/142)


Tinggalkan komentar

Kisah Jabir Ibnu Abdullah

Kisah Jabir Ibnu Abdullah, Sang Pengikut Rasulullah

Inilah berbagai Rombongan kendaraan melaju mempercepat langkah dari Yatsrib ke Mekahkarena didorong oleh rasa kerinduan kepada seseorang yang dicintai. Mereka sudah berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu. Setiap orang yang berada di rombongan itu sangat rindu dengan suatu waktu pada saat akan merasakan kebahagiaan bertemu dengan Nabi Muhammad Shalalllahu alaihi wasallam dan meletakkan tangan di atas tangan beliau dengan membaiatnya untuk selalu mendengarkan perintahnya dan taat, serta berjanji untuk saling menguatkan dan menolong.

Di antara rombongan itu, ada orang tua, salah seorang pemuka kaum, membonceng anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil di belakangnya. Ia meninggalkan sembilan anak perempuan di Yatsrib karena ia tidak memiliki anak laki-laki yang kecil selainnya. Orang tua itu sangat ingin anaknya bisa menyaksikan baiat dan tidak kehilangan hari agung yang dianugerahkan itu. Orang tua itu bernama Abdullah ibnu Amr al-Khazraji al-Anshari. Anaknya bernama Jabir ibnu Abdullah al-Anshari. Keimanan bersinar di hati Jabir ibnu Abdullah, sedangkan ia masih kecil dan segar.

Keimanan pun menyinari setiap sendinya. Islam menyentuh jiwanya yang halus seperti tetesan-tetesan hujan menyentuh kelopak bunga. Tetesan-tetesan itu pun membukanya dan memenuhinya dengan semerbak wangi-wangian. Hubungan Jabir dan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menjadi kuat sejak mudanya.

Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang mulia datang berhijrah ke Madinah, anak kecil yang mukmin ini berguru kepada Nabi pembawa petunjuk dan rahmat. Ia pun menjadi sebagian orang utama yang diluluskan oleh pendidikan Muhammad menjadi penghafal Kitab Allah untuk kepentingan manusia dan menjadi periwayat hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.. Cukuplah kita mengetahui bahwa Musnad Jabir ibnu Abdullah terkumpul di antara kedua sisinya sebanyak 1.540 hadits. Dihafallah semua hadits itu oleh seorang murid yang pandai dan meriwayatkannya dari Nabi kaum muslimin yang agung. Imam Bukhari dan Imam Muslim menetapkan dalam dua kitab shahihnya lebih dari 200 hadits dari hadits-haditsnya.

Ia menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi kaum muslimin sepanjang waktu. Allah pun memanjangkan kehidupannya sehingga umurnya sampai satu abad. Jabir ibnu Abdullah tidak mengikuti Perang Badar dan Perang Uhud bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam karena di satu sisi ia masih kecil dan di sisi lain ayahnya memerintahkannya untuk tinggal bersama sembilan saudara perempuannya.

Hal itu terjadi karena tidak ada seorang pun selainnya yang menjaga urusan mereka. Jabir menceritakan, “Ketika pada suatu malam menjelang Perang Uhud, ayah memanggilku dan berkata, ‘Sungguh aku tidak melihat diriku, kecuali terbunuh bersama sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan sesungguhnya, demi Allah, aku memiliki utang kepada seseorang. Kau lunasilah utangku, sayangilah saudara-saudara perempuanmu, dan berikanlah wasiat kebaikan kepada mereka.” Ketika waktu sudah pagi, ayahku menjadi orang pertama yang terbunuh di Perang Uhud. Ketika ingin menguburkannya, aku mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku telah membebankan utangnya kepadaku.

Dan aku tidak memiliki sesuatu pun untuk melunasinya, kecuali apa yang dapat dipetik dari pohon kormanya. Kalau aku mengandalkan pohon itu untuk melunasi utangnya, maka aku akan melunasinya selama beberapa tahun, sedangkan saudara-saudara perempuanku tidak memiliki harta untuk dinafkahkan kecuali dari pohon itu.” Rasulullah berdiri dan pergi bersamaku ke tempat penyimpanan korma kami. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berkata kepadaku, “Panggillah orang-orang yang berpiutang kepada ayahmu.”

Maka aku pun memanggil mereka. Beliau masih saja menakar hingga Allah melunasi utang ayahku dengan korma. Aku melihatnya seperti sediakala, seakan-akan tidak berkurang satu biji korma pun. Sejak ayahnya meninggal, Jabir tidak pernah absen dari satu peperangan pun bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

Di setiap peperangan, ia mengalami sebuah peristiwa yang diriwayatkan dan dijaga. Kita tinggalkan pembicaraan tentangnya. Ia sendiri yang menceritakan salah satu peristiwa bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Jabir berkata, “Pada hari persiapan Perang Khandaq, kami menggali. Lalu batu besar yang keras menghalangi kami, sehingga kami pun tidak mampu untuk memecahkannya. Kami datang kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah, jalan kami terhalang dengan batu besar yang keras. Cangkul-cangkul kami tidak dapat berbuat apapun terhadapnya.’

Maka Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam berkata, ‘Tinggalkan batu itu, aku akan turun ke batu itu.’ Kemudian beliau berdiri sedangkan perutnya diganjal dengan batu karena sangat lapar. Hal itu terjadi karena kami tidak makan selama tiga hari. Maka beliau mengambil cangkul dan memukul batu itu.

Maka batu itu pun menjadi pasir secara perlahan-lahan.” Ketika itu, keinginanku untuk menolong rasa lapar yang menimpa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bertambah. Maka aku pun menghadapnya dan berkata, “Apakah kau izinkan aku pergi ke rumahku wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Pergilah.” Ketika sampai di rumah, aku berkata kepada istriku, “Aku lihat baginda Rasulullah merasakan rasa lapar yang amat sangat. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menahannya. Apakah kau mempunyai sesuatu?”

Dia berkata, “Aku punya sedikit biji gandum dan kambing kecil.” Aku berdiri menuju kambing itu lalu menyembelihnya dan memotong-motongnya. Setelah itu, aku letakkan di kuali. Aku juga mengambil biji gandum dan menggilingnya. Lalu aku serahkan kepada istriku. Ia pun memasaknya. Ketika aku tahu daging itu hampir matang, dan adonan sudah lembut dan hampir matang, aku pergi menuju Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Aku katakan kepadanya, “Kami sudah membuat sedikit makanan untukmu wahai Nabi Allah. Makanlah beserta satu orang atau dua orang yang kau ajak makan bersamamu.” Beliau bertanya, “Berapa banyak makannya?” Aku pun menyebutkan banyaknya. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tahu ukuran makanan itu, beliau berkata, “Wahai para pembuat parit, Jabir telah membuat makanan untuk kalian. Kemarilah kita menuju rumahnya.” Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Pergilah ke istrimu dan katakan kepadanya, ‘Jangan kau turunkan kualimu dan jangan kau buat roti adonanmu sampai aku datang.” Aku pun pergi ke rumah. Aku merasa gundah dan malu. Tidak ada yang tahu keadaanku ini kecuali Allah. Aku pun berkata, “Apakah penduduk Khandaq akan datang kepada kita dengan hanya disuguhi satu sha gandum dan satu kambing kecil?” Aku pun menemui istriku dan berkata, “Celakalah engkau, ketahuan keadaanku yang sebenarnya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam akan datang bersama semua pembuat parit ke rumah kita.” Ia pun berkata, “Apakah beliau berkata, ‘Berapa banyak makananmu?'” Aku jawab, “Ya.” Ia berkata, hilangkanlah kegundahanmu dari dirimu, Allah dan Rasul-Nyalah lebih tahu. Hilanglah kesedihanku dengan perkataannya itu. Makanan itu hanya sedikit hingga Rasulullah tiba. Bersama beliau, ada orang-orang Anshar dan Muhajirin. Beliau berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.”

Kemudian beliau berkata kepada istriku, “Datangkan seorang pembuat roti untuk membuat roti bersamamu. Duduklah menunggui kualimu dan jangan menurunkannya dari tempat apinya.” Kemudian ia pun mulai memperbanyak roti, mengisinya dengan daging, dan mendekatkannya kepada para sahabat beliau, sedangkan mereka menyantap makanan hingga semuanya kenyang. Kemudian Jabir menyusul sambil berkata,

“Aku bersumpah kepada Allah, bahwa mereka ramai-ramai memakan makanan itu, sedangkan periuk kami mendidih dengan penuh seperti sediakala dan adonan kami bisa dibuat kue seperti sediakala. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berkata kepada istriku, “Makanlah dan bagikanlah.”

Ia pun makan dan mulai menghadiahkannya sepanjang hari itu. Karena itulah, Jabir ibnu Abdillah al-Anshari telah menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi umat muslim dalam tempo yang lama. Allah telah memanjangkan umurnya hingga hampir satu abad. Di suatu tahun, ia keluar menuju Kerajaan Romawi untuk jihad fi sabilillah. Pasukan itu dipimpin oleh Malik ibnu Abdillah al-Khatsami. Malik berkeliling-keliling dengan tentaranya.

Mereka berangkat untuk mengetahui situasi mereka dan memperkuat kekuatan mereka, serta berbuat baik kepada para pembesarnya dengan kekuatan yang mereka miliki. Malik kemudian bertemu dengan Jabir ibnu Abdillah yang sedang berjalan kaki, padahal ia sedang membawa keledainya yang diikat dengan tali kekangnya dan dituntun olehnya. Maka Malik berkata, “Ada apa denganmu, wahai Abu Abdullah? Kenapa kau tidak menungganginya? Padahal Allah memberikan kemudahan kepadamu dengan punggungnya yang dapat membawamu.” Maka ia pun berkata, “Aku dengar Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka.'”

Kemudian Malik meninggalkannya dan pergi hingga esok pagi ia muncul mendahului para tentara. Kemudian Malik menoleh kepadanya dan memanggilnya dengan suara keras, “Wahai Abu Abdullah, kenapa engkau tidak menunggangi keledaimu, padahal itu milikmu.” Jabir pun mengetahui maksudnya dan menjawabnya dengan suara yang keras, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam melaksanakan perintah Allah, maka Allah mengharamkannya masuk neraka.”
Orang-orang pun melompat dari binatang tunggangannya.

Mereka semua mendapatkan ganjaran ini. Tidak ada pasukan yang pejalan kakinya lebih banyak dari pasukan itu. Beruntunglah Jabir ibnu Abdillah al-Anshari. Ia telah membaiat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang mulia, sedangkan ia masih kecil, belum balig, berguru kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam sejak kuku-kukunya masih halus, meriwayatkan hadits-hadits yang dinukil oleh para perawi hadits, berjihad bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam padahal ia seorang pemuda dan menebarkan debu ke kakinya di jalan Allah padahal ia sudah tua. (ksh) www.suaramedia.com