Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


2 Komentar

UCAPAN SELAMAT NATAL

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/1452/slash/0

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum
mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita
menjawab orang yang mengucapkan natal kepada kita? Apakah boleh
mendatangi tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah
seseorang berdosa jika melakukan salah satu hal tadi tanpa disengaja?
Baik itu sekedar basa-basi atau karena malu atau karena terpaksa atau
karena hal lainnya? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?

Jawaban
“Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat
natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama
mereka hukumnya haram, hukum ini telah disepakati. Sebagaimana kutipan
dari Ibnul Qayyim dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, yang mana beliau
menyebutkan, Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran
secara khusus, disepakati hukumnya haram. misalnya, mengucapkan selamat
atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang
diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’ dan
sebagainya. Yang demikian ini, kendati si pengucapnya terlepas dari
kekufuran, tapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara
dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya
lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada
ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina atau lainnya,
karena banyak orang yang tidak mantap agamanya terjerumus dalam hal ini
dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan
selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah atau kekufuran,
berarti ia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Demikian
ungkapan beliau.

Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar sehubungan dengan hari
raya agama mereka, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim, karena
dalam hal ini terkandung pengakuan terhadap simbol-simbol kekufuran dan
rela terhadap hal itu pada mereka walaupun tidak rela hal itu pada
dirinya sendiri. Kendati demikian, seorang muslim diharamkan untuk rela
terhadap simbol-simbol kekufuran atau mengucapkan selamat terhadap
simbol-simbol tersebut atau lainnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak meridhainya, sebagaimana firmanNya.

“Artinya : Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu
bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar: 7]

Dalam ayat lain disebutkan,
“Artinya : Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu ”
[Al-Ma’idah : 3]

Maka, mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, baik itu ikut serta dalam pelaksanaannya maupun tidak.

Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya
kita tidak menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari
raya itu tidak diridhai Allah Swt, baik itu merupakan bid’ah atau
memang ditetapkan dalam agama mereka. Namun sesungguhnya itu telah
dihapus dengan datangnya agama Islam, yaitu ketika Allah mengutus
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk semua makhluk, Allah telah
berfirman,

“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia
diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. ” [Ali Imran : 85)]

Haram hukumnya seorang muslim membalas ucapan selamat dari mereka,
karena ini lebih besar dari mengucapkan selamat kepada mereka, karena
berarti ikut serta dalam perayaan mereka.

Juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyamai kaum kuffar dengan
mengadakan pesta-pesta dalam perayaan tersebut atau saling bertukar
hadiah, membagikan gula-gula, piring berisi makanan, meliburkan kerja
dan sebagainya, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Iqtidha’
ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim menyebutkan,
“Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya mereka menyebabkan
kesenangan pada hati mereka, padahal yang sebenarnya mereka dalam
kebatilan, bahkan bisa jadi memberi makan pada mereka dalam kesempatan
itu dan menaklukan kaum lemah.” Demikian ucapan beliau.

Barangsiapa melakukan di antara hal-hal tadi, maka ia berdosa, baik ia
melakukannya sekedar basa-basi atau karena mencintai, karena malu atau
sebab lainnya, karena ini merupakan penyepelean terhadap agama Allah
dan bisa menyebabkan kuatnya jiwa kaum kuffar dan berbangganya mereka
dengan agama mereka.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon agar memuliakan kaum muslimin
dengan agama mereka, menganugerahi mereka keteguhan dan memenangkan
mereka terhadap para musuh. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha
Perkasa.

[Al-Majmu’ Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa
Terkini, Disusun oleh Khalid Al-Juraisy,Penerjemah Amir Hamzah,
Penerbit Darul Haq]

————————————

Iklan


Tinggalkan komentar

HUKUM MENYAMBUT DAN BERGEMBIRA DENGAN HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR

Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
http://www.almanhaj.or.id/content/1708/slash/0

Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci
orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan
syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang
berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban
menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada baginada Rasul Shallallahu alaihi
wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan
di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
menanyakan kepadanya.

“Artinya : Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang
Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya,
“Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka
?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu,
karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat
terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam” [1]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di
bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah
; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya.
Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam
mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka
atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut
merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas)
kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar
mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya
mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan
sehubungan dengan hari raya mereka. Dan diantaranya lagi ialah
mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan
terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat
menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan”.:

Pertama.
Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal
tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita
dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung
kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka.
Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu
ketetapan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang
disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya
terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka
barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali
pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau
dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid’ah yang diada adakan. Alasan ini jelas
menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal
itu”.

Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin bertasyabuh
(menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ;
seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan
kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak
halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang
yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan
anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga
tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu.

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya,
tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun
jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [2] maka
berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh.
Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada
perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang
yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan
syi’ar-syi’ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. “Siapa yang menyembelih kambing pada hari
raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih
babi”. Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti
negera-negara ‘ajam (non Islam)dan melakukan perayaan Nairuz [3] dan
Mihrajan [4] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia
belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari
Kiamat [5]

[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi
Indonesia, Kitab Tauhid 1, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah
Al-Fauzan, Penerbit Darul Haq]
________
FootNote
[1]. Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim
[2]. Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah ‘tanpa sengaja’.
[3]. Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[4]. Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan
atau ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara
tidak panas dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta
yang diadakan untuk hari bahagia -pent.
[5].  Majmu Fatawa 25/329-330

MENYAMBUT DAN IKUT MERAYAKAN HARI RAYA ATAU PESTA ORANG-ORANG KAFIR SERTA BERBELA SUNGKAWA DALAM HARI DUKA MEREKA.

Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
http://www.almanhaj.or.id/content/1709/slash/0

Hukum Ikut Merayakan Pesta, Walimah (Pesta Pernikahan,-peny), Hari Bahagia Atau Hari Duka Mereka Dengan Hal-Hal Yang Mubah Serta Berta’ziyah Pada Musibah Mereka.

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahniah) atau ucapan belangsungkawa ta’ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala’ dan mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti pengagungan (penghormatan) terhadap mereka. Maka hal itu diharamkan berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaimana haram mengucapkan salam terlebih dahulu atau membuka jalan bagi mereka.

Ibnul Qayyim berkata, “Hendaklah berhati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, “Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu”, atau “memberkatimu dalam agamamu”, atau berkata, “Semoga Allah memuliakannmu”. Kecuali jika berkata, ” Semoga Allah memuliakanmu dengan Islam”, atau yang senada dengan itu. Itu semua tahniah dengan perkara-perkara umum.

Tetapi jika tahni’ah itu dengan syi’ar-syi’ar kufur yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “Selamat hari raya Natal” umpanya atau “Berbahagialah dengan hari raya ini” atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapakannya selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman. Sebab itu sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka kepada salib ; bahkan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada memberikan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina atau sebangsanya.

Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang melakukan bid’ah, maksiat atau kekufuran maka dia telah menantang murka Allah. Para ulama wira’i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang haram), mereka senantiasa menghindari tahni’ah kepada para pemimpin zhalim atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen, atau mufti ; demi untuk menghindari murka Allah dan laknat-Nya.[1]

Dari uraian tersebut jelaslah, memberi tahniah kepada orang-orang kafir atas hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandung makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni’ah atas hari-hari raya mereka atau syi’ar-syi’ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhawatirkan pelakunya jatuh pada kekufuran.

[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerbit Darul Haq]
________
Foot Note
[1]. Ahkam Ahli Dzimmah, tahqiq Dr Subhi Shalih, 1/205-206

————————————


Tinggalkan komentar

HUKUM MERAYAKAN HARI IBU

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?

Jawaban
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta?ala. Hari raya-hari raya yang disyari’atkan telah diketahui oleh kaurn muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ?alaihi wa sallam

“Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”[1]

Yakni ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lainnya disebutkan,

“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.”[2]

Karena itu, maka tidak boleh merayakan hari yang disebutkan oleh penanya, yaitu yang disebutkan sebagai hari ibu, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaannya, seperti; menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah dan sebagainya.

Hendaknya setiap muslim merasa mulia dan bangga dengan agamanya serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya dalam agama yang lurus ini dan telah diridhai Allah untuk para hambahNya. Maka hendaknya tidak menambahi dan tidak mengurangi. Kemudian dari itu, hendaknya setiap muslim tidak menjadi pengekor yang menirukan setiap ajakan, bahkan seharusnya, dengan menjalankan syari’at Allah Subhanahu wa Ta?ala, pribadinya menjadi panutan yang ditiru, bukan yang meniru, sehingga menjadi suri teladan dan bukan penjiplak, karena alhamdulillah, syari’at Allah itu sungguh sempurna dari segala sisinya, sebagaimana firmanNya,

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. ” [Al-Ma’idah: 3]

Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari itu saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta dita’ati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta?ala, di setiap waktu dan tempat.

Nur ‘ala Ad-Darb, Maktabah Adh-Dhiya’, hal. 34-35, Syaikh Ibnu Utsaimin.

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar?iyyah Fi Al-Masa?il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini Lc Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
__._,_.___


Tinggalkan komentar

Multi Level Marketing dalam Timbangan Syar’i

Di tengah kelesuan dan keterpurukan ekonomi nasional, datanglah sebuah sistem bisnis yang banyak menjanjikan kesuksesan dan keberhasilan serta menawarkan kekayaan dalam waktu yang singkat. Sistem ini yang kemudian dikenal dengan istilah Multi Level Marketing (MLM) atau Networking Marketing. Banyak orang yang bergabung kedalamnya, baik dari kalangan orang-orang awam ataupun dari kalangan para penuntut ilmu, bahkan –dari berita yang sampai pada kami- ada sebagian pondok pesantren yang mengembangkan sistem ini untuk pengembangan usaha pesantren. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah bisnis dengan model semacam ini diperbolehkan secara syar’i ataukah tidak ? Sebuah permasalahan yang tidak mudah untuk menjawabnya, karena ini adalah masalah baru yang belum pernah disebutkan secara langsung dalam litelatur para ulama’ kita.

Namun Alhamdulillah Alloh telah menyempurnakan syariat islam ini untuk bisa menjawab semua permasalahan yang akan terjadi sampai besok hari kiamat dengan berbagai nash dan kaedah-kaedah umum tentang masalah bisnis dan ekonomi.

Oleh karena itu dengan memohon petunjuk pada Alloh, semoga tatkala tangan ini menulis dan akal berfikir, semoga Alloh mencurahkan cahaya kebenaran Nya dan menjauhkan dari segala tipu daya syaithon.

Wallahul Muwaffiq

Kaedah Penting Bagi Pelaku Bisnis

Ada dua kaedah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum islam, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qoyyim :

“Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarang.”

(Lihat I’lamul Muwaqqi’in 1/344)

Dalil ibadah adalah sabda Rosululloh saw :

عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Dari Aisyah berkata : “Rosululloh bersabda : “Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka akan tertolak.”

(HR. Muslim)

Adapun dalil masalah mu’amalah adalah firman Alloh Ta’ala :

“Dia lah Alloh yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.”

(QS. Al Baqoroh : 29)

Lihat Ilmu Ushul Al Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Al Qowa’id Al Fiqhiyah oleh Syaikh As Sa’di hal : 58.

Oleh karena itu apapun nama dan model bisnis tersebut pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar suka rela dan tidak mengandung salah satu unsur keharaman. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

“Dan Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

(QS. Al Baqoroh : 275)

juga firman Nya :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu.”

(QS. An Nisa’ : 29)

Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis itu menjadi haram adalah :

1.Riba

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : الربا ثلاث و سبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه

Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : Rosululloh bersabda : “Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri.”

(HR. Ahmad 15/69/230, lihat Shohihul Jami 3375)

2.Ghoror (adanya spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بيع الغرر

Dari Abu Huroiroh berkata : “Rosululloh melarang jual beli ghoror.”

(HR. Muslim 1513)

3.Penipuan

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : مر رسول الله صلى الله عليه و سلم برجل يبيع طعاما فأدخل يده فيه فإذا هو مغشوش , فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ليس منا من غش

Dari Abu Huroiroh berkata: “Rosululloh melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda : “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu.”

(HR. Muslim 1/99/102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224)

4.Perjudian atau adu nasib

Firman Alloh Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khomer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbutan syaithon, maka jauhilah.”

(QS. Al Maidah : 90)

5.Kedloliman
sebagaimana firman Alloh :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”

(QS. An Nisa’ : 29)

6.Yang dijual adalah barang haram

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن الله إذا حرم على قوم أكل شيئ حرم علبهم ثمنه

Dari Ibnu Abbas berkata : “Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya.”

(HR. Abu Dawud 3477, Baihaqi 6/13 dengan sanad shohih)

Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul Ma’ad Imam Ibnul Qoyyim 5/746, Taudlihul Ahkam Syaikh Abdulloh Alu Bassam 2/233, Ar Roudloh An Nadiyah 2/345, Al Wajiz Syaikh Abdul Adlim Al Badawi (hal : 332)

Sekilas tentang MLM

Pengertian MLM

Secara umum Multi Level Marketing adalah suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat bawah), orang akan disebut up line jika mempunyai down line. Inti dari bisnis MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, baik yang bersifat vertikal atas bawah maupun horisontal kiri kanan ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All about MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara’ MLM oleh Hafidl Abdur Rohman, MA)

Kilas balik sejarah MLM

Akar dari MLM tidak bisa dilepaskan dari dengan berdirinya Amway Corporation dan produknya nutrilite yang berupa makanan suplemen bagi diet agar tetap sehat. Konsep ini dimulai pada tahun 1930 oleh Carl Rehnborg, seorang pengusaha Amerika yang tinggal di Cina pada tahun 1917-1927. Setelah tujuh tahun melakukan eksperimen akhirnya dia berhasil menemukan makanan suplemen tersebut dan memberikan hasil temuannya kepada teman-temannya. Tatkala mereka ingin agar dia menjualnya pada mereka, Rehnborg berkata : “Kamu yang menjualnya kepada teman-teman kamu, dan saya akan memberikan komisi padamu.”

Inilah praktek awal MLM, yang singkat cerita selanjutnya, perusahaan Rehnborg ini yang sudah bisa merekrut 15.000 tenaga penjualan dari rumah ke rumah dilarang beroperasi oleh pengadilan pada tahun 1951, karena mereka melebih-lebihkan peran dari makanan tersebut. Yang mana hal ini membuat Rich DeVos dan Jay Van Andel Distrobutor utama pruduk nutrilite tersebut yang sudah mengorganisasi lebih dari 2000 distributor mendirikan American Way Association yang akhirnya berganti nama menjadi Amway. (Lihat All About MLM hal : 23)

Sistem kerja MLM

Secara global sistem bisnis MLM dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Adapun secara terperinci bisnis MLM dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member, dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
  2. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.
  3. Sesudah menjadi member maka tugas berikutnya adalah mencari calon member-member baru dengan cara seperti diatas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  4. Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti diatas yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  5. Jika member mampu menjaring member-member baru yang banyak, maka ia akan mendapar bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang akan didapatkan karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.
  6. Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama, kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru tersebut.

Diantara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal diperusahaan tersebut, dengan janji akan memberikan keuntungan sebesar hampir seratus persen dalam setiap bulannya. (Lihat Fiqh Indonesia Himpunan Fatwa MUI DKI Jakarta hal : 285-287)

Ada beberapa perusahaan MLM lainnya yang mana seseorang bisa menjadi membernya tidak harus dengan menjual produk perusahaan namun cukup dengan mendaftarkan diri dengan membayar uang pendaftaran, selanjutnya dia bertugas mencari anggota lainnya dengan cara yang sama, semakin banyak angotanya maka akan semakin banyak bonus yang diperoleh dari perusahaan tersebut.

Kesimpulanya, memang ada sedikit perbedaan pada sistem setiap perusahaan MLM, namun semuanya berinti pada mencari anggota lalu dia bertugas mencari anggota lainnya, semakin banyak anggotanya akan semakin banyak bonus yang diperolehnya.

Hukum syar’i bisnis MLM

Beragamnya bentuk bisnis MLM membuat sulit untuk menghukumi secara umum, namun ada beberapa sistem MLM yang jelas keharamannya, yaitu yang menggunakan sistem sebagai berikut :

  1. Menjual barang-barang yang diperjual belikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan telah menambahkan harga barang yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagai sharing modal dalam akad syirkah mengingat pihak pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapatkan keuntungan secara estafet. Dengan demikian praktek perdagangan MLM mengandung unsur kesamaran atau penipuan karena terjadi kekaburan antara akad jual beli, syirkah sekaligus mudlorobah, karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai pekerja yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli atau member baru. (Lihat Fiqih Indonesia hal : 288)
  2. Calon anggota mendaftar ke perusahaan MLM dengan membayar uang tertentu, dengan ketentuan dia harus membeli produk perusahaan baik untuk dijual lagi atau tidak dengan ketentuan yang telah ditetapkan untuk bisa mendapatkan point atau bonus. Dan apabila tidak bisa mencapai target tersebut maka keanggotaannya akan dicabut dan uangnya pun hangus. Ini diharamkan karena unsur ghoror (Spekulasi) nya sangat jelas dan ada unsur kedloliman terhadap anggota.
  3. Calon anggota mendaftar dengan membayar uang tertentu, tapi tidak ada keharusan untuk membeli atau menjual produk perusahaan, dia hanya berkewajiban mencari anggota baru dengan cara seperti diatas, yakni membayar uang pendaftaran. Semakin banyak anggota maka akan semakin banyak bonusnya. Ini adalah bentuk riba karena menaruh uang diperusahaan tersebut kemudian mendapatkan hasil yang lebih banyak.
  4. Mirip dengan yang sebelumnya yaitu perusahaan MLM yang melakukan kegiatan menjaring dana dari masyarakat untuk menanamkan modal di situ dengan janji akan diberikan bunga dan bonus dari modalnya. Ini adalah haram karena ada unsur riba.
  5. Perusahaan MLM yang melakukan manipulasi dalam memperdagangkan produknya, atau memaksa pembeli untuk mengkonsumsi produknya atau yang dijual adalah barang yang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun ini tidak cuma ada pada sebagian MLM tapi bisa juga pada bisnis model lainnya.

Kalau ada yang bertanya : “Okelah, kita sepakat bahwa MLM dengan beberapa model diatas telah jelas keharamannya, namun bagaimana sebenarnya hukum MLM secara umum ?”

Saya paparkan disini keterangan dari Syaikh Salim Al Hilali Hafidlohulloh. (1) Beliau berkata :

“Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti program piramida dalam sistem pemasaran, dengan cara setiap anggota harus mencari anggota-anggota baru dan demikian terus selanjutnya. Setiap angota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan iming-iming dapat bonus, semakin banyak anggota dan semakin banyak memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenaranya kebanyakan anggota MLM ikut bergabung dengan perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dengan waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya. Bisnis model ini adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut, yaitu :

  1. Sebenarnya anggota MLM ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yang akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.
  2. Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30 % dari uang yang bayarkan pada perusahaan MLM
  3. Bahwa produk ini bisa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara menyalinnya dari situs perusahaan MLM ini di jaringan internet.
  4. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan diiming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan pada mereka.
  5. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Up Line) sedangkan level bawah (down line) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka. (2)

Berdasarkan ini semua, maka sistem bisnis semacam ini tidak diragukan lagi keharamannya karena beberapa sebab yaitu:

  1. Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadap anggota
  2. Produk MLM ini bukanlah tujuan yang sebenarnya. Produk itu hanya bertujuan untuk mendapatkan izin dalam undang-undang dan hukum syar’i
  3. Banyak dari kalangan ekonom dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perokonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum.

Dengan berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’i didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan luarnya, maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena ini berarti terjadi penipuan pada Alloh dan Rosul Nya, (3) oleh karena itu sistem bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’i.

Kalau ada yang bertanya : “Bahwasannya bisnis ini bermanfaat bagi sebagian orang.” Jawabanya : “Adanya manfaat pada sebagian orang tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana di firmankan oleh Alloh Ta’ala :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khomer dan judi. Katakalnlah : “Pada keduanya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia , tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

(QS. Al Baqoroh : 219)

Tatkala bahaya dari khomer dan perjudian itu lebih banyak dari pada manfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan.

Kesimpulannya : bahwasanya bisnis MLM ini adalah alat untuk memancing orang-orang yang sedang mimpi disiang bolong menjadi jutawan. Bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi, dan spekulasi adalah bentuk perjudian.

Fatwa tentang MLM

Ini adalah teks fatwa para masyayikh Yordania murid-murid Imam Al Albani, yaitu : Syaikh Ali Hasan, Masyhur Hasan Alu Salman, Salim bin ‘Id Al Hilali dan Musa Alu Nashr

Banyak pertanyaan yang datang kepada kami dari berbagai penjuru tentang hukum bergabung dengan PT. Bisnis dan perusahaan modern semisalnya yang menggunakan sistem piramida. Yang mana bisnis ini secara umum dijalankan dengan cara menjual produk tertentu serta membayar uang dalam jumlah tertentu tiap tahun untuk bisa tetap menjadi anggotanya.Yang mana karena dia telah mempromosikan sistem bisnis ini maka kemudian pihak perusahaan akan memberikan uang dalam jumlah tertentu yang terus bertambah sesuai dengan hasil penjualan produk dan perekrutan anggota baru.

Jawab :

Bergabung menjadi anggota PT semacam ini untuk mempromosikannya yang selalu terkait dengan pembayaran uang dengan menunggu bisa merekrut anggota baru serta masuk dalam sistem bisnis piramida ini hukumnya HARAM, karena seorang anggota jelas-jelas telah membayar uang tertentu demi memperoleh uang yang masih belum jelas dalam jumlah yang lebih besar. Dan ini tidak bisa diperoleh melainkan secara kebetulan ia sedang bernasib baik, yang mana sebenarnya tidak mampu diusahakan oleh si anggota tersebut.

Ini adalah murni sebuah bentuk perjudian berdasarkan beberapa kaedah para ulama’. Wallahu Al Muwaffiq

Amman Al Balqo’
26 Sya’ban 1424 H

Penutup

Inilah analisis fikih tentang fenomena bisnis MLM. Namun tetap kami katakan bahwa jika ada salah satu perusahaan MLM yang selamat dari pelanggaran syar’i yang kami sebutkan diatas, maka hukumnya kembali pada kehalalannya karena memang pada dasarnya semua mu’amalah hukumnya halal kecuali kalau ada sisi yang mengharamkannya. Akan tetapi ada sebuah tanda tanya besar : “Adakah MLM yang seperti itu ?” kami tunggu jawabannya dari para pelaku bisnis MLM.

Akhirnya semoga Alloh Ta’ala menjauhkan diri kita dan keluarga kita serta segenap ummat islam dari melakukan sesuatu yang haram serta semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan rizqi yang halalan Thoyyiban.

Wallohu A’lam Bish Showab.

.

Ahmad Sabiq Abu Yusuf

www.ahmadsabiq.com

_____________________________________

(1) Jangan ada yang berkata bahwa bisa saja hukum ini adalah kesimpulan Syaikh Salim Al Hilali dari MLM yang ada di Yordania yang berarti tidak mencakup MLM yang ada di Indonesia, karena dua hal :

  1. Ini adalah jawaban beliau atas pertanyaan seputar bisnis MLM yang datang dari seantero penjuru dunia.
  2. Bahwa MLM semuanya dan dimana saja berawal dari Amway yang pada intinya adalah pemasaran produk perusahaan dengan sistem berantai yang membentuk piramida. Dengan dalil bahwa gabaran syaikh tentang MLM sama dengan yang ada di Indonesia.

(2) Bukti bahwa yang diuntungkan dengan sistem MLM adalah up line, sedangkan down line akan selalu dirugikan adalah bahwa bentuk piramida ini akan berhenti pada level tertentu yang mana mereka tidak mungkin bisa mencari anggota baru lagi, yang dengannya semua bonus dan point yang dijanjikan adalah impian belaka. Dan perlu di cermati bahwa dimanapun down line akan selalu lebih banyak dari pada up line.

Sebagai sebuah gambaran. Apabila ada suatu perusahaan MLM yang mengharuskan setiap anggotanya untuk merekrut lima orang anggota lainnya, maka perhitungannya sebagai berikut:

tabel perhitungan pada MLM

Jika penduduk kota Surabaya berjumlah empat juta orang dan semua penduduk tergabung dalam satu saja perusahaan MLM, maka pada level sebelas seorang anggota tidak mungkin lagi mencari anggota baru di kota surabaya. Dan ini kayaknya sesuatu yang jauh sekali, karena tidak semua orang kepingin mengikuti program MLM, dan anggaplah semuanya tergabung dalam MLM pastilah dalam banyak PT. MLM dan bukan pada salah satu saja. Yang ini semua mengharuskan orang pada level delapan atau sembilan tidak bisa lagi mencari anggota baru.

(3) Beliau mengisyaratkan pada sebuah hadits :

عن أبي ملك الأشعري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ليشربن ناس من أمتي الخمر ويسمونها بغير اسمها يعزف عتى رؤوسهم بالمعازف و المغنيات يخسف الله بهم الأرض و يجعل منهم القردة و الخنازير

Dari Abu Malik Al Asy’ari berkata : “Rosululloh bersabda : “Sungguh sebagian dari ummatku akan minum khomer dan mereka menamakannya dengan nama lain serta dimainkan musik dan para biduanita pada mereka. Sunguh, Alloh akan akan membuat mereka tertelan bumi serta menjadikan mereka sebagai kera dan babi.”

(HR. Abu Dawud 3688, Ibnu Majah 4020 dengan sanad shohih Lihat As Shohihah 1/138)




Tinggalkan komentar

KURBAN DAN PENSYARIATANNYA

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi
http://www.almanhaj.or.id/content/2013/slash/0

Hukum Kurban
Kurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah
dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan
Ibnul Qayyim dalam pernyataannya : “Sembelihan-sembelihan yang menjadi
amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu,
Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah” [1]. Disyariatkannya kuban sudah
merupakan ijma yang disepakati kaum muslimin [2]. Namun tentang
hukumnya masih diperselisihkan para ulama, yang terbagi dalam beberapa
pendapat.

Pertama : Wajib Bagi Yang Mampu
Demikian ini pendapat Abu Hanifah dan Malik. Madzhab inipun dinukil
dari Rabi’ah Al-Ra’yi, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’ad [3] dan salah satu
riwayat dari Ahmad bin Hanbal [4]. Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu
Taimiyah [5]. Dan Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “Pendapat yang
mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat, karena banyaknya dalil
yang menujukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya” [6]

Kedua : Sunnah Atau Sunnah Muakkad Bagi Yang Mampu
Inilah pendapat jumhur ulama [7]. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil
pernyataan Ibnu Hazm yang mengatakan : “Tidak shahih dari seorangpun
dari para sahabat yang menyatakan wajibnya. Yang benar, menurut jumhur,
kurban itu tidak wajib. Dan tidak ada peselisihan, jika ia merupakan
salah satu syi’ar agama” [8]

Ketiga : Fardhu Kifayah
Ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i
Dalil Pendapat Pertama
[1]. Hadits Al-Bara bin Azib, beiau berkata : “Abu Burdah telah
menyembelih kurban sebelum shalat (Ied), lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata kepadanya : “Gantilah”, ia menjawab, “Saya tidak
punya kecuali Jaz’ah”. Maka beliau berkata : “Jadikanlah ia sebagai
penggantinya, dan hal itu tidak berlaku pada seorangpun setelahmu”
[Muttafaq Alaihi]

Orang yang mewajibkan berhujjah dengan hadits ini. Mereka menyatakan
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Burdah
untuk mengulangi penyembelihannya jika telah melakukannya sebelum
shalat. Tentunya, hal seperti ini tidak dikatakan, kecuali dalam
perkara yang wajib saja.

[2]. Hadits Jundab bin Abdillah bin Sufyan Al-Bajali beliau berkata : “
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada hari Nahar (‘Ied
Al-Adha), kemudian berkhutbah lalu menyembelih kurbannya dan bersabda :
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sembelihan yang lain
sebagai penggantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih maka
sembelihlah dengan nama Allah” {Muttafaq Alaih]

[3]. Hadits Anas bin Malik, beliau berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata : “Barangsiapa yang telah menyembelih sebelum shalat,
maka ulangi lagi” [Muttafaq Alaih]

[4]. Hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata : “Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat di hari Nahar (Iedul Adha) di
Madinah. Lalu beberapa orang maju dan menyembelih (sembelihannya) dalam
keadaan menyangka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyembelih.
Lalu Nabi memerintahkan orang yang menyembelih sebelum Beliau untuk
mengulangi sembelihan yang lainnya, dan jangan menyembelih sampai Nabi
menyembelih” [9]

Hadits-hadits ini jelas menunjukkan kewajiban kurban. Sebab pada
hadits-hadits tersebut terdapat dua hal yang menunjukkan wajib. Pertama
: kata perintah, dan Kedua : perintah mengulangi. Tentunya, sesuatu
yang bukan wajib, tidak diperintahkan untuk mengulanginya.

Ketiga hadits diatas dikomentari Ibnu Hajar dengan pernyataannya :
“Orang yang mewajibkan kurban berdalil dengan adanya perintah
mengulangi penyembelihan. Maka hal ini dibantah dengan menyatakan,
bahwa yang dimaksud adalah penjelasan syarat penyembelihan kurban yang
disyariatkan. Ini seperti pernyataan orang yang shalat sunnah Dhuha
sebelum matahari terbit. Jika matahri sudah terbit, maka ulangi shalat
kamu” [10]

[5]. Hadits Abu Hurairah, beliau berkata : “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memiliki kemampuan
(keluasan rizki) dan tidak menyembelih maka jangan dekati tampat shalat
kami” [11]

Hadits ini jelas menunjukkan ancaman kepada orang yang memiliki
kemampuan dan enggan menyembelih kurban. Tentunya, Rasulullah tidak
akan berbuat demikian, kecuali menunjukkan bahwa itu hukumnya wajib.

Pendapat yang tidak mewajibkan menyatakan, bahwa hadits ini mauquf,
sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dalam perkara ini. Hal ini
dijawab oleh Syaikh Al-Albani dalam pernyataan beliau : “Hadits ini
diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Wahab. Namun ziyadah tsiqah ini
diterima. Abu Abdurahman Al- Muqri sebagai sangat tsiqah (kredibel)”
[12]

Kemudian, pendapat yang tidak mewajibkan menjawab, anggap saja
haditsnya hasan, namun juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya,
sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar : “Yang menjadi dasar yang kuat, yang
dipegangi oleh pendapat yang mewajibkan, ialah hadits Abu Hurairah ini.
Namun diperselisihkan apakah marfu atau mauquf? Mauquf lebih dekat
kepada kebenaran, sebagaimana pendapat Ath-Thahawi dan selainnya.
Walaupun marfu’, hadits ini juga tidak tegas dalam menunjukkan
wajibnya” [13]

[6]. Hadits Mikhnaf bin Sulaim, ia berkata : “Kami bersama Rasulullah
dan Beliau wukuf di arafah, lalu berkata, “Wahai, manusia. Sesungguhnya
wajib bagi setiap keluarga pada setiap tahunnya kurban dan ‘atirah”.
Beliau berkata, “Tahukah kalian, apakah ‘atirah itu? Yaitu yang
dikatakan orang rajabiyah” [14]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Demikian juga orang yang mewajibakan
berhujjah dengan hadits Mikhnaf bin Sulaim ini yang diriwayatkan Ahmad
dan imam yang empat dengan sanad yang kuat, namun tidak ada hujjah
disana, karena shighahnya (katanya) tidak tegas menunjukkan wajib
secara muthlak, dan juga disebutkan bersamanya ‘al-athirah’ yang tidak
dianggap wajib oleh orang yang berpendapat wajibnya kurban” [15]

Dalil Pendapat Kedua
[1]. Hadits Ummu Salamah, beliau berkata : “Bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah
dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka jangan
memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya” [16]

Imam Syafi’i berkata : “Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa kurban
tidak wajib, dengan dasar sabda Nabi. Beliau menyerahkan kepada
kehendak. Seandainya memang wajib, tentunya Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menyatakan “maka janganlah memortong rambutnya sampai
menyembelih” [17]

Pendapat yang mewajibkan, membantah dalil ini dengan menyatakan :
Hadits ini bukan berarti menunjukkan tidak wajibnya kurban secara
muthlak, karena kami mewajibkan dengan syarat mampu. Demikian juga
hadts ini dapat dipahami dengan makna orang yang ingin menyembelih
dengan sebab memiliki kemampuan, maka jangan mengambil (memotong)
rambut dan kukunya sampai menyembelih, dengan dalil riwayat lain yang
diriwayatkan Imam Muslim yang tidak menyebutkan kata (arada), yaitu
sabda Rasulullah.

“Artinya : Barangsiapa yang memiliki sembelihan yang akan disembelih
dan tampak hilial Dzulhijjah, maka jangan memotong sedikitpun rambut
dan kukunya sampai menyembelih” [18]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Orang yang tidak mewajibkan,
tidak memiliki nash dalam hal ini. Mereka menyatakan, kewajiban tidak
disandarkan kepada kehendak (iradah). Dmeikian ini adalah pernyataan
global, karena memang kewajiban tidak diserahkan kepada kehendak hamba,
sehingga dikatakan jika kamu mau, berbuatlah. Namun, terkadang
kewajiban disandarkan kepada syarat untuk menjelaskan hukumnya, seperti
firman Allah.

“Artinya : Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah” [Al-Maidah : 6]

Dan mereka mengartikannya. Jika kalian ingin melaksanakan dan
memaknakan. Jika ingin membaca Al-Qur’an, maka berta’awudz. Padahal
thaharah, merupakan wajib, dan membaca Al-Qur’an dalam shalat wajib
juga” [19]

[2]. Hadits Jabir, beliau berkata : “Aku menyaksikan bersama Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ied Al-Adha di Mushalla (tanah
lapang). Ketika selesai khutbahnya. Beliau turun dari mimbarnya, lalu
dibawakan seekor kambing dan Rasulullah menyembelihnya dengan tangannya
langsung, dan berkata : “Bismillah wa Allahu Akbar hadza anni wa amman
lam yudhahi min ummati (Bismillah Allahu Akbar, ini dariku dan dari
umatku yang belum menyembelih)” [20]

Mereka menyatakan : “Seandainya kurban diwajibkan, tentunya orang yang
meninggalkannya berhak dihukum dan tidak bisa dianggap cukup. Lalu
bagaimana dengan sembelihan Rasulullah tersebut ? Sehingga sabda beliau.

“hadza anni wa amman lam yudhahi min ummati”

Yang disampaikan secara mutlak tanpa perincian ini merupakan dalil tidak wajibnya kurban.

Asy-Syaukani berkata : “Sisi pendalilan hadits ini dan yang semakna
dengannya atas tidak wajibnya kurban ialah, secara dhahir menunjukkan
bahwa kurban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi umatnya dan
keluarganya, mencukupkan orang yang tidak menyembelih kurban, baik
mampu atau tidak mampu. Hal ini mungkin dijawab, bahwa hadits “inni
‘ala kulli ahli baity fii kulli aamin udhhiyah” yang menunjukkan
kewajiban menyembelih kurban bagi ahli bait yang mampu, menjadi
indikator bahwa kurban Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut untuk
orang yang tidak mampu saja. Seandainya benar yang disampaikan
Al-Mudda’i (pendapat yang tidak mewajibkan,-pent), maka tidak dapat
menjadi dalil tidak wajibnya kurban. Karena, titik perselisihannya
adalah pada orang yang menyembelih untuk dirinya sendiri, dan bukan
orang yang disembelihkan orang lain. Sehingga tidak wajibnya pada orang
yang ada pada zaman Beliau dari umat ini, mengharuskan tidak wajibnya
pada orang yang berada di luar zaman Beliau” [21]

[3]. Atsar Abu Bakr dan Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sarihah
Al-Ghifari, beliau berkata. “Aku mendapati Abu Bakar atau melihat Abu
Bakr dan Umar tidak menyembelih kurban –dalam sebagian hadits mereka-
khawatir dijadikan panutan” [22]

Seandainya kurban diwajibkan, tentu keduanya orang yang pantas
mengamalkannya. Akan tetapi, keduanya memahami hukum kurban tersebut
tidak wajib.

Pendapat Yang Rajih
Syaikh Muhammad Al-Amin Al-Syinqithi berkata : “Saya telah meneliti
dalil-dalil sunnah pendapat yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan,
dan keadaannya dalam pandangan kami. Bahwa tidak ada satupun dalil dari
kedua pendapat tersebut yang tegas, pasti dan selamat dari bantahan,
baik yang menunjukkan wajib maupun yang tidak wajib”. Kemudian Syaikh
berkata : “Yang rajih bagi saya dalam perkara seperti ini, yang tidak
jelas penunjukkan nash-nash kepada satu hal tertentu dengan tegas dan
jelas adalah berusaha sekuat mungkin keluar dari khilaf. Sehingga,
berkurban bila mampu, karena Nabi bersabda, “Tinggalkanlah yang ragu
kepada yang tidak ragu. “. Sepatutnya, seseorang tidak meninggalkanya
bila mampu, karena menunaikannya itu sudah pasti menghilangkan tanggung
jawabnya, Wallahu a’lam” [23]

Yang rajih –wallahu a’lam- dalam permasalahan ini, yaitu pendapat
jumhur ulama. Karena seandainya tidak ada satu pun dalil dari hadits
Nabi Shallallahu ‘alaiahi wa sallam yang secara pasti menunjukkan
rajihnya salah satu pendapat tersebut, namun amalan Abu Bakr dan Umar
dapat dijadikan faktor yang dapat merajihkan pendapat jumhur. Sebab hal
ini merupakan pengamalan perintah Rasulullah dalam hadits Irbadh bin
Sariyah yang berbunyi.

“Artinya : Sungguh, barangsiapa diantara kalian yang hidup sesudahku,
maka akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib baginya untuk
memegangi sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin.

Keduanya termasuk dari Khulafa Ar-Rasyidin menurut kesepakatan kaum
muslimin. Hal ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya yang
diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz : “Karena jika mereka mengikuti
Abu Bakr dan Umar, niscaya mendapati petunjuk”.

Juga adanya riwayat atsar dari Ibnu Umar, Abu Mas’ud Al-Anshari dan
Ibnu Abbas yang menunjukkan tidak wajibnya kurban. Wallahu a’lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M,
Penulis Ustadz Kholid Syamhudi Lc. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]
__________
FootNote
[1]. Lihat Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman, Ithaf Al-Muslimin Bima
Tayassara Min Ahkam Ad-Din, Ilmun wa Dalilun, Cet. II, Th 1403H, hal.
2/505
[2]. Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni (11/94) dan Ibnu Hajar, Fathul Bari
Bi Syarhi Shahih Al-Bukhari, tanpa cetakan dan tahun, Al-Maktabah
Al-Salafiyah 10/3
[3]. Lihar Dr Ahmad Muwafi, Taisir Al-Fiqhi Al-Jami Li Likhtiyarat
Al-Fiqhiyah Lisyaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Cetakan Pertama, Tah
1416H, Dar Ibnu Al-Jauzi, Dammam, KSA (3/1210)
[4]. Lihat makalah Abu Bakr Al-Baghdadi yang yang berjudul Juzun Fi
Udhhiyah wa hukmu Ikhrajiha An Balad Al-Mudhahi, Majalah Al-Hikmah, hal
22 tanpa edisi dan tahun
[5]. Lihat Taisir Al-Fqh, op.cit (3/1208) menukil dari Majmu Fatawa (23/162)
[6]. Lihat Ibnu Utsaimin, Syarhu Al-Mumti Ala Zaad Al-Mustaqni, Tahqiq
Khalid bin Ali Al-Musyaiqih dan Sulaiman Aba Khail, Cet 1, Th 1416H,
Muassasah Asaam, Riyadh KSA (7/519)
[7]. Lihat An-Nawawi, Majmu Syarhu Al-Muhadzdzab, Tahqiq Muhammad Najib
Al-Muthi’i, tanpa cetakan dan tahun, Daar Ihya Al-Turats Al-Arabi
(8/354).
[8]. Lihat Fathul Bari, op.cit (10/3)
[9]. Diriwayatkan Imam Muslim No. 1.964
[10]. Fathul Bari (10/4)
[11]. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 3.123 dan Al-Khathib (8/338)
dari Zaid bin Al-Hubab,Al-Hakim (2/389) dan Ahmad (2/321) dari Abdullah
bin Yazid Al-Muqri dan Abu Bakr Asy-Syairazi dalam Sab’at Majalis Min
Al-Amani dari Muhammad bin Sa’id. Mereka bertiga meriwayatkan dari
Abdullah bin Iyasy dari Abdurrahman Al-A’raj dari Abu Hurairah secara
marfu. Diambil dari Takhrij Ahadits Musykil Al-Faqr, karya Al-Albani,
Cetakan Pertama,Tahun 1405H, Al-Maktab Al-Islami Beirut, hal.67-68
[12]. Takhrij Ahadits Musykil Al-Fqr, op.cit,hal.68
[13]. Fathul Bari, op.cit 910/3)
[14]. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (4/215), Abu Dawud no.2.788,
At-Tirmidzi no.1.518, An-Nasa’i 7/167 dan Ibnu Majah no. 3125. Hadits
ini dishahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah no.1478 dan Shahih Al-Jaami.
[15]. Fathul Bari op.cit 10/4
[16]. Diriwayatkan Muslim no. 5089
[17]. Lihat Majmu Syarhu Al-Muhadzdzab op.cit 8/356
[18]. Diriwayatkan Imam Muslim no. 5093
[19]. Majmu Fatawa 23/164
[20]. Syaikh Al-Albani berkata : Haditsn shahih diriwayatkan Abu Daud
2810 dan Tirmidzi 1/287, lihat Irwa Al-Gahlil 4/349 no. 1138
[21]. Muhammad bin Ali Al-Syaukani, Nailul Authar Min Ahadits Sayidil
Ahyaar Syarhu Muntaqa Al-Akhbaar, tahqiq Muhamamd Salim Hasyim, cetakan
pertama tahun 1415H. Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut hal. 5/117
[22]. Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 9/295 dan
dishahihkan Al-Albani.Lihat Irwa Al-Ghalil Fi Takhrij Ahaadist Manaar
Al-Sabil, karya Syaikh Al-Albani cetakan ke 2 tahun 1405H, Al-Maktab
Al-Islami no. 1139 hal 4/355
[23]. Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jakni Al-Syinqithi,
Adhwaa Al-Bayaan Fi Idhah Al-Qur’an bin Qur’an, tanpa tahun dan
cetakan, Alam Al-Kutub Beiurt 5/618

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id


Tinggalkan komentar

HUKUM ASAL IBADAH ADALAH TERLARANG

 

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halabi Al-Atsary

Banyak orang yang mencampuradukkan antara ibadah dengan yang lainnya, dimana mereka berupaya membenarkan bid’ah yang dilakukan dengan memnggunakan dalil kaidah, hukum asal dalam segala sesuatu adalah boleh !

Kaidah tersebut adalah kaidah ilmiah yang benar. Tapi penempatannya bukan dalam masalah ibadah. Sesungguhnya kaidah tersebut berkaitan dengan keduniawian dan bentuk-bentuk manfaat yang diciptakan Allah padanya. Bahwa hukum asal dari perkara tersebut adalah halal dan mubah kecuali jika terdapat dalil yang mengharamkan atau melarangnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi berkata dalam bukunya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.21) setelah menjelaskan sisi yang benar dalam memahami kaidah tersebut. “Demikian itu tidak berlaku dalam ibadah. Sebab ibadah merupakan masalah agama murni yang tidak diambil kecuali dengan cara wahyu. Dan dalam hal ini terdapat hadits, “Barangsiapa yang mebuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan darinya, maka dia di tolak”.

Demikian itu karena sesungguhnya hakikat agama terdiri dari dua hal, yaitu tidak ada ibadah kecuali kepada Allah, dan tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’at yang ditentukanNya. Maka siapa yang membuat cara ibadah dari idenya sendiri, siapa pun orangnya, maka ibadah itu sesat dan ditolak.. Sebab hanya Allah yang berhak menentukan ibadah untuk taqarrub kepadaNya.

Oleh karena itu cara menggunakan kaidah ilmiah yang benar adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam kitabnya yang menakjubkan, I’lam al-Muwaqqi’in (I/344) : “Dan telah maklum bahwa tidak ada yang haram melainkan sesuatu yang diharamkan Allah dan RasulNya, dan tidak dosa melainkan apa yang dinyatakan dosa oleh Allah dan RasulNya bagi orang yang melakukannya. Sebagaimana tidak ada yang wajib kecuali, apa yang diwajibkan Allah, dan tidak ada yang haram melainkan yang diharamkan Allah, dan juga tidak ada agama kecuali yang telah disyari’atkan Allah. Maka hukum asal dalam ibadah adalah batil hingga terdapat dalil yang memerintahkan. Sedang hukum asal dalam akad dan muamalah adalah shahih [1] hingga terdapat dalil yang melarang. Adapun perbedaan keduanya adalah, bahwa Allah tidak disembah kecuali dengan apa yang telah disyariatkanNya melalui lisan para rasulNya. Sebab ibadah adalah hak Allah atas hamba-hambaNya dan hak yang Dia paling berhak menentukan, meridhai dan mensyari’atkannya”

Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyyah Al-Fiqhiyyah (hal 112) berkata, “Dengan mencermati syari’at, maka kita akan mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah atau yang disukaiNya, maka penempatannya hanya melalui syari’at”

Dalam Majmu Al-Fatawa (XXXI/35), beliau berkata, “Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya, dan tidak boleh seorang pun yang menjadikan sesuatu sebagai ibadah atau taqarrub kepada Allah kecuai dengan dalil syar’i”.

Demikian yang menjadi pedoman generasi Salafus Shalih, baik sahabat maupun tabi’in, semoga Allah meridhai mereka.

Diriwayatkan oleh Nafi’ Radhiyallahu ‘anhu, “Seseorang bersin di samping Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Alhamdulillah wassalamu ‘ala Rasulih (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan kepada RasulNya)’. Maka Ibnu Umar berkata, “Dan saya mengatakan, Alhamdulillah wassalamu ‘ala Rasulillah. Tetapi tidak demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kami. Beliau mengajarkan agar kami mengatakan, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (segala puji bagi Allah dalam segala hal) [2]

Dari Sa’id bin Musayyab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad (nama panggilan Sa’id bin Musayyab), apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?” Ia menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksa kamu karena menyalahi Sunnah” [3]

Al-Alamah Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil (II/236) berkata setelah menyebutkan riwayat tersebut, “Ini adalah jawaban yang kuat untuk mematahkan argument ahlu bid’ah yang menganggap baik tumbuh suburnya bid’ah dengan alasan demi menghidupkan dzikir dan shalat. Mereka tidak senang kepada Ahlus Sunnah yang mengkritik perbuatan mereka dengan menganggap bahwa Ahlus Sunnah anti dzikir dan shalat!. Padahal hakikatnya Ahlus Sunnah mengingkari mereka itu adalah karena mereka menyalahi Sunnah dalam dzikir, shalat dan yang lainnya”

Sufyan bin Uyainah berkata, “Saya mendengar bahwa seseorang datang kepada Malik bin Anas Radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Wahai Abu Abdullah (nama panggilan Malik), dari mana saya ihram?” Ia berkata, “Dari Dzulhulaifah, tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram” Ia berkata, “Saya ingin ihram dari masjid dari samping makam (nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Ia berkata, “Jangan kamu lakukan. Sebab saya mengkhawatirkan engkau tertimpa fitnah”, Ia berkata, “Fitnah apakah dalam hal ini? Karena aku hanya menambahkan beberapa mil saja!” Ia berkata, “Fitnah manakah yang lebih besar daripada kamu melihat bahwa kamu mendahului keutamaan yang ditinggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sesungguhnya Allah berfirman, “Maka hendaklah orang –orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih [4], [5]

Dan betapa indahnya apa yang ditulis Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah kepada sebagian gubernurnya ketika mewasiatkan mereka untuk menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Saya mewasiatkan kepdamu agar bertakwa kepada Allah, sederhana dalam melaksanakan perintahNya serta mengikuti sunnah RasulNya dan meninggalkan hal-hal baru yang dibuat orang-orang yang setelahnya dalam sesuatu yang telah berlaku sunnahnya dan cukupkanlah dengannya.

Ketahuilah, bahwa tidaklah seorang melakukan bid’ah melainkan telah datang sebelumnya dalil yang menyalahkannya dan telah datang pula pelajaran yang menunjukkan kebid’ahan perbuatan tersebut. Maka hendaklah kamu memegang teguh sunnah. Sebab sesungguhnya sunnah itu akan melindungimu dengan izin Allah.

Ketahuilah, bahwa orang yang melakukan sunnah akan mengetahui bahwa melanggarnya akan mengakibatkan kesalahan, tergelincir dan kedunguan. Sebab orang-orang yang dahulu menyikapinya dengan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam, mereka menganggap cukup. Mereka adalah orang yang paling kuat dalam mengkaji, namun mereka tidak mencari-cari. [6]

Kesimpulannya, dalam pemahaman syari’at adalah bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah harus semata-mata berdasarkan perintah (tauqifiyah), dan tidak disyariatkan kecuali dengan nash yang ditentukan Allah sebagai hukumnya. Karena terjaminnya ittiba dari membuat bid’ah dan menolak kekeliruan dan hal yang baru diadakan. [7]

Diantara contoh amaliah yang menguatkan kaidah ini adalah pendapat Imam Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah dalam tafsirnya (IV/401) ketika mendiskusikan tentang menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang yang telah meninggal. Beliau meyakini bahwa pahalanya tidak sampai, kemudian beliau berkata dalam menjelaskan alasan larangan tersebut, “Sebab demikian itu bukan amal mereka dan juga bukan usaha mereka. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kepada umatnya, tidak menganjurkannya dan tidak membimbing kepadanya dengan dalil maupun dengan isyarat. Dan tidak terdapat dalil tentang hal itu dari seorang sahabatpun, semoga Allah meridhai mereka. Jika hal itu baik niscaya mereka mendahului kita dengan amalan itu. Sesungguhnya masalah ibadah hanya terbatas pada nash dan tidak berlaku qiyas maupun pendapat.

_________
Foote Note
[1]. Inilah yang diungkapkan oleh sebagian ulama fiqih dengan istilah, hukum asal dalam segala sesuatu adalah mubah.
[2]. HR Tirmidzi 2738, Hakim IV/265-266, Harits bin Usamah Al-Baghdadi dalam Musnadnya 200 (Bughiyyah Al-Bahits dan Al-Mazzi dalam Tahdzib Al-Kamal VI/553 dengan sanad Hasan.
[3]. HR Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra II/466, Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih I/147, Abdurrazzaq III/52, Ad-Darimi I/116 dan Ibnu Nashr : 84 dengan sanad Shahih.
[4]. Qur’an surat An-Nuur : 63
[5]. HR Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqih I/148, Abu Nu’aim dalam Al-hilyah VI/326, Al-Baihaqi dalam Al-Madhal : 236, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah : 98 dan Abu Syamah dalam Al-Ba’its : 90 yang disandarkan kepada Khallal
[6]. Al-Ibanah No. 163 dan Syarah Ushul As-Sunnah No. 16
[7]. Marwiyyat Du’a Khatmil Qur’an 11-12 Syaikh Bakr Abu Zaid

[Disalin dari kitab Al Ilmu Ushul Bida’ Dirasah Taklimiyyah Muhimmah Fi Ilmi Ushul Fiqh, Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah, Penerjemah Asmuji Solihan Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar]


Tinggalkan komentar

HUKUM MENGOLOK-OLOK AGAMA

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum mengolok-olok Allah Subhanahu wa Ta’ala atau RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sunnahnya ?

Jawaban
Mengolok-olok Allah Subhanahu wa Ta’ala atau RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sunnah adalah suatu kekufuran dan riddah (keluar dari Islam), mengeluarkan pelakunya dari ke-Islamannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok ?’. Tidak usah kami minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman” [At-Taubah : 65-66]

Jadi, setiap yang mengolok-olok Allah atau RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sunnah beliau, berarti ia kafir dan murtad, ia wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika ia bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya, berdasarkan firmanNya kepada orang yang mengolok-olok.

“Artinya : Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” [At-Taubat : 66]

Allah menjelaskan bahwa Ia bisa memaafkan segolongan dari antara mereka, dan itu hanya terjadi dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kekufuran mereka yang disebabkan oleh olok-olok mereka terhadap Allah, ayatNya dan RasulNya.

[Al-Majmu Ats-Tsamin, Juz 1, hal. 72-73, Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Terbitan Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1393&bagian=0