Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


1 Komentar

KEANEHAN-KEANEHAN PELAKU BID’AH

KEANEHAN-KEANEHAN PELAKU BID’AH

Islam agama yang sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Orang yang menambah ajaran baru, ritual baru, keyakinan baru dalam Islam, ia terjerumus ke dalam hal yang dinamakan bid’ah. Dan bid’ah ini tercela dan dilarang dalam Islam.Sampai-sampai pelaku bid’ah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di akhirat kelak. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Sayangnya kebanyakan orang seringkali enggan atau benci membahas bid’ah, tidak jarang pula yang marah. Ini seringkali dikarenakan oleh beberapa penyebab berikut:

■Tidak paham dengan benar tentang pengertian bid’ah. Silakan baca di sini.

■Sudah terbiasa melakukan kebid’ahan sehingga tidak terima dikatakan yang dilakukan selama ini adalah salah

■Tidak dapat membedakan mana yang bid’ah dan tidak bid’ah. Silakan baca di sini.

■Menyangka bahwa ada bid’ah yang dibolehkan yaitu bid’ah hasanah. Silakan baca di sini.

■Menyangka bahwa jika dikatakan amalannya bid’ah berarti divonis sesat dan masuk neraka, padahal tidak demikian

■Menyangka bahwa jika dikatakan amalannya bid’ah berarti divonis ahlul bid’ah, padahal tidak mutlak demikian

■Menyangka bahwa jika dikatakan amalannya bid’ah berarti divonis kafir, sangkaan ini sangat mengada-ada

■Menyangka bahwa jika ada orang yang menasehatinya dari amalan bid’ah, berarti orang itu sedang memusuhinya, padahal tidak demikian

■Menyangka bahwa jika ada orang yang menasehatinya dari amalan bid’ah, berarti orang itu sedang mencoba merusak ajaran mahdzab

■Dan sebab yang lain

Ketika memikirkan sebab-sebab ini saya menemukan beberapa keanehan para pelaku bid’ah. Dari beberapa keanehan ini dapat disimpulkan bahwa secara nalar pun, bid’ah itu tidak dibenarkan dalam Islam, dan tidak ada alasan yang dapat membenarkannya. Diantaranya keanehan itu adalah:

1.Sebagian orang mengadakan ritual Maulid Nabi, ritual Isra Mi’raj, ritual Nisfu Sya’ban, atau semacamnya, mereka mengatakan: “Ini bukan bid’ah karena bukan ibadah, melainkan hanya sarana dakwah”. Alasan ini aneh. Alasan ‘sarana dakwah’ mungkin masih masuk akal bagi orang yang menjadi pembicara atau panitia acara dari ritual-ritual tersebut, namun bagaimana dengan peserta dari ritual-ritual tersebut? Apakah niatan bapak-bapak, ibu-ibu, mbah-mbah yang datang ke acara Muludan (Maulid Nabi) itu untuk berdakwah? Atau untuk beribadah? Padahal peserta tentu lebih banyak jumlahnya dari pantia.

2.Sebagian pelaku bid’ah mengatakan bahwa bid’ah itu hanya dalam kegiatan ibadah mahdhah (murni ibadah) seperti shalat, puasa, haji, dll. Sedangkan dalam ibadah ghayru mahdhoh (tidak murni ibadah) maka tidak ada bid’ah. Demikian alasan mereka. Namun anehnya, orang-orang yang beralasan demikian ternyata mereka juga berbuat bid’ah dalam ibadah mahdhah juga. Mereka melakukan shalat Raghaib, puasa Rajab, puasa mutih, dzikir berjama’ah, melafalkan niat, dll yang merupakan ibadah mahdhah.

3.Sebagian pelaku bid’ah mengatakan bahwa bid’ah itu ada bid’ah dhalalah (sesat) dan ada yang hasanah (baik). Dan menurut mereka bid’ah hasanah itu boleh. Namun anehnya, dengan pembagian tersebut, mereka tidak bisa menyebutkan contoh bid’ah dhalalah, karena ternyata semua bid’ah mereka golongkan ke dalam bid’ah hasanah. Maulid Nabi itu hasanah, Isra Mi’raj itu hasanah, Yasinan itu hasanah, Tahlilan itu hasanah, Shalawatan itu hasanah, dzikir berjamaah itu hasanah, dan seterusnya. Lalu bid’ah dhalalah yang dilarang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menurut mereka seperti apa?

4.Para pelaku bid’ah di tanah air kita banyak yang mengaku bermahzab Syafi’i. Namun anehnya, ternyata Imam Asy Syafi’i tidak pernah mengajarkan amalan-amalan bid’ah yang mereka lakukan.

5.Di masjid dekat saya tinggal, cukup ramai yang datang shalat berjama’ah maghrib dan Isya. Namun anehnya, ketika ada acara Tahlilan masjid mendadak sepi. Ternyata mereka tidak datang ke masjid karena sedang bersiap diri untuk acara Tahlilan nanti.Pesertanya pun lebih mem-bludak daripada peserta shalat berjamaah di masjid.

6.Sebagian pelaku bid’ah mengaku bahwa mereka mengadakan ritual Maulid Nabi dan Isra Mi’raj karena kecintaan mereka yang besar kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun anehnya, ketika disebut nama beliau mereka pelit sekali dalam bershalawat dan hanya menuliskan “SAW”. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang pelit itu adalah orang yang ketika mendengar namaku ia enggan bershalawat” (HR. At Tirmidzi no.3546, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”)

Dan singkatan shalawat, bukanlah shalawat.

7.Sebagian pelaku bid’ah mengaku sangat mencintai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sampai membuat-buat banyak pujian yang berlebihan kepada beliau. Namun anehnya, tatkala ia dinasehati dengan perkataan : “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengajarkan hal ini” atau “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang hal ini”, ia malah berdalih “Tapi ustadz saya melakukannya”. Lha, ternyata ia lebih cinta ustadz-nya.

8.Sebagian orang yang membela bolehnya merayakan Maulid Nabi sangat keterlaluan dalam pembelaannya hingga mereka berkata: “

Tak mengapa saya menjadi ahli neraka asal bisa membasahi mulut saya dengan shalawat dan mengagungkan Maulid Nabi”. Aneh sekali. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam saja tidak ingin masuk neraka, dan senantiasa berharap ummatnya terhindar dari neraka. Dalam setiap shalatnya, di akhir tasyahud beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa:

اللهم ! إني أعوذ بك من عذاب جهنم . ومن عذاب القبر . ومن فتنة المحيا والممات . ومن شر فتنة المسيح الدجال

“Ya Allah, aku berlindung darimu dari azab neraka Jahannam, serta dari azab kubur, serta dari bencana yang disebabkan makhlukmu yang masih hidup dan yang sudah mati”, serta dari bencana yang disebabkan oleh Dajjal” (HR. Muslim, no.588)

9.Tahukah anda, bahwa buku tahlilan atau yasinan yang banyak tersebar di masyarakat itu, biasanya dicetak dengan cover berwarna hijau, yang berisi surat yasin, kumpulan shalawat, dan dzikir-dzikir yang tersusun sedemikian rupa berserta aturan jumlah bacaan dzikirnya, ternyata para Kyai, ustadz, dan orang-orang yang mengamalkan isi buku tersebut tidak ada yang tahu siapa yang menyusunnya. Aneh sekali bukan?

Oleh karena itu marilah kita cukupkan diri dengan apa yang sudah diajarkan oleh Nabi kita tercinta Shallallahu’alaihi Wasallam, karena apa yang beliau ajarkan saja sudah sangat banyak dan menyibukkan jika kita amalkan semua. Jadi, untuk apa membuat yang baru lagi?.

Iklan


11 Komentar

Maulid Nabi

Bolehkah Memperingati Maulid Nabi?

Penulis: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Sungguh banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh kebanyakan kaum muslimim tentang hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wa sallam dan hukum mengadakannya setiap kelahiran beliau.

cinta rasul

Adapun jawabannya adalah : TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.

Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :

“Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).

Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain :

“(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).

Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Allah telah berfirman :

“Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).

Allah juga berfirman :

“Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa

cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63)

Allah juga berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

Allah juga berfirman :

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3).

Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.

Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah.

Mereka beranggapan bahwa dengan maulid tersebut dapat mendekatkan umat islam kepada Allah. Padahal, maulid ini tanpa diragukan lagi mengandung bahaya yang besar dan menentang Allah dan Rasul-Nya karena Allah telah menyempurnakan agama Islam untuk hamba-Nya dan Rasulullah telah menyempurnakan seluruh risalah sampai tak tertinggal satupun jalan yang dapat menghubungkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah menyampaikan kepada umat ini.

Sebagaimana dalam hadits shahih disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib atas nabi itu menunjukkan kebaikan dan memperingatkan umatnya dari kejahatan yang Allah ajarkan atasnya. “(HR. Muslim).

Dan sudah diketahui bahwa Nabi kita adalah Nabi yang paling utama dan penutup para Nabi. Beliau adalah Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan nasehat. Andai kata perayaan maulid termasuk dari agama yang diridhai oleh Allah, maka pasti Rasulullah akan menerangkan hal tersebut kepada umatnya atau para sahabat melakukannya setelah wafatnya beliau.

Namun, karena tidak terjadi sedikitpun dari maulid saat itu, dapatlah di ketahui bahwa Maulid bukan berasal dari Islam, bahkan termasuk dalam bid’ah yang telah Rasulullah peringatkan darinya kepada umat beliau. Sebagaimana dua hadits yang telah lalu. Dan ada juga hadits yang semakna dengan keduanya, diantaranya sabda beliau dalam khutbah Jum’at : “Amma ba’du, maka sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan sungguh kebanyakan para ulama telah menjelaskan kemungkaran maulid dan memperingatkan umat darinya dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang tersebut di atas dan dalil-dalil lainnya.

Namun sebagian mutaakhirin (orang-orang yang datang belakangan ini) memperbolehkan maulid bila tidak mengandung sedikitpun dari beberapa kemungkaran seperti : Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah, bercampurnya wanita dan laki-laki, menggunakan alat-alat musik dan lain-lainnya, mereka menganggap bahwa Maulid adalah termasuk BID’AH HASANAH, sedangkan kaidah Syara’ (kaidah-kaidah / peraturan syari’at ini) mengharuskan mengembalikan perselisihan tersebut kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).

Allah juga berfirman :

“Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih, maka putusannya (harus) kepada (kitab) Allah, “(QS. Asy Syuraa : 10).


Dan sungguh kami telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada kitab Allah. Kami mendapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah terhadap apa yang beliau bawa dan Allah memperingatkan kita dari apa yang dilarang. Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia – Subhanahu wa Ta’ala – telah menyempurnakan Agama Islam untuk umat ini. Sedangkan, perayaan maulid ini bukan termasuk dari apa yang dibawa Rasulullah dan juga bukan dari agama yang telah Allah sempurnakan untuk kita.

Kami juga mengembalikan masalah ini kepada sunnah Rasulullah. Dan kami tidak menemukan di dalamnya bahwa beliau telah melakukan maulid. Beliau juga tidak memerintahkannya dan para sahabat pun tidak melakukannya. Dari situ kita ketahui bahwa maulid bukan dari agama Islam. Bahkan Maulid termasuk bid’ah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang yahudi dan nasrani dalam perayaan-perayaan mereka. Dari situ jelaslah bagi setiap orang yang mencintai kebenaran dan adil dalam kebenaran, bahwa perayaan maulid bukan dari agama Islam bahkan termasuk bid’ah yang diada-adakan yang mana Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan agar meninggalkan serta berhati-hati darinya.

Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan Maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani :

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah : “Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).

Allah juga berfirman :

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. “(QS. Al An’aam : 116 ).

Wallahu a’lamu bis-shawab.

Maraji’ :
Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ilyas Agus Su’aidi As-Sadawy dari kitab At-Tahdzir minal Bida’, hal 7-15 dan 58-59, karya Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dalam beberapa rujukan berikut :

  1. Mukhtashar Iqtidha’ Ash Shirat Al Mustaqim (hal. 48-49) karya ibnu Taimiyah.
  2. Majmu’u Fataawa (hal. 87-89) karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

Sumber :
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 15 / Rabi’ul Awal / 1425 HUKUM MEMPERINGATI Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.


2 Komentar

BARZANJI, KITAB INDUK PERINGATAN MAUID NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin
http://www.almanhaj.or.id/content/2583/slash/0

SEPUTAR KITAB BARZANJI
Secara umum peringatan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selalu
disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji
maupun Daiba, ada kalanya ditambah dengan senandung qasidah Burdah.
Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada
yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba, Barzanji dan Qasidah Burdah
dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam yang diawali dengan membaca Daiba, lalu Barzanji, kemudian
ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab
induk peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca
al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih
hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus
pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena
populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba lebih parah daripada
kitab Barzanji. Berikut uraiannya :

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga :
1). Cerita tentang perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan satra bahasa tinggi yang terkadang tercemar dengan
riwayat-riwayat lemah.
2). Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan
muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).
3). Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi telah
bercampur aduk dengan shalawat bid’ah dan shalawat-shalawat yang tidak
berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI
Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah
khathib di Masjidilharam dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah.
Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah
Kisah Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu
Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam doanya
“Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi
bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man.[2]

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI
Kesalahan kitab Barzanji tidaklah separah kesalahan yang ada pada kitab
Daiba` dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika
kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur’an. Bahkan,
dianggap lebih mulia dari pada Al Qur’an. Padahal, tidak ada nash
syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji,
Daiba` atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Qur’an yang jelas
pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering
membaca Barzanji daripada membaca al-Qur’an apalagi pada saat perayaan
maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia akan
mendapatkan satu kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan
menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan
tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf.[3]

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI
Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain:

Kesalahan Pertama
Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua
orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul Iman
dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia
mengungkapkan dengan sumpah.

Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli
iman dan telah datang dalil dari hadits sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat in,i maka ucapkanlah salam karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesungguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur’an).[4]

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadits dari Anas
Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di manakah ayahku
(setelah mati)? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dia
berada di Neraka. Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa
sallam memanggilnya dan bersabda: Sesungguhnya bapakku dan bapakmu
berada di Neraka[5]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Makna hadits ini adalah bahwa
barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka
dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang
mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah
berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian
dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi
Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.[6]

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan keduanya beriman serta
selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah
sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat
akan kedhaifannya seperti Daruquthni al-Jauzaqani, Ibnu Syahin,
al-Khathib, Ibnu Ashakir, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili,
al-Qurthubi, at-Thabari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas.[7]

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari yang berpendapat bahwa kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beriman, harus dibuktikan
kebenarannya. Memang benar, Imam as-Suyuthi rahimahullah berpendapat
bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman dan
selamat dari neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para
ulama peneliti hadits.[8]

Kesalahan Kedua
Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka menyakini
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir pada saat membaca
shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu
sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) membaca:

Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang.

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang
hadir secara fisik?. Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan,
apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang
pembela perayaan maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang
menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir
hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada di alam
Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga,
sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini
yang hadir adalah ruhnya.

Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu
Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.

Para pembela Barzanji seperti penulis Fikih Tradisionalis berkilah,
bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara
mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk
menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak
jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap
kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17
Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih
dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara
diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati
bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam
upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak dilakukan, sebagai
ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain?[9]

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin
menghormati Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam disamakan dengan hormat
bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup
atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara
seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin
kembali dan hadir ke dunia lagi. Disamping itu, kehadiran Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dunia merupakan keyakinan batil karena
termasuk perkara ghaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan
wahyu Allah Azza wa Jalla, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan,
pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan
Nabi?terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya,
menjauhi larangannya, dan mencintainya.

Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan
bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian juga dengan acara perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam ?adalah para sahabat Radhiyallahu ‘anhum -semoga
Allah meridhai mereka- sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada
kaum Quraisy: Wahai kaumku.demi Allah, aku pernah menjadi utusan
kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada kaisar, aku pernah
menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah
melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana
pengikut Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara
mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit
mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera
melaksanakannya. Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu,
mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata,
mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung
kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka[10]

Bentuk pengagungan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan
acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya
perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan
meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,Berdirilah kalian untuk tuan atau orang
yang paling baik di antara kalian [11], maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa pada hadits di
atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan
orang yang mempunyai keutamaan[12]. Namun, tidak dilakukan kepada orang
yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan
perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar
Radhiyallahu ‘anhum agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Muadz
Radhiyallahu ‘anhu turun dari keledainya, karena dia sedang luka parah,
bukan untuk menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya
secara berlebihan[13].

Kesalahan Ketiga
Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat
untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.

Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan.
Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi
Allah Azza wa Jalla dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sikap yang sangat dibenci
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan
syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk
dan manhaj dakwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu tauhîd. Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut, sehingga
ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang membawa beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kematian, beliau bersabda:
“Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum
Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. Aku hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya.[14]

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa Alaihissalam
sebagai sekutu bagi Allah Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka.
Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Azza
wa Jalla, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan
peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai
tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya Shallallahu
‘alaihi wa sallam : Janganlah kamu jadikan kuburanku tempat berkumpul,
bacalah salawat atasku, sesunggguhnya salawatmu sampai kepadaku
dimanapun kamu berada.[15]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada
umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan
beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam. Bahkan, ketika ada orang yang
berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka berkata: Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engkau orang
terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami,
maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan
syaitan menggelincirkanmu.[16]

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampui batas terhadap Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sumpah adalah bentuk pengagungan
yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah
hendaklah bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, jikalau tidak bisa
hendaklah ia diam.[17]

Cukuplah dengan hadits tentang larangan bersikap berlebihan dalam
mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalil yang
tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang
ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan
hadits tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Kesalahan Keempat
Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang
mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggab bahwa membaca shalawat kepada
nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ibadah yang
sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [al-Ahzab/ 33:56]

Ayat ini yang mereka jadikan sebagai dalil untuk membaca kitab tersebut
pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar
mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat
tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bersalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan
salawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan terhalang dari
melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan
akhirat, yaitu:

1). Terkena doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sungguh celaka bagi seseorang yang
disebutkan namaku di sisinya, namun ia tidak bersalawat atasku.[18]

2). Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang bakhîl adalah
orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bersalawat
atasku[19].

). Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Azza wa
Jalla, karena meninggalkan membaca salawat dan salam atas Nabi n dan
keluarganya. Nabi n bersabda: “Barangsiapa membaca salawat atasku
sekali, maka Allah Azza wa Jalla bersalawat atasnya sepuluh kali.[20]
4). Tidak mendapatkan keutamaan salawat dari Allah Azza wa Jalla dan para Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu
dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman” [Al-Ahzab/ 33:43]

Bahkan, membaca shalawat menjadi sebab lembutnya hati, karena membaca
shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi
tenteram dan damai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah Azza wa Jalla. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’du/ 13:28). Tetapi dengan
syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Azza wa
Jalla semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khufarat
serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sehingga bukan mendapat ketenteraman di dunia dan pahala di
akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah
Azza wa Jalla. Siksaan tersebut bukan karena membaca shalawat, namun
karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada
malam peringatan maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, yang
jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap Syariat.

Kesalahan Kelima
Penulis kitab Barzanji juga menyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya:

Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni.

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj
yang berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki cahaya yang
kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua
cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi
sebelum Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimba ilmu dari cahaya
tersebut.

Demikian juga perkataan Ibnul Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi
Adam Alaihissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya
kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu penutup para
Nabi.[2]

Perlu kita diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya.
Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya
terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka
juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan
kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan
mereka seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa Alaihissalam ,
seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip trinitas
mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa tuhan mereka adalah kepunyaan
Allah Azza wa Jalla dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun mereka menyembah
tuhan-tuhan mereka dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka itu mampu
memberi syafaat dan menolong mereka.

Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalahan kitab Barzanji, semoga bermanfaat.[23]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_________
Footnote
[1]. Al-Munjid fil A’lam, 125
[2]. Majma’tul Mawalid, hal. 132.
[3]. HR.Tirmidzi dan dishahîhkan al Albâni di dalam shâhihul jam’i hadits yang ke 6468
[4]. Lihat Majma’atul Mawalid Barzanji, hal. 101.
[5]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (348) dan Abu Daud dalam Sunannya (4718).
[6]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 3/ 74.
[7]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[8]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[9]. Lihat Fikih Tradisionalisme, Muhyiddin Abdusshomad (277-278)
[10]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari : 3/187, no : 2731, 2732, al-Fath 5/388.
[11]. Shahih diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahihnya (3043) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1768)
[12]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313.
[13]. Lihat Ikmalil Mua’lim Bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh, 6/ 105.
[14]. Shahaih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (3445)
[15]. Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih
(2042) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Ghayatul Mar’am : 125
[16]. Shahih, dishahihkan Oleh Albani dalam Ghayatul Mar’am 127, lihatlah takhrij beliau di dalamnya.
[17]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya (2679) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1646)
[18]. Shahih, diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (3545), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 2/254, dan dishahihkan oleh Albani dalam irwa’ : 6
[19]. Shahih diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunannya (3546), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 1/201 dan dishahihkan Albani dalam irwa’ : 5
[20]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (284).
[21]. Majma’atul Mawalid(101).
[22]. Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullsh oleh Abdur Rauf Utsman (169-192).
[23]. Insya Allah, untuk lebih jelasnya akan penulis sampaikan dalam
buku Ritual Tradisional. Semoga Allah memudahkan penulisan buku ini
yang memuat 40 bid’ah populer di kalangan kaum tradisional di Indonesia
yang meliputi, Shalawatan, Barzanjian, Daibaan, Yasinan, Tahlilan,
Ratiban, Manaqiban, Rajaban, Sya’banan, Selamatan dan bid’ah-bid’ah
lain.


2 Komentar

Amalan Menyimpang di Bulan Shafar

Temen-temen yang berasal dari Jawa, mungkin pernah liat Amalan menyimpang bulan Shafar : Rebo Wekasanyang namanya ritual ‘Rebo Wekasan’. Ritual ini dilakuin pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Buat apa?? Buat tolak bala’/musibah.

Ada yang ngerayain Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) secara besar-besaran, ada yang ngerayain secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagi ke orang-orang yang hadir, namun diawalin dengan tahmid, takbir, zikir plus tahlil serta diakhir dengan do’a.

Ada juga lho yang ngerayain dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bahkan ada yang cukup cuma jalan-jalan ke pantai untuk mandi untuk menyucikan diri dari segala kesalahan dan dosa.

Sobat muda, dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat di berbagai kitab Hadits, tapi shalat Rebo Wekasan seperti yang dijelasin di atas tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah itu ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak benar membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi, intinya.. ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, kalo ga gitu, maka ibadahnya sia-sia belaka.

Selain tradisi di atas, bulan Shafar, sebagaimana bulan Muharram (Jawa: Suro) itu diyakini sebagai bulan yang keramat dan bikin sial, ada juga anggapan bahwa bulan Shafaritu bulan yang membawa sial, naas, dan penuh malapetaka. Astaghfirullahaladziim… Bcuz anggapan ini, maka tidak boleh mengadakan hajatan  di bulan tersebut, atau ngerjain pekerjaan-pekerjaan penting lain cuman karena anggapan akan nanti jadi bencana, atau gagal dalam pekerjaan itu.

Menganggap sial waktu-waktu tertentu, ato hewan-hewan tertentu, ato sial karna liat adanya peristiwa dan mimpi tertentu sebenarnya cuman khayalan dan khurafat belaka. Itu cuman keyakinan yang nunjukin dangkalnya aqidah dan tauhid orang-orang yang percaya begituan.

Jadi temen-temen tercinta di jalan Allah, di bulan Shafar ga’ ada amalan-amalan khusus yang perlu dilakuin. =)

Bahkan para ‘ulama mengatakan kalo’ seseorang mempercayai 100% di bulan Shafar ada bencana-bencana maka ia tergelincir ke dalam salah satu bentuk kesyirikan. Naudzubillah…..

-Estafet Ilmu dari Buletin Remaja Islam Istiqomah (dengan sedikit
 perubahan)-


Tinggalkan komentar

Mulia dengan Membela Sunnah

Penyusun: Ummu Asma’
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar

Pernahkah kita membayangkan akan datangnya suatu masa dimana Islam mulai terpinggirkan, Al-Qur’an dan As-Sunnah mulai ditinggalkan? Ketika kita membuka mata dan melihat ke sekeliling kita, mungkin kita akan menyadari bahwa masa itu telah terbentang di hadapan kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba’)” (Diriwayatkan oleh Muslim 2/175-176 -An-Nawawiy)

Marilah kita tengok sejenak dan perhatikan berapa banyak orang yang menjadikan syari’at ini sebagai bahan perdebatan ataupun bahan olok-olokan? Contoh yang sederhana, masih ada saja di antara umat Islam yang mengolok-olok orang yang melakukan ta’adud (poligami). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas telah memperbolehkan masalah ini, sebagaimana firman Allah:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa: 3)

Contoh yang lain, di berbagai tempat seperti di kampus, masih banyak orang yang menertawakan muslimah yang mengenakan cadar atau berjilbab besar dengan mengatainya sebagai “ninja” atau “kelelawar”. Terkadang seorang muslim yang komit dengan agamanya pun tak luput dari bahan tertawaan, mereka yang celananya di atas mata kaki seringkali diolok-olok, “Kebanjiran”.

Lihatlah wahai Saudariku, betapa ringannya orang menentang atau mengolok-olok syari’at yang lurus ini. Betapa mudahnya mereka menertawakan sunnah tanpa beban. Semua itu tidak terjadi melainkan disebabkan kebodohan akan agamanya sendiri, atau karena keengganan untuk melakukan syari’at ini. Banyak di antara umat Islam di negeri ini yang masih belum mengetahui bahwa mengolok-olok syari’at ini yaitu sunnah merupakan salah satu pembatal keislaman. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-Washaby rahimahullahu Ta’ala menyebutkan dalam kitabnya Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid, bahwa mengolok-olok sesuatu yang merupakan bagian dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok pahala dari pengamalan agama atau siksa karena meninggalkan kewajiban agama, merupakan salah satu dari pembatal keislaman.

“Orang-orang munafiq itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, ‘Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)’ Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ’sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ “ (At-Taubah : 64-65)

Dalam menghadapi fenomena tersebut, wajib bagi seorang muslim untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terhadap sunnah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:

“Sesungguhnya jika manusia melihat kedzaliman lalu tidak mau mencegahnya, maka segera saja Allah akan menurunkan adzab bagi mereka semua.” (HR. Abu Dawud [no, 4338], at-Tirmidzi [no.2168 dan 3057], Ahmad [no. 1, 16, 29, 53] dan lain-lain)

Adapun meluruskan penyimpangan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melalui lisan, baik merupakan nasihat maupun kritikan, maupun dengan perbuatan yaitu mencegah dengan kekuatan fisik. Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya Sittu Duror berkata: “Manusia memiliki kemampuan dan peran yang berbeda-beda, sedangkan mengkritik kebatilan itu wajib apapun tingkatan orang itu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata: “Memerintahkan kepada sunnah dan melarang dari bid’ah adalah merupakan bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan itu adalah seutama-utama amal shalih.” (Minhajus Sunnah, 5/523)

Dengan demikian, meluruskan penyimpangan terhadap syari’at adalah merupakan pembelaan terhadap sunnah dan merupakan amar ma’ruf nahi munkar yang sangat mulia. Sangat berat terasa untuk tetap berjalan di atas kebenaran, sebagaimana beratnya langkah yang harus dilalui ketika kita menyerukan sebuah kebenaran. Mungkin kita pernah mendengar sebagian umat Islam mengatakan bahwa kita wajib menjaga persatuan umat, sehingga kita harus bertoleransi terhadap kesalahan yang dilakukan oleh saudara kita. Mereka berkata bahwa mengungkapkan kebenaran dan meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh saudara kita hanya akan merusak persatuan dan menyebabkan perpecahan. Maka pada masa sekarang ini, banyak firqah atau kelompok dari kaum muslimin yang berdakwah dengan cara merangkul semua golongan yang ada tanpa memperdulikan tentang perbedaan manhaj (metode dalam beragama) bahkan perbedaan aqidah. Padahal persatuan yang benar adalah persatuan di atas aqidah yang bersih dan manhaj beragama yang lurus, yaitu manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Persatuan di atas berbagai manhaj beragama dan aqidah bagaikan segelas air susu, yang partikelnya terlihat bersatu, namun ketika dibiarkan dia akan mengendap di dasar gelas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr: 14)

Sesungguhnya persatuan tidak akan pernah terwujud dengan bergolong-golongan. Dengan bersikap permisif dan lemah lembut atau mendiamkan orang atau kelompok yang melakukan penyimpangan terhadap sunnah dan melakukan bid’ah, bukan berarti menyelamatkan kaum muslimin dari perpecahan. Hal tersebut justru akan mendorong umat Islam ke jurang kehancuran, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya Sittu Duror, dengan membantah orang yang melakukan penyimpangan maka bahaya dari dua sisi dapat ditangkis:

  • Bahaya dari luar, yaitu bahaya yang berasal dari orang-orang kafir yang selalu berusaha menghancurkan Islam dengan cara menyerang sendi-sendi aqidah, akhlaq serta hukum pemerintahan kaum muslimin.
  • Bahaya dari dalam, yaitu bahaya yang berasal dari diri kaum muslimin sendiri yang berwujud dengan banyaknya firqah dan kelompok yang tokoh-tokohnya dengan bebas menyusupkan pemahaman mereka ke dalam hati generasi muda.

Begitu berhati-hatinya salaf dalam menyikapi orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Shahabat, sehingga sikap mereka terhadap ahlul bid’ah lebih keras daripada sikap mereka terhadap orang-orang kafir. Hal ini dikarenakan bahaya yang ditimbulkan oleh penyimpangan kelompok dalam Islam jauh lebih besar daripada kejahatan orang-orang kafir. Bukan berarti dengan bersikap keras terhadap ahlul bid’ah berarti kita bersikap loyal terhadap orang-orang kafir. Sesungguhnya benarlah perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani bahwa penyimpangan kaum muslimin terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jendela bagi masuknya orang kafir, sebab orang kafir selalu mencari celah untuk menghancurkan Islam, dan celah itu adalah jauhnya kaum muslimin dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka suatu keutamaan untuk meluruskan saudara kita yang terjerumus dalam bid’ah meskipun harus menunjukkan identitasnya, namun menyebutkan identitas hanya dilakukan jika kondisi menuntut untuk itu. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan dirinya sekaligus menyelamatkan umat dari penyimpangan yang dilakukannya. Maka janganlah kita merasa sesak hati ketika diingatkan dari kesalahan yang kita lakukan. Dan janganlah merasa berat hati serta ragu untuk mengingatkan saudara kita yang melakukan kesalahan. Sesungguhnya, nasehat adalah bentuk kasih sayang terhadap sesama kaum muslimin, dan kritikan dapat menjadi sebab bagi kembalinya seseorang kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Karena setiap kejelekan lahir dari kejelekan, sehingga diam terhadap penyimpangan bagaikan meletakkan bara api di bawah tumpukan jerami yang lambat laun akan membuatnya menjadi arang. Sebagaimana Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani mengutip perkataan Syaikh Yahya bin Yahya, guru dari Imam Bukhari, bahwa membela dan mempertahankan As-Sunnah adalah lebih mulia dari jihad. Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa (28/53-54): “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan dua tangan, masing-masing saling mencuci. Kadang-kadang ada suatu kotoran tidak bisa dibersihkan kecuali dengan gosokan yang keras (sedikit kekerasan atau paksaan), namun hasilnya tetap bersih dan indah.”

***

Artikel http://www.muslimah.or.id. Dipublikasikan kembali oleh http://www.salafiyunpad.wordpress.com


5 Komentar

BID’AH-BID’AH YANG DIANGGAP SUNNAH

 

Dangkalnya ilmu agama yang dimiliki masyarakat membuat banyak masyarakat yang melakukan ritual-ritual sesat tanpa sadar. Pantas saja jika mayoritas manusia tidak memiliki ilmu agama yang dalam, karena mereka memang tidak pernah mengalokasikan waktu yang cukup untuk mempelajari agama. Mereka hanya sibuk dengan urusan-urusan duniawi saja.

Seharusnya pelajaran agama di SD/SMP/SMA/PT diberikan minimal 10 jam per minggu, termasuk pelajaran bahasa arab, sehingga semua lulusannya diharapkan memiliki pengetahuan agama/syariat islam yang kokoh.

Berikut ini hal-hal yang tidak dilakukan nabi dan tidak diajarkan nabi tetapi telah menjadi kebiasaan masyarakat, sehingga bisa dibilang sebagai ritual yang sesat:

1. Tahlilan
2. Maulidan
3. Ratiban
4. Barzanjian
5. Tarekat sufi
6. Tarian sufi
7. Perayaan isra’ mi’raj, dll
8. Yasinan
9. Dzikir ala sufi
10. Takbir keliling pada malam hari raya
11. Pernikahan adat jawa
12. Pemakaman ala militer
13. Nujuh bulan pada ibu hamil
14. Ruwatan
15. sedekah laut (sesaji)
16. sedekah bumi (sesaji)
17. kenduri hari ke 7, 40, 100, 1000 setelah kematian
18. bermegah-megahan dalam membangun/menghias masjid (padahal banyak orang miskin di dunia)
19. memberi nisan yang megah di atas kuburan
20. Membangun rumah/cungkup diatas kuburan

==========

Agar kita tidak terjerumus dalam ritual sesat tanpa sadar silahkan baca buku-buku misalnya:

-RISALAH BID’AH karya Ustadz Abdul Hakim Abdat
-RITUAL BID’AH DALAM SETAHUN karya Syaikh At Tuwaijiri
-BID’AH-BID’AH YANG DIANGGAP SUNNAH karya Syaikh Muhammad Abdus Salam
-AL I’TISHAM karya Asy syatibi
-AL MASAIL jilid 1-8 karya Ustadz Abdul Hakim Abdat

============

Majalah-majalah islam anti bid’ah yang direkomendasikan untuk anda semua:
(harganya hanya kira-kira saja)

1. Majalah Asysyariah  Rp 9.000
2. Majalah As Sunnah  Rp 12.000
3. Majalah Al Furqon  Rp 10.000
4. Majalah Qiblati  Rp 9.000
5. Majalah Fatawa  Rp 8.000
6. Majalah Ar Risalah Rp 7000
7. Majalah Adz Dzakhirah Rp 7000
8. Majalah Swaraquran Rp 9.000
9. Majalah Nikah Rp 9.000
10. Majalah Elfata Rp 9.000
11. Majalah Al Mawaddah Rp 10.000
12. Majalah Al Iman Bil Ghaib Rp 10.000

=============

Situs-situs dari kelompok islam yang paling benar dan paling murni serta paling konsekuen dengan ajaran nabi (bermanhaj salaf):

www.almanhaj.or.id

www.alsofwah.or.id

www.asysyariah.com

www.salafy.or.id

www.muslim.or.id

===========================


Tinggalkan komentar

Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit – https://abuzahrakusnanto.wordpress.com

Oleh:
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Firman Allah Jalla wa ‘Alaa.
“Artinya : Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [An-Najm : 38-39]

Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat di atas.
“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini Al-Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati. Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada). Dan tidak pernah dinukil dari seorangpun shahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati). Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentu para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya [1]. Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil tidak boleh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran)” [2]

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Tidak menjadi kebiasaan salaf, apabila mereka shalat sunnat atau puasa sunnat atau haji sunnat atau mereka membaca Qur’an lalu mereka menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati dari kaum muslimin. Maka tidaklah boleh berpaling (menyalahi) perjalanan salaf. Karena sesungguhnya kaum salaf itu lebih utama dan lebih sempurna” [Dari Kitab Al-Ikhtiyaaraat Ilmiyyah]

Keterangan di atas menunjukkan kepada kita bahwa bacaan Al-Qur’an bukan untuk orang yang telah mati akan tetapi untuk orang yang hidup. Membaca Qur’an untuk orang yang telah mati hatta untuk orang tua dan menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada mereka, adalah perbuatan yang sama sekali tidak berdalil bahkan menyalahi Al-Qur’an sendiri dan Sunnah dan perbuatan para shahabat.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang mengambil dari Al-Imam Asy-Syafi’iy yang dengan tegas mengatakan bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai kepada orang yang telah mati. Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa perbuatan tersebut tidak pernah diamalkan oleh kaum salaf. Dari sini kita mengetahui, bahwa membaca Qur’an untuk orang yang telah mati tidak pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau ada, tentulah para shahabat yang pertama mengamalkannya sebelum orang lain. Kemudian amalan itu akan dinukil oleh tabi’in dan tabi’ut tabi’in termasuk Syafi’iy di dalamnya yang beritanya akan mencapai derajat mutawatir atau sekurang-kurangnya masyhur. Kenyataan yang ada sebaliknya, mereka sama sekali tidak pernah mengamalkannya sedikitpun.

Adapaun yang menyalahi Al-Kitab ialah.
[1]. Bahwa Al-Qur’an bacaan untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang mati.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Agar supaya Al-Qur’an itu menjadi peringatan bagi orang-orang yang hidup” [Yasin : 70]

[2]. Al-Qur’an itu hidayah/petunjuk bagi manusia

[3]. Al-Qur’an juga memberikan penjelasan dari petunjuk tersebut yang merupakan dalil dan hujjah.

[4]. Al-Qur’an juga sebagai Al-Furqan pembela antara yang hak dengan yang batil
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bulan ramadlan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan baiyinaat (penjelasan-penjelasan yang merupakan dalil-dalil dan hujjah yang terang) dari petunjuk tersebut dan sebagai Al-Furqan” [Al-Baqarah : 185]

[5]. Di dalam Al-Qur’an penuh dengan larangan dan perintah. Dan lain-lain masih banyak lagi yang semuanya itu menjelaskan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang mati. Mungkinkah orang-orang yang telah mati itu dapat mengambil hidayah Al-Qur’an, mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan lain-lain?.

Adapun sunnah terlalu banyak haditsnya yang tidak memungkinkan bagi saya menurunkan satu persatu kecuali satu hadits di bawah ini.

“Artinya : Dari Abu Hurairah : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” [Hadits Shahih riwayat Muslim 2/188]

Hadits ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita di antaranya.

[1]. Rumah yang tidak dikerjakan ibadah di dalamnya seperti shalat sunat dan tilawah (membaca) Al-Qur’an, Nabi samakan dengan kuburan.

[2]. Mafhumnya (yang dapat dipahami) bahwa kuburan bukan tempat membaca Al-Qur’an apalagi menamatkannya…?

[3]. Sekali lagi kita memahami dari sunnah nabawiah bahwa Qur’an bukanlah bacaan untuk orang-orang yang telah mati. Kalau Qur’an itu boleh dibacakan untuk orang-orang yang telah mati tentulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyamakan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Qur’an dengan kuburan! Dan tentulah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda : “Jadikanlah rumah-rumah kamu seperti kuburan!!!”.

Sungguh benar apa yang telah dikatakan Ibnu Katsir : “Tidak dinukil dari seorangpun shahabat bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati. Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya (Laukana khairan lasabakuna ilaihi)”.

Saya berkata : “Inilah rahasia yang besar dan hikmah yang dalam bahwa tidak ada seorangpun shahabat yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masalah membacakan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati dan menghadiahkan pahala bacaannya hatta untuk orang tua mereka sendiri. Di mana mereka bertanya tentang sedekah, puasa nadzar dan haji untuk orang tua mereka yang telah wafat. Kenapa mereka tidak bertanya tentang Qur’an atau shalat atau dzikir atau mengirim Al-Fatihah untuk orang tua mereka yang telah wafat?

Jawabnya, kita perlu mengetahui kaidah besar tentang para shahabat. Bahwa para shahabat adalah aslam (yang paling taslim atau menyerah kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya) dan a’lam (yang paling mengetahui tentang agama Islam) dan ahkam (yang paling mengetahui tentang hukum dan paling tepat hukumnya). Oleh karena itu mereka sangat mengetahui bahwa bacaan Qur’an bukan untuk orang-orang yang telah mati akan tetapi bacaan untuk orang yang hidup.

KESIMPULAN
[1]. Bahwa Al-Qur’an untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang telah mati.

[2]. Membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah mati dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit bertentangan dengan Al-Qur’an sendiri dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ijma’ para shahabat. Dengan demikian perbuatan tersebut tidak ragu lagi adalah BID’AH MUNKAR. Karena amalan tersebut tidak pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun pada zaman shahabat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkannya hatta dengan isyarat. Dan para shahabat tidak pernah mengamalkannya sedikit pun juga..

[3]. Menurut Imam Syafi’iy bacaan Qur’an tidak akan sampai kepada orang-orang yang telah mati.

[4]. Membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah mati menghilangkan sebagian dari maksud diturunkannya Al-Qur’an.

[5]. Kuburan bukan tempat membaca Al-Qur’an apalagi menamatkannya.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
__________
Foote Note
[1]. Peganglah kuat-kuat kaidah yang besar ini! Bahwa setiap amal kalau itu baik dan masuk ke dalam ajaran Islam tentulah diamalakan lebih dahulu oleh para shahabat. Mafhumnya, kalau ada sesuatu amal yang diamalkan oleh sebagian kaum muslimin akan tetapi para shahabat tidak pernah mengamalkannya, maka amal tersebut jelas tidak baik dan bukan dari Islam.
[2]. Di dalam kaidah ushul yang telah disepakati “apabila nash (dalil) telah datang batallah segala ra’yu/pikiran

Semoga bermanfaat…!!!

Admin
Kajian Ilmiah Masjid Jakarta Islamic Centre (JIC)