Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


1 Komentar

GERAKAN DALAM SHALAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
http://www.almanhaj.or.id/content/513/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya mempunyai suatu
problem, yaitu saya banyak bergerak ketika sedang shalat. Saya pernah
mendengar ada suatu hadits yang maknanya, bahwa gerakan yang lebih dari
tiga kali dalam shalat akan membatalkannya. Bagaimana kebenaran hadits
ini ? Dan bagaimana cara mengatasi problem banyak melakukan gerakan
sia-sia di dalam shalat.

Jawaban
Disunnahkan bagi seorang mukmin untuk menyongsong shalatnya dan khusyu’
dalam melaksanakannya dengan sepenuh jiwa dan raganya, baik itu shalat
fardhu ataupun shalat sunnah, berdasarkan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. [Al-Mukminun : 1-2]

Di samping itu ia harus thuma’ninah (tenang dan tidak terburu-buru),
yang mana hal ini merupakan rukun dan kewajiban terpenting dalam
shalat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
beliau sampaikan kepada seseorang yang buruk dalam melaksanakan
shalatnya dan tidak thuma’ninah, saat itu beliau bersabda, ‘Kembalilah
(ulangilah) dan shalatlah karena sesunguhnya engkau belum shalat’, hal
itu beliau ucapkan sampai tiga kali (karena orang tersebut setiap kali
mengulangi shalatnya hingga tiga kali, ia masih tetap melakukannya
seperti semula), lalu orang tersebut berkata. ‘Wahai Rasulullah, Demi
Dzat yang telah mengutusmu dengan kebanaran, aku tidak dapat melakukan
yang lebih baik daripada ini, maka ajarilah aku’. Maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.

“Artinya : Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu,
lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul
ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian
ruku’lah sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau
tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua
shalatmu”. [Disepakati keshahihannya ; Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 757,
Muslim kitab Ash-Shalah 397]

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan.

“Artinya : Kemudian bacalah permulaan Al-Qur’an (surat Al-Fatihah) dan
apa yang dikehendaki Allah”. [Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 859]

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa thuma’ninah (tenang dan tidak
terburu-buru) merupakan salah satu rukun shalat dan merupakan kewajiban
yang besar di mana shalat tidak akan sah tanpanya. Barangsiapa yang
dalam shalatnya mematuk (seperti burung) berarti shalatnya tidak sah.
Kekhusyu’an dalam shalat merupakan jiwanya shalat, maka yang
disyariatkan bagi seorang Mukmin adalah memperhatikan hal ini dan
memeliharanya. Adapun tentang batasan jumlah gerakan yang menghilangkan
thuma’ninah dan kekhusyu’an dengan tiga gerakan, maka hal itu bukan
berdasarkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi
merupakan pendapat sebagian ahlul ilmi, jadi tidak ada dasar dalilnya.

Namun demikian, dimakruhkan melakukan gerakan sia-sia di dalam shalat,
seperti menggerak-gerakan hidung, jenggot, pakaian, atau sibuk dengan
hal-hal tersebut. Jika gerakan sia-sia itu sering dan berturut-turut,
maka itu membatalkan shalat, tapi jika hanya sedikit dan dalam ukuran
wajar, atau banyak tapi tidak berturut-turut, maka shalatnya tidak
batal. Namun demikian, disyari’atkan bagi seorang Mukmin untuk menjaga
kekhusyu’an dan meninggalkan gerakan sia-sia, baik sedikit maupun
banyak, hal ini sebagai usaha untuk mencapai kesempurnaan shalat.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa gerakan-gerakan yang sedikit
tidak membatalkan shalat, juga gerakan-gerakan yang terpisah-pisah dan
tidak berkesinambungan tidak membatalkan shalat, adalah sebagaimana
yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa suatu
hari beliau membukakan pintu masuk Aisyah, padahal saat itu beliau
sedang shalat [Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 922, At-Turmudzi, kitab
Ash-Shalah 601, An-Nasa’i, kitab As-Sahw 2/11]

Diriwayatkan juga dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam, dalam
hadits Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau
shalat bersama orang-orang dengan memangku Umamah bintu Zainab, apabila
beliau sujud,beliau menurunkannya, dan saat beliau berdiri, beliau
memangkunya lagi [Al-Bukhari, kitab Al-Adab 5996, Muslim kitab
Al-Masajid 543]

Wallahu waliyut taifiq

[Kitab Ad-Da’wah, hal 86-87, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-juraisy, Edisi
Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul

Iklan


Tinggalkan komentar

JAMA’AH TIDUR SEMENTARA KHATIB TENGAH MENYAMPAIKAN KHUTBAHNYA

Oleh
Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.
http://www.almanhaj.or.id/content/2188/slash/0

Sebagian orang tertidur sementara khatib sudah berada di atas mimbar.
Dan ini jelas salah dan dia harus dibangunkan untuk mendengarkan
nasihat.

Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka memakruhkan tidur ketika khatib khutbah. Dan mereka berkata tegas mengenai hal tersebut.” [1]

Dan disunnahkan bagi orang yang dihinggapi rasa kantuk untuk pindah
dari tempatnya ke tempat lain di masjid. Mengenai hal tersebut telah
diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dengan
sanad shahih dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Jika salah seorang di antara kalian mengantuk di tempat duduknya pada
hari Jum’at, maka hendaklah dia pindah (bergeser) dari tempat itu ke
tempat lainnya.” [2]

BERSANDARNYA SEBAGIAN ORANG KE DINDING DAN TIDAK MENGHADAP KHATIB
Ada sebagian orang yang dalam mendengarkan khutbah Jum’at lebih senang
bersandar ke dinding atau tiang dan tidak menghadap ke arah khatib,
bahkan mereka membelakanginya. Dan ini jelas bertentangan dengan
petunjuk para Sahabat Nabi di dalam khutbah Jum’at dan juga bertolak
belakang dengan etika mendengar khutbah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Jika berkhutbah Jum’at,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, sementara
Sahabat-Sahabat beliau menghadapkan wajah mereka ke arah beliau.” [3]

Dari Muthi’ al-Ghazal dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sudah menaiki mimbar,
maka kami pun menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” [4]

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung
menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” [5]

Dari Abban bin ‘Abdullah al-Bajali, dia berkata, Aku pernah melihat
‘Adi bin Tsabit menghadapkan wajahnya ke arah khatib jika khatib itu
berdiri sambil berkhutbah. Lalu aku tanyakan kepadanya, “Aku lihat
engkau menghadapkan wajahmu ke khatib?” Dia menjawab, “Karena aku
pernah melihat para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melakukan hal tersebut.” [6]

Dari Nafi’, mantan budak Ibnu ‘Umar bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar
mengerjakan shalat sunnah pada hari Jum’at hingga selesai sebelum
khatib keluar, dan ketika khatib telah datang sebelum khatib itu duduk,
dia (‘Abdullah bin ‘Umar) menghadapkan wajah ke arahnya.

Imam Ibnu Syihab az-Zuhri rahimahullahu mengatakan, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyampaikan khutbahnya, maka mereka
langsung mengarahkan wajah mereka kepadanya sampai beliau selesai dari
khutbahnya”

Imam Yahya bin Sa’id al-Anshari rahimahullahu mengatakan, “Yang sunnah
untuk dilakukan adalah jika khatib sudah duduk di atas mimbar pada hari
Jum’at, maka hendaklah semua orang mengarahkan wajah ke arahnya.” [7]

Al-Atsram mengatakan, aku pernah katakan kepada Abu ‘Abdullah [8],
“Ketika khatib berada agak jauh di sebelah kananku, maka apakah jika
aku ingin menghadap kepadanya, aku harus mengalihkan wajahku dari arah
kiblat?”

Dia menjawab, “Ya, arahkan wajahmu kepadanya.” [9]

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi
orang-orang untuk menghadap ke arah khatib jika dia tengah berkhutbah.
Dan itu merupakan pendapat Malik, at-Tsauri, al-Auza’i, asy-Syafi’i,
Ishaq, dan Ashabur rayi.” [10]

Ibnu Mundzir rahimahullahu mengatakan, “Hal itu bagaikan ijma’ (kesepakatan para ulama).” [11]

At-Tirmidzi rahimahullahu mengatakan, “Pengamalan terhadap hal tersebut
dilakukan oleh para ulama dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan juga yang lainnya mereka menyunnahkan untuk
menghadap ke khatib jika dia tengah berkhutbah.” [12]

MEMAINKAN BIJI TASBIH ATAU KUNCI SAAT KHUTBAH BERLANGSUNG
Sebagian orang ada yang melakukan hal yang sia-sia baik dengan
kunci-kunci atau biji tasbih yang ada di tangannya saat mendengar
khutbah Jum’at. Ini jelas bertentangan dengan ketenangan dan perhatian
terhadap peringatan dan nasihat yang disampaikan kepadanya.

Bahkan hal tersebut masuk ke dalam kelengahan yang dilarang untuk
dilakukan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam
kitab Shahiihnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Barangsiapa yang memegang batu kerikil berarti dia telah berbuat sia-sia.” [13]

Dan terkadang ada juga salah seorang dari mereka yang mengeluarkan kayu
siwak dan bersiwak saat khutbah tengah berlangsung. Ini juga termasuk
dalam kategori lengah (berbuat sia-sia).

MEMISAHKAN DUA ORANG YANG DUDUK BERDAMPINGAN PADA HARI JUM’AT
Terkadang ada orang yang datang terakhir ke masjid, lalu melangkahi
pundak-pundak jama’ah yang datang lebih awal serta memisahkan duduk
orang-orang agar dia bisa sampai di barisan pertama. Dan ini merupakan
satu hal yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut
Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani.

“Dari Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang
masuk masjid pada hari Jum’at sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tengah menyampaikan khuthbah, lalu dia melangkahi orang-orang,
maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Duduklah,
karena sesungguhnya engkau telah mengganggu (orang-orang) dan datang
terlambat.” [14]

Kemudian orang yang memisahkan di antara dua orang ini, yakni dengan
melangkahi keduanya atau duduk di antara keduanya benar-benar telah
kehilangan pahala yang besar, yaitu yang disebutkan di dalam hadits
yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu
‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya,
memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi rumahnya kemudian
keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang dan kemudian
mengerjakan shalat sunnah dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara)
jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya
(atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang
berikutnya”. [15]

Al-Hafizh rahimahullahu mengatakan, “Setelah dilakukan penghimpunan
terhadap jalan-jalan dan lafazh-lafazh hadits, maka tampak sekumpulan
dari apa yang kami sampaikan tadi bahwa penghapusan dosa dari hari
Jum’at ke Jum’at berikutnya itu dengan syarat adanya semua hal berikut
ini:

a. Mandi dan membersihkan diri.
b. Memakai minyak wangi atau minyak rambut.
c. Memakai pakaian yang paling bagus.
d. Berjalan kaki dengan penuh ketenangan.
e. Tidak melangkahi pundak jama’ah yang datang lebih awal.
f. Tidak memisahkan antara dua orang yang berdampingan.
g. Tidak mengganggu.
h. Mengerjakan amalan-amalan sunnah.
i. Diam.
j. Tidak melakukan aktivitas yang melengahkan”  [16]

Lebih lanjut, al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Di dalam hadits
‘Abdullah bin ‘Amr disebutkan, ‘Oleh karena itu, barangsiapa melangkahi
orang atau melakukan hal yang melengahkan, maka baginya shalat Jum’at
itu hanya shalat Zhuhur semata” [17]

[Disalin dari kitab kitab al-Kali-maatun Naafi’ah fil Akhthaa’
asy-Syaai’ah, Bab “75 Khatha-an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia
75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis
Salam Baali. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Tafsiir al-Qurthubi (XVIII/117) dan al-Qaulul Mubiin (no. 346).
[2]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/135), Abu Dawud (no. 119), at-Tirmidzi (no. 526), Ibnu Hibban (no. 2792) Ihsaan.
[3]. Zaadul Ma’aad (I/430).
[4]. Hasan bisyawaahidi (dengan beberapa penguatnya): Diriwayat-kan
oleh al-Bukhari dalam kitab at-Taariikh al-Kabiir (IV/II/ 47). Dinilai
hasan oleh al-Albani dengan beberapa syahidnya dalam kitabnya, Silsilah
al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2080).
[5]. Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 509) dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Tirmidzi.
[6]. Hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (III/198). Al-Albani
mengatakan di dalam kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (V/114),
“Sanad ini jayyid.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1136) dari
Adi bin Tsabit dari ayahnya dan dinilai shahih oleh al-Albani.
[7]. Hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (III/199) dengan sanad hasan.
[8]. Yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
[9]. Al-Mughni (III/172).
[10]. Ibid (III/172).
[11]. Ibid (III/172).
[12]. Sunan at-Tirmidzi: kitab al-Jumu’ah, bab Maa Jaa’a fii Istiqbaalil Imaam idzaa Khathaba.
[13]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 857). Dan lihat kitab
as-Subhah, Taariikhuhaa wa Hukmuhaa, Dr. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid
hafizhahullah. (Telah kami terbitkan dengan judul: Adakah Biji Tasbih
pada Zaman Rasulullah j -pent.)
[14]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1115) dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih Ibni Majah.
[15]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 883, 910).
[16]. Fat-hul Baari, syarah hadits no. 883.
[17]. Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 347) dan dinilai hasan oleh al-Albani.

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id


Tinggalkan komentar

SHALAT SUNNAT JUM’AT

Oleh
Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul
http://www.almanhaj.or.id/content/2356/slash/0

Apakah Shalat Jum’at Memiliki Shalat Sunnat Qabliyah?
Tidak pernah ditetapkan bagi shalat Jum’at shalat sunnat qabliyah
tertentu. Sedangkan shalat tathawwu mutlak, maka sudah ada dalil yang
menunjukkan hal tersebut

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

“Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu
mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam
sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan
shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara
satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari” [1]

Dan sebuah riwayat dari Abu Dawud

“Barangsiapa mandi hari jum’at dan memakai pakaian yang terbaik serta
memakai wangi-wangian jika ia memilikinya, kemudian ia menghadiri
shalat Jum’at, dan tidak juga melangkahi leher (barisan) orang-orang,
lalu dia mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya
diam jika imam telah keluar (menuju ke mimbar) sampai selesai dari
shalatnya, maka ia akan menjadi kaffarah baginya atas apa yang terjadi
antara hari itu dengan hari Jum’at sebelumnya”

Dia menceritakan, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Dan
ditambah tiga hari”. Dia juga mengatakan :”Sesungguhnya (balasan)
kebaikan itu sepuluh kali lipatnya” [2]

Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at
Telah disampaikan sebelumnya hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma,
yang di dalamnya disebutkan : “Dan dua rakaat setelah Jum’at di
rumahnya” [3]

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat Jum’at, maka
hendaklah dia mengerjakan shalat empat raka’at setelahnya”.
Diriwayatkan oleh Muslim.

Dan dalam sebuah riwayat disebutkan

“Barangsiapa di antara kalian akan mengerjakan shalat setelah shalat Jum’at, maka hendaklah dia mengerjakan empat rakaat” [4]

Dapat saya katakan, kedua hadits di atas menunjukkan disyariatkannya
shalat dua atau empat rakaat setelah Jum’at. Dengan pengertian, seorang
muslim bisa mengerjakan salah satu dari keduanya. Dan yang lebih afdhal
adalah shalat empat rakaat setelah shalat Jum’at. Hal itu sesuai dengan
apa yang dijelaskan di dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,
yang merupakan ketetapan dalam bentuk ucapan mengenai hal tersebut.

Sunnat shalat ini –baik dikerjakan dua rakaat ataupun empat rakaat-
lebih baik dikerjakan di rumah secara mutlak [5] tanpa adanya pembedaan
di dalam mengerjakannya. [6]

Jika Masuk Masjid Sedang Imam Tengah Memberi Khutbah Jum’at

Jika seorang muslim masuk masjid sedang imam tengah menyampaikan
khutbah Jum’at, maka hendaklah dia tidak duduk sehingga mengerjakan
shalat tahiyyatul masjid dua rakaat seraya meringankannya. Yang
demikian itu didasarkan pada dalil berikut ini.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan : “Sulaik
Al-Ghathfani pernah datang pada hari Jum’at ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khutbah, lalu dia
duduk, maka beliau berkata kepadanya : ‘Wahai Sulaik, berdiri dan
kerjakanlah shalat dua raka’at dan bersegera dalam mengerjakannya’.
Kemudian beliau bersabda.

“Jika salah seorang diantara kalian datang pada hari Jum’at sedang imam
tengah berkhutbah maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka’at dan
hendaklah dia bersegera dalam mengerjakan keduanya” [Diriwayatkan oleh
Asy-Syaikhani] [7]

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi
Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit
Pustaka Imam Asy-Syafi’i]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul
Jumu’ah, bab Fadhlu Man Istama’a wa anshata fila Khutbbah (hadits no.
857)
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Kitab Kitaabuth Thaharah, bab
Fil Ghusl Yaumal Jumu’ah, no. 343. Dinilai shahih oleh Al-Albani di
dalam kitab, Shahih Sunan Abi dawud I/70
[3]. Lihat pembahasan sebelumnya.
[4]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Jumu’ah,
bab Ash-Shalaah Ba’dal Jumu’ah hadits no. 881. lihat kitab, Jami’ul
Ushul VI/38
[5]. Hal itu didasarkan pada hadits : “Sebaik-baik shalat adalah shalat
seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib”. Insya
Allah takhrijnya akan diberikan lebih lanjut. Dan ini termasuk hadits
shahih.
Di dalam kitab, Tamamul Minnah hal. 342-342, Al-Allamah Al-Albani
mengatakan : “Dan jika dia mengerjakan shalat dua atau empat rakaat
setelah shalat Jum’at di masjid maka hal itu pun diperbolehkan, atau
bisa juga dikerjakan di rumah. Dan di rumah lebih baik. Hal itu
didasarkan pada hadits shahih (yakni hadits ; “Sebaik-baik shalat
adalah shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya …”)
[6]. Pembedaan itu adalah seperti ini : Jika dia mengerjakan shalat itu
di masjid, maka dia mengerjakannya empat rakaat, dan jika
mengerjakannya di rumah, maka dia mengerjakan dua rakaat. Tidak ada
dalil shahih yang mendasari hal tersebut. lihat perdebatan dan
bantahannya di dalam kitab, Tamaamul Minnah hal. 341-342
[7]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas di
beberapa tempat, yang di antaranya adalah di didalam Kitaabul Jumu’ah,
bab Idzaa Ra’al Imaam Rajulan Wahuwa Yakhthuhu Amarahu an Yushaliyya
Rak’atain no. 930. Dan diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul
Jumu’ah, bab At-Tahiyyaat wal Imaam Yakhthuhu no. 875. Dan lafazh di
atas adalah miliknya

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id


Tinggalkan komentar

PENYIMPANGAN SEPUTAR SHALAT ‘ID

PENYIMPANGAN SEPUTAR SHALAT ‘ID (*)

 

Oleh

Redaksi Majalah As-Sunnah

http://www.almanhaj.or.id/content/2582/slash/0

 

Perhelatan melelahkan dalam menyongsong datangnya hari raya terjadi

dimana-mana. Sebagian kaum muslimin larut dengan kesibukan yang banyak

menyita waktu, tenaga dan biaya. Tak segan-segan, uangpun dikeluarkan

tanpa rasa berat. Yang penting -menurut mereka- hari raya dapat dilalui

dengan lebih berarti.

 

Kebiasaan seperti ini, pada setiap tahun bisa kita saksikan, hampir

selalu mewarnai saat menjelang hari raya. Seakan kesibukan tersebut

merupakan keharusan yang tidak dapat ditinggalkan oleh sebagian umat

MuhammadSalallahu Alaihi Wasalam. Akan tetapi, disini lain, pada saat menjelang hari raya,

banyak hal lebih penting yang dilalaikan.

 

Merebaknya kemungkaran banyak diremehkan oleh sebagian umat ini telah

mengharu biru hari mulia ini. Beberapa kemungkaran itu, ada yang sudah

sering terjadi di luar hari raya, dan bertambah parah ketika hari raya

tiba. Misalnya, seperti menghias diri dengan mencukur jenggot,

bersalam-salaman dengan wanita yang bukan mahramnya, tabarruj (pamer

kecantikan), menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan menikmati

musik, mengkhususkan waktu untuk ziarah kubur, serta membagikan makanan

dan permen, duduk-duduk di atas kuburan, menghamburkan harta yang tidak

ada faidahnya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini menodai

hari raya yang mulia ini.

 

Namun, dalam pembahasan kali ini, kami tidak akan mengupas persoalan

tersebut di atas. Akan tetapi, kami akan fokuskan pada beberapa

kesalahan dalam pelaksaan shalat ‘Id. Mudah-mudahan hal ini bisa

menggugah kesadaran kita untuk lebih berhati-hati. Mendorong kita agar

lebih bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu, bertanya kepada

‘alim, serta membaca kitab-kitab para ulama, sehingga bisa terhindar

dan tidak terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah. Apalagi

kesalahan itu seakan sudah membudaya.

 

Diantara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan shalat ‘Id, ialah sebagai berikut:

 

A. SEBAGIAN ORANG MEREMEHKAN SHALAT ‘ID DAN MENGANGGAPNYA SUNAT, SERTA TIDAK MENUNAIKANNYA DI LAPANGAN

Imam Asy Syaukani mengatakan; “Ketahuilah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam selalu mengerjakan shalat ini pada dua hari raya (‘Idul Fithri

dan Adh-ha). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah

meninggalkannya, meskipun hanya sekali. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa

sallam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk keluar shalat,

sampai-sampai memerintahkan kepada para wanita, baik budak, wanita

pingitan dan wanita yang sedang haid agar keluar. Beliau Shallallahu

‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada yang haid agar menjauhi tempat

shalat, menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslim. Sampai-sampai

diperintahkan kepada wanita yang memiliki jilbab, agar meminjami

saudaranya yang tidak memiliki jilbab. Semua ini menunjukkan, bahwa

shalat ‘Id wajib bagi setiap orang (fardhu ‘ain, Red), bukan fardlu

kifayah”. [As Sailur Jarar, 1/315].

 

Aku (Syaikh Masyhur Hasan Salman) mengatakan: “(Dalam penjelasan di

atas, Red), Imam Asy Syaukani mengisyaratkan kepada hadits Ummu Athiyah

Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

 

“Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan para wanita

pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, yaitu para budak, wanita yang

sedang haid serta wanita pingitan. Adapun wanita yang sedang haid

keluar dari shalat. (dalam riwayat yang lain dari lapangan) dan

menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku (Ummu Athiyah)

mengatakan: “Wahai, Rasulullah. Salah seorang diantara kami tidak

memiliki jilbab”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda,”Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada saudaranya

yang tidak memiliki jilbab.”[1]

 

Perintah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar, berarti

perintah untuk shalat bagi yang tidak memiliki udzur. Ini berdasarkan

maksud dari pembicaraan. Karena keluar ke mushalla (lapangan) merupakan

washilah (sarana) untuk shalat. (Jika) wasilahnya wajib, maka akan

menyebabkan tujuan dari washilah itu juga menjadi wajib. Dan kaum pria

lebih wajib daripada wanita. (Lihat Al Mau’izhah Al Hasanah, 43).

 

Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua hari raya, bahwa

shalat ‘Id bisa menggugurkan (bisa mengganti, Red) shalat Jum’at

apabila bertepatan pada hari yang sama. Terdapat riwayat yang sah dari

Rasulullah, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika

hari raya bertepatan dengan hari Jum’at.

 

“Pada hari kalian ini, terkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang ingin

(tidak shalat Jum’at), maka ia telah mencukupinya dari shalat Jum’at.

Dan kita mengumpulkan shalat hari raya dan Jum’at, dan kami akan tetap

shalat Jum’at.”[2]

 

Sudah kita ketahui, sesuatu yang hukumnya tidak wajib, tidak akan bisa

menggugurkan sesuatu yang wajib. Terdapat riwayat yang sah, sejak

shalat ‘Id disyari’atkan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu

mengerjakan shalat ‘Id secara berjama’ah hingga sampai wafatnya.

Perbuatan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengerjakan

shalat ‘Id digabungkan dengan perintahnya kepada manusia untuk keluar

shalat ‘Id. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (24/212, 23/161) serta Ar

Raudah An Nadiyah (1/142), Nailul Authar (3/282-283) dan Tamamul

Minnah, 344. Dan wajibnya shalat ‘Id, merupakan pilihan dari Syaikh

Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan: “Kami menganggap rajih

(menguatkan) pendapat yang menyatakan shalat ‘Id itu hukumnya wajib

bagi setiap orang, sebagaimana ucapan Abu Hanifah dan lainnya. Begitu

juga salah satu pendapat Imam Asy Syafi’i, dan salah satu diantara dua

pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.

 

Adapun ucapan yang mengatakan, “Shalat ‘Id tidak wajib”, merupakan

ucapan yang sangat jauh dari kebenaran. Sesungguhnya shalat ‘Id

merupakan syi’ar Islam yang sangat besar, dan manusia yang berkumpul

untuk melakukan shalat ‘Id lebih besar daripada shalat Jum’at. Pada

hari ini, disyari’atkan takbir. Dan pendapat orang yang mengatakan

“Shalat ‘Id fardhu kifayah”, perkataan ini tidak memiliki dasar yang

kuat. (Majmu’ Fatawa, 23/161).

 

Disini, sejenak kita merenungi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi

wa sallam dalam hadits Ummu Athiyah terdahulu. Di dalamnya terdapat

perintah bagi para wanita yang sedang haid dan para wanita budak untuk

menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dari hadits ini dapat

diambil dua hukum fiqih:

 

1). Disyari’atkan kepada para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Id.

Kami menganjurkan kepada para wanita untuk menghadiri jama’ah kaum

muslimin, sebagai realisasi perintah RasulullahSalallahu Alaihi Wasalam. Tidak lupa kami

ingatkan mereka, dan juga para penanggungjawab mereka mengenai

kewajiban mengenakan hijab syar’i. Terkadang sebagian orang merasa

heran terhadap syari’at keluarnya wanita ke lapangan untuk shalat ‘Id.

 

Ketahuilah, inilah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Karena, banyak hadits menerangkan hal ini. Disini, kami cukupkan dengan

hadits Ummu Athiyah di atas. Hadits ini bukan hanya sebagai dalil

disyari’atkannya shalat saja. Bahkan lebih dari itu, yaitu menandakan

wajibnya shalat atas para wanita, karena perintah Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hukum asal dalam perintah adalah

wajib. Ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abu Bakar

Radhiyallahu ‘anhu.

 

“Benar, bagi setiap orang yang memiliki sayak (rok), keluar untuk shalat ‘Id”[3]

 

2). Shalat dua hari raya tempatnya di lapangan, bukan masjid -meskipun boleh di masjid.

Dari sisi lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat

menganjurkan kepada para wanita haidh agar menghadiri shalat ‘Id,

sementara masjid tidak layak diisi para wanita haid. Apabila masjid

tidak boleh mereka kunjungi ketika haid, maka hanya lapangan yang boleh

mereka hadiri. Hal ini dijelaskan dalam banyak hadits, seperti dari Abu

Said Al Khudri Radhiyalahu ‘anhu, dia berkata:

 

“Dahulu, RasulullahSalallahu Alaihi Wasalamkeluar ke mushalla (lapangan) pada hari raya

‘Idul Fithri dan Adh-ha. Dan hal pertama kali yang BeliauSalallahu Alaihi Wasalamkerjakan

adalah shalat (ied)”.[4]

 

Ibnu Al Hajj Al Maliki mengatakan: “Sunnah yang telah berjalan dalam

masalah dua shalat ied ini, ialah dikerjakan di lapangan. Karena, Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali dari pada shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram” [5]

 

Meskipun shalat di Masjid Nabawi sangat besar keutamaannya, namun

BeliauSalallahu Alaihi Wasalam(tetap) keluar menuju lapangan dan meninggalkan masjidnya. (Al

Madkhal, 2/283). Perbuatan berdasarkan sunnah ini berjalan terus pada

masa-masa awal, terkecuali terpaksa, seperti turun hujan dan yang

semisalnya. Demikian pendapat empat imam madzhab (Hanafi, Malik,

Syafi’i dan Ahmad) serta yang lainnya.

 

Juga, sunnah ini (shalat di lapangan) memiliki hikmah yang besar. Yakni

kaum muslimin memiliki dua hari (istimewa) dalam setahun. Pada hari

ini, penduduk semua negeri (suatu daerah) berkumpul, baik pria, wanita

maupun anak-anak. Mereka menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.

Mereka terhimpun dengan satu kalimat, shalat di belakang satu imam,

bertakbir, bertahlil dan berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla dengan

penuh ikhlas. Seakan mereka sehati. Mereka bersuka ria, bergembira

dengan nikmat Allah Azza wa Jalla kepada mereka. Sehingga hari raya

merupakan hari bahagia.

 

Semoga kaum muslimin memberikan tanggapan positif untuk meniti sunnah

nabi mereka, menghidupkan syi’ar agama yang menjadi syarat kemuliaan

(kewibawaan) dan keberuntungan mereka.

 

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul

apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada

kamu” [QS Al Anfal:24]

 

B. TIDAK MENGERASKAN TAKBIR KETIKA MENUJU LAPANGAN

Dari Az Zuhri rahimahullah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

sallam biasa keluar pada hari raya dan bertakbir hingga sampai ke

lapangan, dan hingga selesai shalat. Apabila telah selesai, Beliau n

menghentikan takbir.[6]

 

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya perbuatan yang

dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu takbir dengan keras ketika

berjalan menuju lapangan. Kebanyakan umat mulai meremehkam sunnah ini,

hingga sekarang ini seakan sudah menjadi cerita masa lampau (dan hampir

tidak bisa ditemukan lagi-red). Ini disebabkan karena lemahnya agama

mereka, serta malu untuk mengaku dan menampakkan sunnah ini.

 

Ironisnya, diantara mereka ada yang bertugas memberi bimbingan serta

mengajarkan kepada manusia. (Namun) seakan bimbingannya dalam pandangan

mereka terbatas pada transfer ilmu guru kepada manusia. Adapun sesuatu

yang sangat dibutuhkan untuk diketahui, ini tidak mendapatkan perhatian

mereka. Bahkan mereka menganggap pembahasan serta pemberian peringatan

dalam masalah ini, baik dengan perkataan maupun perbuatan sebagai

perbuatan sia-sia, yang tidak pantas untuk diperhatikan dalam tindakan

dan pengajaran. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Yang perlu mendapatkan perhatian disini, yaitu dalam mengumandangkan

takbir tidak disyari’atkan secara bersama dengan satu suara,

sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian halnya dengan

dzikir yang disyari’atkan dengan suara keras ataupun yang tidak

disyari’atkan dengan suara keras. Ini semua tidak disyari’atkan secara

berjama’ah. Dan yang semisalnya dengan ini, ialah adzan berjama’ah

sebagaimana dikenal di Damaskus dengan nama Adzan Al Juuq. Sering kali,

dzikir berjama’ah (dengan satu suara) menjadi sebab pemutusan satu kata

ataupun kalimat, yang semestinya tidak boleh waqaf (berhenti) pada kata

atau kalimat tersebut, seperti “lailaha” dalam tahlil selepas shalat

Subuh dan Maghrib, sebagaimana hal itu berulang kali kita dengar.

 

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan selalu ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

 

C. MENGANGKAT TANGAN DALAM SETIAP TAKBIR SHALAT ‘ID

Tidak ada riwayat sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang

menyatakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan

ketika takbir dalam shalat ‘Id. Akan tetapi Ibnul Qayyim mengatakan:

“Dan Ibnu Umar –padahal ia sangat antusias mengikuti Sunnah Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam – mengangkat kedua tangannya bersamaan

dengan setiap takbir”. (Zaadul Ma’ad, 1/441). Dan sebaik-baik petunjuk

adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , meskipun hadits

ini diriwayatkan Ibnu Umar dan bapaknya Radhiyallahu ‘anhuma, namun

tidak akan menjadikannya sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat tersebut

tidak benar.

 

Syaikh Al Albani mengatakan: “Adapun riwayat dari Umar, ini

diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah. Sedangkan riwayat

dari Ibnu Umar, aku belum mendapatkannya. Dan sesungguhnya Imam Malik

mengatakan,’ aku belum mendengar satu haditspun tentang hal ini’.”

[Tamamul Minnah, hlm. 349].

 

Demikian pendapat Imam Malik sebagaimana terdapat dalam Al Madunah

(1/169). Dan pendapat ini dinukil oleh Imam Nawawi dalam Majmu’ (5/26).

Hanya saja Ibnu Mundzir menceritakan: “Imam Malik mengatakan,’Dalam hal

ini, tidak ada sunnah yang pasti. Barangsiapa ingin, maka ia mengangkat

tangannya setiap kali takbir. Dan yang paling aku sukai, yaitu yang

pertama (tidak mengangkat tangan)’.”

 

D. SHALAT SUNNAH QABLIYAH SEBELUM SHALAT ‘ID DAN UCAPAN “AS SHALAT  JAAMI’AH” SEBELUM BERDIRI UNTUK SHALAT

Pemandangan mayoritas di negeri muslim, orang-orang yang hadir shalat

‘Id di lapangan melakukan shalat dua raka’at sebelum duduk di

tempatnya, untuk menunggu berdirinya imam untuk shalat. Shalat dua

raka’at ini tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

bahkan ada riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu

 

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at pada hari

raya. Beliau tidak shalat dua raka’at sebelum maupun sesudahnya” [HR.

Bukhari dan Muslim]

 

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Kesimpulannya, tidak ada shalat sunat

sebelum dan sesudah shalat ‘Id, berbeda dengan orang yang

mengkiaskannya (menyamakan shalat ‘Id) dengan shalat Jum’at”. [Fath-hul

Bari, 2/476].

 

Imam Ahmad mengatakan: “Tidak ada shalat sunnat sebelum dan sesudah

‘Id”. (Masail Al Imam Ahmad, no. 469). Dan ia berkata pula: “Tidak ada

shalat sunnat sebelum dan sesudah ‘Id. Nabi keluar shalat ‘Id tidak

melakukan shalat sebelum maupun sesudahnya. Sebagian penduduk Bashrah

melakukan shalat sebelumnya, dan sebagian penduduk Kuffah mengerjakan

shalat sunnat setelahnya”. [Masail Al Imam Ahmad, no. 479]

 

Ibnul Qayyim mengatakan: “BeliauSalallahu Alaihi Wasalamdan para sahabatnya g tidak

melakukan shalat sunat sebelum dan sesudah shalat ‘Id ketika telah

sampai di lapangan”. (Zaadul Ma’ad, 1/443). Apabila NabiSalallahu Alaihi Wasalamtelah sampai

di lapangan, Beliau melakukan shalat ‘Id tanpa adzan dan iqamat, dan

tanpa ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan merupakan sunnah, tidak

mengerjakan dari hal itu sedikitpun. (Zaadul Ma’ad, 1/442 dan At

Tamhid, 1/243).

 

E. MENGHIDUPKAN MALAM HARI RAYA

Banyak khatib dan penceramah giat menganjurkan manusia untuk

mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan menghidupkan malam hari

raya. Padahal, anjuran mereka ini tidak ditemukan sandaran yang shahih.

 

Mereka tidak cukup hanya dengan menganjurkan manusia untuk menghidupkan

malam ini. Bahkan mereka (berani) menisbatkan (menyandarkan) ucapan

tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan

menggunakan dalil-dalil:

 

“Barangsiapa menghidupkan malam ‘Idul Fithri dan Adh-ha, hatinya tidak akan mati di hari matinya hati-hati manusia” [7].

 

Riwayat di atas merupakan hadits palsu, dan tidak boleh dinisbatkan

kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi beramal

dengannya dan menyerukan manusia untuk melakukannya.

 

F. PEMBUKAAN KHUTBAH DENGAN TAKBIR SERTA BANYAK MENGUCAPKAN TAKBIR DALAM KHUTBAH

Ibnul Qayyim mengatakan: “RasulullahSalallahu Alaihi Wasalamselalu membuka khutbahnya dengan

memuji Allah. Tidak ada riwayat dalam satu hadits pun bahwa Beliau

memulai khutbah dua id dengan takbir. Hanya saja, Ibnu Majah

meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Sa’ad Al Qardhi, bahwasanya Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak takbir di tengah-tengah

khutbah, serta memperbanyak takbir dalam khutbah dua hari raya.

 

Namun riwayat ini tidak menunjukkan bila Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali khutbah dengan takbir.

 

Orang-orang telah berselisih dalam masalah pembukaan dua hari raya

serta istisqa. Ada yang mengatakan “khutbah ‘id dan istisqa dimulai

dengan takbir”, dan ada pula yang mengatakan “khutbah istisqa diawali

dengan istighfar”, dan ada pula yang mengatakan “keduanya diawali

dengan hamdalah”.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “(Mengawali khutbah dengan hamdalah), itulah yang benar”. [Zaadul Ma’ad, 1/447-448].

 

Syaikh Masyhur, mengatakan: “Hadits terdahulu lemah. Dalam sanadnya,

terdapat seorang yang lemah. Yaitu Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin

Sa’ad Al Muadzan. Yang terakhir majhul (tidak dikenal), yaitu Sa’ad bin

Ammar. Sehingga tidak boleh berhujjah akan sunnatnya takbir di

tengah-tengah khutbah dengan hadits tersebut”. [Tamamul Minnah, 351]

 

G. MENJADIKAN ‘ID DENGAN DUA KHUTBAH DAN DIPISAH DENGAN DUDUK

Semua riwayat yang ada berkaitan dengan masalah ini lemah, tidak bisa

dijadikan hujjah. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Tidak ada

satupun riwayat yang sah dalam masalah pengulangan khutbah”. [Lihat

Fiqh Sunnah, 1/223 dan Tamamul Minnah, 348]

 

Demikian beberapa persoalan berkaitan dengan penyimpangan yang lazim

terjadi pada pelaksanaan hari raya ‘Id. Semoga bermanfaat. Wallahu

a’lam.

 

*) Disadur dan diringkas dari kitab Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’ Al

Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, dengan beberapa tambahan.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006.

Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi

Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_________

Footnotes

[1]. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, no. 324, 971, 974, 980,

981, 1,652 serta Muslim dalam Shahih-nya, no. 980; Ahmad dalam Musnad

(5/84,85); An Nasa’i dalam Al Mujtaba (3/180); Ibnu Majah dalam Sunan,

no. 1.307 dan Tirmidzi dalam Al Jami’, no. 539.

[2]. Dikeluarkan oleh Al Faryabi dalam Ahkam Al ‘Idain, no. 150; Abu

Dawud dalam Sunan, no. 1.073; Ibnu Majah dalam Sunan, no. 1.311 dan

yang lainnya. Hadits ini shahih berdasarkan syawahidnya (penyertanya).

[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/184) dengan

sanad yang shahih. Lihat Risalah Shalat ‘Idain Fil Mushalla Hiya

Sunnah, hlm. 12-13.

[4]. Dikeluarkan Al Bukhari dalam Shahih, no. 956 dan Muslim dalam Shahih, no. 889 dan lainnya.

[5]. Dikeluarkan Imam Muslim

[6]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/165) dan Al

Faryabi dalam Ahkam ‘Idain, no. 59 dan sanad-sanadnya shahih. Meski

mursal namun syahid (penyerta) menyambung, menurut Al Baihaqi dalam

Sunan Al Kubra (3/279). Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, no.171.

[7]. Pembahasan mengenai hadits ini bisa dilihat di silsilah al ahadits ad dhaifah no. 520


2 Komentar

PUASANYA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT, BERPUASA TAPI TIDAK SHALAT

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/1614/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama kaum muslimin mencela orang yang berpuasa tapi tidak shalat, karena shalat itu tidak termasuk puasa. Saya ingin berpuasa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Dan sebagaimana diketahui, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Saya mohon penjelasanya. Semoga Allah menunjukki anda.

Jawaban
Orang-orang yang mencela anda karena anda puasa tapi tidak shalat, mereka benar dalam mencela anda, karena shalat itu tianggnya agama Islam, dan Islam itu tidak akan tegak kecuali dengan shalat. Orang yang meninggalkan shalat berarti kafir, keluar dari agama Islam, dan orang kafir itu, Allah tidak akan menerima puasanya, shadaqahnya, hajinya dan amal-amal shalih lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala.

Artinya : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.� [At-Taubah : 54]

Karena itu, jika anda berpuasa tapi tidak shalat, maka kami katakana bahwa puasa anda batal, tidak sah dan tidak berguna di hadapan Allah serta tidak mendekatkan anda kepadaNya. Sedangkan apa yang anda sebutkan, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah menghapus dosa-dosa di antara keduanya, kami sampaikan kepada anda, bahwa anda tidak tahu hadits tentang hal tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda.

Artinya : Shalat-shalat yang lima dan Jum’at ke Jum’at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi. [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Ath-Thaharah (233)]

Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah mensyaratkan untuk penghapuasn dosa-dosa antara satu Ramadhan degan Ramadhan berikutnya dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi. Sementara anda, anda malah tidak shalat, anda puasa tapi tidak menjauhi dosa-dosa besar. Dosa apa yang lebih besar dari meninggalkan shalat. Bahkan meninggalkan shalat itu adalah kufur. Bagaimana puasa anda bisa menghapus dosa-dosa anda sementara meninggalkan shalat itu suatu kekufuran, dan puasa anda tidak diterima. Hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan melaksanakan shalat yang telah diwajibkan Allah atas diri anda, setetah itu anda berpuasa. Karena itulah ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau bersaba.

Artinya : Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat dalam sehari semalam.[Hadits Riwayat Al-Bukhari, kitab Az-Zakah (1393), Muslim, kitab Al-Iman (1)]

Beliau memulai perintah dengan shalat, lalu zakat setetah dua kalimah syahadat

[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 34]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]


1 Komentar

SHALAT TARAWIH

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

[1]. Pensyari’atannya

Shalat tarawih disyari’atkan secara berjama’ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam keluar dan shalat, ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.

“Artinya : Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah” [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 dan Muslim 761]

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti keterangan hadits diatas) maka berarti syari’at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama’ah disyari’atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan ‘illat telah hilang (juga). Sesungguhnya ‘illat itu berputar bersama ma’lulnya, adanya atau tidak adanya.

Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini adalah Khulafa’ur Rasyidin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau berkata : “Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok[2] Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama’ah, maka Umar berkata : “Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam”.[Dikeluarkan Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733]

[2]. Jumlah Raka’atnya

Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka’atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah delapan raka’at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at” [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 dan Muslim 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]

Yang telah mencocoki Aisyah adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau menyebutkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka’at kemudian witir[3]

Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka’at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata : “Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka’at”. Ia berkata : “Ketika itu imam membaca dua ratus ayat hingga kami bersandar/bertelekan pada tongkat karena lamanya berdiri, kami tidak pulang kecuali ketika furu’ fajar” [4]

Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin Khashifah, beliau berkata : “Dua puluh raka’at”

Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi yang lebih shahih), karena Muhammad bin Yusuf lebih tsiqah dari Yazid bin Khashifah. Riwayat Yazid tidak bisa dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tidak ada perselisihan, tapi hanya sekedar tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah yang pertama sebagaimana (yang disebutkan) dalam Fathul Mughit (1/199), Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal 424-425. Kalaulah sendainya riwayat Yazid tersebut shahih, itu adalah perbuatan, sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf adalah perkataan, dan perkataan lebih diutamakan dari perbuatan sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh.

Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al-Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid : “Bahwa Umar mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, dengan dua puluh satu raka’at, membaca dua ratus ayat, selesai ketika awal fajar”

Riwayat ini menyelisihi yang diriwayatkan oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq shahih seluruh rawinya tsiqah.

Sebagian orang-orang yang berhujjah dengan riwayat ini, mereka menyangka riwayat Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga selamatlah pendapat mereka dua puluh raka’at yang terdapat dalam hadits Yazid bin Khashifah.

Sedangkan mereka ini tertolak, karena hadits mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dengan lafadz yang berbeda-beda, mirip dan sama, tapi tidak ada yang bisa menguatkan (mana yang lebih kuat). [Tadribur Rawi 1/262]

Namun syarat seperti ini tidak terdapat dalam hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat Malik lebih kuat dari riwayat Abdur Razaq dari segi hapalan.

Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), akan tetapi kenyatannya tidak demikian (karena hadits tersebut mempunyai cacat, pent) kita jelaskan sebagai berikut.

[1]. Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur Razaq lebih dari seorang, diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari
[2]. Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari Abdur Razaq, dia pula yang meriwayatkan Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]
[3]. Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq karangan-karangannya ketika berumur tujuh tahun [Mizanul I’tidal 1/181]
[4]. Ad-Dabari bukan perawi hadits yang dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang yang membidangi ilmu ini [Mizanul I’tidal 1/181]
[5] Oleh karena itu dia banyak keliru dalam meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia banyak meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits yang mungkar, sebagian ahlul ilmi telah mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-Dabari dan tashif-tashifnya dalam Mushannaf Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul I’tidal 1/181]

Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yang lebih tsiqah darinya, yang menentramkan hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia mentashifkan dari sebelas raka’at (menggantinya menjadi dua puluh satu rakaat), dan engkau telah mengetahui bahwa dia banyak berbuat tashif [Lihat Tahdzibut Tahdzib 6310 dan Mizanul I’tidal 1/181]

Oleh karena itu riwayat ini mungkar dan mushahaf (hasil tashif), sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, dan menjadi tetaplah sunnah yang shahih yang diriwayatkan di dalam Al-Muwatha’ 1/115 dengan sanad Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid. Perhatikanlah.[5]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
_________
Foote Note.
[1]. Dengan tanwin (‘abdin) dan (alqoriyyi) dengan bertasydid -tanpa dimudhofkan- lihat Al-Bab fi Tahdzib 3/6-7 karya Ibnul Atsir.
[2]. Berkelompok-kelompok tidak ada bentuk tunggalnya, seperti nisa’ ibil … dan seterusnya
[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya.
[4] Furu’ fajar : awalnya, permulaan
[5]. Dan tambahan terperinci mengenai bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah :
[a] Al-Kasyfus Sharih ‘an Aghlathis Shabun fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
[b] Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh Imam Suyuthi, dengan ta’liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar’Ammar


Tinggalkan komentar

PUASANYA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT, BERPUASA TAPI TIDAK SHALAT

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama kaum muslimin mencela orang yang berpuasa tapi tidak shalat, karena shalat itu tidak termasuk puasa. Saya ingin berpuasa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Dan sebagaimana diketahui, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Saya mohon penjelasanya. Semoga Allah menunjukki anda.

Jawaban
Orang-orang yang mencela anda karena anda puasa tapi tidak shalat, mereka benar dalam mencela anda, karena shalat itu tianggnya agama Islam, dan Islam itu tidak akan tegak kecuali dengan shalat. Orang yang meninggalkan shalat berarti kafir, keluar dari agama Islam, dan orang kafir itu, Allah tidak akan menerima puasanya, shadaqahnya, hajinya dan amal-amal shalih lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala.

Artinya : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah : 54]

Karena itu, jika anda berpuasa tapi tidak shalat, maka kami katakana bahwa puasa anda batal, tidak sah dan tidak berguna di hadapan Allah serta tidak mendekatkan anda kepadaNya. Sedangkan apa yang anda sebutkan, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah menghapus dosa-dosa di antara keduanya, kami sampaikan kepada anda, bahwa anda tidak tahu hadits tentang hal tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda.

Artinya : Shalat-shalat yang lima dan Jum’at ke Jum’at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi. [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Ath-Thaharah (233)]

Nabi Shallallahu alaihi wa salam terlah mensyaratkan untuk penghapuasn dosa-dosa antara satu Ramadhan degan Ramadhan berikutnya dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi. Sementara anda, anda malah tidak shalat, anda puasa tapi tidak menjauhi dosa-dosa besar. Dosa apa yang lebih besar dari meninggalkan shalat. Bahkan meninggalkan shalat itu adalah kufur. Bagaimana puasa anda bisa menghapus dosa-dosa anda sementara meninggalkan shalat itu suatu kekufuran, dan puasa anda tidak diterima. Hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan melaksanakan shalat yang telah diwajibkan Allah atas diri anda, setetah itu anda berpuasa. Karena itulah ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau bersaba.

Artinya : Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat dalam sehari semalam.[Hadits Riwayat Al-Bukhari, kitab Az-Zakah (1393), Muslim, kitab Al-Iman (1)]

Beliau memulai perintah dengan shalat, lalu zakat setetah dua kalimah syahadat

[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 34]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]