Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


5 Komentar

Syirik

Ziarah Kubur Wali = Syirik?

Banner Atas

Petaka demi petaka melanda, hati manusia pun luluh karenanya, aqidah dikorbankan, agama dilupakan, syariat hilang sedikit demi sedikit. Maka malapetaka apakah yang lebih dahsyat dibandingkan dengan malapetaka yang menimpa iman? Dialah kesyirikan. Bagaimana tidak, sedang Allah

ziarah kubur wali

telah berfirman,

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka; tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun”. (QS.Al-Maa’idah :72).

Adapun malapetaka ini, kebanyakan orang hanya mengetahuinya secara global saja. Adapun kesyirikan secara terperinci, kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Orang-orang hanya mengetahui bahwa syirik itu, ketika seseorang menduakan Allah dalam penciptaan; atau ketika seseorang menyembah patung-patung. Adapun menyembah orang sholeh, dan lainnya, dalam arti berdo’a, meminta pertolongan kepada orang sholeh atau wali-wali, memohon syafa’at, kesembuhan, jodoh, rejeki, dan lainnya kepada mereka, maka ini tidak dianggap syirik !! Ini tentunya keliru !! Syirik bukan terbatas pada penyembahan berhala. Tapi penyembahan segala sesuatu dari selain Allah, baik itu arca, nabi, malaikat, orang sholeh, pohon, kuburan, dan lainnya. Makhluk-makhluk yang disembah ini biasa kita istilahkan dengan “berhala”.

Mereka keliru dalam membatasi kesyirikan hanya khusus pada penyembahan arca-arca, karena mereka menyangka bahwa orang-orang musyrikin di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah kaum yang menyembah patung-patung saja, tanpa yang lainnya. Padahal jika membuka Kitabullah, dan kitab-kitab hadits, maka kita akan mendapat keterangan bahwa kaum musyrikin dahulu bukan hanya menyembah patung saja, bahkan ada yang menyembah kuburan, pohon, orang-orang sholeh. Silakan dengarkan penuturan seorang ulama Islam ketika menjelaskan jemis-jenis sembahan kaum musyrikin jahiliyyah:

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan-hafizhahullah- berkata saat menjelaskan sembahan-sembahan kaum musyrikin, “Kata Lata -tanpa dobel huruf t -, adalah nama berhala di Tho’if .Dia berupa batu yang dipahat, yang dibangun sebuah rumah di atasnya. Padanya ada tirai-tirai yang menyamai ka’bah. Di sekelilingnya ada halaman, dan di mempunyai pelayan (penjaga). Orang-orang jahiliyah menyembahnya sebagai sekutu selain Allah -Subhanahu wa Ta’la-. Berhala ini milik kabilah Tsaqif dan kabilah-kabilah yang ada disekitar mereka. Mereka amat membanggakan berhala.

Sebagian qira’ah membaca firman Allah, dengan dobel huruf t sebagai isim fa’il (Latta) dari kata kerja latta-yaluttu. Dia (Latta) adalahseorang lelaki yang shalih yang biasa mengadon tepung untuk memberi makan jama’ah haji. Ketika dia meninggal, orang-orang pun membangun sebuah rumah di atas kuburannya, dan menutupinya dengan tirai-tirai. Akhirnya mereka menyembahnya sebagai sekutu selain Allah -Subhanahu wa Ta’la- . Inilah Latta ! Adapun Uzza, dia adalah pohon dari Sallam yang terletak di lembah Nakhlah yang terletak antara Mekah dan Tho’if. Di sekitarnya terdapat bangunan, dan tirai-tirai. Berhala ini juga mempunyai pelayan-pelayan (penjaga-penjaga).Di pohon ini terdapat setan-setan yang berbicara kepada menusia. Orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara kepada mereka adalah pohon-pohon itu atau rumah-rumah yang mereka bangun. Padahal yang berbicara kepada mereka adalah setan-setan untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Uzza ini adalah berhala milik suku Quraisy, penduduk mekah serta suku-suku yang ada di sekitarnya. Adapun Manaat,dia adalah batu besar yang terletak tak jauh di Gunung Qudaid yang terletak antara Mekah dan Madinah. Berhala ini adalah milik suku Khuza’ah, Aus, dan Khozroj. (Jika ingin haji), mereka berihram di sisinya, dan mereka menyembahnya sebagai sekutu bagi Allah”. [Coba lihat Syarh Al-Qowa’id Al-Ar-ba’ (hal. 31)]

Inilah tiga berhala yang merupakan berhala terbesarnya Bangsa arab. Maka penyembahan kepada arca, batu, orang sholeh dan pohon adalah sesuatu yang jelas kalau itu adalah kesyirikan. Tapi, sedikit yang menyadari bahwa menyembah orang-orang shalih yang telah meninggal juga adalah kesyirikan. Dialah berhala Latta bagi orang-orang Tsaqit dan kabilah-kabilah di sekitarnya.

Pembaca yang budiman, mungkin kita bertanya, “Bagaimanakah bentuk penyembahan mereka terhadap orang-orang shalih ini sehingga dikatakan sebagai suatu kesyirikan?” Perhatikanlah ucapan Syaikh Al-Fauzan di atas! Mereka menyembahnya bukan ketika orang shalih itu masih hidup tetapi setelah meninggalnya. Mereka bangun kuburannya, buatkan sebuah rumah di atasnya, dipasangi tirai/kelambu, dijaga oleh satu atau dua orang atau bahkan lebih. Kemudian orang-orang pun mendatanginya, menyampaikan hajat, berdo’a kepadanya atau minta dido’akan. Bukan kepada penjaga kuburan tersebut tetapi kepada orang shalih yang telah meninggal itu. Inilah keadaan mereka.

Allah mengabarkan perbuatan mereka dalam firman-Nya,

“Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (QS. Az-Zumar : 3)

Kesyirikan semacam ini tidak hanya terjadi di zaman nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahkan jauh sebelumnya telah terjadi pada kaum Nuh -alaihis salam-. Allah berfirman saat mengisahkan perkataan mereka,

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”. (QS.Nuh :23 ).

Penafsir Ulung Al-Qur’an, Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka telah meninggal, setan pun datang mewahyukan kepada kaum meraka untuk mendirikan patung-patung itu dengan nama orang-orang shalih, mereka pun melakukannya, tetapi orang-orang sholih itu belum disembah. Tatkala mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-patung orang shalih itu pun disembah”. [HR. Al-Bukhariy dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an (4920)]

Demikianlah pelaku kesyirikan, saling mewarisi dari zaman ke zaman; bentuknya kadang beda, tapi hakikatnya sama. Jaman nabi Nuh, orang shalih yang didatangi adalah dalam patung-patungnya, sedangkan jaman Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang didatangi adalah kuburannya. Adapun jaman kita sekarang, maka setiap tempat berbeda. Kadang di tempat ini, yang didatangi, dan disembah adalah patung atau pohon. Tetapi di tempat yang lain adalah kuburan. Mereka meminta dan mengharap darinya.

Mereka menjadikan orang-orang shalih sebagai berhala yang disembah selain Allah dalam bentuk mendatangi patung atau kuburannya, berdo’a kepada mereka, menyampaikan hajat-hajat keseharian kepada mereka, mengharap dan takut kepadanya, bernazar dan berkurban di sisinya. Semua ini adalah kesyirikan !!

Semua ini adalah perbuatan setan yang hendak menyesatkan manusia . Padahal jika kita memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, kelak pada hari kiamat nanti, orang-orang shalih yang mereka sembah itu akan ditanya tentang penyembahan manusia kepadanya. Namun orang-orang shalih itu pun berlepas diri dari perbuatan mereka. Sebagai contoh, Nabi Isa –alaihis salam- dan ibunya yang dijadikan berhala oleh orang-orang nashrani. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah Aku dan ibuku, dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara-perkara ghaib”. (QS.Al-Maidah:116)

Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, “Ini juga merupakan perkara yang Allah bicarakan tentangnya kepada hamba dan Rasul-Nya, Isa bin Maryam -alaihis salam- seraya berfirman kepadanya pada hari kiamat di depam orang-orang yang menjadikannya, dan ibunya sebagai dua sembahan selan Allah, “Adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah Aku dan ibuku, dua orang tuhan selain Allah?”. Ini merupakan ancaman bagi orang-orang Nasrani, celaan, dan kecaman kepada mereka di depan seluruh makhluk”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/164)]

Al-Allamah Abdur Rahman bin Ali Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata dalam tafsirnya, “Lafazh ayat ini berupa pertanyaan. Sedang maknanya adalah kecaman bagi orang yang mendakwakan ketuhanan Isa”. [Lihat Zadul Masir fi Ilm At-Tafsir (2/463)]

Selain menyembah orang sholeh, sebagian manusia menyembah malaikat. Ini juga merupakan kesyirikan dan pelakunya musyrik. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya Kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka Telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS.Saba’ :40-41 ).

Allah -Ta’ala- juga berfirman,

“Dan (Tidak wajar pula bagi-Nya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”. (QS. Ali Imran: 80 ).

Diantara bentuk kesyirikan, penyembahan matahari, rembulan, dan bintang-bintang. Allah -Ta’ala- berfirman,

” Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”. (QS. An-Naml :24 ).

Allah -Ta’ala- juga berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah . (QS. Fushshilat :37 ).

Dalam ayat-ayat ini terdapat faedah bahwa kemusyrikan bukan hanya terbatas pada penyembahan arca sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang jahil, bahkan menyembah orang sholeh (baik ia malaikat, nabi atau wali) pohon, bebatuan dan lainnya, semuanya termasuk kesyirikan. Semua bentuk kesyirikan telah ada di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Olehnya, Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy An-Najdiy -rahimahullah- berkata dalam Al-Qowa’id Al-Arba’ , “Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- muncul di tengah manusia yang berbeda-beda dalam peribadatan mereka. Diantara mereka, ada yang mengibadahi malaikat, ada yang mengibadahi nab-nabi, orang sholeh, ada yang menyembah batu dan pohon; ada yang menyembah matahari dan rembulan”. [Lihat Al-Majmu’ Al-Mufid fi Naqd Al-Quburiyyah wa Nushroh At-Tauhid (hal.609)]


1 Komentar

MEWASPADAI SYIRIK

Oleh : Abu ‘Ubaidah Rustam

Manhaj (Metode –ed.) Dakwah Para Nabi

Telah dijelaskan pada edisi-edisi yang sebelumnya bahwa seyogyanya para da’i lebih memprioritaskan tauhid dalam dakwah mereka. Dan ini merupakan ciri dakwah ahlul haq di setiap zaman dan tempat. Karena mereka mengikuti pendahulu-pendahulu mereka dari kalangan para nabi dan rasul. Dan tidaklah Allah mengutus seorang rasul kepada suatu ummat di muka bumi ini kecuali dalam rangka mengajak manusia kepada tauhid (mengesakan Allah dalam seluruh bentuk peribadatan) serta memperingatkan manusia dari kesyirikan dan bahaya kesyirikan.

Allah Tabaraka wa Ta’Ala berfirman :

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.

( An-Nahl 36)

Dan Allah Ta’ala juga brfirman :

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.( Al-Anbiya’ : 25)

Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah : “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hujjah telah ditegakkan kepada seluruh ummat, dan tidak suatu ummat pun yang terdahulu dan yang   belakangan kecuali Allah telah mengutus pada ummat tersebut seorang rasul. Maka seluruhnya sama berada di- atas dakwah yang satu dan agama yang satu. Yaitu ajakan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak ada    sekutu bagi-Nya.” (lihat tafsir Al-Karimurrahman hal. 144 cet. Muassasah Ar-Risalah)

Dan beliau juga berkata : “Seluruh para rasul yang sebelummu (wahai Muhammad pent.) bersama dengan kitab-kitab mereka, inti dan pokok risalah mereka adalah perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan penjelasan bahwa Ia (Allah) adalah Sesembahan yang berhak diibadahi dan bahwa peribadatan kepada selain-Nya adalah batil. (lihat Tafsir Al-Karimurrahman hal. 52 cet. Muassasah Ar-Risalah)

Maka ini adalah manhaj para nabi dan rasul ‘alaihimussholatuwassalam, yaitu berdakwah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan   meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya. Tujuan mereka adalah untuk membersihkan dan mensucikan bumi Allah ini dari segala macam noda dan kotoran kesyirikan bukan dalam rangka menggapai kursi kekuasaan. Itu (kekuasaan -ed.) hanya merupakan buah atau hasil yang diperoleh dari dakwah yang Allah anugerahkan kepada siapa yang Ia kehendaki. Demikian juga amalan-amalan soleh datang mengikuti hal tersebut. Sebab apa faedahnya engkau memperbaiki ummat dengan mengajak mereka untuk melakukan amalan-amalan soleh, mengajak mereka untuk shalat, berpuasa, infak, dan setumpuk amalan-amalan lainnya namun engkau membiarkan mereka bergelimang dalam kesyirikan, dan terkungkung dalam jerat-jerat kesyirikan dengan berbagai macam corak dan bentuknya yang berupa ketergantungan hati kepada selain Allah dari kalangan para wali (menurut anggapan mereka), bebatuan, pepohonan yang dikeramatkan, penghuni-penghuni lembah atau tempat tertentu dari kalangan jin dan meminta perlindungan kepada mereka, serta setumpuk bentuk kesyirikan yang lainya.

Maka ketahuilah wahai saudaraku yang mengaku sebagai da’i yang ingin memperbaiki ummat ! Apabila engkau tidak meniti jejak para nabi dan rasul dalam   dakwah mereka, maka engkau di saat itu bagaikan mengobati suatu tubuh yang kepalanya telah terlepas darinya. Karena posisi tauhid di sisi agama ini bagaikan posisi kepala pada tubuh. Dan amalan-amalan kebaikan yang tidak dibangun di atas pondasi tauhid adalah sia-sia, sebab ia (tauhid –ed.) merupakan syarat diterimanya ibadah disisi  Allah Ta’ala. Demikian juga harus mengikuti tuntunan  Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam

Bahaya- Bahaya Kesyirikan

Berikut ini adalah di antara bahaya-bahaya kesyirikan :

1. Kesyirikan merupakan kezhaliman yang sangat besar.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya kesyirikan benar-benar merupakan kezholiman yang sangat besar.” (Luqman : 13)

2. Kesyirikan bisa menggugurkan amalan seorang hamba. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Apabila engkau melakukan kesyirikan, maka benar-benar dan pasti amalanmu akan terhapus, dan engkau benar-benar akan menjadi orang-orang yang rugi.”(Az-Zumar:65)

3. Kesyirikan adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala apabila seseorang mati di atasnya dan belum bertaubat darinya.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (mempersekutukan-Nya) dan Ia mengampuni yang lainnya kepada siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa : 48)

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir   As-Sa’di rahimahullah mengatakan : “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia   tidak mengampuni bagi orang yang mempersukutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, dan Ia mengampuni dosa-dosa selain kesyirikan  apabila hikmah dan ampunan-Nya menghendaki hal tersebut. Maka dosa-dosa selain syirik, Allah    telah menjadikan sebab-sebab terampuninya, seperti kebaika-kebaikan, musibah-musibah yang menghapuskan dosa-dosa di- dunia, alam barzakh (kubur), dan di hari kiamat. Dan seperti doanya sebagian orang-orang yang beriman atas sebagian yang lain dan syafaat orang-orang yang memberikan syafaat, dan yang lebih dari itu semua adalah rahmat Allah Ta’ala di mana orang-orang yang beriman dan   bertauhid berhak mendapatkannya. Dan ini berbeda dengan kesyirikan. Maka orang yang melakukan kesyirikan telah menghalangi pintu-pintu ampunan dan rahmat atas dirinya dan ketaatan tidak memberikan manfaat kepada dirinya tanpa adanya tauhid dan musibah tidak berfaedah bagi dirinya sedikit pun. (lihat Tafsi Al-Karimurrahman hal. 181 cet. Muassasah Ar-Risalah)

4. Kesyirikan menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka, diharamkan baginya Al-Jannah, dan tidak ada penolong yang bisa menyelamatkannya dari siksaan Allah atau meringankan sedikit saja dari siksaan-Nya.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”(Maidah :72)

5. Kesyirikan adalah penyebab bencana dan mala petaka yang melanda ummat.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak”.(Maryam : 90-91)

Maka tidaklah ummat-ummat terdahulu dihancurkan oleh Allah Tabaraka Wa Ta’ala kecuali penyebab terbesar darinya adalah pembangkangan terhadap utusan-utusan Allah ketika mereka diajak untuk mengesakan Allah serta meninggalkan sesembahan mereka dari selain-Nya. Maka ambillah pelajaran wahai orang orang yang berakal !!

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Dan berapakah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami adzab mereka dengan adzab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka adalah kerugian yang besar.”( Ath-Tholaq :8-9)

Berkata Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah : ”Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia membinasakan umat-umat yang membangkang dan generasi yang mendustakan (terhadap para Rasul pent.). Banyaknya jumlah dan kekuatan mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada mereka sedikit pun ketika datang kepada mereka hisab yang keras dan siksaan yang mengerikan. Dan bahwa Allah merasakan kepada meraka sebagian adzab akibat dari amalan-amalan mereka yang jelek. Meskipun telah ada siksaan dunia, Allah menjanjikan siksaan yang keras di akhirat. (lihat Tafsir Karimirrahman , hal : 872)

Dan perhatikan pula bagaimana Allah Ta’ala menghancurkan Fir’aun dan bala tentaranya yang memiliki jumlah dan kekuatan yang sangat besar, namun kekuatan dan jumlah yang mereka miliki tidak dapat membendung datangnya siksaan Allah Ta’ala kepada mereka. Yaitu ketika Allah mengutus kedua utusan-Nya Musa dan saudaranya Harun ’alaihimassalam kepada Fir’aun dengan penuh kelembutan dan hikmah meraka untuk mengajaknya kembali kepada Allah. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. ( Thaha :43-44)

Akan tetapi Fir’aun tidak menerima dakwah keduanya yang penuh dengan kelembutan dan hikmah tersebut sehingga Nabi Musa membuktikan kebenaran kenabian dan kerasulannya berupa mu’jizat-mu’jizat yang besar dari Allah Tabaraka Wa Ta’ala, akan tetapi ia malah  melampaui batas dan mendustakan serta mengatakan dengan  keangkuhan dan kesombongannya bahwa dialah rabb yang tertinggi. Maka di saat itulah Allah membinasakannya beserta bala tentaranya disebabkan karena kezhalimannya. Dan Allah tidaklah zhalim terhadap hamba-hamba-Nya.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman : ”

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi. Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia. “.( An-Nazi’at : 21-25)

Demikian pula Allah telah membinasakan ummat-ummat yang lain dari ummat-ummat yang terdahulu, tidak lain penyebabnya adalah pembangkangan terhadap para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Sehingga kalau ummat-ummat terdahulu dihancurkan dan dibinasakan oleh Allah dengan sebab-sebab tersebut, maka demikian pula di zaman sekarang kalau Allah menghancurkan suatu kaum maka penyebabnya sama yaitu apa yang membuat umat terdahulu dibinasakan. Kehancuran yang terjadi berupa bencana dan malapetaka yang melanda di berbagai belahan negeri, termasuk negeri kita yang akhir-akhir ini rawan dengan bencana dan mala petaka. Hal itu disebabkan karena jauhnya penduduk negeri ini dari ajaran tauhid dan tersebarnya kesyirikan serta banyaknya penentang tauhid. Maka berhati-hatilah dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’Ala.6. Kesyirikan merupakan penyebab kelemahan, rasa takut dalam dada-dada manusia, masyarakat, bangsa, dan negara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al- Jin : 6)

Demikian di antara bahaya-bahaya kesyirikan yang dapat kami sampaikan pada edisi ini, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dibebaskan darinya dan mengumpulkan kita semua dalam surga-Nya, Amin.

Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Maroji’ (Daftar Pustaka)

1. Manhajul Ambiya’ fi Dakwati Ilallah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi

2. Syarah Masailul Jahiliyyah, Al-Allamah Asy-Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan

3. Syarah Kasyfusysyubuhat, Syaikh Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin.

http://www.alistiqomah.web.id/berkas-buletin-al-istiqomah/11-jumadil-akhir1430h/18-edisi8-mewaspadai-syirik.html?tmpl=component&print=1&page=