Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang


2 Komentar

Takbir Iedul Fitri

a] Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” dan Al-Muhamili dalam “Kitab Shalatul ‘Iedain” dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab “Silsilah Al Hadits As-Shahihah” (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Ied]

b] Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat “Irwaul Ghalil’ 650]

Dari hadits tersebut maka dapat kita ketahui bahwasannya :
– Waktunya adalah mulai pagi hari Ied hingga tiba di tanah lapang sampai imam datang.
– Caranya adalah di jahr-kan [dikeraskan] dijalanan menuju tanah lapang.

Adapun lafadznya antara lain adalah sbb yang diambil dari sahabat radhiallahu’anhum:
1. Seperti Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadz :
Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
“Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

2. Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadz.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
“Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita”. [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

3. Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata :
“Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira”. [Abdurrazzaq[3] -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam “As Sunanul Kubra” (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih]

[Untuk lebih lengkapnya silakan antum rujuk kitab Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid al-Halabi Al-Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura’]

Wallahua’lam

Iklan


Tinggalkan komentar

Beberapa Tuntunan Seputar Sholat Iedul Fitri

From: http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/09/16/beberapa-tuntunan-seputar-sholat-iedul-fitri/

Berikut ini sebagian tuntunan ibadah sholat ied yang bisa kami kumpulkan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Apabila masih ada kesempatan insyaAllah kami akan melengkapinya dengan keterangan-keterangan lainnya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya.

[1] Perempuan haid pun diperintahkan untuk menyaksikannya
Dari Ummu Athiyah radhiyallahu’anha, beliau menuturkan,

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

“Beliau -maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan pada dua hari raya para gadis yang baru menginjak dewasa dan perempuan-perempuan yang sedang dalam pingitan. Hanya saja beliau memerintahkan agar perempuan yang sedang haid untuk berada di tempat yang terpisah dari tempat sholat kaum muslimin.” (HR. Muslim)

[2] Tidak boleh mengenakan busana yang memamerkan aurat
Dari Ummu Athiyah radhiyallahu’anha, beliau menuturkan,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada hari raya Iedul Fithri dan Iedul Ad-ha untuk mengeluarkan para gadis yang baru menginjak dewasa, perempuan-perempuan haid, dan para perempuan yang sedang dalam pingitan. Adapun perempuan yang sedang haid mereka tidak ikut mengerjakan sholat namun tetap ikut menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Maka aku -Ummu Athiyah- berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak punya jilbab, bagaimana?’. Beliau menjawab, ‘Salah seorang saudarinya hendaknya meminjamkan jilbabnya untuk dikenakan olehnya’.” (HR. Muslim)

[3] Sarapan sebelum berangkat sholat
Dari Anas radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan,

كَانَ رَسُولُ الله صَلى اللهُ عَلَيْه وَ سَلم لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفطْر حَتى يَأْكُلَ تَمَرَات

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak berangkat -menuju tanah lapang- pada hari raya Iedul Fithri sampai beliau menyantap beberapa butir kurma.” (HR. Bukhari)

[4] Berangkat ke tanah lapang dengan berjalan kaki
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

منَ السنة أَنْ تَخْرُجَ إلى الْعيد مَاشيا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ

“Termasuk perkara yang disunnahkan yaitu hendaknya kamu berangkat menuju Ied dengan berjalan kaki dan seyogyanya kamu makan sesuatu (sarapan) sebelum berangkat -ke tanah lapang, pent-.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

[5] Tanpa didahului adzan dan iqomat
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

“Aku ikut serta melakukan sholat pada hari raya Ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan sholat sebelum berkhutbah tanpa adzan dan tanpa iqomat.” (HR. Muslim)

[6] Tidak perlu mengumandangkan seruan ‘as-Sholatu jami’ah’
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan,

لاَ أَذَانَ لِلصَّلاَةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الإِمَامُ وَلاَ بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلاَ إِقَامَةَ وَلاَ نِدَاءَ وَلاَ شَىْءَ لاَ نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلاَ إِقَامَةَ

“Tidak ada adzan untuk sholat pada hari raya Iedul Fithri di saat imam keluar -ke tempat sholat- dan tidak pula di saat sesudah dia keluar. Tidak ada iqomat, tidak ada panggilan, dan sama sekali tidak ada seruan apa-apa. Di hari itu tidak ada panggilan/adzan dan tidak pula ada iqomat.” (HR. Muslim)

[7] Sholat Ied sebelum khutbah
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan:

شَهِدْتُ صَلاَةَ الْفِطْرِ مَعَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكُلُّهُمْ يُصَلِّيهَا قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ يَخْطُبُ

“Aku ikut menyaksikan sholat Iedul Fitri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Mereka semua melaksanakan sholat Ied sebelum khutbah, kemudian setelah itu baru berceramah.” (HR. Muslim)

[8] Takbir 7x di raka’at pertama -selain takbiratul ihram- dan 5x di raka’at kedua
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau menuturkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُكَبِّرُ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِى الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bertakbir dalam sholat Iedul Fithri dan Iedul Ad-ha pada raka’at pertama tujuh kali takbir sedangkan pada raka’at kedua lima kali.” (HR. Abu Dawud, dinilai sahih oleh al-Albani)

[9] Tidak ada sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar -ke tanah lapang- pada hari raya Iedul Ad-ha atau Iedul Fithri kemudian beliau mengerjakan sholat Ied sebanyak dua raka’at tanpa didahului sholat sebelumnya maupun sesudahnya.” (HR. Muslim)

[10] Tidak perlu repot-repot menggunakan mimbar
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan,

فَأَولُ شَيْيء يُبْدَأُ به الصلاةُ ثُم يَنْصَرفُ فَيَقُوْمُ مُقَابلَ الناس وَالناسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفهمْ فَيَعظُهُمْ وَيُوْصيهمْ وَيَأْمُرُهُمْ

“Yang pertama kali dilakukan oleh belliau -Nabi- (setelah sampai di tempat sholat, pent) adalah mengerjakan sholat Ied. Kemudian beliau berpaling ke belakang dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang masih dalam posisi duduk di shaf mereka masing-masing. Kemudian beliau memberikan nasehat untuk mereka, menyampaikan pesan dan perintah kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[11] Khutbah yang berisi nasehat dan peringatan
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan:

ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ

“…Kemudian beliau berdiri (untuk berkhutbah, pent) sembari berpegangan pada tangan Bilal. Lantas beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, mendorong -umat- agar taat kepada-Nya, memberikan nasehat kepada orang-orang serta peringatan bagi mereka.” (HR. Muslim)

[12] Menempuh jalan pulang yang berbeda
Dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan,

كَانَ النبي صَلى اللهُ عَلَيْه وَ سَلمَ إذَا كَانَ يَوْمَ عيْد خَالَفَ الطريْقَ

“Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari raya Ied adalah menempuh jalan yang berbeda -antara berangkat dan pulangnya, pent-.” (HR. Bukhari)