Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

Maulid Nabi

11 Komentar

Bolehkah Memperingati Maulid Nabi?

Penulis: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Sungguh banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh kebanyakan kaum muslimim tentang hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wa sallam dan hukum mengadakannya setiap kelahiran beliau.

cinta rasul

Adapun jawabannya adalah : TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.

Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :

“Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).

Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain :

“(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).

Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Allah telah berfirman :

“Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).

Allah juga berfirman :

“Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa

cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63)

Allah juga berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

Allah juga berfirman :

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3).

Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.

Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah.

Mereka beranggapan bahwa dengan maulid tersebut dapat mendekatkan umat islam kepada Allah. Padahal, maulid ini tanpa diragukan lagi mengandung bahaya yang besar dan menentang Allah dan Rasul-Nya karena Allah telah menyempurnakan agama Islam untuk hamba-Nya dan Rasulullah telah menyempurnakan seluruh risalah sampai tak tertinggal satupun jalan yang dapat menghubungkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah menyampaikan kepada umat ini.

Sebagaimana dalam hadits shahih disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib atas nabi itu menunjukkan kebaikan dan memperingatkan umatnya dari kejahatan yang Allah ajarkan atasnya. “(HR. Muslim).

Dan sudah diketahui bahwa Nabi kita adalah Nabi yang paling utama dan penutup para Nabi. Beliau adalah Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan nasehat. Andai kata perayaan maulid termasuk dari agama yang diridhai oleh Allah, maka pasti Rasulullah akan menerangkan hal tersebut kepada umatnya atau para sahabat melakukannya setelah wafatnya beliau.

Namun, karena tidak terjadi sedikitpun dari maulid saat itu, dapatlah di ketahui bahwa Maulid bukan berasal dari Islam, bahkan termasuk dalam bid’ah yang telah Rasulullah peringatkan darinya kepada umat beliau. Sebagaimana dua hadits yang telah lalu. Dan ada juga hadits yang semakna dengan keduanya, diantaranya sabda beliau dalam khutbah Jum’at : “Amma ba’du, maka sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan sungguh kebanyakan para ulama telah menjelaskan kemungkaran maulid dan memperingatkan umat darinya dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang tersebut di atas dan dalil-dalil lainnya.

Namun sebagian mutaakhirin (orang-orang yang datang belakangan ini) memperbolehkan maulid bila tidak mengandung sedikitpun dari beberapa kemungkaran seperti : Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah, bercampurnya wanita dan laki-laki, menggunakan alat-alat musik dan lain-lainnya, mereka menganggap bahwa Maulid adalah termasuk BID’AH HASANAH, sedangkan kaidah Syara’ (kaidah-kaidah / peraturan syari’at ini) mengharuskan mengembalikan perselisihan tersebut kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).

Allah juga berfirman :

“Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih, maka putusannya (harus) kepada (kitab) Allah, “(QS. Asy Syuraa : 10).


Dan sungguh kami telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada kitab Allah. Kami mendapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah terhadap apa yang beliau bawa dan Allah memperingatkan kita dari apa yang dilarang. Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia – Subhanahu wa Ta’ala – telah menyempurnakan Agama Islam untuk umat ini. Sedangkan, perayaan maulid ini bukan termasuk dari apa yang dibawa Rasulullah dan juga bukan dari agama yang telah Allah sempurnakan untuk kita.

Kami juga mengembalikan masalah ini kepada sunnah Rasulullah. Dan kami tidak menemukan di dalamnya bahwa beliau telah melakukan maulid. Beliau juga tidak memerintahkannya dan para sahabat pun tidak melakukannya. Dari situ kita ketahui bahwa maulid bukan dari agama Islam. Bahkan Maulid termasuk bid’ah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang yahudi dan nasrani dalam perayaan-perayaan mereka. Dari situ jelaslah bagi setiap orang yang mencintai kebenaran dan adil dalam kebenaran, bahwa perayaan maulid bukan dari agama Islam bahkan termasuk bid’ah yang diada-adakan yang mana Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan agar meninggalkan serta berhati-hati darinya.

Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan Maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani :

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah : “Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).

Allah juga berfirman :

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. “(QS. Al An’aam : 116 ).

Wallahu a’lamu bis-shawab.

Maraji’ :
Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ilyas Agus Su’aidi As-Sadawy dari kitab At-Tahdzir minal Bida’, hal 7-15 dan 58-59, karya Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dalam beberapa rujukan berikut :

  1. Mukhtashar Iqtidha’ Ash Shirat Al Mustaqim (hal. 48-49) karya ibnu Taimiyah.
  2. Majmu’u Fataawa (hal. 87-89) karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

Sumber :
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 15 / Rabi’ul Awal / 1425 HUKUM MEMPERINGATI Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

11 thoughts on “Maulid Nabi

  1. kenapa bisa masuk ke lingkup masalah khilaf nih, bagaimana solusinya biar nggak ngumpat2 lg..,

    • g usah diladenin,,artikelnya z cuma ngopy…gw mau tanya nih,,ada g dalil yg secara jelas melarang maulid???dalam teori usul fiqih kn hukum segala sesuatu pada asalnya adalah boleh,,sampai ada nash yang mengharomkannya(lihat tashilut thuroqot krg imam imrithi)..ada g dalil yg melarang maulid secara gamblang g2,,misalanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melarang membaca sejarah hidupnya,,melarang menyebut nama beliau untuk memohon kepada Allah ta’ala,,melarang qta bersama2 kaum muslimin lainnya mendengar sejarah hidup beliau..ada g???dalil2 di atas kan g da yg secara jelas mengharomkan maulid,,cm interpretasi dari penulisnya z…

  2. ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”
    Hadits ini sangat agung kedudukannya karena merupakan dasar penolakan terhadap seluruh bentuk bidáh yang menyelisihi syariát, baik bidáh dalam aqidah, ibadah, maupun muámalah.
    Bidáh
    Bidáh memiliki 2 tinjauan secara lughah dan secara syarí. Bidáh secara lughah berarti segala sesuatu yang tidak ada contoh atau tidak ada yang mendahuluinya pada masanya. Adapun bidáh secara syarí adalah seperti yang didefinisikan oleh para ulama, yaitu yang memenuhi 3 kriteria sebagai berikut:
    1. Dilakukan secara terus menerus.
    2. Baru, dalam arti tidak ada contohnya.
    3. Menyerupai syariát baik dari sisi sifatnya atau atsarnya. Dari sisi sifat maksudnya seperti sifat-sifat syariát yaitu sudah tertentu waktu, tempat, jenis, jumlah, dan tata caranya. Dari sisi atsarnya maksudnya diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala. Bidáh termasuk jenis Dosa Besar, karena merupakan amal kemaksiatan namun mengharapkan pahala.

    Mashalihul Mursalah
    Kalau seseorang tidak benar-benar memahami hakikat bidáh maka dia bisa rancu dengan sesuatu yang disebut Mashalihul Mursalah. Sepintas, antara bidáh dan Mashalihul Mursalah ada kemiripan, namun hakikatnya berbeda. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut :
    1. Mashalihul Mursalah terjadi pada perkara duniawi atau pada sarana (wasilah) demi penjagaan lima maqosid syariát yaitu agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sementara bidáh terjadi pada ibadah atau ghayah.
    2. Mashalihul Mursalah tidak ada tuntutan untuk dikerjakan pada masa Nabi shallallaahu álaihi wa sallam, adapun bidáh tuntutan untuk dikerjakannya sudah ada pada masa Nabi shallallaahu álaihi wa sallam.

    5. Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari)

    6. Tiga perkara yang aku takuti akan menimpa umatku setelah aku tiada: kesesatan sesudah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan syahwat perut serta seks. (Ar-Ridha)

    7. Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan, “Ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan umatmu itu?” Beliau menjawab, “Mengada-adakan amalan bid’ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya.” (HR. Daruquthin dari Anas).

    Hadits ini mengandung makna bahwa Dienullah adalah dien yang sempurna, tidak menerima penambahan ataupun pengurangan. Dan inilah yang dapat disimpulkan dari firman-Nya (artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (Q.s.,al-Mâ`idah:3). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk mengamalkan wahyu yang berasal dari Allah melalui Rasul-Nya, tanpa menambah atau menguranginya.

    Barangsiapa yang menambahkan sesuatu ke dalam Dienullah padahal bukan berasal darinya, maka ia tidak diterima di sisi Allah dan tertolak atas pelakunya. Barangsiapa, misalnya, yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan melakukan shalat yang tidak disyari’atkan-Nya, maka ia tidak akan diterima, pelakunya berdosa dan dijuluki sebagai Mubtadi’ (pelaku bid’ah).

    Seorang Muslim wajib menyuriteladani Rasulullah di dalam semua perbuatan, prilaku dan tindakannya.

    Hukum asal di dalam semua praktik ibadah itu adalah bersifat Tawqîfiyyah. Artinya, bahwa pentasyri’an (penggodokan syari’at) hanya sebatas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam, disertai penyerahan diri atas hal itu dan meyakini amalan ini sebagai pembawa kebaikan yang mutlak, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.s.,an-Nisâ`:65)

    Suatu ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat:
    Pertama, Menjadikannya ikhlash semata-mata karena Allah Ta’ala.
    Kedua, Hendaknya ia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dalam kajian ini.

    Siapa saja yang telah keluar dari manhaj Ittibâ’ (mengikuti) Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam maka berarti dia telah masuk ke dalam manhaj Ibtidâ’ (berbuat bid’ah) dan Ihdâts (mengada-ada) di dalam agama. Padahal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam telah bersabda (artinya), “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah)

    Diantara implikasi dari perbuatan Bid’ah adalah:

    Menuduh Rasullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam telah menyembunyikan sesuatu terhadap umat manusia dengan tidak menyampaikannya kepada mereka.

    Siapa saja yang berjalan di atas rel manhaj Ibtidâ’ , berarti dia telah menganggap baik manhaj ini dan telah menjadi orang yang menambahi sesuatu yang tidak diizinkan Allah di dalam dien-Nya.

    Pelaku bid’ah selalu berupaya keras di dalam mengamalkan kebid’ahannya dan hal ini semua akan hilang percuma bahkan akan menjadi dosa yang akan dipikulnya kelak.
    (SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât al-‘Ulûm asy-Syar’iyyah
    -al-Hadîts- Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Prof.Dr.Fâlih bin Muhammad ash-Shaghîr, et.ali., h.56-58)

  3. Yaa ayyuhar rajuuna minhu syafaah….Shollu alaihi wasallimu taslima…Ya Rabbi Sholli ‘ala Muhammad… Alhamdulillah,,walau saya bodoh tapi mengikuti guru2 yang mempunyai sanad keilmuan bersambung sampai ke Rasulullah SAW

  4. Apakah dharury dary maulid itu?Memang itu bukan maslahat ,sama skali adalah bid’ah.
    Maka banyak2 salawat saja udah cukup.Dalil2 qath’y tdk perintah apapun utk maulid.

  5. Allohumma sholli wasallim ‘ala sayyidinaa muhammad,,,,,,,Para Habaib dan Ulama’ yg sanad dan silsilahnya smbung dg Nabi aj mmbolehkan n jg terbiasa mmbca mawlid Nabi Muhammad. So, gk usah mncela sana-sini, ibda’binafsik n instrospeksi dlu klu mo nulis artikel,,,,,

  6. Tidak sanggup aku menghakimi Engkau, Karena hakikatnya Engkau itu adalah aku, dan aku adalah engkau, dan kita adalah kenyataan Wujudnya yang Haq……..

  7. tolong carikan ayat qurán maupun hadits nabi yang jelas2 melarang peringatan mauli Nabi?
    saya pikir gak ada hadits yg berbunyi: Dilarang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw.
    paling yg ada mengait-ngaitkan hadist yg berbunyi: “kullu bidátin dolalah” dengan modal hadits ini mereka mengharamkan peringatan maulid Nabi.
    Padahal dalam acara peringatan maulid nabi para jamaah membaca dan menguraikan serta mengingat kembali kelahiran Nabi yg suci dan menjabarkan perjuangan dan akhlak beliau dengan harapan membangkitkan kecintaan kita kepada beliau. apakah usaha untuk meningkatkan kecintaan umat kepada Rasulullah saw termasuk perbuatan sesat? jelas hal ini sangat kontradiksi dengan anjuran Rasul yg mengharuskan mencintai beliau Rasulullah saw. melebihi cintanya kepada diri sendiri maupun keluarganya.

  8. Yang dimaksud ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). adalah amalan yang esensinya tidak pernah Rasulullah ajarkan maupun contohkan.
    contohnya:
    Sholat tidak menghadap kiblat,
    Puasa romadhon makan sahurnya setelah matahari terbit, atau buka puasa sebelum matahari terbenam,
    Melaksanakan sholat subuh sebanyak 3 rokaat.
    Melaksanakan ibadah Haji di masji al aqsho
    Menikahi adik kandungnya sendiri
    Berwudlu dengan membasuh kaki terlebih dahulu
    ini yg dimaksud dari amalan yg tertolak bung…!

  9. Kenapa ada orang yang antipati dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw?

    Kaum yang pertama kali taruma dengan adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah kaum SALIBI. Mereka sangat takut jika ada perayaan maulid dilaksanakan. Kenapa? karena sejarah telah membuktikan kalau perayaan maulid dapat membangkitkan semangat juang umat Islam dan mempertebal kecintaan umat kepada Nabi. Seperti yg telah dilaksanakan oleh Sultan Sholahuddin Al Ayyubi saat beliau menghadapi serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.Setelah Peringatan Maulid dilaksanakan Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) kekuatan kaum salibi yg begitu dasyat dapat dihancurkan. Yerusalem dapat direbut kembali oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali yg sebelumnya Pada tahun 1099 M tentara salib berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja.

    Wahai Umat Islam, jangan tergelincir oleh pemikiran kaum salibi dan kaum yahudi yg dengan kelihaian pikiriannya ingin membekukan peringatan maulid sebagai perbuatan bidáh yang sesat. Padahal mereka takut terhadap kekuatan yang timbul dari adanya peringatan maulid.
    lihat sejarah awal maulid: http://my.opera.com/74ya/blog/awal-perayaan-maulid

  10. Bisa tidak menggunkan selain dalil dr karya ibnu Taimiya, Muhammad bin Sholih Al Utsaimin., binbaz msih banyk engkau mengetahui terdpay Ulama dluar sna yg masih anda telaah dan dipahami,jngn cuma dri karya ulama tertentu perkya wawsan dri Ulama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s