Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

BARZANJI, KITAB INDUK PERINGATAN MAUID NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

2 Komentar

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin
http://www.almanhaj.or.id/content/2583/slash/0

SEPUTAR KITAB BARZANJI
Secara umum peringatan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selalu
disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji
maupun Daiba, ada kalanya ditambah dengan senandung qasidah Burdah.
Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada
yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba, Barzanji dan Qasidah Burdah
dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam yang diawali dengan membaca Daiba, lalu Barzanji, kemudian
ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab
induk peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca
al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih
hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus
pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena
populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba lebih parah daripada
kitab Barzanji. Berikut uraiannya :

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga :
1). Cerita tentang perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan satra bahasa tinggi yang terkadang tercemar dengan
riwayat-riwayat lemah.
2). Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan
muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).
3). Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi telah
bercampur aduk dengan shalawat bid’ah dan shalawat-shalawat yang tidak
berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI
Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah
khathib di Masjidilharam dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah.
Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah
Kisah Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu
Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam doanya
“Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi
bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man.[2]

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI
Kesalahan kitab Barzanji tidaklah separah kesalahan yang ada pada kitab
Daiba` dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika
kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur’an. Bahkan,
dianggap lebih mulia dari pada Al Qur’an. Padahal, tidak ada nash
syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji,
Daiba` atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Qur’an yang jelas
pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering
membaca Barzanji daripada membaca al-Qur’an apalagi pada saat perayaan
maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia akan
mendapatkan satu kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan
menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan
tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf.[3]

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI
Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain:

Kesalahan Pertama
Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua
orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul Iman
dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia
mengungkapkan dengan sumpah.

Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli
iman dan telah datang dalil dari hadits sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat in,i maka ucapkanlah salam karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesungguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur’an).[4]

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadits dari Anas
Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di manakah ayahku
(setelah mati)? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dia
berada di Neraka. Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa
sallam memanggilnya dan bersabda: Sesungguhnya bapakku dan bapakmu
berada di Neraka[5]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Makna hadits ini adalah bahwa
barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka
dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang
mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah
berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian
dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi
Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.[6]

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan keduanya beriman serta
selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah
sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat
akan kedhaifannya seperti Daruquthni al-Jauzaqani, Ibnu Syahin,
al-Khathib, Ibnu Ashakir, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili,
al-Qurthubi, at-Thabari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas.[7]

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari yang berpendapat bahwa kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beriman, harus dibuktikan
kebenarannya. Memang benar, Imam as-Suyuthi rahimahullah berpendapat
bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman dan
selamat dari neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para
ulama peneliti hadits.[8]

Kesalahan Kedua
Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka menyakini
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir pada saat membaca
shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu
sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) membaca:

Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang.

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang
hadir secara fisik?. Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan,
apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang
pembela perayaan maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang
menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir
hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada di alam
Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga,
sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini
yang hadir adalah ruhnya.

Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu
Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.

Para pembela Barzanji seperti penulis Fikih Tradisionalis berkilah,
bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara
mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk
menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak
jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap
kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17
Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih
dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara
diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati
bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam
upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak dilakukan, sebagai
ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain?[9]

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin
menghormati Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam disamakan dengan hormat
bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup
atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara
seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin
kembali dan hadir ke dunia lagi. Disamping itu, kehadiran Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dunia merupakan keyakinan batil karena
termasuk perkara ghaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan
wahyu Allah Azza wa Jalla, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan,
pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan
Nabi?terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya,
menjauhi larangannya, dan mencintainya.

Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan
bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian juga dengan acara perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam ?adalah para sahabat Radhiyallahu ‘anhum -semoga
Allah meridhai mereka- sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada
kaum Quraisy: Wahai kaumku.demi Allah, aku pernah menjadi utusan
kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada kaisar, aku pernah
menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah
melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana
pengikut Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara
mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit
mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera
melaksanakannya. Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu,
mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata,
mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung
kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka[10]

Bentuk pengagungan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan
acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya
perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan
meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,Berdirilah kalian untuk tuan atau orang
yang paling baik di antara kalian [11], maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa pada hadits di
atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan
orang yang mempunyai keutamaan[12]. Namun, tidak dilakukan kepada orang
yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan
perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar
Radhiyallahu ‘anhum agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Muadz
Radhiyallahu ‘anhu turun dari keledainya, karena dia sedang luka parah,
bukan untuk menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya
secara berlebihan[13].

Kesalahan Ketiga
Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat
untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.

Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan.
Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi
Allah Azza wa Jalla dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sikap yang sangat dibenci
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan
syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk
dan manhaj dakwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan
menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu tauhîd. Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut, sehingga
ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang membawa beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kematian, beliau bersabda:
“Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum
Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. Aku hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya.[14]

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa Alaihissalam
sebagai sekutu bagi Allah Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka.
Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Azza
wa Jalla, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan
peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai
tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya Shallallahu
‘alaihi wa sallam : Janganlah kamu jadikan kuburanku tempat berkumpul,
bacalah salawat atasku, sesunggguhnya salawatmu sampai kepadaku
dimanapun kamu berada.[15]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada
umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan
beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam. Bahkan, ketika ada orang yang
berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka berkata: Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engkau orang
terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami,
maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan
syaitan menggelincirkanmu.[16]

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampui batas terhadap Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sumpah adalah bentuk pengagungan
yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah
hendaklah bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, jikalau tidak bisa
hendaklah ia diam.[17]

Cukuplah dengan hadits tentang larangan bersikap berlebihan dalam
mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalil yang
tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang
ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan
hadits tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Kesalahan Keempat
Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang
mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggab bahwa membaca shalawat kepada
nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ibadah yang
sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [al-Ahzab/ 33:56]

Ayat ini yang mereka jadikan sebagai dalil untuk membaca kitab tersebut
pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar
mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat
tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bersalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan
salawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan terhalang dari
melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan
akhirat, yaitu:

1). Terkena doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sungguh celaka bagi seseorang yang
disebutkan namaku di sisinya, namun ia tidak bersalawat atasku.[18]

2). Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang bakhîl adalah
orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bersalawat
atasku[19].

). Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Azza wa
Jalla, karena meninggalkan membaca salawat dan salam atas Nabi n dan
keluarganya. Nabi n bersabda: “Barangsiapa membaca salawat atasku
sekali, maka Allah Azza wa Jalla bersalawat atasnya sepuluh kali.[20]
4). Tidak mendapatkan keutamaan salawat dari Allah Azza wa Jalla dan para Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu
dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman” [Al-Ahzab/ 33:43]

Bahkan, membaca shalawat menjadi sebab lembutnya hati, karena membaca
shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi
tenteram dan damai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah Azza wa Jalla. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’du/ 13:28). Tetapi dengan
syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Azza wa
Jalla semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khufarat
serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sehingga bukan mendapat ketenteraman di dunia dan pahala di
akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah
Azza wa Jalla. Siksaan tersebut bukan karena membaca shalawat, namun
karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada
malam peringatan maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, yang
jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap Syariat.

Kesalahan Kelima
Penulis kitab Barzanji juga menyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya:

Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni.

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj
yang berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki cahaya yang
kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua
cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi
sebelum Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimba ilmu dari cahaya
tersebut.

Demikian juga perkataan Ibnul Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi
Adam Alaihissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya
kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu penutup para
Nabi.[2]

Perlu kita diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya.
Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya
terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka
juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan
kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan
mereka seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa Alaihissalam ,
seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip trinitas
mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa tuhan mereka adalah kepunyaan
Allah Azza wa Jalla dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun mereka menyembah
tuhan-tuhan mereka dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka itu mampu
memberi syafaat dan menolong mereka.

Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalahan kitab Barzanji, semoga bermanfaat.[23]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_________
Footnote
[1]. Al-Munjid fil A’lam, 125
[2]. Majma’tul Mawalid, hal. 132.
[3]. HR.Tirmidzi dan dishahîhkan al Albâni di dalam shâhihul jam’i hadits yang ke 6468
[4]. Lihat Majma’atul Mawalid Barzanji, hal. 101.
[5]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (348) dan Abu Daud dalam Sunannya (4718).
[6]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 3/ 74.
[7]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[8]. Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[9]. Lihat Fikih Tradisionalisme, Muhyiddin Abdusshomad (277-278)
[10]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari : 3/187, no : 2731, 2732, al-Fath 5/388.
[11]. Shahih diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahihnya (3043) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1768)
[12]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313.
[13]. Lihat Ikmalil Mua’lim Bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh, 6/ 105.
[14]. Shahaih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (3445)
[15]. Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih
(2042) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Ghayatul Mar’am : 125
[16]. Shahih, dishahihkan Oleh Albani dalam Ghayatul Mar’am 127, lihatlah takhrij beliau di dalamnya.
[17]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya (2679) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1646)
[18]. Shahih, diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (3545), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 2/254, dan dishahihkan oleh Albani dalam irwa’ : 6
[19]. Shahih diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunannya (3546), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 1/201 dan dishahihkan Albani dalam irwa’ : 5
[20]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (284).
[21]. Majma’atul Mawalid(101).
[22]. Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullsh oleh Abdur Rauf Utsman (169-192).
[23]. Insya Allah, untuk lebih jelasnya akan penulis sampaikan dalam
buku Ritual Tradisional. Semoga Allah memudahkan penulisan buku ini
yang memuat 40 bid’ah populer di kalangan kaum tradisional di Indonesia
yang meliputi, Shalawatan, Barzanjian, Daibaan, Yasinan, Tahlilan,
Ratiban, Manaqiban, Rajaban, Sya’banan, Selamatan dan bid’ah-bid’ah
lain.

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

2 thoughts on “BARZANJI, KITAB INDUK PERINGATAN MAUID NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

  1. hhe…bisanya cuma ngopy,,g tw kalo yang dicopy ngaco…

  2. Assalamualaikum saudaraku….Selalu banyak perbedaan YME kehendaki….Alangkah mudahnya Bagi ALLOH SWT mempersatukannya, ….lalu realitanya…kita di beri akal untuk berpikir. Manakah yg lebih dekat dengan NYA ketika ucapan, detak jantung, tarikan nafasnya serta kerdipan matanya selalu mengingat NYA…..jika bukan karena tarikanNYA tak sanggup kumenulis disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s