Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

UCAPAN SELAMAT NATAL

2 Komentar

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/1452/slash/0

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum
mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita
menjawab orang yang mengucapkan natal kepada kita? Apakah boleh
mendatangi tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah
seseorang berdosa jika melakukan salah satu hal tadi tanpa disengaja?
Baik itu sekedar basa-basi atau karena malu atau karena terpaksa atau
karena hal lainnya? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?

Jawaban
“Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat
natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama
mereka hukumnya haram, hukum ini telah disepakati. Sebagaimana kutipan
dari Ibnul Qayyim dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, yang mana beliau
menyebutkan, Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran
secara khusus, disepakati hukumnya haram. misalnya, mengucapkan selamat
atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang
diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’ dan
sebagainya. Yang demikian ini, kendati si pengucapnya terlepas dari
kekufuran, tapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara
dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya
lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada
ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina atau lainnya,
karena banyak orang yang tidak mantap agamanya terjerumus dalam hal ini
dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan
selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah atau kekufuran,
berarti ia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Demikian
ungkapan beliau.

Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar sehubungan dengan hari
raya agama mereka, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim, karena
dalam hal ini terkandung pengakuan terhadap simbol-simbol kekufuran dan
rela terhadap hal itu pada mereka walaupun tidak rela hal itu pada
dirinya sendiri. Kendati demikian, seorang muslim diharamkan untuk rela
terhadap simbol-simbol kekufuran atau mengucapkan selamat terhadap
simbol-simbol tersebut atau lainnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak meridhainya, sebagaimana firmanNya.

“Artinya : Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu
bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar: 7]

Dalam ayat lain disebutkan,
“Artinya : Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu ”
[Al-Ma’idah : 3]

Maka, mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, baik itu ikut serta dalam pelaksanaannya maupun tidak.

Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya
kita tidak menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari
raya itu tidak diridhai Allah Swt, baik itu merupakan bid’ah atau
memang ditetapkan dalam agama mereka. Namun sesungguhnya itu telah
dihapus dengan datangnya agama Islam, yaitu ketika Allah mengutus
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk semua makhluk, Allah telah
berfirman,

“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia
diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. ” [Ali Imran : 85)]

Haram hukumnya seorang muslim membalas ucapan selamat dari mereka,
karena ini lebih besar dari mengucapkan selamat kepada mereka, karena
berarti ikut serta dalam perayaan mereka.

Juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyamai kaum kuffar dengan
mengadakan pesta-pesta dalam perayaan tersebut atau saling bertukar
hadiah, membagikan gula-gula, piring berisi makanan, meliburkan kerja
dan sebagainya, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Iqtidha’
ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim menyebutkan,
“Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya mereka menyebabkan
kesenangan pada hati mereka, padahal yang sebenarnya mereka dalam
kebatilan, bahkan bisa jadi memberi makan pada mereka dalam kesempatan
itu dan menaklukan kaum lemah.” Demikian ucapan beliau.

Barangsiapa melakukan di antara hal-hal tadi, maka ia berdosa, baik ia
melakukannya sekedar basa-basi atau karena mencintai, karena malu atau
sebab lainnya, karena ini merupakan penyepelean terhadap agama Allah
dan bisa menyebabkan kuatnya jiwa kaum kuffar dan berbangganya mereka
dengan agama mereka.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon agar memuliakan kaum muslimin
dengan agama mereka, menganugerahi mereka keteguhan dan memenangkan
mereka terhadap para musuh. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha
Perkasa.

[Al-Majmu’ Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa
Terkini, Disusun oleh Khalid Al-Juraisy,Penerjemah Amir Hamzah,
Penerbit Darul Haq]

————————————

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

2 thoughts on “UCAPAN SELAMAT NATAL

  1. Terima kasih ilmunya, jadi nambah pemahanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s