Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

GERAKAN DALAM SHALAT

1 Komentar

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
http://www.almanhaj.or.id/content/513/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya mempunyai suatu
problem, yaitu saya banyak bergerak ketika sedang shalat. Saya pernah
mendengar ada suatu hadits yang maknanya, bahwa gerakan yang lebih dari
tiga kali dalam shalat akan membatalkannya. Bagaimana kebenaran hadits
ini ? Dan bagaimana cara mengatasi problem banyak melakukan gerakan
sia-sia di dalam shalat.

Jawaban
Disunnahkan bagi seorang mukmin untuk menyongsong shalatnya dan khusyu’
dalam melaksanakannya dengan sepenuh jiwa dan raganya, baik itu shalat
fardhu ataupun shalat sunnah, berdasarkan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. [Al-Mukminun : 1-2]

Di samping itu ia harus thuma’ninah (tenang dan tidak terburu-buru),
yang mana hal ini merupakan rukun dan kewajiban terpenting dalam
shalat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
beliau sampaikan kepada seseorang yang buruk dalam melaksanakan
shalatnya dan tidak thuma’ninah, saat itu beliau bersabda, ‘Kembalilah
(ulangilah) dan shalatlah karena sesunguhnya engkau belum shalat’, hal
itu beliau ucapkan sampai tiga kali (karena orang tersebut setiap kali
mengulangi shalatnya hingga tiga kali, ia masih tetap melakukannya
seperti semula), lalu orang tersebut berkata. ‘Wahai Rasulullah, Demi
Dzat yang telah mengutusmu dengan kebanaran, aku tidak dapat melakukan
yang lebih baik daripada ini, maka ajarilah aku’. Maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.

“Artinya : Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu,
lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul
ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian
ruku’lah sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau
tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua
shalatmu”. [Disepakati keshahihannya ; Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 757,
Muslim kitab Ash-Shalah 397]

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan.

“Artinya : Kemudian bacalah permulaan Al-Qur’an (surat Al-Fatihah) dan
apa yang dikehendaki Allah”. [Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 859]

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa thuma’ninah (tenang dan tidak
terburu-buru) merupakan salah satu rukun shalat dan merupakan kewajiban
yang besar di mana shalat tidak akan sah tanpanya. Barangsiapa yang
dalam shalatnya mematuk (seperti burung) berarti shalatnya tidak sah.
Kekhusyu’an dalam shalat merupakan jiwanya shalat, maka yang
disyariatkan bagi seorang Mukmin adalah memperhatikan hal ini dan
memeliharanya. Adapun tentang batasan jumlah gerakan yang menghilangkan
thuma’ninah dan kekhusyu’an dengan tiga gerakan, maka hal itu bukan
berdasarkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi
merupakan pendapat sebagian ahlul ilmi, jadi tidak ada dasar dalilnya.

Namun demikian, dimakruhkan melakukan gerakan sia-sia di dalam shalat,
seperti menggerak-gerakan hidung, jenggot, pakaian, atau sibuk dengan
hal-hal tersebut. Jika gerakan sia-sia itu sering dan berturut-turut,
maka itu membatalkan shalat, tapi jika hanya sedikit dan dalam ukuran
wajar, atau banyak tapi tidak berturut-turut, maka shalatnya tidak
batal. Namun demikian, disyari’atkan bagi seorang Mukmin untuk menjaga
kekhusyu’an dan meninggalkan gerakan sia-sia, baik sedikit maupun
banyak, hal ini sebagai usaha untuk mencapai kesempurnaan shalat.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa gerakan-gerakan yang sedikit
tidak membatalkan shalat, juga gerakan-gerakan yang terpisah-pisah dan
tidak berkesinambungan tidak membatalkan shalat, adalah sebagaimana
yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa suatu
hari beliau membukakan pintu masuk Aisyah, padahal saat itu beliau
sedang shalat [Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 922, At-Turmudzi, kitab
Ash-Shalah 601, An-Nasa’i, kitab As-Sahw 2/11]

Diriwayatkan juga dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam, dalam
hadits Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau
shalat bersama orang-orang dengan memangku Umamah bintu Zainab, apabila
beliau sujud,beliau menurunkannya, dan saat beliau berdiri, beliau
memangkunya lagi [Al-Bukhari, kitab Al-Adab 5996, Muslim kitab
Al-Masajid 543]

Wallahu waliyut taifiq

[Kitab Ad-Da’wah, hal 86-87, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-juraisy, Edisi
Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

One thought on “GERAKAN DALAM SHALAT

  1. Karena ketidaktahuan banyak umat muslim di negeri kita sholat tidak khusu’ bahkan tidak thuma’ninah, para kiyai kebanyakan tidak mumpuni ilmu fiqihnya karena hanya taqlid buta, tapi merasa benar seperti di desa saya. Saya telah sholat seperti apa yang dilakukan Rasul SAW berdasrkan hadist shahih, mereka memandang saya seperti aneh karena beda dengan mereka. Sedang saya orang yg tidak berkedudukan dan tidak pandai bicara (sering gugup) dan agak lemah ingatan, saya hnya bisa berdakwah di lingkungan keluarga itupun agak sulit terutama untuk kaum laki lakinya. Laa haula wal quwwata illaa billaah. Subhaanakallahumma wabihamdika astaghfirullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s