Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

JAMA’AH TIDUR SEMENTARA KHATIB TENGAH MENYAMPAIKAN KHUTBAHNYA

Tinggalkan komentar

Oleh
Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.
http://www.almanhaj.or.id/content/2188/slash/0

Sebagian orang tertidur sementara khatib sudah berada di atas mimbar.
Dan ini jelas salah dan dia harus dibangunkan untuk mendengarkan
nasihat.

Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka memakruhkan tidur ketika khatib khutbah. Dan mereka berkata tegas mengenai hal tersebut.” [1]

Dan disunnahkan bagi orang yang dihinggapi rasa kantuk untuk pindah
dari tempatnya ke tempat lain di masjid. Mengenai hal tersebut telah
diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dengan
sanad shahih dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Jika salah seorang di antara kalian mengantuk di tempat duduknya pada
hari Jum’at, maka hendaklah dia pindah (bergeser) dari tempat itu ke
tempat lainnya.” [2]

BERSANDARNYA SEBAGIAN ORANG KE DINDING DAN TIDAK MENGHADAP KHATIB
Ada sebagian orang yang dalam mendengarkan khutbah Jum’at lebih senang
bersandar ke dinding atau tiang dan tidak menghadap ke arah khatib,
bahkan mereka membelakanginya. Dan ini jelas bertentangan dengan
petunjuk para Sahabat Nabi di dalam khutbah Jum’at dan juga bertolak
belakang dengan etika mendengar khutbah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Jika berkhutbah Jum’at,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, sementara
Sahabat-Sahabat beliau menghadapkan wajah mereka ke arah beliau.” [3]

Dari Muthi’ al-Ghazal dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sudah menaiki mimbar,
maka kami pun menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” [4]

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung
menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” [5]

Dari Abban bin ‘Abdullah al-Bajali, dia berkata, Aku pernah melihat
‘Adi bin Tsabit menghadapkan wajahnya ke arah khatib jika khatib itu
berdiri sambil berkhutbah. Lalu aku tanyakan kepadanya, “Aku lihat
engkau menghadapkan wajahmu ke khatib?” Dia menjawab, “Karena aku
pernah melihat para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melakukan hal tersebut.” [6]

Dari Nafi’, mantan budak Ibnu ‘Umar bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar
mengerjakan shalat sunnah pada hari Jum’at hingga selesai sebelum
khatib keluar, dan ketika khatib telah datang sebelum khatib itu duduk,
dia (‘Abdullah bin ‘Umar) menghadapkan wajah ke arahnya.

Imam Ibnu Syihab az-Zuhri rahimahullahu mengatakan, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyampaikan khutbahnya, maka mereka
langsung mengarahkan wajah mereka kepadanya sampai beliau selesai dari
khutbahnya”

Imam Yahya bin Sa’id al-Anshari rahimahullahu mengatakan, “Yang sunnah
untuk dilakukan adalah jika khatib sudah duduk di atas mimbar pada hari
Jum’at, maka hendaklah semua orang mengarahkan wajah ke arahnya.” [7]

Al-Atsram mengatakan, aku pernah katakan kepada Abu ‘Abdullah [8],
“Ketika khatib berada agak jauh di sebelah kananku, maka apakah jika
aku ingin menghadap kepadanya, aku harus mengalihkan wajahku dari arah
kiblat?”

Dia menjawab, “Ya, arahkan wajahmu kepadanya.” [9]

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi
orang-orang untuk menghadap ke arah khatib jika dia tengah berkhutbah.
Dan itu merupakan pendapat Malik, at-Tsauri, al-Auza’i, asy-Syafi’i,
Ishaq, dan Ashabur rayi.” [10]

Ibnu Mundzir rahimahullahu mengatakan, “Hal itu bagaikan ijma’ (kesepakatan para ulama).” [11]

At-Tirmidzi rahimahullahu mengatakan, “Pengamalan terhadap hal tersebut
dilakukan oleh para ulama dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan juga yang lainnya mereka menyunnahkan untuk
menghadap ke khatib jika dia tengah berkhutbah.” [12]

MEMAINKAN BIJI TASBIH ATAU KUNCI SAAT KHUTBAH BERLANGSUNG
Sebagian orang ada yang melakukan hal yang sia-sia baik dengan
kunci-kunci atau biji tasbih yang ada di tangannya saat mendengar
khutbah Jum’at. Ini jelas bertentangan dengan ketenangan dan perhatian
terhadap peringatan dan nasihat yang disampaikan kepadanya.

Bahkan hal tersebut masuk ke dalam kelengahan yang dilarang untuk
dilakukan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam
kitab Shahiihnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Barangsiapa yang memegang batu kerikil berarti dia telah berbuat sia-sia.” [13]

Dan terkadang ada juga salah seorang dari mereka yang mengeluarkan kayu
siwak dan bersiwak saat khutbah tengah berlangsung. Ini juga termasuk
dalam kategori lengah (berbuat sia-sia).

MEMISAHKAN DUA ORANG YANG DUDUK BERDAMPINGAN PADA HARI JUM’AT
Terkadang ada orang yang datang terakhir ke masjid, lalu melangkahi
pundak-pundak jama’ah yang datang lebih awal serta memisahkan duduk
orang-orang agar dia bisa sampai di barisan pertama. Dan ini merupakan
satu hal yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut
Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani.

“Dari Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang
masuk masjid pada hari Jum’at sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tengah menyampaikan khuthbah, lalu dia melangkahi orang-orang,
maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Duduklah,
karena sesungguhnya engkau telah mengganggu (orang-orang) dan datang
terlambat.” [14]

Kemudian orang yang memisahkan di antara dua orang ini, yakni dengan
melangkahi keduanya atau duduk di antara keduanya benar-benar telah
kehilangan pahala yang besar, yaitu yang disebutkan di dalam hadits
yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu
‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya,
memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi rumahnya kemudian
keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang dan kemudian
mengerjakan shalat sunnah dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara)
jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya
(atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang
berikutnya”. [15]

Al-Hafizh rahimahullahu mengatakan, “Setelah dilakukan penghimpunan
terhadap jalan-jalan dan lafazh-lafazh hadits, maka tampak sekumpulan
dari apa yang kami sampaikan tadi bahwa penghapusan dosa dari hari
Jum’at ke Jum’at berikutnya itu dengan syarat adanya semua hal berikut
ini:

a. Mandi dan membersihkan diri.
b. Memakai minyak wangi atau minyak rambut.
c. Memakai pakaian yang paling bagus.
d. Berjalan kaki dengan penuh ketenangan.
e. Tidak melangkahi pundak jama’ah yang datang lebih awal.
f. Tidak memisahkan antara dua orang yang berdampingan.
g. Tidak mengganggu.
h. Mengerjakan amalan-amalan sunnah.
i. Diam.
j. Tidak melakukan aktivitas yang melengahkan”  [16]

Lebih lanjut, al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Di dalam hadits
‘Abdullah bin ‘Amr disebutkan, ‘Oleh karena itu, barangsiapa melangkahi
orang atau melakukan hal yang melengahkan, maka baginya shalat Jum’at
itu hanya shalat Zhuhur semata” [17]

[Disalin dari kitab kitab al-Kali-maatun Naafi’ah fil Akhthaa’
asy-Syaai’ah, Bab “75 Khatha-an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia
75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis
Salam Baali. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Tafsiir al-Qurthubi (XVIII/117) dan al-Qaulul Mubiin (no. 346).
[2]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/135), Abu Dawud (no. 119), at-Tirmidzi (no. 526), Ibnu Hibban (no. 2792) Ihsaan.
[3]. Zaadul Ma’aad (I/430).
[4]. Hasan bisyawaahidi (dengan beberapa penguatnya): Diriwayat-kan
oleh al-Bukhari dalam kitab at-Taariikh al-Kabiir (IV/II/ 47). Dinilai
hasan oleh al-Albani dengan beberapa syahidnya dalam kitabnya, Silsilah
al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2080).
[5]. Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 509) dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Tirmidzi.
[6]. Hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (III/198). Al-Albani
mengatakan di dalam kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (V/114),
“Sanad ini jayyid.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1136) dari
Adi bin Tsabit dari ayahnya dan dinilai shahih oleh al-Albani.
[7]. Hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (III/199) dengan sanad hasan.
[8]. Yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
[9]. Al-Mughni (III/172).
[10]. Ibid (III/172).
[11]. Ibid (III/172).
[12]. Sunan at-Tirmidzi: kitab al-Jumu’ah, bab Maa Jaa’a fii Istiqbaalil Imaam idzaa Khathaba.
[13]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 857). Dan lihat kitab
as-Subhah, Taariikhuhaa wa Hukmuhaa, Dr. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid
hafizhahullah. (Telah kami terbitkan dengan judul: Adakah Biji Tasbih
pada Zaman Rasulullah j -pent.)
[14]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1115) dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih Ibni Majah.
[15]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 883, 910).
[16]. Fat-hul Baari, syarah hadits no. 883.
[17]. Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 347) dan dinilai hasan oleh al-Albani.

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s