Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

PENYIMPANGAN SEPUTAR SHALAT ‘ID

Tinggalkan komentar

PENYIMPANGAN SEPUTAR SHALAT ‘ID (*)

 

Oleh

Redaksi Majalah As-Sunnah

http://www.almanhaj.or.id/content/2582/slash/0

 

Perhelatan melelahkan dalam menyongsong datangnya hari raya terjadi

dimana-mana. Sebagian kaum muslimin larut dengan kesibukan yang banyak

menyita waktu, tenaga dan biaya. Tak segan-segan, uangpun dikeluarkan

tanpa rasa berat. Yang penting -menurut mereka- hari raya dapat dilalui

dengan lebih berarti.

 

Kebiasaan seperti ini, pada setiap tahun bisa kita saksikan, hampir

selalu mewarnai saat menjelang hari raya. Seakan kesibukan tersebut

merupakan keharusan yang tidak dapat ditinggalkan oleh sebagian umat

MuhammadSalallahu Alaihi Wasalam. Akan tetapi, disini lain, pada saat menjelang hari raya,

banyak hal lebih penting yang dilalaikan.

 

Merebaknya kemungkaran banyak diremehkan oleh sebagian umat ini telah

mengharu biru hari mulia ini. Beberapa kemungkaran itu, ada yang sudah

sering terjadi di luar hari raya, dan bertambah parah ketika hari raya

tiba. Misalnya, seperti menghias diri dengan mencukur jenggot,

bersalam-salaman dengan wanita yang bukan mahramnya, tabarruj (pamer

kecantikan), menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan menikmati

musik, mengkhususkan waktu untuk ziarah kubur, serta membagikan makanan

dan permen, duduk-duduk di atas kuburan, menghamburkan harta yang tidak

ada faidahnya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini menodai

hari raya yang mulia ini.

 

Namun, dalam pembahasan kali ini, kami tidak akan mengupas persoalan

tersebut di atas. Akan tetapi, kami akan fokuskan pada beberapa

kesalahan dalam pelaksaan shalat ‘Id. Mudah-mudahan hal ini bisa

menggugah kesadaran kita untuk lebih berhati-hati. Mendorong kita agar

lebih bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu, bertanya kepada

‘alim, serta membaca kitab-kitab para ulama, sehingga bisa terhindar

dan tidak terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah. Apalagi

kesalahan itu seakan sudah membudaya.

 

Diantara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan shalat ‘Id, ialah sebagai berikut:

 

A. SEBAGIAN ORANG MEREMEHKAN SHALAT ‘ID DAN MENGANGGAPNYA SUNAT, SERTA TIDAK MENUNAIKANNYA DI LAPANGAN

Imam Asy Syaukani mengatakan; “Ketahuilah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam selalu mengerjakan shalat ini pada dua hari raya (‘Idul Fithri

dan Adh-ha). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah

meninggalkannya, meskipun hanya sekali. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa

sallam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk keluar shalat,

sampai-sampai memerintahkan kepada para wanita, baik budak, wanita

pingitan dan wanita yang sedang haid agar keluar. Beliau Shallallahu

‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada yang haid agar menjauhi tempat

shalat, menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslim. Sampai-sampai

diperintahkan kepada wanita yang memiliki jilbab, agar meminjami

saudaranya yang tidak memiliki jilbab. Semua ini menunjukkan, bahwa

shalat ‘Id wajib bagi setiap orang (fardhu ‘ain, Red), bukan fardlu

kifayah”. [As Sailur Jarar, 1/315].

 

Aku (Syaikh Masyhur Hasan Salman) mengatakan: “(Dalam penjelasan di

atas, Red), Imam Asy Syaukani mengisyaratkan kepada hadits Ummu Athiyah

Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

 

“Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan para wanita

pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, yaitu para budak, wanita yang

sedang haid serta wanita pingitan. Adapun wanita yang sedang haid

keluar dari shalat. (dalam riwayat yang lain dari lapangan) dan

menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku (Ummu Athiyah)

mengatakan: “Wahai, Rasulullah. Salah seorang diantara kami tidak

memiliki jilbab”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda,”Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada saudaranya

yang tidak memiliki jilbab.”[1]

 

Perintah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar, berarti

perintah untuk shalat bagi yang tidak memiliki udzur. Ini berdasarkan

maksud dari pembicaraan. Karena keluar ke mushalla (lapangan) merupakan

washilah (sarana) untuk shalat. (Jika) wasilahnya wajib, maka akan

menyebabkan tujuan dari washilah itu juga menjadi wajib. Dan kaum pria

lebih wajib daripada wanita. (Lihat Al Mau’izhah Al Hasanah, 43).

 

Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua hari raya, bahwa

shalat ‘Id bisa menggugurkan (bisa mengganti, Red) shalat Jum’at

apabila bertepatan pada hari yang sama. Terdapat riwayat yang sah dari

Rasulullah, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika

hari raya bertepatan dengan hari Jum’at.

 

“Pada hari kalian ini, terkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang ingin

(tidak shalat Jum’at), maka ia telah mencukupinya dari shalat Jum’at.

Dan kita mengumpulkan shalat hari raya dan Jum’at, dan kami akan tetap

shalat Jum’at.”[2]

 

Sudah kita ketahui, sesuatu yang hukumnya tidak wajib, tidak akan bisa

menggugurkan sesuatu yang wajib. Terdapat riwayat yang sah, sejak

shalat ‘Id disyari’atkan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu

mengerjakan shalat ‘Id secara berjama’ah hingga sampai wafatnya.

Perbuatan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengerjakan

shalat ‘Id digabungkan dengan perintahnya kepada manusia untuk keluar

shalat ‘Id. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (24/212, 23/161) serta Ar

Raudah An Nadiyah (1/142), Nailul Authar (3/282-283) dan Tamamul

Minnah, 344. Dan wajibnya shalat ‘Id, merupakan pilihan dari Syaikh

Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan: “Kami menganggap rajih

(menguatkan) pendapat yang menyatakan shalat ‘Id itu hukumnya wajib

bagi setiap orang, sebagaimana ucapan Abu Hanifah dan lainnya. Begitu

juga salah satu pendapat Imam Asy Syafi’i, dan salah satu diantara dua

pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.

 

Adapun ucapan yang mengatakan, “Shalat ‘Id tidak wajib”, merupakan

ucapan yang sangat jauh dari kebenaran. Sesungguhnya shalat ‘Id

merupakan syi’ar Islam yang sangat besar, dan manusia yang berkumpul

untuk melakukan shalat ‘Id lebih besar daripada shalat Jum’at. Pada

hari ini, disyari’atkan takbir. Dan pendapat orang yang mengatakan

“Shalat ‘Id fardhu kifayah”, perkataan ini tidak memiliki dasar yang

kuat. (Majmu’ Fatawa, 23/161).

 

Disini, sejenak kita merenungi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi

wa sallam dalam hadits Ummu Athiyah terdahulu. Di dalamnya terdapat

perintah bagi para wanita yang sedang haid dan para wanita budak untuk

menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dari hadits ini dapat

diambil dua hukum fiqih:

 

1). Disyari’atkan kepada para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Id.

Kami menganjurkan kepada para wanita untuk menghadiri jama’ah kaum

muslimin, sebagai realisasi perintah RasulullahSalallahu Alaihi Wasalam. Tidak lupa kami

ingatkan mereka, dan juga para penanggungjawab mereka mengenai

kewajiban mengenakan hijab syar’i. Terkadang sebagian orang merasa

heran terhadap syari’at keluarnya wanita ke lapangan untuk shalat ‘Id.

 

Ketahuilah, inilah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Karena, banyak hadits menerangkan hal ini. Disini, kami cukupkan dengan

hadits Ummu Athiyah di atas. Hadits ini bukan hanya sebagai dalil

disyari’atkannya shalat saja. Bahkan lebih dari itu, yaitu menandakan

wajibnya shalat atas para wanita, karena perintah Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hukum asal dalam perintah adalah

wajib. Ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abu Bakar

Radhiyallahu ‘anhu.

 

“Benar, bagi setiap orang yang memiliki sayak (rok), keluar untuk shalat ‘Id”[3]

 

2). Shalat dua hari raya tempatnya di lapangan, bukan masjid -meskipun boleh di masjid.

Dari sisi lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat

menganjurkan kepada para wanita haidh agar menghadiri shalat ‘Id,

sementara masjid tidak layak diisi para wanita haid. Apabila masjid

tidak boleh mereka kunjungi ketika haid, maka hanya lapangan yang boleh

mereka hadiri. Hal ini dijelaskan dalam banyak hadits, seperti dari Abu

Said Al Khudri Radhiyalahu ‘anhu, dia berkata:

 

“Dahulu, RasulullahSalallahu Alaihi Wasalamkeluar ke mushalla (lapangan) pada hari raya

‘Idul Fithri dan Adh-ha. Dan hal pertama kali yang BeliauSalallahu Alaihi Wasalamkerjakan

adalah shalat (ied)”.[4]

 

Ibnu Al Hajj Al Maliki mengatakan: “Sunnah yang telah berjalan dalam

masalah dua shalat ied ini, ialah dikerjakan di lapangan. Karena, Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali dari pada shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram” [5]

 

Meskipun shalat di Masjid Nabawi sangat besar keutamaannya, namun

BeliauSalallahu Alaihi Wasalam(tetap) keluar menuju lapangan dan meninggalkan masjidnya. (Al

Madkhal, 2/283). Perbuatan berdasarkan sunnah ini berjalan terus pada

masa-masa awal, terkecuali terpaksa, seperti turun hujan dan yang

semisalnya. Demikian pendapat empat imam madzhab (Hanafi, Malik,

Syafi’i dan Ahmad) serta yang lainnya.

 

Juga, sunnah ini (shalat di lapangan) memiliki hikmah yang besar. Yakni

kaum muslimin memiliki dua hari (istimewa) dalam setahun. Pada hari

ini, penduduk semua negeri (suatu daerah) berkumpul, baik pria, wanita

maupun anak-anak. Mereka menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.

Mereka terhimpun dengan satu kalimat, shalat di belakang satu imam,

bertakbir, bertahlil dan berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla dengan

penuh ikhlas. Seakan mereka sehati. Mereka bersuka ria, bergembira

dengan nikmat Allah Azza wa Jalla kepada mereka. Sehingga hari raya

merupakan hari bahagia.

 

Semoga kaum muslimin memberikan tanggapan positif untuk meniti sunnah

nabi mereka, menghidupkan syi’ar agama yang menjadi syarat kemuliaan

(kewibawaan) dan keberuntungan mereka.

 

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul

apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada

kamu” [QS Al Anfal:24]

 

B. TIDAK MENGERASKAN TAKBIR KETIKA MENUJU LAPANGAN

Dari Az Zuhri rahimahullah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

sallam biasa keluar pada hari raya dan bertakbir hingga sampai ke

lapangan, dan hingga selesai shalat. Apabila telah selesai, Beliau n

menghentikan takbir.[6]

 

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya perbuatan yang

dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu takbir dengan keras ketika

berjalan menuju lapangan. Kebanyakan umat mulai meremehkam sunnah ini,

hingga sekarang ini seakan sudah menjadi cerita masa lampau (dan hampir

tidak bisa ditemukan lagi-red). Ini disebabkan karena lemahnya agama

mereka, serta malu untuk mengaku dan menampakkan sunnah ini.

 

Ironisnya, diantara mereka ada yang bertugas memberi bimbingan serta

mengajarkan kepada manusia. (Namun) seakan bimbingannya dalam pandangan

mereka terbatas pada transfer ilmu guru kepada manusia. Adapun sesuatu

yang sangat dibutuhkan untuk diketahui, ini tidak mendapatkan perhatian

mereka. Bahkan mereka menganggap pembahasan serta pemberian peringatan

dalam masalah ini, baik dengan perkataan maupun perbuatan sebagai

perbuatan sia-sia, yang tidak pantas untuk diperhatikan dalam tindakan

dan pengajaran. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Yang perlu mendapatkan perhatian disini, yaitu dalam mengumandangkan

takbir tidak disyari’atkan secara bersama dengan satu suara,

sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian halnya dengan

dzikir yang disyari’atkan dengan suara keras ataupun yang tidak

disyari’atkan dengan suara keras. Ini semua tidak disyari’atkan secara

berjama’ah. Dan yang semisalnya dengan ini, ialah adzan berjama’ah

sebagaimana dikenal di Damaskus dengan nama Adzan Al Juuq. Sering kali,

dzikir berjama’ah (dengan satu suara) menjadi sebab pemutusan satu kata

ataupun kalimat, yang semestinya tidak boleh waqaf (berhenti) pada kata

atau kalimat tersebut, seperti “lailaha” dalam tahlil selepas shalat

Subuh dan Maghrib, sebagaimana hal itu berulang kali kita dengar.

 

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan selalu ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

 

C. MENGANGKAT TANGAN DALAM SETIAP TAKBIR SHALAT ‘ID

Tidak ada riwayat sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang

menyatakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan

ketika takbir dalam shalat ‘Id. Akan tetapi Ibnul Qayyim mengatakan:

“Dan Ibnu Umar –padahal ia sangat antusias mengikuti Sunnah Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam – mengangkat kedua tangannya bersamaan

dengan setiap takbir”. (Zaadul Ma’ad, 1/441). Dan sebaik-baik petunjuk

adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , meskipun hadits

ini diriwayatkan Ibnu Umar dan bapaknya Radhiyallahu ‘anhuma, namun

tidak akan menjadikannya sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat tersebut

tidak benar.

 

Syaikh Al Albani mengatakan: “Adapun riwayat dari Umar, ini

diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah. Sedangkan riwayat

dari Ibnu Umar, aku belum mendapatkannya. Dan sesungguhnya Imam Malik

mengatakan,’ aku belum mendengar satu haditspun tentang hal ini’.”

[Tamamul Minnah, hlm. 349].

 

Demikian pendapat Imam Malik sebagaimana terdapat dalam Al Madunah

(1/169). Dan pendapat ini dinukil oleh Imam Nawawi dalam Majmu’ (5/26).

Hanya saja Ibnu Mundzir menceritakan: “Imam Malik mengatakan,’Dalam hal

ini, tidak ada sunnah yang pasti. Barangsiapa ingin, maka ia mengangkat

tangannya setiap kali takbir. Dan yang paling aku sukai, yaitu yang

pertama (tidak mengangkat tangan)’.”

 

D. SHALAT SUNNAH QABLIYAH SEBELUM SHALAT ‘ID DAN UCAPAN “AS SHALAT  JAAMI’AH” SEBELUM BERDIRI UNTUK SHALAT

Pemandangan mayoritas di negeri muslim, orang-orang yang hadir shalat

‘Id di lapangan melakukan shalat dua raka’at sebelum duduk di

tempatnya, untuk menunggu berdirinya imam untuk shalat. Shalat dua

raka’at ini tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

bahkan ada riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu

 

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at pada hari

raya. Beliau tidak shalat dua raka’at sebelum maupun sesudahnya” [HR.

Bukhari dan Muslim]

 

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Kesimpulannya, tidak ada shalat sunat

sebelum dan sesudah shalat ‘Id, berbeda dengan orang yang

mengkiaskannya (menyamakan shalat ‘Id) dengan shalat Jum’at”. [Fath-hul

Bari, 2/476].

 

Imam Ahmad mengatakan: “Tidak ada shalat sunnat sebelum dan sesudah

‘Id”. (Masail Al Imam Ahmad, no. 469). Dan ia berkata pula: “Tidak ada

shalat sunnat sebelum dan sesudah ‘Id. Nabi keluar shalat ‘Id tidak

melakukan shalat sebelum maupun sesudahnya. Sebagian penduduk Bashrah

melakukan shalat sebelumnya, dan sebagian penduduk Kuffah mengerjakan

shalat sunnat setelahnya”. [Masail Al Imam Ahmad, no. 479]

 

Ibnul Qayyim mengatakan: “BeliauSalallahu Alaihi Wasalamdan para sahabatnya g tidak

melakukan shalat sunat sebelum dan sesudah shalat ‘Id ketika telah

sampai di lapangan”. (Zaadul Ma’ad, 1/443). Apabila NabiSalallahu Alaihi Wasalamtelah sampai

di lapangan, Beliau melakukan shalat ‘Id tanpa adzan dan iqamat, dan

tanpa ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan merupakan sunnah, tidak

mengerjakan dari hal itu sedikitpun. (Zaadul Ma’ad, 1/442 dan At

Tamhid, 1/243).

 

E. MENGHIDUPKAN MALAM HARI RAYA

Banyak khatib dan penceramah giat menganjurkan manusia untuk

mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan menghidupkan malam hari

raya. Padahal, anjuran mereka ini tidak ditemukan sandaran yang shahih.

 

Mereka tidak cukup hanya dengan menganjurkan manusia untuk menghidupkan

malam ini. Bahkan mereka (berani) menisbatkan (menyandarkan) ucapan

tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan

menggunakan dalil-dalil:

 

“Barangsiapa menghidupkan malam ‘Idul Fithri dan Adh-ha, hatinya tidak akan mati di hari matinya hati-hati manusia” [7].

 

Riwayat di atas merupakan hadits palsu, dan tidak boleh dinisbatkan

kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi beramal

dengannya dan menyerukan manusia untuk melakukannya.

 

F. PEMBUKAAN KHUTBAH DENGAN TAKBIR SERTA BANYAK MENGUCAPKAN TAKBIR DALAM KHUTBAH

Ibnul Qayyim mengatakan: “RasulullahSalallahu Alaihi Wasalamselalu membuka khutbahnya dengan

memuji Allah. Tidak ada riwayat dalam satu hadits pun bahwa Beliau

memulai khutbah dua id dengan takbir. Hanya saja, Ibnu Majah

meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Sa’ad Al Qardhi, bahwasanya Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak takbir di tengah-tengah

khutbah, serta memperbanyak takbir dalam khutbah dua hari raya.

 

Namun riwayat ini tidak menunjukkan bila Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali khutbah dengan takbir.

 

Orang-orang telah berselisih dalam masalah pembukaan dua hari raya

serta istisqa. Ada yang mengatakan “khutbah ‘id dan istisqa dimulai

dengan takbir”, dan ada pula yang mengatakan “khutbah istisqa diawali

dengan istighfar”, dan ada pula yang mengatakan “keduanya diawali

dengan hamdalah”.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “(Mengawali khutbah dengan hamdalah), itulah yang benar”. [Zaadul Ma’ad, 1/447-448].

 

Syaikh Masyhur, mengatakan: “Hadits terdahulu lemah. Dalam sanadnya,

terdapat seorang yang lemah. Yaitu Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin

Sa’ad Al Muadzan. Yang terakhir majhul (tidak dikenal), yaitu Sa’ad bin

Ammar. Sehingga tidak boleh berhujjah akan sunnatnya takbir di

tengah-tengah khutbah dengan hadits tersebut”. [Tamamul Minnah, 351]

 

G. MENJADIKAN ‘ID DENGAN DUA KHUTBAH DAN DIPISAH DENGAN DUDUK

Semua riwayat yang ada berkaitan dengan masalah ini lemah, tidak bisa

dijadikan hujjah. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Tidak ada

satupun riwayat yang sah dalam masalah pengulangan khutbah”. [Lihat

Fiqh Sunnah, 1/223 dan Tamamul Minnah, 348]

 

Demikian beberapa persoalan berkaitan dengan penyimpangan yang lazim

terjadi pada pelaksanaan hari raya ‘Id. Semoga bermanfaat. Wallahu

a’lam.

 

*) Disadur dan diringkas dari kitab Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’ Al

Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, dengan beberapa tambahan.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006.

Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi

Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_________

Footnotes

[1]. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, no. 324, 971, 974, 980,

981, 1,652 serta Muslim dalam Shahih-nya, no. 980; Ahmad dalam Musnad

(5/84,85); An Nasa’i dalam Al Mujtaba (3/180); Ibnu Majah dalam Sunan,

no. 1.307 dan Tirmidzi dalam Al Jami’, no. 539.

[2]. Dikeluarkan oleh Al Faryabi dalam Ahkam Al ‘Idain, no. 150; Abu

Dawud dalam Sunan, no. 1.073; Ibnu Majah dalam Sunan, no. 1.311 dan

yang lainnya. Hadits ini shahih berdasarkan syawahidnya (penyertanya).

[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/184) dengan

sanad yang shahih. Lihat Risalah Shalat ‘Idain Fil Mushalla Hiya

Sunnah, hlm. 12-13.

[4]. Dikeluarkan Al Bukhari dalam Shahih, no. 956 dan Muslim dalam Shahih, no. 889 dan lainnya.

[5]. Dikeluarkan Imam Muslim

[6]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/165) dan Al

Faryabi dalam Ahkam ‘Idain, no. 59 dan sanad-sanadnya shahih. Meski

mursal namun syahid (penyerta) menyambung, menurut Al Baihaqi dalam

Sunan Al Kubra (3/279). Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, no.171.

[7]. Pembahasan mengenai hadits ini bisa dilihat di silsilah al ahadits ad dhaifah no. 520

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s