Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

KURBAN DAN PENSYARIATANNYA

Tinggalkan komentar

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi
http://www.almanhaj.or.id/content/2013/slash/0

Hukum Kurban
Kurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah
dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan
Ibnul Qayyim dalam pernyataannya : “Sembelihan-sembelihan yang menjadi
amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu,
Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah” [1]. Disyariatkannya kuban sudah
merupakan ijma yang disepakati kaum muslimin [2]. Namun tentang
hukumnya masih diperselisihkan para ulama, yang terbagi dalam beberapa
pendapat.

Pertama : Wajib Bagi Yang Mampu
Demikian ini pendapat Abu Hanifah dan Malik. Madzhab inipun dinukil
dari Rabi’ah Al-Ra’yi, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’ad [3] dan salah satu
riwayat dari Ahmad bin Hanbal [4]. Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu
Taimiyah [5]. Dan Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “Pendapat yang
mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat, karena banyaknya dalil
yang menujukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya” [6]

Kedua : Sunnah Atau Sunnah Muakkad Bagi Yang Mampu
Inilah pendapat jumhur ulama [7]. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil
pernyataan Ibnu Hazm yang mengatakan : “Tidak shahih dari seorangpun
dari para sahabat yang menyatakan wajibnya. Yang benar, menurut jumhur,
kurban itu tidak wajib. Dan tidak ada peselisihan, jika ia merupakan
salah satu syi’ar agama” [8]

Ketiga : Fardhu Kifayah
Ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i
Dalil Pendapat Pertama
[1]. Hadits Al-Bara bin Azib, beiau berkata : “Abu Burdah telah
menyembelih kurban sebelum shalat (Ied), lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata kepadanya : “Gantilah”, ia menjawab, “Saya tidak
punya kecuali Jaz’ah”. Maka beliau berkata : “Jadikanlah ia sebagai
penggantinya, dan hal itu tidak berlaku pada seorangpun setelahmu”
[Muttafaq Alaihi]

Orang yang mewajibkan berhujjah dengan hadits ini. Mereka menyatakan
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Burdah
untuk mengulangi penyembelihannya jika telah melakukannya sebelum
shalat. Tentunya, hal seperti ini tidak dikatakan, kecuali dalam
perkara yang wajib saja.

[2]. Hadits Jundab bin Abdillah bin Sufyan Al-Bajali beliau berkata : “
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada hari Nahar (‘Ied
Al-Adha), kemudian berkhutbah lalu menyembelih kurbannya dan bersabda :
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sembelihan yang lain
sebagai penggantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih maka
sembelihlah dengan nama Allah” {Muttafaq Alaih]

[3]. Hadits Anas bin Malik, beliau berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata : “Barangsiapa yang telah menyembelih sebelum shalat,
maka ulangi lagi” [Muttafaq Alaih]

[4]. Hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata : “Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat di hari Nahar (Iedul Adha) di
Madinah. Lalu beberapa orang maju dan menyembelih (sembelihannya) dalam
keadaan menyangka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyembelih.
Lalu Nabi memerintahkan orang yang menyembelih sebelum Beliau untuk
mengulangi sembelihan yang lainnya, dan jangan menyembelih sampai Nabi
menyembelih” [9]

Hadits-hadits ini jelas menunjukkan kewajiban kurban. Sebab pada
hadits-hadits tersebut terdapat dua hal yang menunjukkan wajib. Pertama
: kata perintah, dan Kedua : perintah mengulangi. Tentunya, sesuatu
yang bukan wajib, tidak diperintahkan untuk mengulanginya.

Ketiga hadits diatas dikomentari Ibnu Hajar dengan pernyataannya :
“Orang yang mewajibkan kurban berdalil dengan adanya perintah
mengulangi penyembelihan. Maka hal ini dibantah dengan menyatakan,
bahwa yang dimaksud adalah penjelasan syarat penyembelihan kurban yang
disyariatkan. Ini seperti pernyataan orang yang shalat sunnah Dhuha
sebelum matahari terbit. Jika matahri sudah terbit, maka ulangi shalat
kamu” [10]

[5]. Hadits Abu Hurairah, beliau berkata : “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memiliki kemampuan
(keluasan rizki) dan tidak menyembelih maka jangan dekati tampat shalat
kami” [11]

Hadits ini jelas menunjukkan ancaman kepada orang yang memiliki
kemampuan dan enggan menyembelih kurban. Tentunya, Rasulullah tidak
akan berbuat demikian, kecuali menunjukkan bahwa itu hukumnya wajib.

Pendapat yang tidak mewajibkan menyatakan, bahwa hadits ini mauquf,
sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dalam perkara ini. Hal ini
dijawab oleh Syaikh Al-Albani dalam pernyataan beliau : “Hadits ini
diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Wahab. Namun ziyadah tsiqah ini
diterima. Abu Abdurahman Al- Muqri sebagai sangat tsiqah (kredibel)”
[12]

Kemudian, pendapat yang tidak mewajibkan menjawab, anggap saja
haditsnya hasan, namun juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya,
sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar : “Yang menjadi dasar yang kuat, yang
dipegangi oleh pendapat yang mewajibkan, ialah hadits Abu Hurairah ini.
Namun diperselisihkan apakah marfu atau mauquf? Mauquf lebih dekat
kepada kebenaran, sebagaimana pendapat Ath-Thahawi dan selainnya.
Walaupun marfu’, hadits ini juga tidak tegas dalam menunjukkan
wajibnya” [13]

[6]. Hadits Mikhnaf bin Sulaim, ia berkata : “Kami bersama Rasulullah
dan Beliau wukuf di arafah, lalu berkata, “Wahai, manusia. Sesungguhnya
wajib bagi setiap keluarga pada setiap tahunnya kurban dan ‘atirah”.
Beliau berkata, “Tahukah kalian, apakah ‘atirah itu? Yaitu yang
dikatakan orang rajabiyah” [14]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Demikian juga orang yang mewajibakan
berhujjah dengan hadits Mikhnaf bin Sulaim ini yang diriwayatkan Ahmad
dan imam yang empat dengan sanad yang kuat, namun tidak ada hujjah
disana, karena shighahnya (katanya) tidak tegas menunjukkan wajib
secara muthlak, dan juga disebutkan bersamanya ‘al-athirah’ yang tidak
dianggap wajib oleh orang yang berpendapat wajibnya kurban” [15]

Dalil Pendapat Kedua
[1]. Hadits Ummu Salamah, beliau berkata : “Bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah
dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka jangan
memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya” [16]

Imam Syafi’i berkata : “Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa kurban
tidak wajib, dengan dasar sabda Nabi. Beliau menyerahkan kepada
kehendak. Seandainya memang wajib, tentunya Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menyatakan “maka janganlah memortong rambutnya sampai
menyembelih” [17]

Pendapat yang mewajibkan, membantah dalil ini dengan menyatakan :
Hadits ini bukan berarti menunjukkan tidak wajibnya kurban secara
muthlak, karena kami mewajibkan dengan syarat mampu. Demikian juga
hadts ini dapat dipahami dengan makna orang yang ingin menyembelih
dengan sebab memiliki kemampuan, maka jangan mengambil (memotong)
rambut dan kukunya sampai menyembelih, dengan dalil riwayat lain yang
diriwayatkan Imam Muslim yang tidak menyebutkan kata (arada), yaitu
sabda Rasulullah.

“Artinya : Barangsiapa yang memiliki sembelihan yang akan disembelih
dan tampak hilial Dzulhijjah, maka jangan memotong sedikitpun rambut
dan kukunya sampai menyembelih” [18]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Orang yang tidak mewajibkan,
tidak memiliki nash dalam hal ini. Mereka menyatakan, kewajiban tidak
disandarkan kepada kehendak (iradah). Dmeikian ini adalah pernyataan
global, karena memang kewajiban tidak diserahkan kepada kehendak hamba,
sehingga dikatakan jika kamu mau, berbuatlah. Namun, terkadang
kewajiban disandarkan kepada syarat untuk menjelaskan hukumnya, seperti
firman Allah.

“Artinya : Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah” [Al-Maidah : 6]

Dan mereka mengartikannya. Jika kalian ingin melaksanakan dan
memaknakan. Jika ingin membaca Al-Qur’an, maka berta’awudz. Padahal
thaharah, merupakan wajib, dan membaca Al-Qur’an dalam shalat wajib
juga” [19]

[2]. Hadits Jabir, beliau berkata : “Aku menyaksikan bersama Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ied Al-Adha di Mushalla (tanah
lapang). Ketika selesai khutbahnya. Beliau turun dari mimbarnya, lalu
dibawakan seekor kambing dan Rasulullah menyembelihnya dengan tangannya
langsung, dan berkata : “Bismillah wa Allahu Akbar hadza anni wa amman
lam yudhahi min ummati (Bismillah Allahu Akbar, ini dariku dan dari
umatku yang belum menyembelih)” [20]

Mereka menyatakan : “Seandainya kurban diwajibkan, tentunya orang yang
meninggalkannya berhak dihukum dan tidak bisa dianggap cukup. Lalu
bagaimana dengan sembelihan Rasulullah tersebut ? Sehingga sabda beliau.

“hadza anni wa amman lam yudhahi min ummati”

Yang disampaikan secara mutlak tanpa perincian ini merupakan dalil tidak wajibnya kurban.

Asy-Syaukani berkata : “Sisi pendalilan hadits ini dan yang semakna
dengannya atas tidak wajibnya kurban ialah, secara dhahir menunjukkan
bahwa kurban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi umatnya dan
keluarganya, mencukupkan orang yang tidak menyembelih kurban, baik
mampu atau tidak mampu. Hal ini mungkin dijawab, bahwa hadits “inni
‘ala kulli ahli baity fii kulli aamin udhhiyah” yang menunjukkan
kewajiban menyembelih kurban bagi ahli bait yang mampu, menjadi
indikator bahwa kurban Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut untuk
orang yang tidak mampu saja. Seandainya benar yang disampaikan
Al-Mudda’i (pendapat yang tidak mewajibkan,-pent), maka tidak dapat
menjadi dalil tidak wajibnya kurban. Karena, titik perselisihannya
adalah pada orang yang menyembelih untuk dirinya sendiri, dan bukan
orang yang disembelihkan orang lain. Sehingga tidak wajibnya pada orang
yang ada pada zaman Beliau dari umat ini, mengharuskan tidak wajibnya
pada orang yang berada di luar zaman Beliau” [21]

[3]. Atsar Abu Bakr dan Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sarihah
Al-Ghifari, beliau berkata. “Aku mendapati Abu Bakar atau melihat Abu
Bakr dan Umar tidak menyembelih kurban –dalam sebagian hadits mereka-
khawatir dijadikan panutan” [22]

Seandainya kurban diwajibkan, tentu keduanya orang yang pantas
mengamalkannya. Akan tetapi, keduanya memahami hukum kurban tersebut
tidak wajib.

Pendapat Yang Rajih
Syaikh Muhammad Al-Amin Al-Syinqithi berkata : “Saya telah meneliti
dalil-dalil sunnah pendapat yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan,
dan keadaannya dalam pandangan kami. Bahwa tidak ada satupun dalil dari
kedua pendapat tersebut yang tegas, pasti dan selamat dari bantahan,
baik yang menunjukkan wajib maupun yang tidak wajib”. Kemudian Syaikh
berkata : “Yang rajih bagi saya dalam perkara seperti ini, yang tidak
jelas penunjukkan nash-nash kepada satu hal tertentu dengan tegas dan
jelas adalah berusaha sekuat mungkin keluar dari khilaf. Sehingga,
berkurban bila mampu, karena Nabi bersabda, “Tinggalkanlah yang ragu
kepada yang tidak ragu. “. Sepatutnya, seseorang tidak meninggalkanya
bila mampu, karena menunaikannya itu sudah pasti menghilangkan tanggung
jawabnya, Wallahu a’lam” [23]

Yang rajih –wallahu a’lam- dalam permasalahan ini, yaitu pendapat
jumhur ulama. Karena seandainya tidak ada satu pun dalil dari hadits
Nabi Shallallahu ‘alaiahi wa sallam yang secara pasti menunjukkan
rajihnya salah satu pendapat tersebut, namun amalan Abu Bakr dan Umar
dapat dijadikan faktor yang dapat merajihkan pendapat jumhur. Sebab hal
ini merupakan pengamalan perintah Rasulullah dalam hadits Irbadh bin
Sariyah yang berbunyi.

“Artinya : Sungguh, barangsiapa diantara kalian yang hidup sesudahku,
maka akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib baginya untuk
memegangi sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin.

Keduanya termasuk dari Khulafa Ar-Rasyidin menurut kesepakatan kaum
muslimin. Hal ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya yang
diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz : “Karena jika mereka mengikuti
Abu Bakr dan Umar, niscaya mendapati petunjuk”.

Juga adanya riwayat atsar dari Ibnu Umar, Abu Mas’ud Al-Anshari dan
Ibnu Abbas yang menunjukkan tidak wajibnya kurban. Wallahu a’lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M,
Penulis Ustadz Kholid Syamhudi Lc. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]
__________
FootNote
[1]. Lihat Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman, Ithaf Al-Muslimin Bima
Tayassara Min Ahkam Ad-Din, Ilmun wa Dalilun, Cet. II, Th 1403H, hal.
2/505
[2]. Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni (11/94) dan Ibnu Hajar, Fathul Bari
Bi Syarhi Shahih Al-Bukhari, tanpa cetakan dan tahun, Al-Maktabah
Al-Salafiyah 10/3
[3]. Lihar Dr Ahmad Muwafi, Taisir Al-Fiqhi Al-Jami Li Likhtiyarat
Al-Fiqhiyah Lisyaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Cetakan Pertama, Tah
1416H, Dar Ibnu Al-Jauzi, Dammam, KSA (3/1210)
[4]. Lihat makalah Abu Bakr Al-Baghdadi yang yang berjudul Juzun Fi
Udhhiyah wa hukmu Ikhrajiha An Balad Al-Mudhahi, Majalah Al-Hikmah, hal
22 tanpa edisi dan tahun
[5]. Lihat Taisir Al-Fqh, op.cit (3/1208) menukil dari Majmu Fatawa (23/162)
[6]. Lihat Ibnu Utsaimin, Syarhu Al-Mumti Ala Zaad Al-Mustaqni, Tahqiq
Khalid bin Ali Al-Musyaiqih dan Sulaiman Aba Khail, Cet 1, Th 1416H,
Muassasah Asaam, Riyadh KSA (7/519)
[7]. Lihat An-Nawawi, Majmu Syarhu Al-Muhadzdzab, Tahqiq Muhammad Najib
Al-Muthi’i, tanpa cetakan dan tahun, Daar Ihya Al-Turats Al-Arabi
(8/354).
[8]. Lihat Fathul Bari, op.cit (10/3)
[9]. Diriwayatkan Imam Muslim No. 1.964
[10]. Fathul Bari (10/4)
[11]. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 3.123 dan Al-Khathib (8/338)
dari Zaid bin Al-Hubab,Al-Hakim (2/389) dan Ahmad (2/321) dari Abdullah
bin Yazid Al-Muqri dan Abu Bakr Asy-Syairazi dalam Sab’at Majalis Min
Al-Amani dari Muhammad bin Sa’id. Mereka bertiga meriwayatkan dari
Abdullah bin Iyasy dari Abdurrahman Al-A’raj dari Abu Hurairah secara
marfu. Diambil dari Takhrij Ahadits Musykil Al-Faqr, karya Al-Albani,
Cetakan Pertama,Tahun 1405H, Al-Maktab Al-Islami Beirut, hal.67-68
[12]. Takhrij Ahadits Musykil Al-Fqr, op.cit,hal.68
[13]. Fathul Bari, op.cit 910/3)
[14]. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (4/215), Abu Dawud no.2.788,
At-Tirmidzi no.1.518, An-Nasa’i 7/167 dan Ibnu Majah no. 3125. Hadits
ini dishahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah no.1478 dan Shahih Al-Jaami.
[15]. Fathul Bari op.cit 10/4
[16]. Diriwayatkan Muslim no. 5089
[17]. Lihat Majmu Syarhu Al-Muhadzdzab op.cit 8/356
[18]. Diriwayatkan Imam Muslim no. 5093
[19]. Majmu Fatawa 23/164
[20]. Syaikh Al-Albani berkata : Haditsn shahih diriwayatkan Abu Daud
2810 dan Tirmidzi 1/287, lihat Irwa Al-Gahlil 4/349 no. 1138
[21]. Muhammad bin Ali Al-Syaukani, Nailul Authar Min Ahadits Sayidil
Ahyaar Syarhu Muntaqa Al-Akhbaar, tahqiq Muhamamd Salim Hasyim, cetakan
pertama tahun 1415H. Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut hal. 5/117
[22]. Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 9/295 dan
dishahihkan Al-Albani.Lihat Irwa Al-Ghalil Fi Takhrij Ahaadist Manaar
Al-Sabil, karya Syaikh Al-Albani cetakan ke 2 tahun 1405H, Al-Maktab
Al-Islami no. 1139 hal 4/355
[23]. Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jakni Al-Syinqithi,
Adhwaa Al-Bayaan Fi Idhah Al-Qur’an bin Qur’an, tanpa tahun dan
cetakan, Alam Al-Kutub Beiurt 5/618

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s