Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

Rukun-Rukun Shalat

Tinggalkan komentar

Setiap ibadah mempunyai bagian-bagian utama dan sendi-sendi dasar yang tidak terpisahkan darinya, bagian-bagian dan sendi-sendi yang tersusun itulah yang membentuk ibadah, karenanya bagian dan sendi tersebut tidak boleh gugur atau tanggal dari sebuah ibadah, jika tidak maka keabsahan ibadah pun gugur, ia menjadi tidak sah dengan tidak terpenuhinya bagian-bagian dan sendi-sendi tersebut.

Dalam ibadah shalat bagian dan sendi tersebut dikenal dengan nama rukun shalat, ia bisa dalam bentuk perbuatan dan bisa pula dalam bentuk perkataan.

Rukun pertama, Berdiri

Kewajiban berdiri dalam shalat fardhu adalah fardhu yang hanya gugur dalam kondisi tidak mampu, perkara ini telah menjadi titik ijma’ di kalangan para ulama. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/258 berkata, “Berdiri dalam shalat fardhu adalah fardhu dengan ijma’, shalat orang yang mampu berdiri tidak sah kecuali dengan berdiri, bahkan rekan-rekan kami berkata, ‘Jika seorang muslim berkata, ‘Aku menghalalkan duduk dalam shalat fardhu’ tanpa alasan, atau dia berkata, ‘Berdiri dalam shalat fardhu bukan fardhu’ maka dia kafir kecuali jika dia baru masuk Islam.”

Dalil-dalil yang menetapkan kewajiban berdiri dalam shalat fardhu

Firman Allah, “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238).

Sabda Nabi saw kepada Imran bin Hushain

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا

“Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu maka dengan duduk.” (HR. Al-Bukhari).

Adapun untuk shalat nafilah atau sunnah maka berdiri bukan merupakan rukun, dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda,

صَلاَةُ الرَّجُلِ قَاعِدًَا نِصْفُ الصَّلاَةِ

“Shalat seseorang dengan duduk adalah setengah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, Jabir, Anas dan Amir bin Rabi’ah bahwa Rasulullah saw shalat nafilah di atas kendaraannya.

Kapan kewajiban berdiri ini gugur?

Dalam kondisi tidak mampu sebagaimana sabda Nabi saw kepada Imran bin Hushain di atas di tambah dengan kaidah umum bahwa Allah tidak membebani seorang hamba kecuali sebatas kemampuannya. Jika seorang hamba shalat fardhu dengan duduk karena halangan, misalnya sakit maka dia meraih pahala shalat seperti dia shalat dengan berdiri, ini adalah salah satu bentuk kemurahan dari Allah.

Dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda,

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مَاكَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bepergian maka ditulis untuknya apa yang dia lakukan pada saat dia mukim lagi sehat.” (HR. Al-Bukhari).

Jika seseorang mampu berdiri pada sebagian rakaat dan tidak pada rakaat yang lain maka dia wajib melakukannya, misalnya dia mampu berdiri pada rakaat pertama dan tidak pada rakaat kedua, maka dia berdiri pada rakaat pertama, jika dia tidak mampu berdiri pada rakaat pertama maka dia shalat dengan duduk, jika pada rakaat kedua dia mampu berdiri maka dia harus berdiri.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertakwalah kamu kepada Allah sebatas kemampuanmu.” (At-Taghabun: 16).

Berdiri bersandar kepada sesuatu, apakah termasuk berdiri?

Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa berdiri secara mandiri dalam arti tidak bersandar kepada sesuatu merupakan maksud dari berdiri dalam shalat. Selanjutnya mereka berbeda pendapat tentang sah tidaknya berdiri dengan bersandar dalam kondisi mampu.

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/259-260 menjelaskan bahwa dalam perkara ini terdapat tiga pendapat: Pertama, dan ini yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi paling shahih, berdiri mandiri bukan syarat dalam berdiri, jika dia bersandar kepada dinding atau seseorang atau tongkat di mana jika sandarannya itu digeser maka dia akan terjatuh maka shalatnya tetap sah walaupun ia makruh karena dia tetap dinamakan berdiri. Kedua, berdiri mandiri merupakan syarat, tidak sah jika dia mampu shalat dengan bersandar. Ketiga, boleh bersandar dalam bentuk jika sandarannya digeser dia tidak terjatuh, karena bersandar dengan cara ini tidak mengeluarkan dari nama berdiri. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

Rukun-Rukun Shalat 2
Senin, 25 Agustus 08
Rukun kedua, Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram adalah ucapan mushalli (orang yang shalat), “Allahu Akbar” di awal shalatnya, takbir ini disebut ihram karena ia yuharrimu (mengharamkan atau melarang) berbicara, makan dan lainnya atas mushalli.

Ucapan takbir yang shahih adalah “Allahu Akbar” tidak lain, Nabi saw selalu memulai shalat dengannya, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah berkata, “Rasulullah saw membuka shalat dengan takbir.” Abdullah bin Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah saw membuka shalat dengan takbir, beliau mengangkat…(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan beliau bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits).

Tiga hadits di atas menetapkan bahwa lafazh takbir di awal shalat hanya “Allahu Akbar” tidak ada yang lain. Jika dia mengucapkan kata lain walaupun mungkin semakna dengannya, misalnya dia berkata, “Allahu A’zham” atau “Allahu Kabir” atau “Ar-Rabb Akbar” atau “Ar-Rahman Akbar” maka shalatnya tidak sah menurut pendapat yang kuat di kalangan para ulama dengan alasan di atas, dan ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini.

Bagaimana jika mushalli mengucapkan “Allahul Akbar”? dengan tambahan alif lam, Jumhur ulama dan Imam asy-Syafi’i di dalamnya berpendapat, shalatnya sah karena dia hanya menambahkan alif lam, tidak merubah makna. Pendapat ini dinyatakan shahih oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/292. Imam Malik dan Ahmad berpendapat, shalatnya tidak sah karena adanya tambahan tersebut. Wallahu a’lam.

Dalil-dalil yang menetapkan takbiratul ihram sebagai rukun shalat

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/290 berkata, “Takbiratul ihram adalah salah satu rukun shalat, shalat tidak sah tanpanya, ini adalah madzhab kami, Malik, Ahmad, jumhur salaf dan khalaf.”

Selanjutnya Imam an-Nawawi memaparkan dalil-dalil dari sunnah, di antaranya:

Sabda Nabi saw kepada seorang laki-laki yang tidak baik dalam shalatnya,

اِذَا قُمْتَ اِلىَ الصَّلاَةِ فأَسْبِغِ الوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ

Jika kamu berdiri shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat lalu bertakbirlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Sabda Nabi saw,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ، وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ، وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ

Kunci shalat adalah bersuci, tahrimnya adalah takbir dan tahlilnya adalah taslim.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Ali bin Abu Thalib, al-Hakim menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi, dishahihkan pula oleh Syaikh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi saw).

Yang dimaksud tahrim adalah muharrim, yang mengharamkan, yakni yang mengharamkan ucapan dan perbuatan selain ucapan dan perbuatan shalat adalah takbir, ini berarti seorang mushalli hanya bisa masuk ke dalam shalat dengan takbir. Adapun tahlil maka maksudnya adalah muhallil, yang menghalalkan, yakni menghalalakan ucapan dan perbuatan yang sebelumnya diharamkan di dalam shalat, ini berarti seorang mushalli hanya bisa keluar dari shalat dengan salam.

Hukum meninggalkan takbiratul ihram

Jumhur ulama termasuk Imam yang empat berpendapat bahwa jika mushalli meninggalkan takbiratul ihram, baik dengan sengaja maupun karena lupa maka shalatnya tidak sah. Dalilnya adalah hadits-hadits di atas, dan pendapat ini shahih.

Sebagian Tabiin seperti Said bin al-Musayyib, al-Hasan al-Bashri, az-Zuhri, Qatadah dan al-Auza’i berpendapat, jika mushalli lupa takbiratul ihram maka takbir ruku’ menggantikannya.

Dalam kondisi apa takbiratul ihram diucapkan?

Dalam kondisi berdiri, demikian pula dengan makmum masbuq yang mendapati imam dalam keadaan ruku’, takbiratul ihramnya harus diucapkan seluruhnya dalam keadaan berdiri, jika ada sebagian hurufnya yang diucapkan bukan pada saat berdiri maka shalatnya tidak sah tanpa perbedaan. Demikian yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/296.

Apa yang disunnahkan dalam takbiratul ihram

Mengeraskan takbir bagi imam agar makmum mendengarnya dan bertakbir setelah takbirnya. Nabi saw bersabda, “Jika imam mengucapkan, ‘Allahu Akbar’ maka ucapkanlah, ‘Allahu Akbar’. (HR. al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi saw). Adapun makmum maka dia memelankannya, cukup didengar oleh dirinya sendiri.

Disunnahkan mengangkat tangan, Syaikh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi saw berkata, “Terkadang Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya bersama takbir, terkadang setelah takbir dan terkadang sebelumnya. Beliau mengangkat kedua tangan dengan jari-jari lurus, tidak direnggangkan dan tidak ditekuk. Beliau mengangkat kedua tangan sampai mendekati kedua pundaknya dan terkadang mengangkat keduanya sampai mendekati kedua telinganya.”
(Izzudin Karimi)

Rukun-Rukun Shalat 3
Senin, 01 September 08

Rukun Shalat Ketiga, Membaca Al-Fatihah

Membaca al-Fatihah bagi yang mampu adalah salah satu kewajiban dan salah satu rukun shalat, ia tidak tergantikan oleh al-Qur`an yang lainnya menurut pendapat yang shahih, baik dalam shalat fardhu maupun nafilah, shalat jahr (bacaan keras) maupun sir(bacaan pelan), bagi imam, munfarid dan makmum, untuk yang terakhir ini terlepas dari perbedaan di antara para ulama yang nanti akan dijelaskan.

Tentang kewajiban al-Fatihah dalam shalat, bahwa ia tidak tergantikan oleh selainnya adalah madzhab jumhur ulama, di antara mereka adalah Imam yang tiga selain Abu Hanifah. Imam yang terakhir ini berpendapat bahwa al-Fatihah tidak harus, selain al-Fatihah bisa menggantikannya.

Jumhur ulama berdalil kepada hadits-hadits berikut:

1- Sabda Nabi saw,

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَيَقْرَأُ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul Kitab di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin ash-Shamit).

2- Sabda Nabi saw,

مَنْ صَلَّي صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الكِتَابِ فَهِيَ خَدَاجٌ فَهِيَ خَدَاجٌ فَهِيَ خَدَاجٌ

Barangsiapa shalat tidak membaca di dalamnya dengan Ummul Kitab maka ia tidak sempurna, tidak sempurna, tidak sempurna.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

3- Sabda Nabi saw,

لاَتُجْزِى صَلاَةٌ لاَيَقْرَأُ الرَّجُلُ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

“Tidak sah shalat di mana seseorang tidak membaca Fatihatul Kitab di dalamnya.” (HR. Ad-Daraquthni).

Sementara Imam Abu Hanifah berdalil kepada:

1- Firman Allah, “Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur`an.” (Al-Muzzammil: 20).

2- Sabda Nabi saw kepada laki-laki yang shalat tidak baik,

ثُمَّ إسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَاتَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ

“…Kemudian menghadaplah kiblat lalu bertakbirlah kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur`an.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

3- Sabda Nabi saw,

لاَصَلاَةَ إِلاَّ بِقُرْآنِ وَلَوْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

“Tidak ada shalat kecuali dengan al-Qur`an walaupun dengan Fatihatul Kitab.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Pendapat pertama adalah pendapat yang rajih karena;

1- Ayat surat al-Muzzammil hadir dalam urusan shalat malam dan maksudnya adalah bacalah apa yang mudah dari al-Qur`an setelah al-Fatihah.

2- Maksud dari sabda Nabi saw, “Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur`an.” adalah al-Fatihah, karena ia adalah surat yang paling mudah.

3- Hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di atas tidak shahih seperti yang dikatakan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

Rukun Shalat 4 : Ruku’
Senin, 13 Oktober 08
Makna ruku’

Dari segi bahasa ruku’ berarti merunduk, ada yang berkata, menunduk. Secara istilah ruku’ adalah merundukkan badan sehingga kepala sejajar dengan punggung seraya meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut.

Dalil yang menetapkan ruku’ sebagai rukun shalat

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu.” (Al-Hajj: 77).
Sabda Nabi saw kepada laki-laki yang tidak bisa shalat dengan baik,

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا

Kemudian ruku’lah sehingga kamu bertuma`ninah dalam keadaan ruku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Syaikh al-Albani dalam Shifatu Shalat an-Nabi saw menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i, hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, “Shalat salah seorang dari kalian tidak sempurna sehingga dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah… kemudian bertakbir, bertahmid dan memuliakanNya, membaca al-Qur`an yang mudah baginya dari apa yang Allah ajarkan dan izinkan kepadanya, kemudian bertakbir dan ruku’, meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya sehingga persendiannya tenang dan berada pada posisinya.”

Dan beliau bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits).

Bagaimana ruku’ Nabi saw?

Syaikh al-Albani dalam Shifatu Shalat an-Nabi saw menyebutkan sifat ruku’ Nabi saw, beliau berkata, “Nabi saw meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, beliau memantapkan kedua tangannya di atas kedua lututnya seolah-olah beliau menggenggamnya, beliau merenggangkan jari-jarinya, menjauhkan kedua sikunya dari pinggangnya, beliau membentangkan dan meluruskan punggungnya, sampai-sampai seandainya air dituang di atasnya niscaya ia akan diam, beliau tidak menundukkan kepalanya dan tidak mendongakkannya.”

Kewajiban thuma’ninah dalam ruku’

Rasulullah saw ruku’ dengan thuma`ninah, beliau memerintahkan orang yang shalat dengan keliru agar mengulangnya karena dia tidak berthuma`ninah, beliau mengumpamakan orang yang ruku’ tanpa thuma’ninah dengan ayam jantan yang mematok makanannya atau seperti burung gagak yang mematok bangkai, beliau menyatakan bahwa orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud adalah pencuri terburuk. Semua ini menetapkan kewajiban thuma`ninah dalam ruku’.

Rukun 5: Bangkit dari ruku’ di sertai i’tidal

Ini adalah salah satu rukun shalat, Nabi saw melakukannya dan memerintahkan laki-laki yang shalat dengan keliru agar melakukannya,

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

Kemudian bangkitlah sehingga kamu berdiri dengan i’tidal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Apabila Nabi saw bangkit dari ruku’, beliau berdiri tegak sehingga setiap ruas tulang punggung kembali kepada posisinya. Wallahu a’lam.

Rujukan: Al-Majmu’, Imam an-Nawawi dan Shifatu Shalat an-Nabi saw, Syaikh al-Albani.
(Izzudin Karimi)

Rukun Shalat 6 : Sujud
Senin, 20 Oktober 08
Makna sujud

Al-Azhari berkata, asal makna sujud adalah ketenangan dan kecondongan. Al-Wahidi berkata, asalnya adalah ketundukan dan kerendahan. Siapa yang tunduk dan merendah maka dia bersujud. Orang yang meletakkan keningnya di tanah disebut bersujud karena perbuatannya ini merupakan ketundukan yang mendalam.

Sujud dalam shalat berarti mushalli menurunkan badannya sehingga keningnya menyentuh tanah sambil bertumpu di atas kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki.

Dalil yang menetapkan sujud sebagai rukun shalat

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu.” (Al-Hajj: 77).
Sabda Nabi saw kepada laki-laki yang tidak bisa shalat dengan baik,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

Kemudian sujudlah sehingga kamu bertuma`ninah dalam keadaan sujud.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Anggota sujud

Anggota sujud di mana ia merupakan tumpuan bagi mushalli ketika bersujud ada tujuh: kening bersama hidung, kedua tangan, kedua lutut dan ujung jari kedua kaki.

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلىَ سَبْعَةِ اَعْظُمٍ عَلىَ الجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ اِلىَ أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِِ القَدَمَيْنِ . رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang; kening –dan beliau menunjuk hidungnya- dua tangan, dua lutut dan ujung dua kaki.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ditunjuknya hidung oleh Nabi saw sambil beliau bersabda, “Kening.” berarti bahwa dua anggota ini adalah satu, mushalli bersujud dengan meletakkan keduanya di atas tanah, tidak cukup salah satunya.

Sujud Nabi saw

Dalam Shifatu Shalati an-Nabi saw disebutkan, Nabi saw berpijak kepada kedua telapak tangannya, membuka keduanya dan merapatkan jari-jarinya seraya menghadapkannya ke kiblat. Beliau meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua pundak, terkadang sejajar dengan kedua telinganya. Beliau memantapkan hidung dan keningnya di atas tanah. Beliau juga memantapkan kedua lututnya dan ujung telapak kakinya (ke tanah). Beliau menegakkan kedua telapak kakinya dan merapatkan keduanya, menghadapkan punggung telapak kaki dan jari-jarinya ke arah kiblat. Beliau tidak merapatkan kedua lengannya ke tanah, akan tetapi mengangkat keduanya dan menjauhkan keduanya dari pinggangnya sampai putih ketiaknya terlihat dari belakang, seandainya seekor anak kambing hendak lewat di bawahnya maka ia akan lewat.

Kewajiban thuma`ninah dalam sujud

Rasulullah saw sujud dengan thuma`ninah, beliau memerintahkan orang yang shalat dengan keliru agar mengulangnya karena dia tidak berthuma`ninah, beliau bersabda kepadanya, “Kembalilah lalu shalatlah karena kamu belum shalat.”

Beliau bersabda, “Manusia yang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dia mencuri dari shalatnya?” Beliau menjawab, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ibnu Abu Syaibah, At-Thabrani, al-Hakim dan dia menshahihkannya, disetujui oleh adz-Dzahabi).

Suatu kali Nabi saw shalat, beliau memperhatikan dengan ekor matanya seorang laki-laki yang tidak menegakkan tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud, selesai shalat beliau bersabda, “Wahai kaum muslimin, tidak ada shalat bagi orang yang tidak menegakkan tulang sulbinya dalam ruku’ dan sujud.” (HR. Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

Rujukan: Al-Majmu’, Imam an-Nawawi dan Shifatu Shalat an-Nabi saw, Syaikh al-Albani.
(Izzudin Karimi)

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s