Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

DEFINISI I’TIKAAF

Tinggalkan komentar

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

I’tikaaf berasal dari kata.

‘akafa – ya’kufu – ‘ukuufan

Kemudian disebut dengan i’tikaaf.

I’takafa’ ya’takifu i’tikaafan

I’tikaaf menurut bahasa ialah: “Menetapi sesuatu dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan”

Allah berfirman:

“Artinya: Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? [Al-Anbiyaa : 52]

I’tikaaf berarti: “Tekun dalam melakukan sesuatu. Karena itu, orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah disana, disebut mu’takif atau ‘aakif”.[1]

Sedangkan arti i’tikaaf menurut istilah syara’ ialah: “Seseorang tinggal/menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan sifat/ciri tertentu”

[Lihat Fat-hul Baari (IV/271), Syarah Muslim (VIII/66), Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 579) ar-Raghib al-Ashfahani, Muhalla (V/179)]

DISYARI’ATKANNYA I’TIKAAF
Para ulama sepakat bahwa i’tikaaf disyari’atkan dalam agama Islam pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya dan i’tikaaf yang paling utama adalah pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Hal tersebut karena Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam selalu mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits:

Hadits Pertama:
“Artinya : Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam biasa beri’tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melaksanakan i’tikaaf sepeninggalnya”

[HR. Ahmad VI/92, al-Bukhari no. 2026, Fat-hul Baari IV/271, Muslim no. 1172 (5), Abu Dawud no. 2462, dan al-Baihaqi IV/ 315, 320.]

Hadits Kedua:.
“Artinya : Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu alaiahi wa sallam biasa i’tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”.

[HSR. Al-Bukhari no. 2025 dan Muslim no. 1171 (2).]

Hadits Ketiga:
“Artinya : Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaiahi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan, maka beliau) mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam itu, membangunkan istrinya”.

[HSR. Ahmad VI/41, al-Bukhari no. 2024, Muslim no. 1174, Abu Dawud no. 1376, an-Nasa-i III/218, lafazh ini milik al-Bukhari.]

Maksud dari kalimat.
[1]. “Mengikat kainnya”, adalah satu kinayah bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak bercampur dengan istri-istrinya karena beliau selalu melakukan i’tikaaf setiap sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sedangkan orang yang i’tikaaf tidak boleh bercampur dengan istrinya.
[2]. “Menghidupkan malamnya”, artinya beliau Shallallahu alaihi wa sallam sedikit sekali tidur dan banyak melakukan shalat dan berdzikir.
[3]. “Membangunkan istrinya”, yakni menyuruh mereka shalat malam (Tarawih) serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.

[Lihat dalam Subulus Salam (II/351) karya as-Shan’aani, Fiqhul Islam Syarah Buluughil Maraam (III/257-258)]

Hadits Keempat
“Artinya : Aisyah Radhiyallahu anha berkata: Ialah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan) melebihi kesungguhannya di malam-malam lainnya”.

[HSR. Ahmad VI/256 dan Muslim no. 1175.]

Setiap ibadah yang nashnya sudah jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, maka itu pasti mempunyai keutamaan, meskipun tidak disebutkan keutamaannya. Begitu pula tentang i’tikaaf, walaupun i’tikaaf itu merupakan taqarrub kepada Allah yang mempunyai keutamaan, akan tetapi tidak ditemukan sebuah hadits pun yang menerangkan tentang keutamaannya.
Imam Abu Dawud as-Sijistan berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah engkau suatu keterangan mengenai keutamaan i’tikaaf?” Jawab beliau: Tidak aku dapati, kecuali sedikit riwayat dan riwayat ini pun lemah. Dan tidak ada khilaf (perselisihan) di antara ulama bahwa i’tikaaf adalah Sunnah”.

[Lihat al-Mughni IV/455-456.]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits III/284 dan Lisaanul Arab (IX/341), cet. Daar Ihyaa-ut Turats al-Arabi.

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s