Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

Masail Adzan dan Iqamah

2 Komentar

Hukum Adzan

Masalah pertama, Orang-orang melaksanakan shalat tanpa adzan, apa hukumnya?
Jawab, Mereka tidak boleh menunaikan shalat tanpa adzan, karena adzan adalah fardhu kifayah atas kaum muslimin di setiap negeri, begitu pula para musafirin, mereka harus beradzan untuk shalat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw dalam perjalanan-perjalanan beliau dan sebagaimana telah diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi saw bersabda kepada Malik bin al-Huwairits dan kawan-kawannya ketika mereka meminta izin pulang ke kampung, “Jika shalat telah tiba maka hendaknya salah seorang dari kalian beradzan dan yang menjadi imam adalah yang paling tua dari kalian.” (Muttafaq alaihi).

Jika penduduk suatu negeri meninggalkannya maka mereka berdosa semuanya, jika Nabi saw hendak menyerang suatu kaum beliau menunggu sampai pagi, jika beliau mendengar adzan, jika tidak maka beliau menyerang mereka, hanya saja adzan bukan merupakan syarat sahnya shalat, seandainya mereka shalat tanpa adzan maka shalat mereka sah.

Masalah kedua, Bolehkah munfarid shalat tanpa adzan?
Jawab, Boleh, akan tetapi jika dia berada di tempat terpencil atau kebun yang jauh dan sepertinya maka disyariatkan baginya untuk beradzan walaupun dia shalat sendiri, sebagaimana disyariatkan baginya iqamat secara mutlak berdasarkan keumuman dalil dan berdasarkan ucapan seorang sahabat yang mulia Abu Said al-Khudri kepada Abdullah al-Anshari, “Aku melihatmu menyukai kambing dan pedalaman, jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau di pedalaman, maka beradzanlah untuk shalat, angkatlah suaramu dengan adzan karena gaung suara muadzain tidak didengar oleh jin dan manusia dan sesuatu kecuali ia bersaksi untuknya pada Hari Kiamat.” Abu Said berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah saw.” (HR. al-Bukhari dan Ahmad).

Masalah ketiga, Jika aku masuk masjid untuk shalat jamaah dan aku mendapati mereka telah selesai, sementara aku tidak mendengar adzan, apakah aku beradzan atau shalat hanya dengan iqamat saja?

Jawab, Adzan muadzin masjid tersebut sudah cukup, karena adzan termasuk wajib kifayah, jika sebagian kaum muslimin sudah menunaikannya maka ia gugur dari yang lain, jadi kamu shalat dengan iqamat saja.

Adzan Wanita

Masalah keempat, Bolehkan wanita beradzan?
Jawab, Wanita tidak beradzan menurut pendapat yang shahih di antara pendapat-pendapat para ulama, karena pada zaman Nabi saw dan khulafa` rasyidin adzan tidak diserahkan kepada wanita.

Masalah kelima, Saya mengetahui bahwa wanita tidak beriqamat, apakah disyariatkan bagi wanita beriqamat jika dia menjadi imam bagi para wanita?

Jawab, Tidak disunnahkan bagi wanita untuk beriqamat untuk shalat, baik dia shalat sendiri maupun berjamaah, sebagaimana tidak disyariatkan adzan baginya.

Syarat Adzan

Masalah keenam, Bolehkah adzan tanpa berwudhu dan apa hukum adzan junub?
Jawab, Adzan orang dalam keadaan hadats kecil dan besar sah, hanya saja yang afdhal adalah suci dari kedua hadats tersebut, tetapi untuk yang berhadats besar dia tidak boleh berdiam di masjid walaupun untuk adzan, karena hadats besar termasuk penghalang bagi seseorang untuk berdiam di masjid.

Lupa Pada Saat Adzan
Masalah ketujuh
, Jika muadzin melupakan sebagian kalimat adzan sehingga dia mengurangi sebagian darinya seperti takbir atau hayya ala ash-shalah dan dia mengetahui hal itu setelah adzan, apakah dia mengulang adzan atau bagaimana?

Jawab, Benar, dia mengulang adzan karena adzan yang dia kumandangkan keliru menyelisihi yang baku dari sisi kekurangannya, akan tetapi jika dia mengetahui atau diberitahu sementara waktunya belum lama maka dia melakukan apa yang dia tinggalkan dan yang sesudahnya.

Halangan Pada Saat Adzan

Masalah kedelapan, Apa yang dilakukan muadzin jika dia tidak bisa menyelesaikan adzan karena alasan syar’i seperti sakit atau wafat atau pingsan dan yang sepertinya, apakah orang lainnya menggantikannya? Apakah yang mengantikannya ini meneruskan adzan muadzin yang pertama atau dia memulai adzan dari awal?

Jawab, Orang lain melanjutkan adzannya, tetapi jika dia memulainya dari awal adzan maka tidak mengapa?

Waktu Adzan

Masalah kesembilan, Apa hukum adzan sepuluh menit sebelum masuk waktu, apakah wajib mengulangnya?

Jawab, Tidak boleh adzan sebelum masuk waktu, barangsiapa beradzan dan terbukti bahwa adzannya sebelum masuk waktu shalat di mana adzan tersebut untuknya maka dia wajib mengulangnya setelah masuk waktu kecuali shalat Shubuh, karena adzan sebelumnya memang disyariatkan.

Dirangkum dari Fatawa al-Lajnah ad-Daimah disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy jilid enam.
(Izzudin Karimi)

Masail Adzan dan Iqamat 2
Senin, 04 Agustus 08

Tambahan tatswib الصلاة خير من النوم dalam Adzan Fajar

Masalah kesepuluh Apakah الصلاة خير من النوم dalam adzan fajar diucapkan pada adzan awal atau adzan tsani (kedua)?

Jawab, Hadits-hadits yang ada dalam bab ini sebagian darinya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama jarh wa ta’dil ma’lul(berillat), tetapi sebagian yang lain dishahihkan oleh mereka, ini dari satu sisi, dari sisi yang lain terdapat hadits yang menunjukkan bahwa tatswib diucapkan pada adzan awal, terdapat pula hadits lain yang menunjukkan bahwa tatswibdiucapkan pada adzan kedua. As-Siraj, at-Thabrani dan al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Ibnu Ijlan dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Adzan awal setelah حي على الفلاح ada tambahan الصلاة خير من النوم dua kali.” Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” Al-Ya’mari berkata, ‘Ini sanad shahih.”

Ibnu Khuzaemah, ad-Daraquthni dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas berkata, “Termasuk sunnah jika muadzin mengucapkan حي على الفلاح pada adzan fajar untuk mengucapkan الصلاة خير من النوم.” Al-Ya’mari berkata, “Sanadnya shahih.” Imam Baqi bin Makhlad berkata, Yahya bin Abdul Hamid menyampaikan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menyampaikan kepada kami, Abdul Aziz bin Rufai’ menyampaikan kepadaku, dia berkata, aku mendengar Abu Mahdzurah berkata, ketika aku masih kecil aku adzan fajar di hadapan Rasulullah saw di Hunain, ketika aku sampai pada حي على الفلاح, beliau bersabda, “Tambahkan الصلاة خير من النوم .” Diriwayatkan oleh an-Nasa`i dari jalan lain dari Abu Ja’far dari Abu Sulaiman dari Abu Mahdzurah, dishahihkan oleh Ibnu Hazm.

Untuk menggabungkannya dikatakan, ada kemungkinan tastwib pertama kali diucapkan pada adzan awal, selanjutnya ditetapkan pada adzan kedua, hal ini untuk mengamalkan kedua dalil tersebut, masing-masing pada waktunya. Kemungkinan lain, bahwa tatswib diucapkan pada adzan bukan pada iqamat, karena iqamat bisa disebut adzan kedua bersama adzan sebagaimana dalam hadits, “Di antara dua adzan terdapat shalat.” Hal ini ditunjukkan oleh hadits Aisyah di Abu Dawud, petunjuknya zhahir bahwa yang dimaksud dengan adzan awal adalah adzan fajar (adzan kedua), ia dinamakan awal untuk memisahkannya dengan iqamat.

Doa ba’da adzan

Masalah kesebelas Apakah tambahan إِنك لا تخلف الميعاد di ujung doa ba’da adzan shahih?

Jawab, Kalimat إنك لا تخلف الميعاد tidak tercantum dalam kitab-kitab sunnah yang enam, akan tetapi ia diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunannya dari jalan Ali bin Iyadh, dia berkata, Syuaib bin Abu Hamzah menyampaikan kepada kami dari Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir bin Abdullah …Dan dia menyebutkan haditsnya, dia menambahkan إنك لا تخلف الميعاد di akhirnya, ”
Jadi tambahan ini bukan bid’ah karena ia shahih dalam riwayat al-Baihaqi dari Jabir.

Masalah kedua belas Apakah berdoa dengan mengangkat kedua tangan ba’da adzan shahih?

Jawab, Sunnah yang suci menunjukkan disyariatkannya doa ba’da adzan dan sebelum iqamat, sebagaimana mengangkat tangan pada saat doa juga disyariatkan, hanya saja seorang muslim berdoa dengan suara pelan tanpa mengangkat suaranya.

Masalah ketiga belas Ada beberapa pembimbing datang kepada kami, mereka mengatakan bahwa jika seseorang berdoa dengan mengangkat tangannya maka dia tidak mengusap wajahnya dengannya sesudahnya karena mengusap wajah setelah doa adalah bid’ah, para pembimbing itu juga berkata, jika muadzin beriqamat dan mengucapkan,
قد قامت الصلاة dan sebagian jama’ah ada yang berkata, أقامها الله وأدامها adalah bid’ah, tidak boleh, mohon penjelasan tentang hukum kedua masalah ini?

Jawab, pertama, doa dan permintaan seorang hamba kepada Rabbnya disyariatkan dan dianjurkan, mengangkat tangan mengandung kerendahan dan kepasrahan di hadapan Allah juga disyariatkan, adapun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa maka terdapat padanya hadits dhaif diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalan Shalih bin Hassan an-Nashri dari Muhammad bin Kaab al-Qurazhi dari Ibnu Abbas berkata, Nabi saw bersabda, “Jika kamu berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu, jika kamu selesai maka usaplah wajahmu dengan keduanya.” Hadits ini dhaif karena Shalih bin Hassan dhaif, Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan ad-Daraquthni mendhaifkannya. Al-Bukhari berkata, “Haditsnya ditinggalkan.”

Terdapat hadits lain diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Umar bin al-Khatthab, hadits ini dhaif karena di dalam sanadnya terdapat Hammad bin Isa, dia dhaif dan dia meriwayatkannya sendiri.

Karena doa merupakan ibadah yang disyariatkan sementara mengusap wajah setelahnya tidak ditetapkan oleh sunnah qauliyah dan fi’liyah, akan tetapi ia diriwayatkan dari jalan-jalan yang lemah, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya berpijak kepada hadits-hadits shahih yang tidak menyinggung mengusap.

Kedua, pada dasarnya ibadah adalah tauqifiyah, tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, dan tidak ada riwayat shahih dari Nabi saw bahwa beliau ketika mendengar iqamat mengucapkan أقامها الله وأدامها memang Abu Dawud meriwayatkan hal itu tetapi dari jalan dhaif, dia berkata, Sulaiman bin Dawud al-Utaki menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Tsabit menyampaikan kepada kami, seorang laki-laki dari Syam menyampaikan kepadaku dari Syahr bin Hausyab dari Abu Umamah atau dari sebagian sahabat Nabi saw bahwa Bilal beriqamat, ketika dia mengucapkan قد قامت الصلاة Nabi saw mengucapkan أقامها الله وأدامها . Hadits ini dhaif karena dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak diketahui, dan rawi yang tidak diketahui tidak diterima.

Dengan ini jelaslah bahwa ucapan أقامها الله وأدامها pada saat muqim mengucapkan قد قامت الصلاة tidak disyariatkan karena tidak diriwayatkan secara shahih dari Nabi saw, lebih baik mengucapkan seperti yang diucapkan oleh muqim karena iqamat adalah adzan dan Nabi saw bersabda, “Jika kamu mendengar muadzin maka ucapkanlah apa yang dia ucapkan.

Dirangkum dari Fatawa al-Lajnah ad-Daimah disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy jilid enam.
(Izzudin Karimi)

Masail Adzan dan Iqamat 3
Senin, 11 Agustus 08

Bid’ah-Bid’ah Adzan

Masalah keempat belas, Apa hukum ucapan muadzin حي على خير العمل dalam adzannya?

Jawab, Adzan adalah salah satu ibadah dan pada dasarnya ibadah itu bersifat tauqifiyah, tidak dikatakan bahwa amal tertentu disyariatkan kecuali dengan dalil dari al-Qur`an, sunnah dan ijma’, mengatakan bahwa ibadah tertentu disyariatkan tanpa dalil syar’i berarti berkata atas nama Allah tanpa ilmu, Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A’raf: 33). Firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al-Isra`: 31). Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.” Dalam riwayat lain, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasar kepada perintah kami maka ia tertolak.

Jika hal ini telah diketahui maka adzan syar’i dari Rasulullah saw adalah lima belas kalimat [Dalam teks fatwa disebutkan lafazh adzan sebagaimana ia dilakukan oleh kaum muslimin, penukil tidak mencantumkannya untuk meringkas]. Inilah yang shahih bahwa Rasulullah saw memerintahkan Bilal agar beradzan dengannya sebagaimana hal itu disebutkan oleh ahlus sunan dan musnad-musnad, kecuali dalam adzan subuh, diriwayatkan secara shahih bahwa muadzin Nabi saw menambahkan الصلاة خير من النوم setelah حي على الفلاح dan imam yang empat sepakat bahwa ia disyariatkan karena pengakuan Rasulullah saw terhadap Bilal menunjukkan bahwa ia disyariatkan. Adapun ucapan muadzin حي على خير العمل dalam adzan subuh maka ia tidak diriwayatkan secara shahih dan tidak mempunyai lahan pengamalan di kalangan ahlus sunnah, ucapan ini termasuk buatan orang-orang Rafidhah, siapa melakukannya maka dia harus diingkari dengan cara yang membuatnya tidak lagi mengucapkannya dalam adzan.

Masalah kelima belas, Apakah mencium kedua ibu jari pada saat mengucapkan أشهد أن محمدا رسول الله mempunyai dasar?

Jawab, Tidak diriwayatkan secara shahih dari Nabi saw mencium keduanya pada saat mengucapkan أشهد أن محمدا رسول الله jadi mengucapkannya dalam kondisi itu adalah bid’ah, Nabi saw telah bersabda secara shahih, “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.”

Masalah keenam belas, Sebagian masjid di Philipina dan lainnya menggunakan beduk untuk memanggil orang-orang untuk shalat kemudian adzan setelahnya, apakah hal ini boleh dalam Islam?

Jawab, Beduk dan yang sepertinya termasuk alat-alat permainan, ia tidak boleh dipakai untuk memberitahu orang-orang pada saat waktu shalat tiba atau menjelang masuk waktu, ia adalah bid’ah yang diharamkan, Nabi saw telah bersabda secara shahih “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Al-Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah saw menasihati kami dengan nasihat yang mendalam, karenanya hati kami menjadi takut, air mata kami bercucuran, kami berkata, “Ya Rasulullah saw, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, berwasiatlah kepada kami.” Nabi saw bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan manaati walaupun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah, siapa yang berumur panjang dari kalian maka dia akan melihat banyak perbedaan, berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, jauhilah perkara-perkara yang di ada-adakan karena setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Masalah ketujuh belas, Apa hukum taawudz dan basmalah sebelum adzan?

Jawab, Kami tidak mengetahui dasar disyariatkannya taawudz dan basmalah sebelum adzan, tidak untuk muadzin, tidak pula untuk yang mendengar dan Nabi saw telah bersabda secara shahih, “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.” Dalam riwayat, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasar kepada perintah kami maka ia tertolak.

Masalah kedelapan belas, Apa hukum shalawat kepada Nabi saw sebelum dan sesudah adzan dengan suara keras?

Jawab, Hukumnya adalah bid’ah yang diada-adakan, tidak ada pada zaman Nabi saw, tidal pula pada zaman khulafa` rasyidin dan Nabi saw telah bersabda secara shahih, “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasar kepada perintah kami maka ia tertolak.

Yang disyariatkan adalah muadzin bershalawat kepada Nabi saw dengan suara pelan, tidan mengeraskan suaranya bersama adzan karena hal itu adalah bid’ah. Adzan selesai dengan ucapan, la ilaha illallah dengan kesepakatan ahli ilmu kemudian memohon wasilah kepada Allah untuk Nabi saw, sementara orang yang mendengar adzan disunnahkan mengucapkan apa yang diucapkan oleh muadzin kecuali dalam [hai’alatain], dia mengucapkan لاحول ولاقوة إلا بالله, kemudian bershalawat kepada Nabi saw dan memohon wasilah kepada Allah untuknya sebagaimana hal itu ditetapkan oleh hadits-hadits shahih.

Masalah kesembilan belas, Apakah dalam kehidupan Rasulullah saw memulai adzan dengan bacaan ayat 56 surat al-Ahzab?

Jawab, Hal itu tidak pernah ada dalam kehidupan beliau saw, tidak pula dalam kehidupan salah seorang khulafa` rasyidin, ia adalah bid’ah yang diada-adakan dan Nabi saw telah bersabda secara shahih “Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak.” Muttafaq alaihi.

Dirangkum dari Fatawa al-Lajnah ad-Daimah disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy jilid enam.
(Izzudin Karimi)

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

2 thoughts on “Masail Adzan dan Iqamah

  1. Adakah dalil yg shahih berdo’a ba’da iqamah.?

  2. bagaimana hukumnya adzan tidak tepat pada waktunya ?? misalnya lebih setengah jam , padahal belum ada satupun terdengar seruan adzan apakah boleh adzan atau lansung iqomat . mohon di jelaskan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s