Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

TASHNIFUNNAS (KLASIFIKASI MANUSlA)

Tinggalkan komentar


Oleh : al-Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah –hafidzohulloh-

Tashnifunnas adalah benteng kokoh yang melindungi Sunnah dari hal-hal yang mengotorinya. Tashnifunnas melindungi barisan Ahli Sunnah dari ‘penyelundupan’, dia adalah senjata pelindung agama Islam dari segala macam kotoran yang menodai kemurniannya. Alloh subhanahu wa ta’ala tepis dengan Tashnifunnas penyelewengan orang-orang yang ghuluw, takwil orang-orang yang jahil, tipudaya para pembuat kebid’ahan, makar Khowarij yang melesat dari agama, dan dari segala kejahatan kelompok-kelompok yang menyempal dari jama’ah Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. (red.) Sesungguhnya berpegang teguh dengan Sunnah adalah hal yang sangat agung, hanya saja pada hari ini sangat jarang dijumpai, sehingga seorang yang berpegang teguh dengan Sunnah pada hari ini adalah asing di mata manusia. Maka berpegang teguh dengan Sunnah adalah salah satu dari bentuk keasingan yang akan terjadi di akhir zaman sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.

Kebanyakan manusia pada hari ini tidaklah di atas Sunnah sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri rohimahulloh : “Hendaknya kalian berwasiat kepada ahli Sunnah dengan kebaikan karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang asing.” Jika ini perkataan beliau tentang zaman beliau maka bagaimana dengan keadaan hari ini di mana Sunnah benar-benar menjadi perkara yang asing bagi kaum muslimin?!

Dan di antara nikmat Alloh subhanahu wa ta’ala yang agung kepada kaum muslimin bahwasanya tidak pernah ada suatu zaman yang kosong dari ahli Sunnah untuk menegakkan hujjah Alloh subhanahu wa ta’ala atas manusia semuanya, untuk menyampaikan syari’at Alloh subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang dibawa oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan mengajak kita semua agar berpegang teguh kepada Sunnah dan meninggalkan segala macam kebid’ahan dan ahwa’ (hawa nafsu).

Hanya saja tidak henti-hentinya ahlil bida’ wal ahwa’ menyebarkan kesesatan mereka kepada manusia, mereka sebarkan pemikiran mereka dengan segala cara, bahkan mereka tidak segan-segan menampakkan kepada umat bahwa mereka adalah ahlul haq, bahkan banyak dari mereka yang mengklaim bahwa merekalah ahli Sunnah wal jama’ah dengan maksud untuk memecah belah ahli Sunnah.

Tidak berhenti di situ saja bahkan mereka berusaha menutupi kedok-kedok mereka dengan menyebarkan keraguan terhadap Manhaj Tashnif (klasifikasi manusia antara yang bid’ah dan Sunnah dan antara yang haq dan yang bathil) yang telah disepakati oleh Salafush Sholih.

Untuk itulah insya Alloh dalam pembahasan ini akan kami paparkan masalah tashnifunnas dengan banyak mengambil faedah dari kaset ceramah yang disampaikan oleh Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim rohimahulloh yang berjudul Masail fil Manhaj.

PENGERTIAN TASHNIF

Tashnifunnas (klasifikasi manusia) yaitu menisbahkan pelaku bid’ah kepada bid’ahnya, menisbahkan pendusta kepada kedustaannya, dan menisbahkan seorang yang dijarh kepada jarhnya sebagaimana di dalam kitab-kitab jarh wa ta’dil.

IJMA’ AHLI SUNNAH DALAM TASHNIFUN NAS

Tashnif ini adalah haq tidak ada keraguan di dalamnya, Ahli Sunnah wal Jama’ah telah sepakat atas shohihnya penisbahan orang yang dikenal dengan suatu kebid’ahan kepada bid’ahnya. Barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah qodar maka dia dikatakan qodari, barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah Khowarij maka dia dikatakan Khoriji, barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah irja’ maka dia dikatakan Murji’, barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah rofdh maka dia dikatakan Rofidhi, barangsiapa yang dikenal dengan Tamasy’ur (mengambil pemikiran Abu Hasan al-Asy’ari) maka dia dikatakan Asy’ari, barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah Tasawwuf maka dia dikatakan Shufi, dan barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah i’tizal maka dia dikatakan Mu’tazili, demikianlah seterusnya.

TASHNIFUNNAS DALAM HADITS-HADITS NABI

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya di antara manusia ada manusia-manusia yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan, dan sesungguhnya di antara manusia ada manusia-manusia yang merupakan kunci-kunci kejelekan dan penutup-penutup kebaikan, maka kebahagiaan yang besar bagi siapa yang Alloh subhanahu wa ta’ala jadikan kunci-kunci kebaikan di kedua tangannya dan kebinasaan yang sangat bagi siapa yang Alloh jadikan kunci-kunci kejelekan di kedua tangannya (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunannya 1/86 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh di dalam Silsilah Shohihah 3/320 dan Shohihul Jami’: 2223)

Dalam hadits di atas, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mengklasifikasi manusia menjadi dua kelompok: kelompok yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan dan kelompok yang merupakan kunci-kunci kejelekan dan penutup-penutup kebaikan.

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh kelompok -yaitu dalam ahwa’ – semua di neraka kecuali satu yaitu al-Jama’ah. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/102, ad-Darimi dalam Sunannya 2/314, dan Abu Dawud dalam Sunannya: 4597 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Dzilalul Jannah hlm. 33)

Hadits iftiroqul ummah di atas menunjukkan adanya firoq (kelompok-kelompok, bentuk jama’ dari firqoh) di dalam umat ini. Dan tidak bisa dibayangkan adanya kelompok-kelompok ini kecuali jika ada yang mengikuti pemikiran-pemikiran kelompok-kelompok ini, jika demikian maka barangsiapa yang melandaskan pemikirannya pada pemikiran-pemikiran kelompok ini maka dengan sendirinya dia dinisbahkan kepada kelompok ini.

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah menjelaskan suatu contoh bagi firqoh-firqoh ini yaitu kelompok qodariyyah sebagaimana di dalam sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

Qodariyyah adalah Majusinya umat ini, jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguk mereka, dan jika mereka mati maka janganlah kalian melawat mereka. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/222 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh; dalam Shohihul Jami’: 4442)

Qodariyyah adalah nama kelompok, dan seorang dari mereka dinamakan Qodari.

Dalam hadits di atas Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah menisbahkan sebagian person-person dari umatnya dan yang datang sesudahnya kepada bid’ah qodar, maka beliau tashnif (klasifikasi) mereka kepada bid’ah yang mereka lakukan yaitu pengingkaran kepada qodar.

Contoh yang lain dari firqoh-firqoh tersebut adalah yang datang di dalam lisan Nabi adalah kelompok Khowarij yang seorang dari mereka dikatakan Khoriji.

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah mengisyaratkan kepada mereka di dalam hadits-hadits yang banyak sekali yang mencapai derajat mutawatir, Nabi shollallohu alaihi wa sallam tidak menamakan mereka dengan nama Khowarij akan tetapi telah datang penamaan tersebut dari kalangan sahabat.

Di antara hadits-hadits yang mengisyaratkan kepada Khowarij adalah yang diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah di dalam Sunannya 1/61- dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh di dalam Shohih Sunan Ibnu Majah. Dari Ibnu Umar bahwasanya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Akan muncul suatu kaum yang membaca al-Qur’an tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, setiap muncul suatu generasi maka akan terputus.” Ibnu Umar berkata: “Aku mendengar Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Setiap muncul suatu generasi maka akan terputus” lebih dari dua puluh kali-”hingga keluarlah Dajjal dari pasukan besar mereka”

al-Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan di dalam Sunannya 1/62 —dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh — dari Abu Umamah bahwasanya dia berkata: “Mereka adalah sejelek-jelek mayat yang terbunuh di bawah kolong langit dan sebaik-baik mayat adalah orang-orang yang mereka bunuh, mereka adalah anjing-anjing ahli neraka, sungguh sebelumnya mereka adalah orang-orang Islam, dan kemudian menjadi orang-orang kafir” Perowi berkata: “Aku berkata: “Wahai Abu Umamah, ini adalah ucapanmu sendiri?” Abu Umamah berkata: “Bahkan ini yang aku dengar dari Rosululloh

Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shohihnya 2/750 dari Yusair bin Amr bahwasaya dia berkata: “Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (salah seorang sahabat): “Apakah engkau mendengar Nabi shollallohu alaihi wa sallam menyebut Khowarij?” Dia berkata: “Aku mendengar dia bersabda sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur: “Suatu kaum yang membaca al-Qur’an dengan lisan-lisan mereka tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.”

NUKILAN-NUKILAN DARI SALAFUSHSHOLIH TENTANG TASHNIFUNNAS

Telah datang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan salaf yang semakna dengan hadits-hadits di atas yang banyak dinukil oleh para ulama di dalam kitab-kitab atsar, siyar, dan tarojim (biografi). Maka para ulama Salafush Sholih selalu menjelaskan firqoh-firqoh yang melenceng dari Kitab dan Sunnah kepada umat ini, dan barangsiapa yang dikenal dengan bid’ah-bid’ah ini maka mereka nisbahkan kepadanya.

Di antara atsar-atsar salaf tersebut adalah yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Shohihnya 1/36-37 dari Yahya bin Ya’mar bahwasanya dia berkata: “Adalah yang pertama kali bicara tentang bid’ah qodar di Bashroh adalah Ma’bad al-Juhani.” Di dalam riwayat tersebut bahwasanya dia bertemu dengan Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma dan dia katakan kepadanya: “Sesungguhnya telah nampak di sisi kami orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mencari-cari ilmu dan dia sebutkan tentang keadaan mereka. Dan mereka menyangka bahwa tidak ada takdir dan bahwasanya semua perkara terjadi secara otomatis tanpa ditakdirkan sebelumnya,” maka Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma berkata:

“Jika engkau bertemu dengan mereka beritahukanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku!”

Telah datang riwayat dari Abu Umamah bahwasanya dia menafsirkan firman Alloh azza wa jalla :

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka… (QS. al-An’am[o6]: 159), dia tafsirkan bahwa mereka adalah Khowarij. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/197)

Demikianlah Salafush Sholih selalu menisbahkan orang-orang yang melakukan bid’ah-bid’ah ini kepada kebid’ahan-kebid’ahannya.

Ibnu Azroq adalah salah seorang gembong Khowarij, maka para ulama salaf menjadikan namanya sebagai lambang bagi kelompok Khowarij yang datang sesudahnya. Di antara kelompok Khowarij ada yang dinamakan Azariqoh.

Telah datang riwayat yang shohih di dalam Musnad Ahmad bahwasanya Abdulloh bin Abi Aufa rodhiyallohu anhu —salah seorang sahabat— berkata: “Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melaknat Azariqoh semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melaknat Azariqoh sungguh Nabi telah mengabarkan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka.” Maka berkatalah perowi darinya: “Azariqoh saja ataukah Khowarij semuanya?” Dia berkata: “Bahkan Khowarij semuanya.” (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh di dalam Dhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah) Kelompok Azariqoh ini menjadi besar di zaman Abdulloh bin Zubair. Demikian juga gembong-gembong Khowarij yang diperangi oleh Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu adalah ma’ruf (dikenal) di kalangan salaf, dan mereka ini dinisbahkan kepada bid’ah Khowarij ini seperti Abdulloh bin Wahb, Ibnu Zuhair, Ibnu Aufa, Abdulloh bin Sakhbarah as-Sulami dan yang selain mereka.

Dan yang semisal mereka sebuah silsilah sanad yang gelap: Jahm bin Shofwan dari Ja’d bin Dirham dari Aban bin Sam’an dari Labid bin A’shom al-Yahudi. Silsilah sanad ini telah dijelaskan oleh para salaf dari mereka sebagai peringatkan umat darinya, mereka nisbahkan setiap orang yang dikenal dengan pemikiran mereka ini kepada orang yang memasyhurkannya yaitu Jahm bin Shofwan sehingga dia dikatakan “Jahmi.”

Demikian juga keadaan Ma’bad al-Juhani dan Ghoilan ad-Dimayqi yang keduanya ghuluw di dalam masalah qodar.

Demikian juga Washil Atho’ dan ‘Amr bin Ubaid yang keduanya dinisbahkan kepada bid’ah i’tizal.

Mereka semua dan banyak lagi yang lainnya telah ditashnif oleh para salaf, mereka sebut nama-nama mereka dengan dinisbahkan kepada kebid’ahan-kebid’ahan mereka tanpa ada pengingkaran di antara para salaf.

Di sisi lain, kitab-kitab jarh wa ta’dil penuh dengan penyebutan nisbah orang-orang yang di bawah mereka kepada mereka di atas selama mereka berserikat di dalam kebid’ahan dan pemikiran mereka.

al-Imam Sufyan bin Uyainah berkata tentang Isma’il bin Humaid: Dia adalah Baihasi. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Baihasiyyah adalah nama sebuah kelompok Khowarij dinisbahkan kepada Abu Baihas seorang gembong Khowarij dari kelompok Shofariyyah yang memandang wajibnya memberontak kepada para pemimpin yang curang.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/305)

al-Imam Abu Dawud berkata tentang Ishaq bin Rabi’: Dia adalah Qodari (Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/203)

Demikianlah banyak kita dapati hal-hal semacam ini di dalam kitab-kitab salaf.

Dengan semua yang telah tersebut di atas jelaslah bahwa tashnifunnas adalah hal yang disepakati oleh umat ini dan tidak ada seorang yang berakal yang mengingkarinya.

TASHNIF BERLAKU UNTUK AHLIL HAQ DAN AHLIL BATHIL

Sebagaimana ahli bida’ dinisbahkan kepada kebid’ahan-kebid’ahan mereka agar mereka dikenal dan diketahui maka demikian juga ahlil haq dinisbahkan kepada al-haq dan bukan kepada yang lainnya, maka ahlil haq tidaklah memiliki julukan kecuali penisbahan kepada al-haq, inilah makna dari perkataan al-Imam Malik: ‘Ahli Sunnah tidak memiliki julukan yang dikenal dengannya, bukan jahmi, tidak juga qodari, dan tidak juga Rofidhi” (al-lntiqo’ Fi Fadhoili Tsalatsatil Aimmah Fuqoha’ oleh Ibnu Abdil Barr hlm. 35)

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Sebagian imam telah ditanya tentang Sunnah maka dia menjawab: ‘Yang tidak punya nama lain kecuali Sunnah” maksudnya bahwa ahli Sunnah tidak memiliki penisbahan nama selain Sunnah.” (Madarijus Salikin 3/174 dan 176)

Malik bin Mighwal berkata: “Jika seseorang menamakan diri dengan selain Islam dan Sunnah maka lekatkanlah dia dengan agama mana saja” (Ibanah Shughro oleh Ibnu Baththoh hlm. 137)

Maka Ahli Sunnah tidak memiliki nama dan julukan kecuali Islam dan dilalah (signifikasi) nya.

Ketika muncul berbagai kelompok bid’ah dan kesesatan, masing-masing menyeru kepada kelompoknya —dalam keadaan mereka menisbahkan diri kepada Islam secara zhohir— , maka ahlil haq para pengikut jalan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan para sahabat perlu memiliki nama-nama yang membedakan mereka dari kelompok-kelompok sesat ini, sehingga muncullah saat itu nama-nama ahli Sunnah yang syar’i yang bersumber dari Islam.

Di antara nama-nama mereka adalah: Ahli Sunnah Wal Jama’ ah, Firqotun Najiyah, Thoifah Manshuroh, dan Salafiyyun.

1. Nama Ahli Sunnah wal Jama’ah diambil dari sabda Nabi:

Siapa yang hidup lama dari kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/126, ad-Darimi dalam Sunannya 1/57, Tirmidzi dalam Jami’nya 5/44, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/15 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Dzilalul Jannah: 26,34) dan sabda Rosululloh Sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi 73 kelompok —yaitu dalam ahwa’— semua di neraka kecuali satu yaitu al-Jama’ah (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/102, ad-Darimi dalam Sunannya 2/314, dan abu Dawud dalam Sunannya: 4597 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Zhilalul Jannah hlm. 33)

Nama Firqotun Najiah (Kelompok yang selamat) diambil dari mafhum hadits iftiroqul ummah (perpecahan umat) di atas di mana Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa semua firqoh (kelompok) di neraka, kecuali satu yang masuk surga, kelompok ini dikatakan selamat dari neraka.

2. Nama ath-Thoifah al-Manshuroh (Kelompok yang mendapat pertolongan) diambil dari hadits Rosululloh:

Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan (dari Alloh) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapa pun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Sunan Ibnu Majah 1/6, hadits ini Muttafaq Alaih dengan lafadz:

Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan (dari Alloh) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat.

3. Nama Salafiyyun disandang oleh Ahli Sunnah Wal Jama’ah karena ittiba’ mereka terhadap manhaj Salafush Sholih yaitu para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan petunjuk.

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah rodhiyallohu anha di saat beliau sakit keras menjelang wafat:

Bertaqwalah kepada Alloh dan bersabarlah, maka sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku. (Muttafaq Alaih, Shohih Bukhori 5/2317 dan Shohih Muslim 4/1904 )

al-Qolsyani berkata: “Salafush Sholih adalah generasi pertama yang mendalam keilmuan mereka, yang mengikuti jalan Nabi shollallohu alaihi wa sallam, yang selalu menjaga Sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam, Alloh azza wa jalla memilih mereka sebagai sahabat Nabi-Nya, dan Alloh azza wa jalla menugaskan mereka untuk menegakkan agama-Nya …” (Tahrirul Maqolah min Syarhi Risalah hlm. 36)

Dalam Fatwa lajnah Daimah No. 1361 ada pertanyaan: “Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah?”

Jawab: Salafiyyah adalah nisbah kepada salaf, dan salaf adalah para sahabat Rosululloh dan para imam yang di atas petunjuk dari tiga generasi yang terdahulu yang dipersaksikan dengan kebaikan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam sabdanya:

Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka kemudian datang kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (Muttafaq Alaih)

Dan Salafiyyun adalah bentuk jama’ dari salafi nisbah kepada salaf, mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj salaf dalam ittiba’ kepada Kitab dan Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkan keduanya”.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahulloh berkata: “Keliru jika ada orang yang mengatakan bahwa Ahli Sunnah wal Jama’ah ada tiga: Salafiyyun, Asy’ariyyun, dan Maturidiyyun, ini adalah perkataan yang salah, kami katakan: Bagaimana mereka semua dikatakan Ahli Sunnah dalam keadaan mereka berbeda-beda! Adakah sesudah kebenaran kecuali kesesatan?! Bagaimana mereka semua dikatakan Ahli Sunnah dalam keadaan mereka saling membantah satu dengan yang lainnya. Ini tidak mungkin kecuali jika dimungkinkan dikumpulkan sesuatu yang kontradiksi maka baru pernyataan ini bisa dibenarkan. Kalau tidak maka tidak syak lagi bahwa salah seorang dari tiga kelompok ini adalah Ahli Sunnah. Maka siapakah dia, apakah dia adalah Asy’ariyyah?, ataukah Maturidiyyah? ataukah Salafiyyah? Kami katakan: Barangsiapa yang menepati Sunnah maka dialah Ahli Sunnah, dan barangsiapa yang menyelisihi Sunnah maka dia bukanlah Ahli Sunnah, maka kami katakan: Salaf adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, tidak berlaku sifat ini kepada selain mereka selamanya, dan suatu kata diperhatikan dari segi maknanya agar kita melihat bagaimana kita namakan orang yang menyelisihi Sunnah dengan ahli Sunnah, ini jelas tidak mungkin, bagaimana mungkin kita katakan tiga kelompok yang berselisih bersatu dalam satu pemahaman, ini jelas tidak mungkin. Maka Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah yang meyakini aqidah Salaf, sampai orang yang datang belakangan di hari kiamat jika dia berada di atas jalan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya maka dia adalah Salafi” (Syarah Aqidah Wasithiyyah 1/53-54)

Telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan rohimahulloh yang berbunyi: “Apakah salafiyyah adalah suatu hizb (kelompok) dan apakah menisbahkan diri kepadanya adalah hal yang tercela?” Maka beliau menjawab: “Salafiyyah adalah Firqotun Najiyah (kelompok yang selamat) mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai, sesungguhnya dia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang berjalan di atas Sunnah… maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan di atas madzhab salaf dan di atas jalan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan dia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah yang terdahulu dari zaman Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan terus berlanjut terus-menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.” (Dari kaset yang berjudul at-Tahdzir minal Bida’)

TASHNIFUNNAS ADALAH BENTENG YANG KOKOH BAGI SUNNAH DAN AHLINYA

Tashnifunnas dengan haq dan bashiroh adalah benteng yang kokoh yang melindungi Sunnah dari hal-hal yang mengotorinya, yang melindungi barisan Ahli Sunnah dari penyelundupan musuh-musuhnya, dia adalah senjata pelindung agama Islam dari segala macam kotoran yang menodai kemurniannya, Alloh subhanahu wa ta’ala tepis dengannya penyelewengan orang-orang yang ghuluw, takwil orang-orang yang jahil, tipudaya para pembuat kebid’ahan, makar Khowarij yang melesat dari agama, dan dari segala kejahatan kelompok-kelompok yang menyempal dari jama’ah Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “

Para gembong ahli bid’ah yang memiliki perkataan-perkataan dan ibarat-ibarat yang menyeleweng dari Kitab dan Sunnah, maka penjelasan tentang jati diri mereka dan memperingatkan umat dari kejelekan mereka adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Fatawa 28/231)

Ketika muncul klaim-klaim dari berbagai kelompok yang menyatakan bahwa mereka adalah Ahli Sunnah maka para ulama Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang kaidah tashnif antara Ahli Sunnah yang tulen dan yang palsu, Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh berkata: “Ahli Sunnah yang tulen adalah orang-orang yang selamat dari kebid’ahan-kebid’ahan, mereka berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh Muhammad shollallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya di dalam semua pokok-pokok agama seperti masalah Tauhid, risalah, qodar, masail Iman dan yang lainnya. Sedangkan selain Ahli Sunnah dari Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Qodariyyah, Rofidhoh, Murji’ah, dan semua kelompok yang bercabang dari mereka, mereka semua adalah ahli bid’ah i’tiqodiyyah” (Dari Fatawa as-Sa’diyyah)

al-Imam Hasan bin Ali al-Barbahari rohimahulloh berkata: “Tidak halal bagi seorang muslim mengatakan “Fulan ahli Sunnah” hingga dia mengetahui darinya bahwa telah terkumpul padanya perkara-perkara Sunnah, tidaklah dikatakan kepadanya ahli Sunnah hingga terkumpul padanya Sunnah semuanya” (Syarhu Sunnah hlm. 122)

Dan tidaklah seorang benar-benar dikatakan ahli Sunnah sehingga dia berlepas diri dari semua ahli bid’ah dan pemikiran-pemikiran mereka, al-Imam Abdulloh bin Mubarok berkata: “Asal dari tujuh puluh dua bid’ah adalah empat bid’ah, dari keempat bid’ah inilah bercabang menjadi tujuh puluh dua kebid’ahan (empat bid’ah ini adalah): Qodariyyah, Murji’ah, Syi’ah, dan Khowarij. Barangsiapa yang mendahulukan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali rodhiyallohu anhum atas semua sahabat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan tidak membicarakan para sahabat kecuali dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari bid’ah Syi’ah dari awal hingga akhir. Barangsiapa yang mengatakan iman perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka dia telah lepas dari bid’ah irja’ dari awal hingga akhir. Barangsiapa yang mengatakan sahnya sholat di belakang imam yang baik dan fajir, wajibnya jihad bersama setiap kholifah, tidak memandang bolehnya memberontak kepada penguasa dengan pedang, mendoakan penguasa dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari perkataan Khowarij dari awal hingga akhir, barangsiapa yang mengatakan: “Semua takdir dari Alloh subhanahu wa ta’ala, yang baik dan yang buruk, Alloh azza wa jalla menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, maka sungguh dia telah lepas dari perkataan Qodariyyah dari awal hingga akhir, maka dialah ahli Sunnah” (Syarhus Sunnah oleh Barbahari rohimahulloh hlm. 57)

Maka Tashnifunnas adalah pedang terhunus bagi setiap pelaku kebid’ahan, yang mene-bas setiap makarnya terhadap agama ini hingga tercabut dari akarnya, terputus perkaranya, dan tersingkap jati dirinya:

Dan orang-orang yang dholim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (QS. asy-Syu’aro’ [26]: 227)

KEADILAN DALAM TASHNIF

Telah kita ketahui dari semua bahasan di atas bahwa tashnifunnas adalah masalah yang agung dalam agama, barangsiapa yang masuk dalam bab ini maka hendaknya dia berlaku adil, melepaskan diri dari ambisi-ambisi, hawa nafsu, dan fanatik golongan.

Masalah tashnif ini hendaknya dirujuk kepada ahlinya, orang-orang yang selamat dari hawa nafsu, obyektif di dalam hukum-hukum mereka, orang-orang memiliki ghiroh (kecemburuan) terhadap agama Alloh subhanahu wa ta’ala, dan tidak dirujuk kepada orang-orang yang terjangkiti fanatik dan hawa nafsu.

al-Imam as-Sakhawi berkata: “Awaslah engkau dari ambisi pribadi atau hawa nafsu yang masing-masing dari keduanya akan membawamu kepada usaha menjatuhkan, penyelewengan, meninggalkan keadilan, atau sikap berlebihan dan menggampangkan.” (Fathul Mughits 4/354)

Syaikhuna al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata: “Berdasarkan hal ini, maka bantahan-bantahan Ahli Sunnah kepada para ahli bid’ah di saat munculnya suatu kebid’ahan tergolong penjelasan kebenaran di saat munculnya kebatilan, dan bukanlah sekedar suatu pembalasan sebagaimana dalam ungkapan orang-orang sekarang” (al-Intishar Li Ahli Sunnah wal Haditsfi Roddi Abatil Hasan Al-Maliki hlm. 132)

Syaikh al-Allamah Sholih al-Fauzan rohimahulloh berkata: “Ketika kita jelaskan kesalahan kitab-kitab ini — atau orang-orang ini— bukanlah termasuk celaan kepada person-person semata, tetapi termasuk nasehat kepada umat agar tidak masuk kepada mereka pemikiran-pemikiran yang penuh syubhat, kemudian terjadilah fitnah dan perpecahan” (Ajwibah Mufidah hlm. 91)

Maka Ahlu Sunnah melandaskan tashnif atas dalil yang syar’i bukan sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bida’ wal ahwa’ yang mengklasifikasi manusia sekehendak mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Lihatlah bagaimana ahlul bida’ wal ahwa’ selalu menjuluki Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan nama-nama yang bathil unruk menjauhkan umat dari al-haq, al-Imam Abu Utsman ash-Shobuni berkata: “Tanda yang paling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah dan menamakan ahli Sunnah dengan Hasyawiyah, Jahalah, Dhohiriyyah, dan Musyabbihah” (Aqidah Salaf Ashabul Hadits hlm. 116) Lihatlah bagaimana mereka mengklasifikasi para ulama menjadi ulama waqi’ dan ulama kertas! Lihatlah bagaimana mereka mengklasifikasi para ulama menjadi ulama penguasa dan ulama tsughur! Lihatlah bagaimana mereka mengklasifikasi para ulama menjadi ulama politik dan ulama haid dan nifas!

Di sisi lain tatkala para ulama Sunnah mentashnif (mengklasifikasi) para gembong mereka kepada masing-masing kebid’ahan mereka maka dengan serentak mereka marah dan membabi buta, mereka sebarkan keragu-raguan kepada umat tentang masalah tashnif yang haq dengan maksud untuk melindungi nama dan kedudukan gembong-gembong mereka.

Ini adalah kontradiksi yang sangat memprihatinkan, dan benarlah ketika Ahli Sunnah me-namakan ahli bida’ dengan ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) karena mereka melandaskan agama mereka kepada hawa nafsu dan bukan kepada dalil-dalil syar’i.

PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan dari sebagian permasalahan yang berhubungan dengan tashnifunnas, semoga kita semua ditunjukkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala ke jalan Ahli Sunnah dan dijauhkan dari semua jalan kebid’ahan dan kesesatan. Amin.

***

Sumber : Majalah AL FURQON Edisi 8 Tahun ketujuh / Robi’ul Awwal 1429 [Maret-April ‘08]

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s