Belajar Ilmu Syar'i dan Ilmu duniawi bersama Abuzahra

Ilmu Akhirat dan Dunia Haruslah Seimbang

Penjelasan Tentang Penyimpangan Ikhwanul Muslimin (Mukadimah)

4 Komentar

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi bin Rosyid

Ada fatwa dari Syaikh bin Bazz رحمه الله yang diklaim sebagai fatwa pendukung bolehnya berintima (bergabung) dengan jamaah Ikhwannul Muslimin, fatwa itu dijadikan senjata ampuh untuk memukul / membantah salafyun yang menjelaskan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah jamaah hizbiyyah. Sehingga fatwa itu disebarkan di intrnet dengan kategori Ruddush Shubuhat. Melebihi itu bahkan fatwa Syaikh رحمه الله terebut di beri judul حكم الانتماء الجماعه (hukum bergabung dengan jama’ah). Itu semua menunjukkan bahwa fatwa Syaikh رحمه الله merupakan sesuatu hal yang istimewa bagi mereka dijadikan hujjah untuk menjaring / mempertahankan anggota jamaah (hizbiyyah)nya.

Bagi saya pribadi fatwa tersebut bermakna sebagai berikut :

1. Syaikh menganjurkan kaum mulimin untuk bergabung kepada jamaah manapun yang berpegang teguh kepada Al-haq, sebagai mana ucapan Beliau رحمه الله berikut :

Yang wajib bagi setiap manusia untuk komitmen pada kebenaran, yaitu firman ALLAAH SWT & sabda Nabi SAW dan untuk tidak komitmen kepada manhaj jama’ah manapun, tidak kepada Ikhwanul-Muslimin, tidak juga kepada Ansharus-Sunnah, tidak juga kepada apapun selain mereka. Tetapi komitmen dengan kebenaran. (catatan : penulisan SWT dan SAW asli dari sumber dan tidak kami rubah, adapun kami sendiri sedapat mungkin apabila menulis yang seperti itu insya Allah ta’ala tidak kami singkat, demikian untuk selanjutnya yang berasal dari situ yang kami ambil hanya dengan cara copy paste)

juga ucapan beliau berikut ini :

Yang wajib bagi setiap manusia untuk komitmen pada kebenaran, yaitu firman ALLAAH SWT & sabda Nabi SAW dan untuk tidak komitmen kepada manhaj jama’ah manapun, tidak kepada Ikhwanul-Muslimin, tidak juga kepada Ansharus-Sunnah, tidak juga kepada apapun selain mereka. Tetapi komitmen dengan kebenaran

2. Sebuah kelompok disebut Al-Jamaah bukan dinilai dari namanya akan tetapi dinilai dari komitmennya terhadap kebenaran, apapun namanya tidak menjadi penghalang untuk bergabung kepadanya dengan syarat kelompok tersebut komitmen terhadap kebenaran. Hal ini difahami dari ucapan Syaikh رحمه الله berikut :

Alhasil yang dipegang adalah istiqamah mereka di atas al-haq, jika ditemukan manusia atau JAMA’AH yang mengajak kepada KitabuLLAAH & Sunnah Rasul-NYA SAW, mengajak mentauhidkan ALLAAH SWT & mengikuti syariat-NYA maka MEREKA SEMUA ITULAH AL-JAMA’AH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH. Adapun mereka yang menyeru kepada selain kitabuLLAAH, atau kepada selain sunnah Ar-Rasul SAW maka mereka itu bukan termasuk Al-Jama’ah, bahkan termasuk firqah yang sesat & binasa, karena firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab & As-Sunnah, sekalipun mereka adalah Jama’ah di sini atau Jama’ah di sana, sepanjang tujuan & aqidah mereka satu. MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS-SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu, yang penting aqidah & amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al-Haq & atas TauhiduLLAAH & Ikhlas kepada-NYA & mengikuti RasuluLLAAH SAW perkataan, perbuatan & aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. Tetapi wajib bagi mereka bertaqwa kepada ALLAAH SWT & benar dalam ketaqwaannya, ADAPUN SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS-SUNNAH DAN SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jama’ah anu, tidak masalah jika mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al-Kitab & As-Sunnah & berhukum kepada keduanya & istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan & perbuatan, dan jika Jama’ah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ‘ilmi untuk memperingatkan & menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.

3. Wajib bagi para ahli Ilmu (ulama) untuk saling mengingatkan terhadap kelompok-kelompok yang menyimpang / salah. Sebagaimana ucapan Syaikh رحمه الله berikut :

jika Jama’ah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ‘ilmi untuk memperingatkan & menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.

Agara kaum muslimin dapat mengambil sikap terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin, dikarenakan fatwa tersebut digunakan oleh untuk melegalkan kelompok mereka, pada kesempatan ini dengan memohon pertolongan Allah ta’ala saya berusaha menampilkan penjelasan Syaikh Ahmad An-Najmi حفظه الله mengenai penyimpangan Ikhwanul Muslimin.

Dengan tulisan ini saya berharap Allah ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua, khususnya para pemuda yang masih memiliki obyektifitas, ghiroh beragama yang tinggi, kecemburuan terhadap kebenaran dan bermacam-macam nilai positif lainnya. Dengan tulisan ini saya berharap kita mampu menilai, benarkan Ikhwanul Muslimin adalah kelompok yang dimaksud oleh Syaikh bin Baaz رحمه الله, dimana dibolehkannya kita bergabung kepadanya, atau justru sebaliknya Ikhwanul Muslimin adalah sebuah kelompok yang dengan secepat-cepatnya kita semua harus meniinggalkan karena banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang ada padanya ?.

Dikarenakan keterbatasan waktu, ilmu dan kesempatan yang ada maka tulisan ini kami rencanakan berseri. (Insya Allah ta’ala)

Tulisan ini kami ambil dari buku yang berjudul Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin terjemahan dari Karya Syaikh Ahmad An-Najmi حفظه الله yang berjudul : Al Mauridu Al’adzbi Az-zalaal Fiima Untuqida ‘Alaa Ba’dli Al-Manahij Ad-Da’wiah Min Al-‘Aqaaid wa Al-A’mal yang diterbitkan oleh maktabah al-furqon.

Perlu diketahui para pembaca yang budiman bahwa footnot dari buku tersebut tidak semuanya kami tampilkan. Oleh karena itu bagi para pembaca yang menginginkan data lengkap sebagai bukti-bukti ilmiahnya, kami sarankan untu merujuk kepada buku yang saya sebutkan.

Kepada semuanya saya memohon maaf atas kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat atas penukilan dari sumber aslinya, tentunya sebagai orang yang sangat dhoif di sana sini banyak kesalahan dikarenakan salah dalam membaca maupun salah dalam menulis, oleh karena itu kami sangat menganjurkan bagi para pembaca untuk membaca buku aslinya.

Penjelasan Tentang Penyimpangan Ikhwanul Muslimin

Oleh : Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi حفظه الله

Ketahuilah semoga Allah ta’ala memberiku taufik demikian pula engkau, ketika menjelaskan kesalahan-kesalahan Ikhwanul Muslimin ataupun selainnya, sesungguhnya kami -insya Allah- hanyalah melakukannya untuk menerangkan kebenaran, empati kepada makhluk lain dan menunaikan kewajiban sebagai tanggung jawab yang dipikulkan oleh Allah ta’ala kepada para pewaris ilmu, Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah : 159-160)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mentaklif mereka dalam sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam : Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat saja, bicarakanlah berita dari Bani Israil, tidak ada kesempitan. Barangsiapa yang membuat kedustaan atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersiap menempati tempat dudukknya di neraka.”( Shahihul Jami’ 2834).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, terkadang orang yang disampaikan (ilmu kepadanya) lebih memelihara (ilmu)nya daripada yang hadir menyaksikan” (Al-Bukhari pada Kitab Ilmu).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah ta’ala memberikan nikmat dan mengelokkan seseorang yang mendengarkan ucapanku lantas dia hafalkan, kemudian dia tunaikan apa adanya sebagaimana dia dengar.”(Diriwayatkan oleh sekelompok sahabat dengan beberapa bentuk kalimat namun berdekatan. Lihat Mausu’ah Athrafil Hadits X/35-37).

Allah ta’ala mewajibakan kepada para ahli ilmu untuk menerangkan kepada manusia kandungan Al-Qur’an dan As-sunnah yang berupa hukum-hukum syareat, maka Allah ta’ala juga mewajibkan kepada manusia untuk membantah siapa saja yang menyalahi syareat itu baik sedikit atau banyak, satu masalah atau berbagai masalah serta satu keputusan atau banyak keputusan -jika penyelisihan itu menyangkut ushul dan akidah.

Kewajiban yang dipikulkan kepada manusia ini tidak lebih kurang dari kewajiban menjelaskan ushul Dien (yang dibebankan kepada ulama), bahkan boleh jadi lebih tegas, sebab hukum-hukum yang tidak terkotori dan mengalami perubahan akan tetap terjaga aman untuk manusia di setiap masa dan tempat, hal ini akan diketahui oleh siapa yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh siapa yang jahil.

Adapun hukum-hukum dan permasalahan yang telah tercemar, saya maksudkan tercemar dengan pemahaman yang terbalik dan akal yang menyimpang dari kebenaran disebabkan kesalahan yang menimpanya di dalam menimba ilmu, sehingga dia sangka sebagai Dien perkara yang bukan Dien dan dia sangka kebenaran sesuatu yang sebenarnya kebathilan akhirnya mereka menghadapi kenyataan pahit dan terkena firman Allah ta’ala:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiama”t.(QS. Al-Kahfi : 103-105)

Kami mengimani bahwa siapa saja yang menemui Allah ta’ala tanpa membawa tauhid yang mana tidaklah diturunkan kitab-kitab,diutusnya para rasul, ditetapkan hari kiamat, serta diciptakan surga dan neraka melainkan sebab tauhid itu, siapa yang menemui Allah ta’ala dengan demikian maka dia akan menerima kenyataan pahit, sekalipun dia adalah orang yang berasumsi atau menyangka dirinya adalah seorang da’i yang mengajak kepada Allah ta’ala. Siapa yang meragukan hakekat ini maka hendaklah dia mengetahui bahwa dirinya belum mengenal Dienul Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, dimana Al-Qur’an telah menjelaskan panjang lebar dan demikian jelas apasaja yang telah membatalkan keislaman yang tidak mungkin disusupi keraguan atau tanpa adanya suatu hakekat yang tersembunyi di belakang, misalnya firman Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa’ : 48)

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’ : 116)

Firman Allah ta’ala :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al-Maidah : 72.)

Tatkala Allah ta’ala menyebutkan para nabi di surat al-An’am, Allah ta’ala ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

” Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (QS.Al-An’am : 88)

Allah ta’ala berfirman :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi”. ((QS. Az-Zumar:65)

Allah ta’ala membuka kabar ini dengan ‘Lam‘ pasangan kata sumpah yang menunjukkan penegasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa : JIka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan syirik -walaupun telah diketahui bahwa Baliau shallallahu ‘alaihi wasallam makhluk yang paling dicintai Allah ta’ala sungguh amalannya kan runtuh dan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jauh dari kesyirikan dan hal ini hanyalah sebagai pengandaian.

Jelaslah dengan ayat-ayat ini bahwa syirik akbar dapat meruntuhkan amal, mengeluarkan seorang dari millah dan memastikan kekekalannya dalam neraka.

Kaum Sufi telah memutar-balikkan hakekat syareat, mereka berprasangka bahwa menyeru makhluk -yang dia sangka mempunyai tingkat kewalian dan mengaku mempunyai banyak keramat, sama saja masih hidup atau sudah menjadi mayat- kemudian beristighotsah kepada mereka ketika mengalami bencana kesusahan, itulah Dien yang murni, inti dan hakekatnya. Bahkan mereka ghuluw (terlampau berlebihan) dalam menyikapi para wali hingga menjadikannya sebagai pendamping Rabb ‘azza wajalla dengan kedudukan wali quthub yang mengatur alam semesta. Lalu sikap ghuluw itu semakin menggila dengan menjadikan wali itu sebagai Ilah Sesembahannya yang bertempat di tubuh makhluk ataupun sebagiannya.

Terakhir : Apakah engkau dapat melihat seseorang yang tertarbiyah dalam didikan syufiyyah akan keluar dalam keadaan selamat dari virusnya ?! Tidak ! Demi Allah ta’ala tidak-kecuali siapa yang Allah ta’ala kehendaki untuk diselamtkan- bahkan minimal keadaannya tiada lagi memiliki kebencian terhadap syirik besar yang meruntuhkan dan memotong keislamannya sejak akar pondasinya. Kalau tauhid sudah hilang maka keislamannyapun akan hilang dan semua dakwah yang tidak dibangun di atas pondasi tauhid ini maka dakwahnya itu adalah bathil sebab ia telah didirikan di atas pondasi yang tidak benar berdasarkan asas dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tibalah waktunya bagi kami untuk memulai pembahasan yang kami kehendaki, Allah ta’ala maha Tahu bahwa saya tidak bermaksud melukai perasaan seseorang kecuali jika penyebutan celaan itu mengandung maksud yang dituntun oleh Dien, misalnya di dalam celaan itu ada nasehat bagi orang-orang yang tertipu oleh person atau sesuatu manhaj, sebagaimana yang telah dilakukan Salaf, Salaf mencela mereka sebab empati pada umat dan dalam rangka menjelaskan kebenaran. Kitab-kitab Al-Jarh dan Ta’dil penuh dengan contoh-contoh semisal itu.

Imam Muslim bin Al-Hajjajرحمه الله berkata dalam muqodimah shahihnya :

((Amr bin Ali Hafs menceritakan kepada kami, dia menyatakan: Saya mendengar Yahya bin Sa’id berkata : Saya bertanya pada Sufyab Ats-Tsauri, Syu’bah, Malik dan Ibnu Uyainah tentang seseorang yang tidak tsabit dalam hadits, dimana ada yang bertanya kepadaku tentang seseorang tersebut. Maka semuanya menjawab Kabarkanlah bahwa dia tidak tsabit !.

Ubaidullah bin Sa’id berkata kepada kami : Saya mendengar An-Nadhr berkata : Ibnu Aun ditanya tentang haditnya Syahr sementara saat itu Syahr ada di depan pintunya, maka dia berkata : “Syahr dicela oleh mereka (para ulama hadits) ….Syahr dicela oleh mereka”. Imam Muslim berkata : “Lisan-lisan menyebutkan celaan terhadapnya”. Muslim juga telah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Sya’bi yang berkata : Disampaikan hadits kepadaku oleh Al-Harits Al-A’war Al-Hamdani, sedangkan dia seorang pendusta.

Diriwayatkan juga oleh Muslim dengan sanadnya sampai ke Ibnu ‘Aun yang berkata : Ibrahim berkata kepada kami : Waspadalah Al-Mugirah bin Sa’id dan Abu Abdurrahman, sebab keduanya pendusta.

Ibnu Kamil Al-Jahduri menyatakan kepada kami bahwa Hammad (Ibnu Zaid) mengatakan kepadanya : Ashim berkata kepada kami : Dahulu kami pernah mendatangi Abu Abdurrahman saat masih muda belia, maka dia berkata kepada kami :”Janganlah kalian duduk di hadapan tukang cerita selain Abul Ahwash. Waspadailah Syaqiq !”, sebab Syaqiq berfaham khawarij,tapi bukan Syaqiq bin Salamah))

Demikianlah kutipan dari Mukadimah Shahih Muslim yang membuka aib-aib perawi. Inilah saatnya memasuki kesimpulan umum tentang aib yang ada pada ikhwanul Muslimin;

Bersambung Insya Allah ta’ala.pada: Ikhwanul Muslimin Meremehkan Tauhid Ibadah dan Tidak Menjadikan sebagai Asas Berpijak.

Iklan

Penulis: kusnanto_abuzahra

Perkenalkan nama saya Kusnanto yang lahir pada tanggal 7 September 1978 di Bogor, dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat lucu2, Insya Allah Adik baru akan menyusul...Amin.

4 thoughts on “Penjelasan Tentang Penyimpangan Ikhwanul Muslimin (Mukadimah)

  1. Allahua’lam bishowab.
    Anda tidak lebih baik dari ulama ulama sufi yang anda jelek jelekkan,,,,walaupun anda menyampaikan dengan dalil dari yang Al Haq …. ttp benar menurut ilmu yang anda pahami saat ini untuk mereka yang telah mengalami manis dan lezatnya ilmu Allah yang sesungguhnya argument anda aneh dan …………tidak dibenarkan….. wasalam

    • Assalamu’alaikum,
      Afwan, Jika antum beranggapan bahwa argument yang tertulis di atas adalah aneh dan tidak di benarkan maka tolong berikan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
      NB: kata-kata “sufi” sendiri tidak ada di dalam Islam, tidak ada dalam Al-qur’an dan Sunnah
      karena itu dan saya sangat yakin kaum sufi tidak akan bisa memberikan dalil untuk berhujjah… dalam masalah ini.
      Allahu ‘alam…

  2. assalamualaikum
    afawan klo anda berangapan seperti itu, apakah anda tau dengan apa yang anda katakan? apa anda sudah menyelami jamaah tsb. tpi sepertinya itu bukan jamaah melainkan sebuah organisasi internasional. tolong antum beri tahu tata cara kita tentang dakwah yang sanggup dengan cepat membuahkan hasil. waslm

  3. dasar sok tau, berarti anda lebihtau dr apada alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s